Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 63


__ADS_3

[Desert Mission Arc - #3]


...----------------...


"Di mana mereka? Kenapa tidak terlihat sinyalnya?" gumam Araya masih sambil memantau fitur pelacak pada alat transformasi miliknya. Sudah sepuluh menit sejak mereka ke luar dari tambang bawah tanah, dan Araya masih fokus memantaunya.


"Apakah mereka sudah sangat jauh? Kalau jauh pun pasti masih ada sinyalnya." timpal Dae-Vin, dia juga mencoba melakukan hal yang sama, yakni memantau.


Hingga, Dae-Vin teringat akan sesuatu, "jangan-jangan dia terjebak dalam dunia ilusi Darkness Swordman?"


"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" mengangkat pandangannya, Araya bertanya sembari memasang wajah heran. Berbeda dengannya, Dae-Vin memasang wajah serius.


"Hal ini juga terjadi saat kalian berdua menghilang tiba-tiba di misi sebelumnya." balas Dae-Vin masih dengan wajah seriusnya. Sekilas Araya ingat kejadian beberapa hari yang lalu, ketika dirinya dan Zaaryan tiba-tiba tersesat dalam dimensi yang begitu mengerikan. Tapi meskipun begitu, mereka masih bisa ditemukan.


Saat ini, sudah menjelang sore. Matahari sudah condong ke arah barat dan bayangan mereka sudah memanjang. Langit di timur sudah gelap, namun mereka masih berusaha menemukan kedua rekannya yang masih menghilang seakan ditelan bumi.


"Sudah mulai malam, bagaimana kalau kita istirahat sebentar?" usul Dae-Vin sambil berdiri di tempatnya. Araya ikut berhenti, dan kemudian berbalik.


"Baiklah, aku juga sudah mulai lelah." balasnya disertai anggukan kecil. Kemudian, mereka berdua pun duduk di tempat itu.


Duduk bukan hanya sekedar duduk, mereka masih belum berhenti memantau. Sinyal Hanny dan Zaaryan tak kunjung muncul.


Tidak lama kemudian, mereka berdua menerima panggilan dari markas. Terdengar suara yang disertai hologram yang bersumber dari alat transformasi mereka berdua.


"Ada apa Profesor?" tentu Araya bertanya, tak biasanya mereka dihubungi oleh pihak markas saat sedang menjalankan misi.


"Ada masalah besar, kalian harus berhati-hati. Di padang pasir itu, ada Darkness Swordman yang bisa berubah wujud menjadi ular viper. Jadi sebisa mungkin, kalian harus menghindar jika bertemu ular." ucap Profesor F memperingatkan.


"Maaf Profesor, sepertinya Anda sudah terlambat memberi tau kami." Dae-Vin menyahut dengan nada bicara yang terdengar aneh, tak seperti biasanya. Tatapannya kosong dan mengarah lurus ke depan.


"Apa maksudmu Dae-Vin?" Araya menoleh ke arahnya. Melihat Dae-Vin yang terus menatap mata ular yang berada tak jauh darinya, Araya punya firasat buruk.


Menyadari bahwa Dae-Vin tak kunjung memberi respon setelah beberapa kali dia menepuk lengannya, Araya memutuskan untuk menutupi mata Dae-Vin dengan tangannya.


"Dae-Vin, jangan lihat!"

__ADS_1


Seketika komunikasi terputus. Di markas, Profesor tentu cukup terkejut menyadari komunikasi yang terputus secara tiba-tiba.


"Ada yang tidak beres." gumam Profesor F sambil menatap layar monitor yang sudah berwarna hitam polos.


"Sepertinya sudah saatnya mengirim senjata ini pada mereka. Darkness Swordman yang ini lebih berbahaya." balas Profesor R. Setelah itu, mereka berdua pun mengirimkan suatu senjata pada mereka.


Kembali ke posisi Araya, ketika telapak tangannya masih menutupi mata Dae-Vin, tiba-tiba lengannya digigit olehnya.


"Ouuch!" sontak, Araya langsung menarik tangannya. Dia melihat bekas taring di kulitnya. Araya segera mengangkat pandangan kembali untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Terlihat, Dae-Vin mulai berubah. Bola matanya jadi seperti ular, kulitnya mulai bersisik, dan giginya berubah menjadi taring. Dia telah dihipnotis!


"Gawat, Dae-Vin telah dihipnotis.. Apa yang harus aku lakukan?!" Araya segera berbalik dan menunduk supaya tidak menatap mata ular yang telah menghipnotis Dae-Vin. Dia membatin, dia juga panik dan bingung.


"Mana Hanny dan Zaaryan juga menghilang.. Aku sendirian saat ini.." sambil meremas rambutnya singkat, Araya takut. Dia memejamkan matanya.


Sementara itu, di belakangnya, perubahan Dae-Vin semakin bertambah. Jika dibiarkan, dia akan menjadi ular seutuhnya.


"Hahahaha! Temanmu akhirnya berada dalam pihakku. Kamu sendirian sekarang, gadis kecil. Apa yang akan kau pilih, menjadi seperti dia, atau memilih untuk menyerahkan kekuatan element-mu dan kubiarkan pulang?" suara itu terdengar, suara seorang perempuan. Suaranya persis seperti yang didengar oleh Hanny dan Zaaryan beberapa jam yang lalu.


"Teman-temanmu? Ah, rupanya mereka berdua tadi juga temanmu? Mereka sudah masuk perangkapku. Mereka tak akan bisa ke luar." tanpa Araya ketahui, ternyata dia telah menjadi seorang perempuan yang memakai baju zirah berwarna hitam. Dia juga Darkness Swordman.


Araya membuka matanya. Yang dia katakan memang benar, Araya sendirian saat itu. Maksudnya, tak ada yang berada di pihaknya.


Dia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Araya mencoba melihat tangannya yang terkena gigitan tadi. Pembuluh darahnya mulai menghitam.


"Kenapa? Kau terkena racunnya ya? Aku bisa kok menghilangkannya, asalkan kamu menyerahkan kekuatan element-mu dulu." ucapnya setelah menyadari kalau Araya terkena racun melalui gigitan Dae-Vin yang telah terhipnotis olehnya.


"Bagaimana? Kamu bisa mati lho, kalau membiarkannya. Segera ambil keputusan dan pulanglah dengan selamat." ucapnya lagi ketika Araya mulai berdiri. Dia masih membelakanginya.


"Tidak akan. Aku tidak akan mati semudah itu." balas Araya tanpa menoleh. Dia juga mulai mengaktifkan mode armor untuk melindungi dirinya.


'New Feature'


"Apa ini? Fitur baru?" Araya bertanya-tanya setelah melihat dua kata itu yang muncul dalam layar hologramnya.

__ADS_1


'Pengguna dapat menggunakan drone juga sebagai senjata. Drone telah dimodifikasi dan bisa dimanfaatkan untuk manager sekaligus senjata.'


Begitulah penjelasan yang muncul dengan sendirinya. Araya mengerti. Ternyata ketika Shiroi menghilang, dia sedang dimodifikasi supaya dapat membantunya lebih banyak.


"Baiklah, yang tidak boleh aku lakukan adalah menatap matanya." batin Araya sambil menatap Dae-Vin yang sudah seperti zombie. Dia telah dihipnotis, jadi dia bisa dikendalikan oleh Darkness Swordman itu.


"Ooh, kamu berubah rupanya. Cobalah untuk melawannya terlebih dulu sebelum menghadapiku." mendorong maju tubuh Dae-Vin, dia kembali berucap.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus melawan Dae-Vin?" Araya bimbang. Kini, dirinya telah berdiri berhadapan dengan rekannya yang wujudnya telah berubah. Dae-Vin di depannya itu juga telah dalam mode armor.


"Araya, untuk saat ini, dia bukanlah Dae-Vin! Dia sudah dihipnotis dan untuk sementara berada dalam pihaknya." tiba-tiba, sistemnya bersuara. Suara yang tidak asing.


"Kau Shiroi?"


"Iya. Mulai sekarang, aku akan bertarung bersamamu, Araya."


"Baiklah. Ayo mengembalikan teman-teman kita." Araya mengepalkan tangannya. Menatap lurus ke arah Dae-Vin yang sudah mengangkat pedangnya dan tidak dapat ditentukan kapan dia akan menebas lawannya.


SYUU! Wuush!


Ketika bilah pedangnya belum menyentuh armornya, Araya segera melompat untuk menghindar. Namun, cukup sulit. Gerakan Dae-Vin begitu sulit diprediksi.


...----------------...


"Hanny! Berhentilah! Ini jebakan Darkness Swordman!" Zaaryan meneriaki Hanny yang masih asyik bermain air di sungai. Namun, Hanny malah menatapnya dengan tatapan tak suka dan memasang senyum seringai.


"Darkness Swordman? Yah, dia ada temanku. Dan kamu hanyalah perusuh! Kalau mau pergi, tinggal pergi saja sana!" begitulah cara Hanny menanggapi. Dia berkata seakan mengusir.


"Hanny, apa yang terjadi denganmu? Ini bukanlah dirimu yang biasanya. Sadarlah!!" menggunakan kekuatan element-nya, Zaaryan berteriak sambil mengubah suhu airnya. Yang tadinya dingin, kini menjadi air panas yang hampir mendidih.


"Ah! Panas! Panas! Hey! Beraninya kau melakukan ini!" Hanny melompat ke luar dari sungai itu. Menatap Zaaryan dengan tatapan penuh kebencian. Tentu Zaaryan sudah tau kalau Hanny telah terpengaruh oleh Darkness Swordman.


To be continued..


...----------------...

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yang sudah membaca. Jangan lupa like-nya ya!


__ADS_2