
[Inauguration Exam Arc - #5]
...----------------...
"Kau kenapa?" Dae-Vin bertanya. Dia itu memang sedikit tidak peka, cukup menyebalkan bagi beberapa orang yang menyukainya.
"Tidak apa! Jangan dekati aku!" ucap Xela kemudian berlari meninggalkan padang rumput itu. Dae-Vin hanya menatapnya datar.
"Eh? Bukankah itu Dae-Vin? Dengan siapa?" Di luar dugaan, Hanny malah sampai di padang rumput tempat Dae-Vin berada. Hanya saja, dia berada si titik yang berbeda. Hanny memandang mereka berdua dari balik semak-semak.
"Aku merasakan ada orang lain di sekitar sini. Hmm.." kata Xela dalam hati setelah menghentikan langkahnya. Kemudian dia menyiapkan batu yang terbuat dari es menggunakan salah satu tekniknya, tanpa berbalik terlebih dahulu, dia langsung melempar kan es itu ke arah semak-semak. Dan..
"Aduh!" ucap Hanny meng-aduh, dan berdiri sambil memegangi kepalanya di bagian yang terkena es tadi.
Dae-Vin dan Xela langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Hanny, kenapa kau ada di sini?" tanya Dae-Vin setelah mengetahui keberadaan Hanny. "Di mana Araya?" lanjutnya. Hanny belum sempat menjawab karena dia meringis kesakitan setelah dahinya terkenal batu es tadi.
"Hhhzzz.. Di dekat sungai. Dia bilang dia lelah, jadi aku pergi sendiri." kata Hanny masih sambil mengusap-usap kepalanya.
"Kenapa kau meninggalkannya sendirian?! Bagaimana kalau ada apa-apa?! Kuserahkan sisanya padamu!" ucap Dae-Vin sambil berlari pergi dari tempat itu. Perasaannya campur aduk, tapi yang pasti dia khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Araya.
Setelah itu, Hanny bertatapan dengan Xela. Bertatapan dengan tatapan yang datar.
"H.. Hai Nona. Jadi Anda yang melempar batu es ini ke kepala saya?" tanya Hanny sambil menunjukkan batu es tadi yang besarnya sebesar jempol kaki.
...----------------...
Araya berlari mengikuti arus sungai untuk mencari anak singa yang hilang. Beberapa kali dia hampir terpeleset. Tapi dia tetap bisa melanjutkan berlari.
"Hah.. hah.. Sepertinya sudah tidak jauh." kata Araya dengan napas yang tersengal-sengal. Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya. Samar-samar, dia mendengar suara anak singa. Araya berjalan mengikuti arah suara. Hingga dia sampai di tempat anak singa itu berada.
Anak singa itu terjebak di antara celah bebatuan yang berada di sungai. Melihatnya sudah tidak jauh, Araya langsung turun ke sungai yang dalamnya sekitar enam puluh sentimeter.
"Yaah celanaku basah.. Biarkan saja lah, nanti juga kering sendiri." kata Araya setelah menyadari bahwa dia lupa untuk melipat celananya terlebih dahulu. Sekarang Araya masih berada di pinggiran sungai.
"Apakah sebaiknya aku menggunakan teleportasi saja ya? Baiklah. Bawa aku ke bebatuan di sana."
Setelah itu, Araya langsung sampai di tengah-tengah sungai yang terdapat bebatuan. Di situ juga lumayan dalam, sekitar satu meteran.
Aslinya, celah bebatuan itu tidak terlalu sempit. Anak singa itu tidak bisa ke luar karena arusnya yang cukup deras baginya. Setelah mendapatkannya, Araya pun menggendongnya layaknya sedang bermain boneka-bonekaan.
"Sekarang kau sudah aman. Aku akan mengembalikanmu pada ibumu. Bawa aku ke tempat semula. Eh? Kenapa tidak berfungsi?"
Aneh, alat teleportasi milik Araya sama sekali tidak berfungsi. Mungkinkah rusak? Ya, itu mungkin saja. Setelah tercelup ke dalam air dan juga tergores bebatuan di sana, fungsinya jadi sedikit terganggu dan tidak optimal.
"Baiklah, aku akan berjalan saja." pada akhirnya, Araya memutuskan untuk berjalan saja menuju ke tepian. Tapi, ketika dia sampai di tengah-tengah sungai, arusnya memang menjadi sangat deras dan juga lebih dalam. Alhasil, dia pun.. Hanyut terbawa arus sungai, begitupun dengan anak singa itu. Tapi, dia masih ada pada Araya.
"Tolong! Tolong!" Araya berusaha berteriak sekencang-kencangnya sambil mengarahkan tangannya ke atas supaya ada yang melihat jika ada orang lain yang lewat.
"Eh? Kenapa sungai ini seperti berujung? Jangan-jangan.. Air terjun?!"
__ADS_1
Benar saja, di depan mereka adalah air terjun yang lumayan tinggi. Entah apa yang akan terjadi pada mereka berdua setelah melewati air terjun tersebut.
"Tolooong!" Araya kembali berteriak. Dia juga berharap supaya dia masih diberi kesempatan untuk hidup, bisa pulang ke rumah lain kali, dia masih ingin bersenang-senang bersama kakaknya. Dia masih ingin melewati masa-masa remajanya. Dia masih ingin merasakan duduk di bangku SMA. Dia masih ingin menonton anime dan drama bersama kakaknya. Dia masih ingin makan kue buatan ibunya. Intinya, dia masih punya banyak keinginan. Tetapi, dia tak terlalu khawatir tentang masa depannya, toh ia sudah mengetahui gambaran tentang hal itu. Dia masih hidup sampai dewasa, yang artinya, dia tidak akan mati hari ini.
Mereka semakin mendekati air terjun itu. Jaraknya tinggal lima meter lagi. Detik selanjutnya, ada sesuatu yang tidak terduga.
"Flow Stopper!" teriak seseorang dari pinggiran sungai itu. Setelah orang itu meneriakkan kata Flow dan Stopper, arus sungai itu seketika terhenti, menjadi tenang bagaikan rawa-rawa. Flow Stopper yang artinya penghenti arus.
"Araya, apa yang kau lakukan di sana?!" tanya seseorang yang suaranya terdengar sudah tidak asing. Dia Kim Dae-Vin.
"Aku hanya ingin menolongnya." jawab Araya.
"Ayo cepat! Ini tidak akan bertahan lama," kata Dae-Vin. Dia meminta Araya untuk segera ke luar dari sungai. Araya pun hanya menurutinya saja, dia berjalan ke arah Dae-Vin.
"Kau jadi basah kuyup begitu. Bagaimana sekarang?" kata Dae-Vin sambil menatap Araya yang pakaiannya basah kuyup.
"Biarkan saja, lama-lama juga kering sendiri. Iya kan?" balas Araya sambil mengajak bicara dengan si anak singa. Anak singa itu hanya mengaum pelan untuk menjawab pertanyaan Araya, mungkin.
"Untung saja kemarin aku meminta obat pada kak Aria. Jika tidak, mungkin aku bisa mencemari air sungai." kata Araya dalam hati, keputusannya kemarin memang tepat. Ia terdiam sejenak, hingga..
"Bagaimana bisa begitu, kau bisa sakit kalau seperti itu," kata Dae-Vin lagi.
"Itu urusan nanti. Sekarang aku baik-baik saja." jawab Araya santai. Kemudian, baru teringat. "Oh iya, terima kasih karena sudah menolongku tadi." Araya berterima kasih.
"Sama-sama, lain kali jangan ceroboh." balas Dae-Vin sambil memegang tengkuknya yang bersuhu normal.
"I.. iya. Tapi, bagaimana kau bisa tau keberadaanku?"
"Mau ke mana kau?" tanya Dae-Vin setelah melihat Araya yang hendak melangkahkan kakinya meninggalkannya.
"Tentu saja untuk mengembalikannya." jawab Araya, kemudian melanjutkan niatnya. Lalu, Dae-Vin pun ikut berjalan bersamanya, di sampingnya. Araya tidak mempermasalahkan hal itu.
Diam-diam, Dae-Vin memegang ujung tudung hoodie warna ungu muda yang di pakai Araya. Dia berkata dalam hati.
"Water Remover,"
Setelah menggunakan teknik Water Remover yang artinya penghilang air, pakaian Araya seketika langsung kering, begitupun juga dengan bulu anak singa itu.
"Eh? Pakaianku sudah mengering? Cepat sekali." kata Araya. Dia berpura-pura tidak tau bahwa Dae-Vin menggunakan tekniknya.
"Tentu saja, hari ini kan cerah, jadi lebih cepat kering." balas Dae-Vin sambil memasang sikap biasa saja. Kemudian..
"Terima kasih," Araya kembali berterima kasih.
"Untuk apa?"
"Untuk teknik penghilang airnya."
"Bagaimana dia bisa tau kalau aku menggunakan teknologi itu? Yasudah, biarkan." kata Dae-Vin dalam hati.
"Sama-sa- Hachiu!" belum menyelesaikan kata-katanya, Kim Dae-Vin langsung berbalik serta masih menjauhkan wajahnya.
__ADS_1
"Dae-Vin, apa kau sakit?" tanya Araya dengan raut wajah khawatir. Tadi baik-baik saja, tapi sekarang sepertinya ada yang aneh.
"Ti- Hachiu! Tidak apa-apa. Ini hanya efek dari- Hachiu! Penggunaan elemen." Tidak hanya sekali, Dae-Vin bersin-bersin setelah beberapa kali dia menggunakan kekuatan elemen nya. Kini sudah terungkap, efek samping dari penggunaan elemen air yang agak berlebihan. Sebenarnya hal itu tidak akan terjadi jika dia sudah sampai di tahap kedua atau ketiga.
...----------------...
Singkat cerita, Araya dan Kim Dae-Vin telah sampai di tempat semula. Tempat di mana induk singa itu berada, juga kedua anggota organisasi elemen Eropa generasi ke delapan.
Kini, anak singa tersebut telah bertemu dengan induknya. Mereka mengaum sebentar, mungkin itu cara mereka berterima kasih, kemudian pergi dari tempat itu.
"Jadi, namamu siapa?" tanya laki-laki berusia sekitar dua puluh dua tahun yang menggunakan ban lengan bertuliskan 'Jeasson' dan juga terdapat gambar bendera negara Swiss.
"Araya, dari negara Indonesia." jawab Araya dengan santai. Misinya untuk menyelamatkan bayi singa sudah selesai, dia bisa bernapas lega sekarang, yah meskipun bukan itu tujuannya datang ke mari.
"Namamu Araya, dan itu siapa?" tanyanya lagi sambil menatap Dae-Vin yang berdiri mematung.
"Dia Kim Dae-Vin, rekan satu timku, dari Korea Selatan." Dae-Vin tidak menjawab. Araya yang mewakilinya.
"Hanya rekan satu tim ya?" kata Dae-Vin dalam hati. Dia sedikit kecewa setelah Araya hanya menganggapnya sebagai rekan tim, padahal dia mempunyai perasaan lebih untuk Araya. Tapi, mungkin itu lebih baik, dari pada tidak dianggap sama sekali. Iya kan?
"Araya dan Kim Dae-Vin. Kenalkan, namaku Jeasson dari negara Swiss. Senang bertemu dengan kalian." kata Jeasson memperkenalkan dirinya.
"Dan yang di sana itu, namanya Lina, dari Inggris." lanjutnya sambil sekilas melihat perempuan yang sedari tadi hanya diam dan berdiri di sampingnya.
"Salam kenal Kak Jeasson dan Mak Lina." ujar Araya sambil tersenyum, Jeasson balas tersenyum. Tapi, Kim Dae-Vin dan Lina menatap mereka berdua dengan tatapan tidak suka.
"Karena kau sudah bersiap baik, ini kami beri hadiah. Batu Ruby dan gold yang kalian cari." ucap Jeasson lagi sambil mengambil kedua benda tersebut dari dalam saku celananya, kemudian langsung memberikannya pada Araya. Tunggu, kenapa dia membawa dua sekaligus?
"Waah, terima kasih Kak." kata Araya dengan mata berbinar. Dia berterima kasih, karena tidak perlu susah-susah untuk merebut kedua benda itu dari mereka.
"Sama-sama. Kalau seperti itu, kau terlihat imut sekali." ucap Jeasson sambil memegang pundak Araya.
"Apa?!" Setelah menyaksikan hal itu, Dae-Vin menatap Jeasson dengan tatapan tajam. Ingin rasanya dia langsung mengajak Araya untuk pergi dari tempat ini sekarang juga.
"Ehem!" untuk menyadarkan mereka berdua, Dae-Vin dan Lina berdeham berbarengan. Kompak sekali untuk memisahkan mereka berdua.
"Araya, sekarang sudah hampir tengah hari. Sebaiknya kita mencari yang lain." kata Dae-Vin sambil menarik pergelangan tangan kanan Araya.
"Eh, tunggu-" Araya tidak bisa berkata-kata lagi. Begitupun dengan Jeasson. Lina langsung menyeretnya ke arah yang berlawanan.
To be continued...
...----------------...
Author note :
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Oh iya, aku mau nanya. Menurut kalian, cerita ini mirip sama cerita lain ngga? Jawab di komentar ya!
Jangan lupa like, komen dan favorit. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
__ADS_1