
[Darkness Invasion Arc - #2]
...----------------...
"Pergilah, Araya." sekali lagi Kak Aria memaksanya untuk pergi meninggalkannya.
Tubuh Araya bergetar. Ia mengusap kasar wajahnya. "Tapi, Kak Aria … "
"Aku akan baik-baik saja!"
"Be-narkah?"
Kak Aria mengangguk pasti, sementara waktu terus berjalan. Dalam waktu lima menit, bom akan meledak dan berpotensi untuk menghancurkan markas mereka.
"Berjanjilah padaku, Kak. Kak Aria harus baik-baik saja saat aku kembali. Baiklah, aku akan pergi." Araya berdiri, berjalan beberapa langkah ke belakang, kemudian ia berlari setelah sampai di ambang pintu.
Sesampainya Araya di ruangan utama. Tidak ada siapapun. Araya mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang.
Tiba-tiba, lantai yang ia pijak terbuka lebar dan berhasil membuatnya sampai ke ruangan lain secara spontan.
Ruangan yang tidak diketahui keberadaannya oleh anggota biasa. Cukup luas dan terang. Di sana, semua anggota berkumpul.
"Kau dari mana saja, hah?" Steve bertanya pada Araya yang masih agak terkejut dengan kejadian beberapa detik sebelumnya.
"Aku … tadi aku menemui Kak Aria sebentar." ungkap Araya dengan jujur. Araya mengusap tengkuknya. Entah mengapa, semua anggota di sana menatapnya dengan tatapan berharap—kecuali seseorang yang tubuh terikat. Tentu Araya dibuat bingung karenanya.
Araya tambah dibuat gelisah setelah Lucas menarik tangan kanannya seketika. Dia tak bisa berkata-kata, apalagi menolak. Ia baru dilepaskan setelah dirinya berharap langsung dengan orang yang terikat itu.
"Park Hana, kamu harus memulihkannya." ucap Kenneth, salah satu anggota regu sekunder.
"Hah? Aku?" Araya membelalakkan mata sembari menunjuk dirinya sendiri. Bahkan apa yang sebenarnya terjadi saja, ia tidak tahu. Bagaimana bisa ia menyelesaikan masalah ini?
"Iya, kamu harapan kami." Chris menyahut. Araya masih terdiam.
"Apa … yang harus aku lakukan?" tanya Araya pada akhirnya, meskipun ia tidak yakin kalau ia bisa. Araya menundukkan kepalanya, karena sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di sana.
"Hey, kamu menyukai Ryusei, 'kan?" celetuk Kak Hyun-Jae tiba-tiba yang sekarang berdiri di dekat sudut ruangan.
__ADS_1
Araya mengangkat pandangannya, "Hah? Aku … aku tidak-"
"Kami sudah tahu hal itu, Park Hana. Aku yakin, kalian berdua punya perasaan yang tidak kami miliki. Jadi, tolong. Untuk kali ini saja. Ini mungkin akan melanggar aturan organisasi. Tapi, ini untuk kebaikan semua orang." tukas Henry tanpa memberi kesempatan pada Araya untuk membalas perkataannya.
"Caranya?" dengan suara pelan Araya kembali bertanya. Perasaan ragu bertambah setelah Henry bilang 'melanggar aturan'.
"Berikan padanya perasaan yang sangat tulus, supaya ia bisa kembali menjadi manusia. Kamu bisa melakukannya dengan cara apapun."
Setelah mendengar penuturan dari salah satu senior dari organisasi Elemental benua lain, akhirnya Araya memantapkan niatnya. Ia menatap Ryusei alias Kim Dae-Vin yang tengah tak sadarkan diri, dengan tatapan yang sekilas sulit diartikan.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Mencoba mengatur napas supaya tidak terlalu gugup. Kemudian, ia pun mulai mengeksekusi apa yang ada dipikirannya. Melakukan cara apapun untuk membuatnya kembali menjadi manusia.
...----------------...
"Park Hana … "
Araya seketika melangkah mundur dan berdiri tegak tepat setelah suara serak Dae-Vin terdengar. Yah, caranya memang berhasil. Tapi, masih ada efek Darkness yang tertinggal dalam diri laki-laki itu.
"Maaf … Aku benar-benar minta maaf." membungkukkan badan sembari memejamkan mata, Araya benar-benar merasa bersalah akibat hal tadi.
Semua orang dibuat bingung oleh penuturan Araya yang tiba-tiba. Padahal caranya itu berhasil, kenapa dia malah minta maaf?
"Tidak apa. Terima kasih." sebuah tepukan lembut mendarat di pundak kirinya. Dae-Vin tersenyum pada Araya. Sedangkan gadis itu masih belum bisa membalas senyumannya karena perasaannya yang dominan adalah rasa bersalah.
"Jangan berterima kasih. Seharusnya kamu marah padaku," Araya tidak bisa menyusun kata-kata. Dia takut untuk mengatakan yang sebenarnya.
Toh Dae-Vin pasti sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, pikirnya.
Dae-Vin menghembuskan napas pelan, "Iya, aku marah padamu. Sekarang kita satu kosong. Aku akan nembalasmu, Park Hana."
Araya kembali mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Ia baru saja ingat kalau teman-teman yang lain sedang bertempur di daerah lain. Araya berniat untuk pergi ke sana dan menyumbangkan tenaganya guna menolong mereka.
Ledakan memang telah terjadi tiga menit yang lalu. Jika keluar dari tempat itu, yang ada ia malah akan terjebak di antara kobaran api.
"Hey, kamu mau ke mana?" panggilan dari rekan-rekan lainnya tidak ia hiraukan. Araya langsung kabur dengan menggunakan teleportasi supaya lebih cepat.
"Hah, dia pergi terlalu cepat. Bahkan, aku pikir dia tidak menyiapkan rencana apapun. Agak keras kepala seperti ayahnya dulu. Yah, kupikir memang sudah waktunya kita untuk terjun langsung ke lapangan." ucap Kapten Akira sambil membenarkan posisi berdirinya.
__ADS_1
"Kapten, apa Anda punya rencana?" Henry bertanya. Suasana kembali serius dan sunyi. Mereka memasang pendengaran sebaik mungkin untuk mendengarkan rencana yang telah dibuat.
"Iya, dan rencananya adalah … "
...----------------...
"Sunny!"
"Eh, Ara- maksudku Park Hana. Kamu sudah pulang?" Hanny agak terkejut dengan kedatangan Araya yang tiba-tiba. Setahunya, Araya baru pergi menjalankan misi sekitar tiga puluh jam yang lalu.
"Iya. Belum lama tadi aku pulang. Tanganmu kenapa?" Araya terbelalak dan khawatir melihat Hanny yang tangan kirinya terbalut perban. Bukan hanya itu, di beberapa bagian lain juga ada luka lecet. Saat itu, Hanny memang sedang dalam mode manusia.
"Tidak apa-apa, aku tadi cuma berlebihan menggunakan element. Aku diberi waktu sepuluh menit untuk memulihkan diri." Hanny tersenyum. "Oh iya, kudengar keadaan di markas sedang kacau ya?" tanya Hanny mengalihkan topik, supaya Araya melupakan kondisi dirinya yang penuh dengan luka.
"Iya, saat kami datang tadi, ruangan hanggar penuh dengan kertas berisi ultimatum. Mereka menyuruh kami untuk pergi tanpa membawa senjata. Tapi, meskipun jika kami benar-benar menurutinya, aku tidak yakin kalau ledakan itu dapat dicegah."
"Ledakan?"
Araya mengangguk, "Iya, ledakannya bahkan membuat seisi markas terbakar sekarang ini."
"Lalu, kenapa kamu di sini sekarang?"
"Karena misiku di sana dengannya sudah selesai."
"Dengannya? Siapa?"
Araya bergumam, dalam hati ia merangkai kalimat untuk menjelaskan. "Lain kali aku akan menjelaskannya."
"Hmm, baiklah. Terserah kamu sajalah."
"Wah wah wah, rupanya ada orang lain." sejurus kemudian, satu makhluk berzirah serba hitam muncul di antara mereka berdua. Sangat dekat.
BUAKH!
Tidak sempat refleks, Darkness Swordman itu menyerang mereka hingga membuat keduanya terseret ke belakang sejauh lima meter.
"Hmm, refleks-mu buruk sekali, Nak." sambil melipat tangannya di depan dada, Darkness Swordman itu berucap. Dia adalah pendekar Darkness level tiga.
__ADS_1
Darkness Swordman itu menatap dan menunjuk Araya. "Sekarang, targetku adalah kamu, putrinya Arga … "
To be continued …