Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 98


__ADS_3

[Darkness Invasion Arc - #9]


...----------------...


"Eh? Kamu sudah kehilangan akalmu ya? Kebanyakan orang akan minta dibebaskan. Sedangkan kamu, malah minta disiksa." Darkzero tertawa mendengar perkataan Steve. Sedangkan laki-laki yang berdiri di balik jeruji itu menatapnya penuh keseriusan dan amarah.


Steve diam. Bukannya ia tak punya argumen untuk menjawab, namun ia tak ingin basa-basi. Dalam hati, ia juga berharap supaya rekan-rekannya baik-baik saja meskipun dirinya tidak.


"Kok diam? Kalau diam, berarti kamu masih takut untuk kusiksa." celetuk Darkzero setelah tiga detik ia berhenti tertawa.


"Terserah apa katamu." Steve mengalihkan pandangannya. Matanya menyipit ketika menyadari kalau ada ruangan eksekusi lain di seberang ruangannya.


"Hehe, rupanya kau penasaran dengan ruangan itu ya?" Darkzero bertanya sembari membelakangi ruangan Steve. Ditatapnya ruang eksekusi itu yang teramat gelap. Tak seperti ruangan tempat Steve yang masih terdapat obor penerangan, bilik itu benar-benar gelap.


"Tidak. Aku hanya penasaran dengan keberadaan rekanku." balas Steve acuh. Memang benar kalau ia penasaran dengan kabar Araya, lebih tepatnya khawatir.


"Yah, benar. Di dalam ruangan, ada seseorang yang kau cari. Tapi, mungkin nyawanya sudah tidak ada."


Mata Steve terbelalak setelah mendengar perkataan sang Makhluk Kegelapan. Perasaannya tidak nyaman. Napasnya mulai memburu meskipun ia tidak habis lari-lari.


"Iya, dia sudah mati. Sudah tidak bernapas. Biarkan saja dia menemui ayahnya dan si pria albino itu." Darkzero berbalik dan menatap Steve.


Pria albino? Siapa?


"Siapa yang kau maksud 'Pria Albino'?" tanya Steve heran. Selama ini, ia belum pernah tahu kalau ada anggota yang punya kelainan genetik seperti albino. Atau, keberadaannya dirahasiakan?


"Yah, kau mungkin tidak akan pernah tahu tentangnya." Darkzero mengangkat bahunya dengan acuh.


GREK!


Makhluk itu membuka jeruji ruangan di seberang ruang eksekusi tempat Steve. Sontak laki-laki itu jadi semakin takut kalau apa yang Darkzero katakan memang benar.


Lima detik berlalu. Ruangan di seberangnya itu menjadi terang karena Darkzero menyalakan obor di dalamnya.


Mata Steve terbelalak, mulutnya menganga setelah melihat apa yang terjadi pada rekannya.


Di dalam ruangan itu, terlihat Araya tak sadarkan diri—atau mungkin sudah lebih dari itu—dengan tubuh babak belur. Cipratan darah ada di mana-mana, di lantai, di dinding, bahkan di plafon juga ada.

__ADS_1


Sekujur tubuh Araya telah kotor akibat terkena darahnya sendiri. Begitupun dengan wajahnya. Ada luka di dahi dan bawah mata, serta dagu. Di kedua sudut bibirnya, ada bekas darah yang belum sempat mengering.


Dan yang lebih mencengangkan, ada tiga buah pedang yang masih tertancap di tubuhnya. Satu di bahu, dan dua lainnya tertancap di bagian perut—salah satu dari dua pedang itu mengenai tepat di organ hati.


"Park Hana … tidak mungkin …." Steve tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak mungkin Park Hana mati secepat itu, pikirnya. Tapi, apa yang dilihatnya memang nyata.


...----------------...


Flashback beberapa saat yang lalu.


Araya membuka matanya lebih dahulu. Dilihatnya bilik di seberang tempat Steve. Beberapa kali Araya memanggil-manggil namanya, berharap rekan laki-lakinya itu segera siuman.


Tapi, yang terjadi adalah hal yang tidak ia harapkan. Malah ada beberapa Darkness Swordman bawahan Darkzero yang datang menghampirinya. Dan masing-masing dari mereka membawa senjata.


"Apa yang kalian inginkan?!" Araya bertanya setelah para Darkness Swordman itu membuka pintu jeruji dan masuk ke dalamnya.


"Hanya satu, yakni menyiksamu sampai mati."


Tidak sampai sepuluh detik, eksekusi telah dimulai. Berbagai serangan Araya terima tanpa perlawanan—karena tangan dan kakinya juga diikat dengan rantai seperti Steve.


Beberapa kali tubuhnya mereka panas dan perih akibat terkena hantaman cambuk. Dan yang terburuk, tusukan di badan lagi-lagi ia rasakan setelah beberapa bulan berlalu sejak misi Planet Mars.


"Aku punya firasat buruk." gumamnya sambil menatap gerbang dimensi yang jaraknya sekitar dua kilometer dari tempatnya berdiri.


Dengan cepat ia berusaha melacak seluruh rekan-rekannya yang kini berada di tempat yang sudah seperti medan perang. Posisi mereka dapat diketahui, kecuali dua anggota yang lainnya.


"Di mana Araya dan Steve?" kepanikannya memuncak setelah ia tidak menemukan sinyal dari kedua orang itu.


"Araya? Siapa?" tanya Lucas, tentu ia masih belum mengerti kalau nama asli Park Hana itu Araya.


"Park Hana maksudku."


"Dia dan Steve tidak ada?"


Dae-Vin mengangguk, tangannya terkepal erat seiring dengan rasa khawatir yang terus datang padanya.


Flashback selesai.

__ADS_1


...----------------...


"Hey, Zaaryan!" seseorang memanggil. Dan orang yang merasa dipanggil langsung menoleh ke arahnya.


"Ada apa, Profesor?" tanya Zaaryan setelah sekian jam ia tidak bertemu dengan seniornya itu. Tepat di depannya, Rain selaku Profesor R berjalan cepat ke arahnya.


"Kenapa hanya sendirian di sini? Berbahaya kalau sendirian." tanyanya setelah berdiri tepat di depan Zaaryan.


"Teman-teman yang lain bertugas di dekat Blok D sampai H. Di sana sangat banyak Darkness Swordman." balas Zaaryan, sekilas ia ingat perkataan beberapa rekan regu tersier. Mereka meminta Zaaryan untuk terus mengawasi dari sana, apakah Darkness Swordman yang datang banyak atau tidak, serta level yang mereka punya.


"Ooh, aku mengerti." balas Rain seraya menepuk pelan pundak Zaaryan. "Dan, apa kau tahu, cara untuk masuk ke sana?" mengedikkan dagunya ke arah dalam dimensi Darkness, Rain bertanya. Berharap Zaaryan bisa menjawabnya, sebab ia sedari tadi berada di situ.


"Apakah tidak bisa dimasuki?" Zaaryan balik bertanya. "Kulihat dari tadi banyak Darkness Swordman yang keluar-masuk lewat situ."


"Kami tidak bisa masuk. Seperti ada sensor yang bisa mendeteksi energi kita, sehingga dinding transparan itu muncul dan menghalangi." jelas Rain.


Zaaryan mengangguk pelan. "Sudah mencoba lewat bawah?"


"Lewat bawah? Maksudmu?"


"Kita lewat bawah tanah untuk untuk bisa sampai ke dalam sana. Ehm, saya juga tidak tahu kalau cara ini akan berhasil atau tidak." ucap Zaaryan agak ragu. Ada satu hal yang ia pikirkan. Jika lewat bawah tanah untuk bisa sampai ke seberang gerbang, apakah bisa sampai dimensi Darkness? Hal itulah yang ia pikirkan.


"Sepertinya itu mustahil. Gerbang itu adalah pembatasnya. Belum tentu tanpa gerbang pembatas itu kita bisa sampai ke sana."


"Benar juga." balas Zaaryan. "Saya tidak tahu cara lain, Profesor. Sejauh ini, belum ada anggota Elemental yang berhasil melewati gerbang itu."


"Benarkah? Tapi, bagaimana caranya Steve bisa—tunggu, dia pengguna element kegelapan, makanya ia bisa melewatinya." Rain mengubah nada bicaranya, yang tadinya pelan, kini jadi sedikit bersemangat. Tercetus sebuah ide di kepalanya, sehingga sedikit banyak bisa mengurangi rasa cemasnya.


"Lalu, apa yang harus dilakukan, Profesor?" Zaaryan bertanya. Dari ekspresi laki-laki di depannya itu, dia menebak kalau Rain memang telah punya rencana. Dan tebakannya memang benar.


"Cara ini mungkin akan sedikit kejam. Tapi, tidak lebih kejam daripada mereka yang menginvasi dimensi kita."


"Caranya?"


"Kita akan mengambil paksa element kegelapan milik para Darkness Swordman. Dan kita akan menggunakannya supaya bisa masuk ke sana."


To be continued …

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yang udah setia membaca sampai part ini. Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Have a nice day!


__ADS_2