
[Headquarters Arc - #1]
...----------------...
"APA?" Seketika pernyataan Araya tadi dibalas tatapan tak percaya dari ketiga rekan-rekannya.
Araya mengangguk pelan, "aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku-" ucapan Araya terpotong.
"Bukan salahmu Araya, ini salahku juga karena tak bisa menjagamu." ucap Dae-Vin pelan dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Iya, kami juga datang terlambat." Hanny menyahut.
"Kalau seumpama kami sudah datang lebih awal, pasti ini tidak akan terjadi." ujar Zaaryan menanggapi. "lagipula, pihak markas pasti mengerti."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa membiarkannya diambil oleh Darkillusion dan membuatnya menjadi lebih kuat?" sembari mendongakkan kepalanya, Araya berucap dengan raut wajah khawatir.
"Kita tidak akan tahu sebelum kita mengalaminya. Jadi lebih baik kita segera kembali ke markas dan memberitahu mereka." Dae-Vin memberi usul yang dibalas anggukan oleh Zaaryan dan Hanny.
"Tapi, aku takut kalau sampai mereka kecewa denganku karena aku tak bisa berbuat apa-apa." tertunduk lesu, Araya berucap.
"Jangan takut Araya, Kami bertiga akan menemanimu. Kamu tidak akan terkena masalah besar, percayalah padaku." ujar Dae-Vin berusaha menenangkan sambil mengusap puncak kepala Araya.
...----------------...
"Elemen utamamu dicuri Darkness Swordman?" tanya Profesor F setelah Araya mengatakan yang sebenarnya. Masih sambil tertunduk, Araya mengangguk pelan tak berani mengangkat pandangannya.
"Ini benar-benar tidak bagus. Jika seperti ini, misi keempat pasti dibatalkan." Profesor R menyahut yang dibalas anggukan oleh Kapten Akira.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Kak Aria setelah mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kita akan memberitahu markas pusat." Jawab Profesor F dengan wajah serius yang sebenarnya menyiratkan rasa khawatir. Dia khawatir kalau keadaan ini ini bisa bertambah parah suatu hari nanti.
"Tapi apakah mereka akan memaafkan organisasi kita? Anda tahu sendiri kan profesor, kalau mereka orang yang sangat tegas." ucap Kak Hyun-Jae menanggapi perkataan Profesor.
"Kamu memang benar, tapi kita tidak bisa diam saja. Kita harus mengambil langkah yang tepat sebelum hal buruk benar-benar terjadi."
__ADS_1
Pendapat Profesor F itu cukup masuk akal. Sebelumnya, ia sudah mempertimbangkan alasan itu.
"Araya, kamu jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Kalaupun iya, kami semua akan berusaha membelamu." mengalihkan pandangan dari tab-nya, Profesor F menatap Araya.
"I-iya. Terima kasih, Profesor." Jawab Araya sedikit tergagap. Dirinya benar-benar terasa tidak enak, karena elemen utama hilang, sudah pasti alat transformasi miliknya jadi tidak bisa berfungsi secara maksimal.
Profesor mengangguk, kemudian kembali menatap tab yang dia pegang untuk menghubungi pihak markas pusat.
Tidak lama kemudian, panggilan telah tersambung. Di layar yang menempel pada dinding, menampilkan gambar seseorang paruh baya yang mengenakan pakaian formal.
Para anggota Elemental Asia segera membungkukkan badan dan memberi salam hormat.
"Jadi langsung saja, seperti yang sudah saya katakan Pak. Inti elemen milik salah satu anggota telah dicuri oleh Darkness Swordman." ucap Profesor F hendak memulai pembicaraan.
"Iya saya mengerti. Itu karena tim kalian tidak cukup kuat. Besok, kalian semua harus meninggalkan markas dan pergi ke markas utama." ucap seseorang yang bernama Farrel. Dia adalah pemimpin World Elemental Organization.
"Ke markas utama? Lalu, markas ini akan diapakan?" tanya Kapten Akira yang sebenarnya dia tidak setuju dengan keputusan itu.
"Keberadaan markas ini sudah diketahui oleh Darkness Swordman, dan perlindungannya juga tidak cukup kuat. Berpotensi besar untuk diinvasi oleh mereka." jelasnya setelah melihat data yang tertampang pada layar komputer di sebelahnya. Data itu menunjukkan tingkat kekuatan sistem keamanan dari masing-masing cabang organisasi Elemental.
"Semuanya?" tanya Profesor R dan Kapten Akira hampir bersamaan.
Pak Farrel mengangguk pelan kemudian meneruskan, "iya, makanya itu besok kalian harus berkumpul di markas pusat ini."
Sejenak mereka terdiam. Tidak ada satupun anggota Elemental junior yang mau angkat bicara. Mereka hanya mendengarkan saja dengan saksama.
"Baiklah kalau tidak ada lagi yang mau dilaporkan, jangan lupa besok datang." ujar Pak Farrel sambil mengakhiri panggilan. Setelah itu, ruangan tersebut sunyi seketika. Tidak ada yang angkat bicara, hingga..
"Baiklah, kita lihat saja besok." Profesor F membalikkan badannya, kemudian berucap dengan nada yang tersirat rasa pasrah.
...----------------...
"Hey teman-teman, bagaimana menurut kalian kalau besok kita benar-benar tidak akan tinggal di sini lagi?" tanya Zaaryan ketika mereka berempat duduk bersama di balkon sambil melihat pemandangan matahari terbenam.
Hari ini memang masih dalam masa liburan, jadi tentu saja tidak ada latihan.
__ADS_1
"Entahlah, padahal aku sudah terlanjur nyaman di markas ini." Hanny membalas, tatapannya terarah pada air laut yang permukaannya berombak.
"Kita juga mendapat banyak pengalaman di markas ini, iya kan?" mengalihkan pandangannya, Dae-Vin yang bertanya. Ketiga temannya balas mengangguk. Baik pengalaman maupun kenangan, mereka mendapatkannya ketika berada di markas ini. Bisa dibilang, sore ini akan mereka gunakan untuk bersenang-senang di markas mereka untuk terakhir kalinya.
"Araya, kenapa kamu diam saja?" tanya Hanny pada Araya sambil menepuk pelan pundaknya. Sedari tadi, Araya terus membungkam mulutnya. Dia seakan sudah terlarut dalam pemikirannya. Dari raut wajahnya, tersirat rasa takut yang Araya sembunyikan melalui wajahnya yang biasa terlihat ceria.
Araya menggeleng pelan, sambil perlahan menarik sudut bibirnya ke atas. Sebuah senyuman yang terlihat sendu. Benar-benar tidak biasanya.
"Jangan khawatir Araya, jika besok kita benar-benar akan bergabung dengan markas pusat, kita semua tidak akan berpisah." Dae-Vin berucap, tanpa sadar tangan kirinya menggenggam tangan kanan Araya.
Hanny yang menyadari hal itu hanya diam. Begitupun dengan Zaaryan, meskipun dalam hati ia merasa ngilu melihat pemandangan itu.
"Beruntung sekali Araya, bisa dicintai seperti itu." dalam hati, Hanny membatin. Ketika ia melihat apa yang Kim Dae-Vin lakukan pada Araya, ia jadi teringat akan masa lalunya. Ketika ia masih bersekolah, ia sering sekali dikhianati, bahkan oleh seseorang yang mengaku sebagai sahabat. Setelah bertemu Araya dan rekan-rekan lainnya, perasaannya perlahan membaik. Yah, meskipun dia yang terlebih dahulu membuka perasaan untuk mereka supaya bisa berteman.
"Tapi, bagaimana kalau seumpama di sana kita berempat tidak akan bersama?" tanya Araya dalam hati. Dia tidak ingin merusak harapan mereka, jadi ia menyimpan pertanyaan tersebut dalam hatinya saja.
...----------------...
Keesokan paginya, dengan perasaan yang berat dan tidak rela, Araya memandang pantulan dirinya pada cermin di depannya.
Saat ini, ia sudah memakai seragamnya. Ban lengan bertuliskan 'Park Hana' juga sudah membalut lengan kirinya. Begitupun dengan alat transformasi miliknya, sudah stand by di tangan kiri Araya sejak beberapa menit yang lalu.
"Shiroi, bagaimana ini..?" tanya Araya dengan suara pelan yang nyaris bergumam. Dirinya merasa tidak rela untuk meninggalkan markas ini. Baginya, markas ini sudah seperti rumahnya. Ia mempunyai banyak kenangan, ia mendapat banyak pelajaran ketika tinggal di sini.
"Jangan khawatir Araya, kamu pasti baik-baik saja." balas Shiroi berusaha untuk membuat Araya merasa lebih baik.
"Pokoknya, kamu jangan sedih. Di sana, kamu akan bertemu orang-orang baru, yang pastinya akan membuat pengalaman baru juga untukmu." sambungnya dengan pendapat yang masuk akal. Araya mengangguk sekilas.
"Semua anggota diharapkan untuk segera pergi ke ruangan utama." suara itu terdengar dari alat transformasi Araya. Suara Kapten Akira yang memberi tau kalau mereka sudah harus pergi.
"Saatnya hampir tiba." pikir Araya sembari melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
**To be continued..
Jangan lupa like dan komen setelah membaca ya! Terima kasih**..
__ADS_1