Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 67


__ADS_3

[Desert Mission Arc - #7]


...----------------...


"Maaf Shiroi, sepertinya aku tidak bisa.." ucap Araya dengan suara bergetar, tubuhnya telah terkulai lemas di atas padang pasir yang belum terlalu panas.


Perlahan namun pasti, matanya mulai menutup. Kesadarannya memang belum sepenuhnya menghilang. Samar-samar dia bisa mendengar suara teman-temannya yang meneriaki namanya.


"Araya, kamu bukan orang yang lemah. Bangunlah! Kamu pasti bisa!" suara itu terdengar, hanya Araya yang bisa mendengar suara itu. Suara bariton seorang laki-laki yang beberapa hari ini terdengar olehnya. Suaranya mirip seperti suara seseorang yang memberi tahunya tentang ketiga nyawanya.


Wuush!


Seketika angin berhembus agak kencang, membuat debu-debu berhamburan sampai menghalangi jarak pandang. Saat itu juga, Araya beserta Darkviper menghilang dari tempat itu.


"Teman-teman, aku akan menjauhkan Darkviper dari kalian!" dari alat komunikasi, terdengar suara Araya.


"Araya, di mana kamu?" tanya Dae-Vin sambil memandang sekeliling setelah debu-debu tadi sudah mulai menipis dan pada akhirnya kembali jatuh ke tanah.


"Araya, jangan memaksakan dirimu," balas Hanny. Dia punya firasat buruk tentang Araya. Apalagi keadaannya sudah diperparah dengan racun yang kedua, racun yang asli dari Darkviper.


"Jangan khawatir, aku janji. Aku akan menemui kalian lagi." Araya membalasnya seakan tidak ada beban, dia tak ingin membuat orang lain khawatir karenanya.


"Kenapa kamu menanggungnya sendiri Araya? Bukankah kita semua ini tim?" Zaaryan menanggapi. Dirinya juga merasa tidak enak hati karena merasa membebankan misi ini pada anggota termuda dalam regu mereka.


"Pokoknya kalian tidak perlu khawatir. Kalian belum tau ya, kalau aku sudah bisa menggunakan evolusi ketiga? Yasudah, kita lanjutkan nanti, ya teman-teman." jawab Araya sambil mengakhiri komunikasi dengan rekan-rekannya.


...----------------...


Di tempat lain, namun masih berada di gurun yang sama. Dua orang sedang berdiri saling berhadapan. Mereka menggunakan armor yang warnanya berlawanan. Yang satu hitam pekat, dan yang satunya memakai armor putih dengan gradasi hijau.


"Cih! Kukira hidupmu sudah berakhir. Ternyata begitu tangguh." ucap Darkviper sambil berjalan memutari Araya. Araya hanya diam dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan serangan.

__ADS_1


"Hihi, tentu saja! Aku tidak semudah itu kau kalahkan." sambil tertawa kecil, Araya menanggapi. Dirinya punya rencana, apalagi setelah mendapatkan armor dan teknik baru dari evolusi ketiga.


"Shiroi, apa saja teknik utama dari evolusi ketiga?" tanya Araya pada Shiroi. Percakapan mereka di dalam armor tidak akan terdengar oleh musuh di luar, jadi tidak perlu khawatir.


"Element gravitasi. Kamu bisa membuat suatu daerah mempunyai gravitasi lebih kuat, ataupun sebaliknya."


"Aah, aku punya ide. Cara menggunakannya sama saja kan?"


"Tentu. Ini sudah dimodifikasi, jadi lebih mudah."


Setelah mendengar jawaban dari Shiroi, Araya bertekad untuk bisa mengalahkan Darkviper dalam waktu tidak sampai sepuluh menit.


Dengan ekspresi santai, Araya menatap Darkviper yang masih berjalan mengelilingi dirinya. Yah, meskipun dia masih merasa sakit akibat gigitan tadi, namun dia menahannya. Jika dia bisa mengalahkannya dalam waktu dekat, maka dia juga bisa meminimalisir racun untuk terus mengalir dalam darahnya. Singkatnya, jika Darkviper kalah, maka racunnya akan ikut lenyap.


Araya merapatkan kakinya, dia menatap ke bawah. Mulai berkonsentrasi untuk mengendalikan gravitasi dalam radius beberapa ratus meter.


"Element Change, Third Mode! Gravity Ballast!" setelah mengucapkan kalimat itu, perlahan-lahan terdapat kekuatan di dalam tanah yang berkumpul tepat di bawahnya. Seakan Araya ada pusat, energi itu terus berkumpul di situ. Bukan hanya itu, ada efek lain yang menyebabkan armor Araya menjadi berwarna putih bergradasi warna violet.


Akibat dari itu, tubuh Darkviper jadi tertarik ke permukaan tanah. Seakan ada magnet super kuat yang menarik armornya, dia sama sekali tak bergerak.


"Ini bukan magnet, Kak Darkviper. Inilah yang dinamakan gravitasi. Tak pandang sifat bahan, apa saja dapat tertarik ke bawah." dengan langkah biasa, Araya berjalan mendekati Darkviper yang masih tak bisa bergerak. Meskipun gravitasi di sana menjadi lebih kuat sampai beberapa kali lipat, namun Araya sama sekali tidak terpengaruh. Yang dia rasakan masih seperti biasanya.


"Shiroi, tumbuh apa yang beracun?" tanya Araya lagi pada Shiroi.


Dia langsung membalas, "bunga water hemlock itu beracun. Aku tau kamu punya rencana ya?"


"Tentu saja. Elemental change! Second armor mode!" setelah itu, Araya mengganti mode armornya, yang tadinya mode ketiga menjadi mode kedua.


"Shiroi, bunga water hemlock racunnya seberapa berbahaya? Entah mengapa, aku ingin membuatnya menderita, hihi.." sembari menatap Darkviper yang tidak bisa bergerak, Araya tertawa kecil, dari tawanya itu dia jadi seperti psikopat.


"Bunga water hemlock, punya racun yang berbahaya. Kalau terkena, bisa membuat korbannya tersenyum sebelum mati." jawab Shiroi tanpa basa-basi. Namanya juga sistem, maka dia tidak akan membuang-buang waktu pemiliknya untuk hal yang kurang penting.

__ADS_1


"Oh, okey." setelah itu, Araya terdiam. Kemudian dia menjentikkan jarinya sampai terdengar suara 'ctak'. Dan seketika tempat itu ditumbuhi ratusan batang pohon bunga water hemlock dengan cepat.


Tidak sampai sepuluh detik, tempat itu langsung jadi taman bunga. Banyak bunga-bunga berukuran kecil yang berwarna putih. Itulah bunga water hemlock, meskipun indah luarnya, tetapi bunga ini beracun.


"Hahahaha! Kamu kenapa malah membuat taman bunga hah? Lucu sekali!" lain dari dugaannya, Darkviper yang telah kembali berwujud Darkness Swordwoman masih terkapar di sana, meskipun beberapa kali dia tersentuh oleh tanaman bunga tersebut.


"Shiroi, kenapa dia malah tertawa? Kenapa tidak keracunan?" mengernyit heran, Araya bertanya pada Shiroi lagi.


"Kamu pasti belum tau. Bunga water hemlock selain racunnya bisa membuat orang tersenyum saat mati, juga bisa membuatnya tertawa seperti psikopat. Awalnya dia tertawa dan tersenyum, tapi membunuh secara perlahan." jelas Shiroi. Araya mengangguk pelan.


"Ooh, aku mengerti. Baiklah, kalau begitu, aku tinggalkan saja, biarkan saja dia mati." ucap Araya sembari membalikkan badannya hendak meninggalkan tempat itu.


"Hey! Bocah sialan! Hahahaha! Lihatlah, aku sudah bisa berdiri."


Mendengar ucapan itu, Araya seketika berbalik. Di belakangnya, Darkviper benar-benar sudah bisa berdiri. Araya membelalakkan matanya tak percaya, bagaimana dia bisa lolos dari teknik pemberat gravitasi tadi?


"Oh, ternyata teknik-ku tidak cukup kuat. Baiklah." gumam Araya sembari membenturkan kedua telapak tangannya, setelah itu mulai menarik pedangnya. Pedang khusus tahap kedua, mempunyai racun yang ada di ujung pedang tersebut.


"Hati-hati Araya," ucap Shiroi memperingatkan. Tetapi, Araya sama sekali tidak mendengarkan peringatannya.


"Lihatlah, aku bisa bergerak bebas! Hahaha!" lagi-lagi Darkviper tertawa sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Dia benar-benar telah terbebas dari teknik Araya tadi.


Sring!


Secepat kedipan mata, Araya sudah menusukkan pedangnya tepat di leher Darkviper. Lawannya itu tak berkutik, dan lama-kelamaan tubuhnya ambruk. Di balik topengnya, Darkviper sebenarnya memasang seringai meskipun dia sudah tidak bernyawa. Perlahan-lahan, tubuhnya lenyap. Pedang Araya kini hanya menusuk udara.


Saat itu pula, sudut bibir Araya tertarik ke atas, matanya terasa berat. Kedua tangannya menurunkan pedang yang masih digenggamnya.


Di balik seringai Darkviper tadi, rupanya dia mempunyai rencana licik. Yakni dia berusaha terbebas dari teknik gravitasi, dan kemudian membuat Araya mendekat supaya terkena tekniknya sendiri. Istilahnya, senjata makan tuan.


To be continued..

__ADS_1


...----------------...


Gimana menurut kalian? Jangan lupa like, komen, dan favorit ya!


__ADS_2