Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 113


__ADS_3

[Spin off arc - #2]


...----------------...


Ruangan mendadak senyap setelah beberapa orang bersetelan jas masuk ke ruangan itu. Salah satu orang terlihat tak asing bagi Araya.


"Beri hormat pada Komandan!" seru Henry pada semua rekannya. Semua orang berdiri, kemudian memberi hormat seperti yang diinstruksikan. Begitupun Araya.


Komandan memerintahkan semua orang untuk untuk kembali posisi semula, plus santai saja, toh misi mereka sudah selesai. Meskipun agak canggung, semua orang mencoba bersikap santai. Hingga …


"Mana yang ulang tahun?" Wakil Komandan bertanya, sontak semua rekan-rekannya melemparkan pandangan pada Araya. Perhatian semua yang ada di sana tertuju padanya.


Seseorang dengan pangkat Komandan dan Wakil Komandan itu berjalan ke arahnya. Araya meneguk salivanya. Ia ingat kalau dia pernah diberi peringatan oleh Pak Wakil Komandan yang juga merupakan ayah dari seseorang yang berada di sebelahnya.


"Karena misi sudah selesai, kalian semua diperbolehkan memanggil rekan kalian dengan nama aslinya." sekilas membalikkan badan, Komandan berucap sambil tersenyum tipis. Tunggu, tersenyum?


"Siap, Komandan!"


"Ayolah, tapi bagiku nama samaran ini lebih keren. Selama belum keluar dari tempat ini, tolong tetap panggil aku Henry." Henry sedikit memohon. Entah kenapa dia berpikiran seperti itu.


"Aku juga berpikir seperti itu, Komandan." Lucas menimpali.


"Baiklah kalau itu mau kalian. Tapi, hanya untuk di markas saja."


Henry dan Lucas saling bertatapan, "Yes!"


"Oh iya, Araya." Wakil Komandan berjalan mendekat padanya. Araya yang ingin kembali duduk pun mengurungkan niatnya.


"Saengsin chukhahamnida." dia mengucapkan selamat ulang tahun pada Araya. Nada bicaranya, berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.


"Terima kasih, Pak." Araya berterima kasih sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Kamu baru empat belas tahun?"


"Iya, Pak."


"Wah, hebat-hebat. Empat belas tahun tapi bisa mengalahkan ratusan Darkness Swordman."


Araya mengangguk sambil berterima kasih. Ia merasa obrolannya malah canggung.


"Oh iya, Arga." Pak Wakil Komandan itu menoleh ke arah Arga.

__ADS_1


"Iya, Pak?"


"Dia belajar dari siapa? Kenapa dia bisa sekuat itu?"


"Saya tidak tahu, Pak. Saya 'kan baru-baru ini bertemu dengannya."


"Ah iya juga. Dae-Vin, apa kau tahu?" kini, Pak Wakil Komandan itu bertanya pada Dae-Vin yang berdiri bersebelahan dengan Araya.


"Dia menggunakan element Rigel yang merupakan gabungan dari element miliknya dan milik mendiang Kak Steve," jelas Dae-Vin, "iya 'kan?"


"Iya." Araya mengangguk pelan.


"Araya, saya ingin minta maaf." ekspresi pria itu berubah, nada bicaranya pun juga.


"Untuk apa, Pak?"


"Soal yang waktu itu. Saat itu saya berada dalam pengaruh Darkzero."


"Hah?!" semua orang yang mengerti pembicaraan mereka seketika terkejut. Termasuk Dae-Vin sendiri. Dia juga baru mengetahui hal itu.


"I-iya, Pak. Lagipula, saya sudah melupakannya." balas Araya santai. Dia ingin segera menyelesaikan masalah itu. Lagipula, banyak anggota-anggota lain yang menganggap kalau aturan yang itu tidaklah serius.


"Jadi, sekarang apa status kalian?"


Setelah tahu kalau dirinya diperhatikan, Araya jadi gugup sendiri. Sambil menatap ke bawah, dia berkata dengan nada pelan, "Kami hanya sebatas rekan tim."


Dae-Vin yang sejak beberapa detik lalu memalingkan wajah, dia hanya menghela napas. Tak apalah, belum waktunya.


"Lihat! Dae-Vin bisa malu-malu juga rupanya." bisik Jeasson pada teman-temannya.


"Haha, benar." balas Xela. Dia tertawa kecil melihatnya.


"Yey! Berarti aku masih punya kesempatan untuk bisa berteman akrab dengan Araya." Henry menimpali. Seketika Jeasson, Lucas, Adli, dan Zaaryan menatapnya tajam.


Jadi, Araya banyak yang naksir? Termasuk aku sepertinya, pikir Axel. Dia merasakan sesuatu yang mengganjal setelah menyimak percakapan mereka.


"Maaf, Pak! Dia masih terlalu kecil untuk membahas hal ini."


...----------------...


Singkatnya, sekarang sudah sore. Arga mengajak Araya pulang ke rumah karena dia bilang dia rindu dengan ibunya.

__ADS_1


Acara ulang tahun tadi juga sebenarnya adalah acara perpisahan. Organisasi juga telah dibubarkan. Markas akan berganti fungsi menjadi museum.


Sepanjang perjalanan, Arga meminta Araya untuk bekerja sama dengannya membuat kejutan. Araya setuju saja. Rencananya juga tak terlalu sulit.


Sesampainya di rumah, Araya mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


Tak lama kemudian, pintu segera terbuka. Menampilkan sosok ibu yang sudah lama ia rindukan.


"Araya!"


"Ibu, aku membawa Ayah pulang!" seru Araya sambil melompat dan memeluk ibunya. Ibunya balas memeluknya dengan erat.


"Tunggu, apa kau bilang? Ayah?" Ibunya melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Araya sambil bertanya dengan serius.


Di saat itu pula, Arga sudah berdiri di belakang Araya. Mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum, "Hai, aku pulang."


...----------------...


Beberapa tahun berlalu. Dunia menjadi lebih damai semenjak gerbang dimensi tertutup permanen. Alumni anggota Elemental dunia melanjutkan hidup mereka masing-masing. Ada yang bersekolah, ada yang bekerja, bahkan ada yang sudah keliling dunia.


Ketika itu, Araya masih ingin melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas negeri. Sudah semester keempat lebih tepatnya. Bagaimana dengan kakaknya? Dia masih sekolah lagi untuk dapat gelar magister.


"Sampai jumpa, Araya!"


"Ya, sampai bertemu besok!"


Sore itu, Araya baru pulang dari kampus. Di perempatan gang, dia berpisah dengan seorang temannya yang berjalan ke arah yang berlawanan.


Ia segera lanjut berjalan ke rumah. Rasa lelahnya sudah menumpuk. Otaknya terasa panas setelah akhir-akhir ini tugasnya semakin banyak. Yah, dia sendiri yang menginginkan ini. Dia masuk dan diterima di jurusan arsitektur.


Sesampainya di depan gerbang rumah, dia melihat sesuatu yang dia rasa tidak biasanya.


Siapa yang berkunjung sore-sore begini? Pikirnya sambil membuka pintu gerbang.


Tepat di depan rumahnya, ada mobil yang terparkir. Mobil dengan harga yang fantastis. Apakah dia orang yang spesial?


Rasa penasaran Araya segera terjawab. Terlihat seorang laki-laki yang pasti lebih tua darinya, berjalan keluar dari pintu depan. Laki-laki good looking itu tersenyum sambil berkata, "Hai. Ingat, kita masih belum impas."


"Kim Dae-Vin?"

__ADS_1


...****************...


Hey, Dae-Vin ngapain ke rumah Araya? Ada yang baper nggak?


__ADS_2