Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 44


__ADS_3

[Mars Mission Arc - #7]


...----------------...


"Lupakan," singkat dan jelas ucapan Dae-Vin ketika ditanya oleh Araya tentang hal yang tadi. Araya tersenyum tipis, dan kemudian baru teringat niatnya yang sebelumnya tertunda.


"Ehm baiklah. Aku mau ganti baju dulu. Hihihi.." ucap Araya yang dia akhiri dengan kekehan kecil. Kemudian terdengar suara pintu yang tertutup dan lalu terkunci.


Araya sudah masuk ke ruangan khusus untuk ganti. Tak menghiraukan Kim Dae-Vin yang masih diam mematung di depan pintu.


"Ada-ada saja," batinnya sembari membuka lemari untuk mencari seragam barunya. Menggeser beberapa setel pakaian yang digantung dengan hanger, kemudian mengambil salah satunya.


"Ah iya, alat transformasi ini energinya habis. Harus segera diisi." gumam Araya setelah sekilas melihat pergelangan tangan kirinya. Lampu pada alat itu benar-benar sudah mati. Sudah bukan sekarat lagi energinya.


Melepaskan alat itu, Araya memasukkan ke dalam benda berbentuk kubus yang gunanya untuk mengisi daya alat transformasi. Tak butuh waktu lama, hanya butuh waktu lima belas menit untuk mengisi penuh energinya.


Selagi mengisi energi, Araya pun mulai melepas jaket yang dia gunakan sejak tadi. Kemudian memakai seragam yang tadi dia ambil dari dalam lemari. Seragam berwarna putih dengan beberapa bagian yang berwarna abu-abu.


Singkat cerita, setelah Araya selesai memakai seragamnya. Terdengar suara pengumuman, suaranya tidak asing.


"Semua anggota harap berkumpul di kabin." begitu kalimat yang berhasil disampaikan. Suara itu adalah suaranya Hanny. Entah ada apa, tanpa pikir panjang Araya segera pergi ke kabin.


...----------------...


Sesampainya di kabin, Araya yang datang terakhir. Bukan terlambat, namun teman-temannya yang lain memang sudah di situ sejak tadi.


"Ada apa? Eh iya, bagaimana dengan element-nya?" tanya Araya setelah pintu kabin yang dia lewati tadi tertutup kembali secara otomatis.


"Nah itu yang ingin aku bicarakan dengan semuanya." memutar kursinya ke belakang, Hanny berucap. Araya segera duduk di kursi yang terakhir dan satu-satunya yang masih kosong.


"Jadi begini, setelah memantau planet ini dengan Kim Dae-Vin, kami menyimpulkan bahwa keempat batu element tahap ketiga yang sebenarnya ada di sini." ucap Hanny serius, sambil menunjukkan secarik keras yang sepertinya bukan terbuat dari serat pohon.

__ADS_1


"Hah? Lelang element?" mengerutkan dahinya, Zaaryan bertanya setelah sekilas membaca judul dari poster kecil itu.


"Yap," balas Hanny sambil membiarkan Zaaryan dan Araya melihat poster itu dengan jelas.


"Jadi maksudmu, kita akan mengikuti lelang ini?" tanya Araya menyimpulkan sembari menatap Hanny dan Dae-Vin secara bergantian.


Mereka berdua mengangguk. Araya kembali dibuat bingung, "bagaimana cara kita mengikutinya? Bukankah kita tidak punya cukup uang?"


"Jangan khawatir kalau soal itu. Kita kan punya ini yang akan kita gunakan sebagai jaminan." dengan percaya diri, Hanny mengambil sesuatu dari dalam alat transformasi miliknya. Sebuah kartu yang berwarna hitam.


"Hah? Kartu hitam VVIP?!" Araya dan Zaaryan membelalakkan matanya melihat benda yang Hanny tunjukkan pada mereka.


"Kenapa kalian terkejut? Kita semua punya," dengan datar Dae-Vin berucap sambil melakukan hal yang sama seperti Hanny tadi. Mengambil kartunya dari dalam alat transformasi, kemudian menunjukkannya. Kartu yang sama.


"Apa? Kalau begitu, aku juga punya?" Zaaryan mencoba melakukan hal yang sama. Tak butuh waktu lama, kartu hitam VVIP ketiga sudah berada dalam genggamannya.


"Sebentar, aku akan mencoba ambil punyaku." berucap singkat, Araya langsung berjalan meninggalkan ruangan itu. Dia pergi ke ruang ganti tadi untuk mengambil kartu hitam VVIP miliknya yang berada di dalam alat transformasi.


"Ini yang keempat," sambil menunjukkan kartu miliknya, Araya kembali duduk di tempatnya semula.


"Apa kau pikir anggota tidak boleh refreshing? Isi kartu ini boleh kita digunakan untuk refreshing ketika liburan." balas Dae-Vin sekilas dia menatap wajah samping Araya.


"Refreshing? Memangnya di dalam sini, nominalnya berapa juta?" tertarik pada topik pembicaraan yang sekarang, Araya kembali bertanya.


"Bukan hanya juta, tapi.. Milyaran. Lebih tepatnya, masing-masing kartu isinya sepuluh milyar." jelas Hanny yang membuat Araya dan Zaaryan membelalakkan mata.


"Kalian berdua masih belum terlalu mengerti tentang organisasi ini ya. Baiklah kalau begitu, kalian boleh bertanya apa saja pada kami." ujar Hanny bangga. Dia dan Kim Dae-Vin memang lebih mengerti tentang organisasi itu daripada Araya dan Zaaryan. Bisa dibilang, mereka berdua lebih senior.


"Aku penasaran, seberapa kaya raya orang yang mendirikan organisasi ini? Bahkan anggotanya saja sampai difasilitasi kartu hitam VVIP." kata Araya dalam hati sambil membayangkan rumah yang sebesar istana, puluhan mobil mewah, serta perusahaan yang pernah digarap oleh seseorang yang juga mendirikan organisasi element Asia ini.


"Aku tau kamu sedang berhalusinasi." celutuk Dae-Vin menyadarkan pikiran Araya yang mulai traveling.

__ADS_1


"Hehehe, iya. Tapi, aku bukan memikirkan kegunaan kartu ini. Aku hanya berpikir, kalau kita sampai disediakan kartu ini, mungkin orang pendiri organisasi ini sangat sangat kaya raya." jelas Araya.


"Baiklah, sudah selesai membahas ini? Bisa kita kembali ke topik awal?" tanya Hanny yang mampu merebut atensi ketiga rekannya yang lain.


"Lanjutkan saja topik yang tadi." Zaaryan menanggapi. Dirinya juga sudah cukup penasaran dengan isi kepala Hanny yang sedari tadi lancar-lancar saja dalam memikirkan rencana.


"Baiklah. Jadi, kita akan mengikuti lelang element itu." ucap Hanny dengan bersemangat.


"Hah, sudah kuduga kamu akan mengatakan itu." Dae-Vin menanggapi disertai helaan nafas.


"Tapi tapi tapi, hanya dua orang dari kita berempat yang akan menjadi perwakilan."


"Apa? Kenapa begitu?" Araya bertanya, sebelumnya dia sempat mengira kalau mereka berempat akan pergi bersama-sama.


"Ini, kamu belum sempat membacanya?" Hanny kembali menyodorkan selembar poster kecil itu pada Araya. Araya membacanya dengan seksama. Dan disitu tertera, "hanya perwakilan dua orang dari setiap kelompok yang boleh mengikuti lelang."


"Kalau begitu, siapa yang akan pergi?" selesai membaca, Araya kembali bertanya.


Dengan percaya diri dan tersenyum tipis, Hanny menunjuk dirinya sendiri. Kemudian ganti menunjuk Zaaryan.


"Hah? Kenapa aku?" tanya Zaaryan, dia sedikit tidak terima. Dia berpikir kalau dia yang ikut, misi pemborosan uang ini tidak akan berhasil.


"Sudahlah, jangan khawatir, toh kamu tidak sendirian." kata Hanny berusaha meyakinkan. "Baiklah, aku akan meminjam semua kartu kalian ya?"


"Apa? Semua?"


"He'em, kita tidak akan tau seberapa kaya lawan-lawan kita, Araya. Jadi, tidak ada salahnya kita berjaga-jaga." ujar Hanny menjelaskan maksudnya.


Memang alasannya itu cukup masuk akal, mengingat bahwa ini acara lelang besar-besaran yang akan dihadiri makhluk dari berbagai dimensi, jadi tidak ada salahnya menyiapkan uang yang sangat banyak.


"Lalu, kalau kamu yang pergi dengan Zaaryan, apa yang harus aku dan Dae-Vin lakukan di sini?" tanya Araya sambil sekilas menatap Dae-Vin yang memasang wajah datar.

__ADS_1


"Kalian berdua tunggu di sini saja, sambil berjaga-jaga kalau ada apa-apa. Kalau ada kejadian yang tidak diinginkan, nanti Zaaryan akan kuminta untuk menghubungi kalian."


To be continued..


__ADS_2