
[Headquarters Arc - #5]
...----------------...
"Sebenarnya, aku.. Aku tidak bisa berenang." menundukkan kepalanya, Araya berucap lirih. Tapi ia yakin kalau keempat rekannya masih bisa mendengar apa yang dia katakan.
Berbeda dari apa yang dia perkirakan. Bukannya terkejut atau apa, mereka menanggapinya dengan santai.
"Ooh, kukira ada apa. Jangan khawatir, besok kolamnya tidak dalam kok, hanya dua meter saja." menggelengkan kepalanya, Henry berucap berusaha menenangkan. Tapi, bukannya tenang, perasaan Araya malah semakin khawatir.
"Dua meter? Sudah jelas aku akan tenggelam jika dalamnya segitu."
"Memangnya, tinggi badanku sampai dua meter? Aku juga akan tenggelam."
"B-bukan begitu maksudku Kak. Kalau kalian pasti bisa berenang kan?"
"Tentu saja."
"Bisa."
"Sepertinya aku yang akan turun tingkatan." dengan lesu, Araya berucap seakan dia sudah mengetahui hasilnya dengan pasti.
"Hey, kamu jangan pesimis begitu. Kamu bisa latihan dulu, belajar dari buku." Henry memberi saran.
"Latihan, tesnya kan besok.."
"Yah, kamu bisa latihan bersamaku nanti sore setelah tes hari ini selesai."
"Aku akan memikirkannya."
...----------------...
Saat ini, semua anggota Elemental generasi terakhir sudah berada di satu ruangan yang sama. Tes kali ini, tidak pandang kasta, dari tingkat primer, sekunder, sampai tersier sekarang sudah berada di ruangan untuk melaksanakan tes perdana.
Tesnya memang sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Tes tentang pengetahuan mengenai organisasi Elemental. Cukup mudah bagi beberapa orang yang yang sering ke perpustakaan dan membaca-baca buku tentang organisasi ini.
"Siapa seseorang yang mencetuskan ide untuk membuat organisasi Elemental dunia?" Dalam hati Araya berpikir. Ini baru pertanyaan pertama, tapi soalnya sudah lumayan sulit. Dia memang beberapa kali pernah membaca tentang hal itu, namun dia tidak mengingatnya dengan jelas dikarenakan sudah banyak yang mengisi pikirannya.
"Pertanyaan kedua. Tahun berapakah organisasi Elemental didirikan?"
__ADS_1
"Nomor tiga. Berapa banyak cabang organisasi Elemental pada tahun 2005?"
"Nomor empat. Ada berapa jumlah elemen utama saat organisasi elemen Australia mencapai generasi keenam?"
"Kenapa? Kenapa soalnya begitu sulit?" Sembari meremas pena di tangan kanannya, Araya membatin setelah beberapa saat berpikir namun tak kunjung mendapatkan jawaban.
Baginya, soal-soal tes kali ini lebih sulit daripada soal ujian fisika dan matematika di sekolah. Ini baru hari pertama tes, tapi sudah sesulit ini. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Mungkin akan lebih sulit lagi.
Sekilas Araya menetap Dae-Vin yang duduk di barisan para anggota sekunder. Dari kejauhan, dia juga terlihat agak bingung dengan soal-soal itu. Padahal kan biasanya dia selalu bisa menjawab apapun pertanyaannya. Jika soal-soalnya berhubungan dengan organisasi Elemental Asia, maka bisa dipastikan mereka bisa menjawabnya dengan benar.
"Tapi syukurlah soal soalnya pilihan ganda, aku bisa menjawab dengan asal." Dalam hati ia bersyukur karena sebagian besar soal itu berbentuk pilihan ganda. Jadi, tinggal memilih salah satu saja.
"Tapi, kalau jawabanku salah, nilaiku akan dikurangi satu." Araya kembali mempertimbangkan sebelum menjawab. Tes pertama ini, jawaban soal yang salah nilainya akan dikurangi 1, sedangkan kalau benar nilainya akan ditambah 3. Nilai rata-rata target adalah 70.Jika ada yang nilainya di bawah target itu, maka dia gagal dalam tes ini.
Berbeda dengannya, ketika Araya menoleh sekilas ke arah kanannya, terlihat Steve mengerjakan soalnya dengan sungguh-sungguh. Sama sekali tidak terlihat kebingungan dalam menjawabnya.
Hingga, tanpa Araya duga, pandangan mereka bertemu. Sontak, Araya mengalihkan pandangannya supaya tidak bertatapan lagi dengan laki-laki itu.
Tek!
Suara itu berhasil mengalihkan perhatian Araya. Araya pun kembali melirik ke arah sumber suara. Ternyata dia, Steve menjatuhkan pulpennya, entah sengaja atau tidak.
Steve mengangguk pelan setelah Araya memberi tatapan bertanya padanya. Setelah merasa yakin, Araya pun menjawab soal-soal tersebut seperti yang sudah dikodekan olehnya.
Araya memang tidak meminta contekan, tapi entah kenapa Steve bersuka rela memberi tahu jawabannya.
...----------------...
Singkat cerita, ujian pertama mereka sudah berakhir. Setelah makan siang nanti baru akan dilanjutkan dengan ujian kedua. Ujian yang mengharuskan setiap tim untuk bekerjasama sebaik mungkin.
Saat ini, kelima anggota regu primer sudah berada di ruangan mereka. Duduk seperti biasa tanpa adanya pembicaraan. Hingga..
"Haah.. ujian yang tadi benar-benar sulit ya." Ucap Henry memecah keheningan sambil sedikit meregangkan otot tubuhnya.
"Hmm," Lucas membalas dengan gumaman singkat.
"Hey, buka mulutmu kalau berbicara." Ucap Henry pada Lucas yang enggan untuk membuka mulutnya. Sedangkan orang yang diajak bicara hanya diam seakan yang telah terkunci rapat. Atau mempunyai rahasia besar yang bisa terbongkar kapan saja ketika dia berbicara.
"Menurut kalian, apakah regu ini akan tetap sama anggotanya?" Tanya Henry dengan topik berbeda.
__ADS_1
"Mungkin aku yang akan turun regu." Ucap Araya sambil tertunduk lesu. Dirinya tidak yakin kalau dia bisa mempertahankan posisinya di regu primer ini. Regu yang katanya menjadi pusat dari organisasi Elemental.
"Sudah kubilang, kamu jangan pesimis. Bisa saja takdir berkata lain. Atau nanti aku yang bisa saja turun peringkat dari regu ini, haha.." kata Henry yang diakhiri dengan tertawa canggung. Kemarin, dia memang sempat ditunjuk untuk jadi ketua sementara regu primer. Jadi, tidak lucu kan kalau ketuanya yang malah diturunkan peringkatnya dari regu primer.
"Kalian selalu saja membahas hal yang tidak penting." Steve berucap tanpa menatap teman-temannya. Seketika atensi Araya dan Henry tertuju padanya.
"Hey, Ini adalah cara untuk meng-akrabkan diri." kata Henry tanpa mengalihkan pandangannya dari Steve. "Dan kamu juga perlu melakukannya. Aku orang baik-baik nih."
"Memangnya kamu orang?" melirik sekilas, Lucas angkat bicara. Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya itu berhasil membuat Henry terkekeh pelan.
"Hehe.. Kalau aku bukan orang, lalu apa? Darkness Swordman?" tanyanya pada mereka berdua. Sedangkan orang yang dia tanya hanya memasang ekspresi wajah datar.
"Bisa jadi." gumam Lucas sambil mengalihkan pandangannya. Gumaman-nya itu masih bisa masuk ke pendengaran Henry. Tapi dia tak mempermasalahkan hal itu. Dia merasa kalau mereka hanya bercanda.
...----------------...
"Park Hana." panggil seseorang dari arah sudut ruangan. Seketika Araya menolehkan kepalanya dan mencari sumber suara. Di sudut ruangan itu, ada seseorang yang dia kenali, dan cukup akrab dengannya.
"Kim Dae- Ryusei, ada apa?" Hampir saja dia keceplosan memanggilnya dengan nama asli. Dia sudah terbiasa memanggilnya Dae-Vin, jadi perlu adaptasi dulu untuk hafal memanggilnya dengan nama 'Ryusei' yang berbeda jauh dengan aslinya.
"Kemarilah." ucapnya sambil mengisyaratkan supaya Araya mendekat. Araya pun berjalan ke arahnya, kemudian duduk berhadapan dengannya. Dae-Vin terus menatapnya, sedangkan Araya mencoba pura-pura tidak melihat dan menghindari kontak mata.
"Hey,"
"K-Kenapa?" tanya Araya agak gugup. Dae-Vin tidak langsung terus terang. Dia sengaja melakukannya karena ingin berlama-lama dengan Araya. Sekarang ini memang sedang jam makan siang, jadi semua anggota aktif berkumpul di kantin. Di sini, mereka bebas hendak makan bersama dengan siapa.
"Lihat tuh, Ryusei kayaknya sudah tidak single lagi."
"Yaah, sayang sekali. Padahal aku baru ingin pendekatan dengannya."
"Iya, tapi belum tentu hubungan mereka akan lenggang. Bisa jadi besok sudah putus."
Begitulah bisik-bisik para anggota perempuan yang berhasil tertangkap pendengaran Dae-Vin. Dia hanya menghela nafasnya, kemudian menggeleng pelan.
"Setelah makan siang sebelum tes kedua, aku ingin bicara denganmu. Apakah kamu ada waktu?"
**To be continued..
Kira-kira, apa yang akan mereka bicarakan berdua? Jangan lupa baca part selanjutnya yang akan update tiga hari lagi** ^^
__ADS_1