Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 60


__ADS_3

[Return Arc - #5]


...----------------...


"Ehem! Soal yang tadi, kamu terima atau tidak, Araya?" tanya Dae-Vin setelah selesai menyuapi Araya untuk makan. Seporsi nasi goreng tadi sudah habis. Hanya tinggal sekotak susu coklat saja yang belum diminum sampai habis.


"Yang apa? Aku lupa." memainkan bola matanya dengan agak gusar, Araya berpura-pura. Dirinya cukup malu jika harus langsung to the point. Pertanyaan ini hanya untuk sekedar basa-basi dan untuk memperjelas topik pembicaraan.


"Yang tadi kita chatting, kamu belum sempat balas." jawab Dae-Vin terdengar santai. Padahal dalam hatinya, dia sudah berdebar-debar menanti jawaban dari Araya. Apakah dia akan senang, atau dia akan menerima kalimat yang bisa membuatnya kecewa.


"Ehm.. Bagaimana menjelaskannya ya? Aku agak bingung." ucapan lirih Araya berhasil tertangkap pendengaran Dae-Vin. Dia hanya diam dan masih menanti.


"Mungkin dari sini." kata Araya hendak mulai menjawab pertanyaan yang sedari tadi mengganjal bagi Dae-Vin. "Sebenarnya, aku.." kalimat itu menggantung. Dae-Vin menatapnya dengan wajah yang penuh harap. Bahkan dia sampai tak mengedipkan matanya.


"Aku juga suka denganmu." Araya membisikkan kalimat itu sembari memberanikan diri untuk memutar kepalanya dan menatap lawan bicaranya.


"Benarkah? Jadi kamu terima?"


"Aku jelaskan dulu."


Seketika Dae-Vin langsung mengubah ekspresinya. Yang mendadak sumringah, kini kembali memasang ekspresi penuh harap seperti tadi setelah mendengar kalimat lanjutan dari Araya.


"Meskipun begitu, aku.. Hanya ingin menganggap kamu sebagai teman, tidak lebih. Kalau ada interaksi yang lebih, pasti pertemanan kita juga akan berubah. Jadi, tolong kamu mengerti." ucap Araya menjelaskan. Dae-Vin sedikit menundukkan kepalanya.


"Aku mengerti kok." Dae-Vin mencoba menghela nafasnya sepelan mungkin supaya tidak terdengar oleh Araya.


"Meskipun kamu aku tolak untuk sekarang, pada akhirnya kita juga akan saling memiliki. Jangan khawatir, Dae-Vin.." kata Araya dalam hati, dia cukup tenang setelah bisa mengetahui siapa pendamping hidupnya di masa depan nanti. Ingin rasanya ia mengelus punggung Dae-Vin untuk sedikit menenangkannya, tapi tangannya masih di perban dan sulit untuk digerakkan.


"Tidak apa Araya. Aku juga telah menduga kalau kamu akan menolak. Tapi, suatu saat aku ingin mengulangnya lagi dan berharap kamu akan menerima. Aku akan menunggu untukmu." empat kalimat itu tertahan. Dae-Vin ingin mengatakannya, tapi lidahnya kelu dan rasanya terlalu berat untuk kembali bersuara.


"Setelah ini, kamu mau ke mana?" tanya Araya mengalihkan topik. Pertanyaan itu berhasil membuat mereka berdua saling pandang.


"Tidak tau. Kamu mau ke ruanganmu?"


"Tidak, aku belum ingin berbaring lagi. Aku sudah puas berbaring selama delapan hari, hehehe.." jawab Araya diakhiri dengan kekehan kecil. Araya masih tersenyum saat Dae-Vin menatapnya dengan tatapan iba.


"Lalu mau ke mana?"


"Aku ingin ke luar sebentar."


...----------------...

__ADS_1


Saat ini, Araya dan Dae-Vin sudah berada di tempat yang terlihat seperti balkon. Tempat itu berada di sebelah timur markas. Malam ini cerah, terlihat bintang-bintang yang bertaburan di langit yang tanpa awan itu.


Angin malam yang cukup dingin, tak membuat mereka berdua segera masuk.


Beberapa detik yang lalu, Dae-Vin menggunakan teleportasinya supaya mereka berdua bisa cepat ke tempat tersebut.


"Sudah cukup lama aku tidak ke sini." ucap Araya lirih sambil memandang hamparan laut dengan ombak yang tak terlalu besar. Tempat itu juga cukup jauh dan terpisah dari pulau yang lainnya.


"Iya. Kamu belum pernah ke sini. Waktu itu kan kamu berada di tempat yang satunya. Yang menghadap ke barat." balas Dae-Vin sembari sekilas mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Ketika awal-awal mereka menjadi anggota Elemental Asia generasi kesembilan.


Araya hanya mengangguk pelan, dia juga masih ingat saat-saat itu. Kenapa dirinya bertingkah seperti itu, seandainya dia lebih mengerti peraturan di sini, mungkin hal seperti itu tidak akan terjadi.


Suasana menjadi sunyi. Mereka sama-sama terdiam dan berpikir dengan sudut pandang masing-masing. Hingga tak lama kemudian, angin berhembus agak kencang. Rambut mereka bergerak-gerak diterpa angin.


Dae-Vin melepas jaket yang dikenakannya, kemudian memakainya pada Araya.


"Aku tidak dingin kok." ucapan Araya menolak tanpa disertai penolakan dalam bentuk gerakan. Tangannya masih sakit untuk digerakkan meskipun pelan.


"Tidak apa-apa. Jangan sampai nanti kamu ketambahan masuk angin juga." jawab Dae-Vin sambil melanjutkan kegiatannya. Araya hanya menerimanya setelah mendengar jawaban Dae-Vin yang cukup masuk akal.


"Terima kasih.."


Setelah itu, mereka kembali terdiam. Mereka berdua duduk di atas kursi panjang yang sengaja ditaruh di situ. Mereka berdua duduk bersebelahan, meskipun masih ada jarak beberapa sentimeter di antara keduanya.


"Dae-Vin, apa kau bisa bernyanyi?" tanya Araya tiba-tiba yang dibalas tatapan bertanya dari Dae-Vin.


"Memangnya kenapa?" Dae-Vin balik bertanya sambil sedikit mengernyit.


"Tidak apa, aku hanya sedikit bosan."


"Mau mendengarkan lagu bersama-sama?"


"Hmm boleh."


Setelah itu, Dae-Vin mengambil ponselnya dari dalam saku. Kemudian menyalakannya dan mencari aplikasi musik untuk mencari lagu yang akan dia setel.


Setelah ketemu, dia meletakkan ponselnya di antara mereka berdua. Lagu mulai dimainkan.


"If I had to live my life without you near me


The days would all be empty

__ADS_1


The night would seem so long


With you i see forever, oh, so clearly


I might have been in love before


But it never felt this strong


Our dreams are young and we both know


They'll take us where we wanna go


Hold me now, touch me now


I don't wanna live without you"


(Nothing's Gonna Change My Love For You – Michael Masser & Gerry Goffin)


"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Dae-Vin setelah menyadari tatapan dari Araya. Tatapan yang bisa diartikan sebagai bentuk takjub.


"Dae-Vin suaramu.. Bagus sekali.." kata Araya sambil menatapnya dengan tatapan berbinar.


Pasalnya, yang Dae-Vin setel dari ponselnya tadi hanya instrumental saja, sedangkan liriknya dia yang bernyanyi secara langsung.


Dae-Vin tersenyum tipis. "Benarkah? Padahal sudah lama aku tidak bernyanyi."


"Iya, suaramu luar biasa. Apakah kamu berlatih sendiri?"


"Waktu masih sekolah, diam-diam aku bergabung ke klub musik." jawab Dae-Vin sambil mengubah posisi duduknya. Dia menatap lurus ke depan.


"Kenapa diam-diam?" tanya Araya lagi.


"Yah, kamu mungkin tau bagaimana sifat ayahku. Aku selalu dipaksa untuk belajar, hal itu membuatku mulai depresi dan tertekan. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk bergabung ke klub musik untuk meredakan kedua hal tadi. Di situ aku belajar cara bernyanyi yang baik dan benar, cara bermain alat musik, dan apapun yang ada kaitannya dengan musik." jelas Dae-Vin sambil sedikit bernostalgia saat dia masih sekolah.


To be continued..


...----------------...


Ternyata Dae-Vin bisa nyanyi. Bahkan author aja enggak bisa ><


Okelah, jangan lupa like kalau suka, komen dan favorit juga. Terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2