Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 8


__ADS_3

[Test Arc - #5]


...----------------...


Araya dan kawan-kawan masih berada di ruangan kendali setelah mereka semua selesai melakukan tes kelincahan. Araya dan Hanny berencana untuk pergi ke kamar mereka, ya meskipun tidak satu ruangan.


"Araya, ayo ke kamar." ajak Hanny sambil menggandeng tangan Araya.


"Oke, ayo. Sampai nanti." balas Araya, kemudian mereka berdua berjalan menuju kamarnya dalam keadaan masih bergandengan tangan.


"Kenapa aku terus kepikiran soal mimpi semalam? Perempuan itu sepertinya sudah tidak asing. Tapi, aku tidak ingat jelas. Bagaimana bisa aku dan dia bisa-bisanya seperti itu dalam mimpi? Apa ini.." Dae-Vin melamun sambil terus kepikiran soal mimpinya semalam. Dia berdiri mematung, sampai suara Zaaryan yang membuyarkan lamunannya.


"Hey! Dae-Vin! Kenapa kau diam saja?" tanya Zaaryan yang seketika membuat Dae-Vin jadi tersadar.


"Eh? Nde.. Maksudku, iya.. ada apa?" Dae-Vin balik bertanya setelah baru saja tersadar dari lamunannya. Sampai-sampai dia keceplosan menggunakan bahasa Korea.


"Kenapa kau diam saja? Kau tidak ingin kembali ke ruanganmu?" tanya Zaaryan sambil menepuk pundak Dae-Vin.


"Iya," jawab Dae-Vin singkat.


"Lalu, kenapa kau masih di sini?"


"Aku, hanya terpikirkan oleh sesuatu." ucap Dae-Vin lirih, berusaha bersuara sepelan mungkin supaya Zaaryan tidak mendengarnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanpa dia duga, suaranya tidak cukup pelan, Zaaryan masih bisa mendengar suaranya.


"Hmm.. Hanya mimpiku tadi malam."


"Memangnya kau bermimpi apa?"


"Maaf, kau tidak perlu tau. Lagi pula, tidak baik membicarakan mimpi kan?" ucap Dae-Vin untuk berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Kata siapa?"


"Kata aku."


Begitulah. Dae-Vin dan Zaaryan sudah mulai akrab. Meskipun biasanya Zaaryan yang menyapanya lebih dulu. Selama ini, Dae-Vin belum pernah menyapa rekan satu timnya.

__ADS_1


...----------------...


Sekarang masih pagi, sekitar jam setengah sembilan. Mereka hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk tes kelincahan tadi, cukup cepat kan?


Setelah dari kamar sebentar, Araya dan Hanny memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, lagi. Di sana banyak buku-buku bacaan, baik yang fiksi maupun yang non-fiksi.


Sesekali, Araya ingin membaca buku yang fiksi (tidak nyata, tujuan dari buku fiksi adalah untuk menghibur pembaca). Buku yang dia baca adalah buku novel bergenre fiksi modern yang berjudul 'Chasing of Love season 2'. Novel yang menceritakan tentang putri bungsu dari seorang CEO ternama, yang dipertemukan dengan seorang ketua OSIS tampan, yang diam-diam adalah seorang aktor. Mereka berdua sama-sama saling menyukai dalam diam, dan itu rasanya sangat berat. Maka dibutuhkan sifat 'peka' yang tinggi untuk meminimalisir rasa cemburu.


Lanjut ke cerita. Hanny juga sedang membaca, dia juga sedang membaca buku novel juga. Memang agak banyak buku novel di perpustakaan ini, untuk menghilangkan stres dan penat para anggota setelah melakukan misi dan untuk mengisi waktu luang juga bisa.


Novel yang dibaca Hanny adalah novel bergenre teen Jepang, berjudul 'Cinta dan Kebahagiaan'. Dalam novel itu, tokoh utamanya sering dan hampir selalu mendapat perlakuan buruk dari teman-teman di lingkungannya, hingga suatu ketika datanglah seorang laki-laki seumurannya yang dapat mengubah nasib hidupnya. Itulah yang membuat novel itu menjadi seru. Bahkan Hanny sampai senyum-senyum sendiri, dan dibuat gemas oleh sifat tokoh pada novel tersebut.


Dari tadi bahas novel. Kembali ke cerita. Sekarang sudah hampir jam sebelas. Mereka sudah berada di sana sekitar dua jam tiga puluh menit (kurang sedikit mungkin). Araya mulai lelah karena sedari tadi tidak bergerak dan hanya membaca buku.


"Hanny, aku akan lanjut membaca di kamar ya." ucap Araya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dia baca. Karena, pas sekali, novel yang dia baca sudah sampai bagian konflik.


"Kau duluan saja. Aku sudah selesai membaca yang season 1, aku akan mencari lanjutannya dulu." jawab Hanny sambil menaiki tangga untuk mengembalikan buku itu ke tempatnya semula, kemudian mencari buku lanjutannya.


"Baiklah, aku duluan." ucap Araya, kemudian dia segera pergi ke luar dari perpustakaan.


...----------------...


"Hmm, halaman tiga puluh delapan paragraf keempat.." gumam Araya setelah duduk di bangku terdekat sambil mulai membuka-buka halaman buku.


"Nah, ini dia. Bagian di mana si ketua OSIS konflik dengan anak geng motor." kata Araya dalam hati. Kemudian lanjut membaca.


Ketika sedang seru-serunya membaca, Araya sampai lupa waktu. Dia telah berada di sana selama hampir satu jam. Dan dia juga tak menyadari, bahwa sedari tadi dia berada di depan ruangan olahraga.


Tiba-tiba, ada seseorang yang duduk di sebelahnya, tanpa Araya sadari.


"Apa yang kau baca?" tanya laki-laki itu dengan suara yang datar.


"Novel." jawab Araya singkat.


"Apa genrenya?" tanyanya lagi.


"Fiksi modern."

__ADS_1


"Dia fokus sekali, tidak menoleh sama sekali sejak aku duduk di sini. Hmm, mungkin boleh ya, sesekali aku menguji tingkat fokusnya?" batin orang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kim Dae-Vin.


"Tolong bacakan tiga paragraf." ucap Dae-Vin lagi.


" Alisa yang merupakan kakak kedua dari Anaya, dia sedang duduk di ruang tamu sendirian sambil senyum-senyum sendiri. Anaya pun menghampirinya dan berkata, "Apa yang kakak pikiran? Kelihatannya sedang senang sekali." ucap Anaya sambil duduk di sebelah Alisa.


"Dia, ternyata orang yang sangat perhatian ya.." balas Alisa tanpa menatap adiknya. Kemudian Anaya bertanya lagi, "siapa yang kakak maksud?"


"Kevin, tadi kan waktu di jalan, ban motorku bocor dan kebetulan aku di dekat rumah dia. Terus bantuin aku, aku dia anterin sampai rumah." jelas Alisa. "


Setelah membaca itu, Araya kembali membaca novelnya dalam hati. Tak lama kemudian, dia baru tersadar oleh sesuatu.


"Eh? Siapa yang menyuruhku untuk membacakan?" gumam Araya pelan sambil menyadari suatu keanehan.


Dia kemudian menoleh ke kanan dan melihat Dae-Vin yang duduk di sampingnya sambil menutup botol minumannya.


"Dae-Vin, sejak kapan kau di sini?" tanya Araya ketika menyadari keberadaan Dae-Vin.


"Belum lama ini." balas Dae-Vin. Setelah itu, Araya beranjak dari duduknya dan berdiri.


"Mau ke mana?"


"Ke kamar," jawab Araya singkat, kemudian berjalan menuju ruangannya.


Bagaimana dia tadi bisa tidak menyadari keberadaan Dae-Vin? Pikirannya sudah terlarut dalam novel yang dia baca, sampai-sampai dia tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tanpa dia ketahui, dia tadi duduk di depan ruangan olahraga yang kebetulan Dae-Vin berada di sana, dia baru saja selesai main bulutangkis bersama dengan Zaaryan.


Ada alasan kenapa dia langsung pergi saja, selain dia tidak ingin di ganggu, ada alasan lain. Dia malu.


To be continued..


...----------------...


Author note :


Terima kasih sudah membaca cerita ini :)


Mohon maaf, chapter sebelumnya update nya telat. Jadwalnya sih udah mau update jam empat pagi, eh ternyata belum lulus review.

__ADS_1


Jangan lupa like kalau kalian suka, berikan pendapat dan saran kalian di komentar, dan kalau mau tau kelanjutannya, silahkan di jadikan favorit. Terima kasih :D


__ADS_2