
[Mars Mission Arc - #4]
...----------------...
"Araya, kita harus segera pergi dari sini!" ekspresi wajah Zaaryan berubah menjadi serius. Dengan cepat, dia langsung berdiri dan mengajak Araya untuk pergi dari sana secepat mungkin.
Tanpa pikir panjang, Araya pun langsung mengikutinya. Dia mencoba mensejajarkan langkah kakinya dengan Zaaryan. Tanpa perlu menoleh ke belakang, dapat dirasakan bahwa lava tadi semakin banyak dan hampir berhasil menenggelamkan daratan itu. Bahkan tempat terakhir kali mereka berpijak tadi sudah tidak kelihatan lagi akibat tertutup lava.
"LOMPAT!" Zaaryan memberi aba-aba untuk mereka berdua segera melompat. Terdapat celah yang memisahkan antar daratan seluas tiga meter.
Mereka berdua pun melompat tanpa harus mengambil ancang-ancang lagi. Kedua kaki Zaaryan sudah berhasil menapak di daratan seberang, tapi..
"Whoa!" Araya tidak sampai, dirinya berusaha untuk tidak jatuh hanya dengan mengandalkan kedua tangannya yang berpegangan di mulut jurang. Tanah tempatnya berpegangan tidak cukup kuat, hak itu dapat diketahui dari beberapa batu kecil yang terlepas dari tempatnya dan masuk ke sungai lava di bawah mereka.
"Bertahanlah Araya!" Zaaryan berbalik, mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Araya, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk berpegangan supaya tidak ikut terjatuh. Dengan cekatan, dirinya langsung meraih tangan Araya, dan segera menariknya ke atas.
"Hah.. hah.. Syukurlah aku tidak jatuh. Terima kasih ya," sembari berusaha menormalkan pernapasannya, Araya berterima kasih. Tapi, tetap saja dirinya masih belum dapat bernapas dengan lega. Selagi mereka belum dapat ke luar dari dimensi ini, hal seperti itu masih banyak yang belum mereka lewati dan taklukkan.
"Iya sama-sama. Jangan senang dulu, Araya. Lihatlah, daratan tempat kita tadi sudah tenggelam." menatap daratan di seberang tadi, Zaaryan berucap. Araya memandang ke arah yang sama.
Menghilang rasa penatnya, Zaaryan mendudukkan dirinya di sebelah Araya. Memandang sekeliling mereka dengan tatapan kosong dan sarat akan keputusasaan. 'Sepertinya sudah tidak ada jalan ke luar lagi', itulah kalimat yang tersemat dalam pikiran mereka berdua.
GROOAAARRR!
Suara itu terdengar jelas dan menggema di seluruh dimensi itu. Sontak, mereka berdua menoleh ke belakang, melihat apakah yang akan datang menghampiri mereka.
"Zaaryan, aku punya firasat kalau kita tidak akan bisa dengan mudah bertahan di sini." tanpa sadar, Araya berucap lirih. Meskipun demikian, Zaaryan tetap bisa mendengarnya. Dia menatap Araya.
"Hey, jangan menakut-nakuti aku, Araya!"
"Eh? Hmm memang apa yang aku katakan?"
Tak lama kemudian, daratan itu kembali bergetar. Suara auman itu kembali terdengar jelas. Araya dan Zaaryan berjalan cepat ke tempat yang dirasa lebih aman untuk bersembunyi sementara.
__ADS_1
Mereka mendudukkan diri sambil memeluk lutut. Seakan sudah pasrah pada nasib mereka, mereka sudah kehabisan ide untuk ke luar dari dimensi mengerikan ini. Menggunakan teleportasi pun tak berguna, sebab mereka tak tau di mana sebenarnya mereka berada saat ini.
"Zaaryan, apa itu? Bau sekali.." gumam Araya sembari menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangannya.
"Bau apa sih? Aku tidak mencium bau apapun." Zaaryan menanggapi, menatap Araya dengan tatapan bingung, apalagi setelah melihatnya menutup indera pernapasannya. Bahkan ketika dia menggunakan armor sekalipun, bau tersebut masih dapat tercium.
"Apa kau masih flu? Baunya begitu menyengat," balas Araya dengan suara yang berbeda. Itu lho, ketika orang berbicara dengan keadaan hidung yang ditutup. Suaranya agak aneh dan mendengung kan?
Mereka terdiam beberapa saat. Zaaryan mencoba melihat ke belakang bebatuan tempat mereka bersembunyi. Tidak ada apa-apa.
"Sepertinya, sudah aman Araya." ucapnya tak terlalu kuat, karena bisa jadi musuh masih mengintai di sana. Araya pun berjalan di belakangnya. Dia juga sudah tidak menutup hidung dan mulutnya dengan tangan.
"I.. I-itu kan.. Ular?!" bisik Araya setelah melihat ular raksasa yang berada tak jauh dari mereka.
Ular yang badannya lebih besar dari batang pohon kelapa, bersisik, dan juga berwarna hitam pekat. Kepalanya begitu besar, lidahnya sangat panjang, kurang lebih sekitar empat meter.
"Araya, jangan lepaskan armormu." balas Zaaryan juga dengan berbisik. Tentu untuk meminimalisir keadaan buruk yang mungkin saja akan terjadi.
Sejak tadi, mereka memang masih menggunakan armor, belum melepasnya sama sekali. Jika dilepas, akan berdampak buruk pada fisik mereka.
"Kita harus pergi ke mana?" tanya Araya sambil sedikit menolehkan kepalanya ke arah Zaaryan. Dirinya masih belum cukup paham bagaimana cara bertahan hidup di tempat seperti. Tapi, Zaaryan juga belum terlalu paham mungkin.
"Kita teleportasi ke-"
"Tidak cukup energi untuk teleportasi,"
Belum sempat Zaaryan menyelesaikan kalimat untuk menyusun rencananya, Araya telah mengingatkannya kalau energi mereka tidaklah banyak. Hanya tersisa tiga puluh empat persen saja. Jika digunakan untuk teleportasi, pasti akan berkurang sepuluh persen dan nanti akan sekarat lama-lama.
KLEK!
Entah itu suara apa, tapi yang pasti, bunyi tersebut berhasil membangkitkan si ular dan melihat-lihat sekelilingnya.
Araya dan Zaaryan masih diam di tempat.
__ADS_1
"Araya, jangan bergerak.." bisiknya ketika mereka ditatap oleh ular tersebut.
"Iya.." balas Araya mengiyakan. Apalagi dirinya, Araya melihat katak kecil saja sudah menjerit, apalagi berdiri berhadapan dengan ular raksasa. Araya memang juga fobia terhadap hewan reptil dan amfibi.
Kalau di amati, ular tersebut sangat mirip dengan ular purba Titanoboa. Mempunyai taring yang runcing dan panjang, serta tubuhnya yang besar, ular ini diberi nama demikian.
Ular tersebut menjulurkan lidahnya, bau menyengat kembali tercium.
"Bau sekali.. Apa yang harus aku lakukan? Sampai kapan harus begini? Kalau bergerak mungkin dia akan menyerang.." kata Araya dalam hati, sembari menahan diri supaya tidak muntah akibat bau menyengat itu.
GROOAAARRR!
Tak berselang lama kemudian, auman itu kembali terdengar. Tanah merah itu kembali bergetar akibat langkah kakinya. Dapat dipastikan, kalau hewan yang mengaum adalah hewan raksasa yang mungkin dapat memperparah keadaan.
"Araya, jurus langka seribuuuuu!" sembari menarik tangan kanan Araya, Zaaryan segera mengajaknya berlari secepatnya menjauh dari tanah lapang itu.
"Zaaryan, kenapa tiba-tiba?" masih sambil berlari, Araya bertanya. Padahal sudah jelas kalau kejadian yang lebih buruk akan terjadi.
"Kau tidak dengan tadi ada suara seperti dinosaurus? Mungkin saja dia adalah T-rex!" jawab Zaaryan menerka-nerka. Mungkin karena terlalu sering menonton film bertemakan dinosaurus, dia jadi tau tentang hal-hal tentang hewan yang sudah punah itu.
"Zaaryan, di depan ada jurang!" Araya berucap sembari berusaha melambatkan langkah kakinya. Namun, tidak dengan Zaaryan. Dia masih berlari dengan cepat sehingga Araya pun kesulitan menghentikan langkahnya.
Dari kejauhan, dapat dilihat lava berwarna oranye menyala yang menyembur-nyembur dari dalam jurang itu.
"TAMAT!" mereka berdua meneriakkan kata itu, kata yang biasa digunakan untuk mengakhiri suatu cerita. Tapi, apakah mereka benar-benar akan tamat?
To be continued..
...----------------...
Benar-benar akan tamat nggak ya? Btw ini aku sudah mulai aktif bikin novel lagi nih. PAS-ku sudah beres. Tinggal tunggu hasilnya.
Sekian, dan terima kasih sudah setia membaca kisah petualangan Araya dan kawan-kawan.
__ADS_1