Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 27


__ADS_3

[Inauguration Exam Arc - #8]


...----------------...


"Kalian yakin? Empat lawan satu, baiklah!" setelah berucap, Darkness Swordman langsung menggunakan suatu teknik. Teknik yang pertama kali dilihat oleh para anggota Elemental junior.


ZLEB!


Dalam satu kedipan mata, dia langsung menghilang. Pergi ke mana kira-kira?


...----------------...


"Araya?! Araya?! Kau pergi ke mana?"


Di tempat tertinggi di pulau tersebut, Kim Dae-Vin dan Zaaryan panik plus bingung, sebab Araya menghilang secara tiba-tiba, tanpa jejak seakan ditelan bumi.


"Apakah dia menggunakan teleportasi lagi?" tanya Zaaryan untuk memastikan.


"Sepertinya tidak, dia bilang tadi alat teleportasi nya rusak, jadi tidak bisa digunakan secara optimal." balas Dae-Vin dengan sedikit mempercepat bicaranya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Apakah jangan-jangan, dia jatuh ke jurang?" Zaaryan berhipotesis sambil memandang ke ujung jurang yang tidak jauh dari sana.


"Tidak mungkin, kalau dia jatuh pasti akan berteriak."


"Ada apa teman-teman?" tanya Hanny secara tiba-tiba. Dia baru saja sampai dengan menggunakan kekuatan elemen suaranya.


"Araya, menghilang tiba-tiba." balas Zaaryan sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajahnya supaya matanya tidak kemasukan debu yang dibawa Hanny tadi. Begitupun dengan Dae-Vin.


"Kau ini kenapa lama sekali?" tanya Dae-Vin setelah debunya mulai menghilang.


"Maaf, tadi aku memulihkan energi dulu. Aku lumayan lelah setelah bermain dengan Xela. Dan aku mendapatkan batu zamrud-nya." jawab Hanny sambil memasukkan tangannya ke dalam saku sweater oranye miliknya.


"Itu nanti saja, sekarang bagaimana caranya kita menemukan Araya?" cegah Dae-Vin sambil memandang sekeliling.


"Iya, kalau tidak ada Araya, kita semua juga tidak bisa pulang. Kau lama sekali sii,"


...----------------...


"AAHH!" Araya berusaha melepaskan diri. Kondisinya saat ini sangat sulit. Dia menjadi sanderanya Darkness Swordman! Tangan kirinya mencengkeram leher Araya. Membuat Araya sedikit kesulitan bernapas.


"Araya?!" teriak Jeasson dan Lina hampir bersamaan.


"Ternyata kalian belum kembali," lanjutnya.


"Ooh jadi namanya Araya? Imut sekali.." batin seseorang yang merupakan salah satu pengendali elemen api.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?!" tanya Jeasson lagi dengan suara lantangnya. Saking lantangnya, beberapa rekan timnya sampai tutup telinga selama sesaat.


"Kalian ingin tau? Kalau kalian menyerang lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk.." ucap Darkness Swordman sambil menguatkan cengkramannya.


"AAAHHHHHH! Uhuk! Hah!" saking kuatnya, Araya sampai terbatuk. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Hentikan!" kini Henry yang berteriak.


"Kalian mau apa hah?! Kalau mau anak ini selamat, kalian harus menyerahkan kekuatan elemen kalian!" kata Darkness Swordman sambil mengarahkan pedangnya tepat di depan wajah Araya.


"Itu tidak akan terjadi!"


"Ooh tidak mau ya? Baiklah!" setelah itu Darkness Swordman melempar pedangnya, dan seketika pedang tersebut langsung menghilang.


CTAK! JLEB!


Jentikan jari terdengar, kemudian terdengar juga suara sesuatu yang baru saja menancap.

__ADS_1


Setelah itu, Araya langsung kehilangan kesadarannya. Ada suatu benda yang bentuknya seperti paku, menancap di tangan kirinya. Pada benda tersebut, terdapat racun yang dapat menghilangkan kesadaran seseorang. Racun tersebut bisa berbahaya kalau sampai masuk ke jantung dan otak melalui pembuluh darah.


"ARAYA!"


Mereka berempat terkejut melihat hal yang terjadi pada Araya. Darkness Swordman memang benar-benar licik, padahal mereka tidak menyerang. Tak lama kemudian..


Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!


Langkah kaki seseorang terdengar semakin mendekat. Kalau dari kecepatan suaranya, sepertinya orang itu sedang berlari.


BRUK!


Ada seseorang yang menabrak Darkness Swordman dari belakangnya. Hal tersebut membuat Araya terlepas, anggota Elemental Eropa segera bertindak supaya Araya tidak menjadi sanderanya Darkness Swordman untuk yang kedua kalinya lagi. Dua dari mereka membantu orang tadi untuk mencegah pergerakan Darkness Swordman. Orang itu adalah Kim Dae-Vin. Dia sudah berhasil untuk memegangi kedua tangan Darkness Swordman.


"Cepat bagi tugas!" setelah Henry memberi perintah, ketiga rekannya yang lain segera mengangguk dan mengambil tindakan. Jeasson dan Lina pergi untuk membantu Dae-Vin. Sedangkan Xela tetap di sana untuk membantu Henry dalam memberi pertolongan pertama pada Araya.


"Xela, tolong carikan kotak P3K di tasku." ucap Henry meminta tolong pada Xela, sambil menyandarkan Araya pada bahunya.


"Ini," Xela memberikan kotak berwarna putih pada Henry.


"Merci (terima kasih)."


Setelah itu, Henry segera mengeluarkan benda yang menancap di tangan Araya, kemudian mencari kain kasa steril untuk menekan luka Araya, tepatnya untuk menghentikan pendarahannya.


...----------------...


Singkat cerita, setelah keadaan sudah membaik. Ketika Darkness Swordman telah berhasil dikalahkan.


Perlahan, Araya membuka matanya, kemudian mengerjap.


"Aku.. ada di mana?" tanya nya pelan ketika penglihatannya belum sepenuhnya jelas.


"Masih di sini." balas Henry yang sedari tadi meminjamkan bahunya untuk menjadi sandaran Araya.


"Ups, kamu jangan banyak gerak dulu." cegah Henry sambil memeluk Araya dari belakang.


"Xela, air minum," ucap Henry meminta Xela untuk mengambilkan botol air minum yang ada di dekatnya.


"Ini, minum dulu." ucap Henry lagi sambil memberikan sebotol air minum pada Araya. Tapi, bukannya menerima, Araya menggeleng pelan.


"Apa masih sakit?" kini Xela yang bertanya.


"Sudah tidak terlalu." balas Araya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Araya sambil memandang sekeliling. Di sana, ada keempat anggota Elemental Eropa yang duduk di sekelilingnya. Dan tak jauh dari sana, ada ketiga rekan satu timnya.


"Tadi kamu jadi sandersanya Darkness Swordman. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Dia sudah dikalahkan." jawab Henry sambil menunduk untuk menatap Araya.


"Dikalahkan?"


"Ya, setelah kamu pingsan tadi, Dae-Vin datang terus dia serang dari belakang." balas Henry lagi. Dia mendengar nama 'Dae-Vin', kemudian melihat sekeliling untuk mencari orangnya. Dan saat itu juga, kebetulan Dae-Vin juga menatap ke sana, pandangan mereka bertemu.


"Kalau kau sudah lebih baik, sebaiknya segera kembali ke markas." ucap Henry lagi, membuat Araya mengalihkan pandangannya.


Setalah itu, Araya kembali mencoba untuk berdiri. Kali ini, Henry tidak menariknya lagi, dia membiarkan nya. Dia menatap ketiga rekan tim nya, mengisyaratkan supaya mereka mendekat.


Tidak butuh waktu lama mereka mengerti arti tatapan Araya. Mereka segera berjalan mendekati Araya. Setelah itu..


"Kami akan segera kembali ke markas. Terima kasih banyak, Kak.." ucap Araya menggantungkan kalimatnya. Dia lupa kalau dia masih belum tahu nama laki-laki itu.


"Henry," balas Henry sambil tersenyum tipis.


"Terima kasih Kak Henry, Kak Jeasson, Kak Lina, dan Kak.. Xela." Araya berterima kasih sambil menundukkan badannya.

__ADS_1


"Cepat sembuh ya." ucap Jeasson sambil menepuk pelan pundak Araya.


"Terima kasih."


"Jangan lupakan aku ya." kata Henry dalam hati, masih dengan senyuman yang terpasang di wajahnya.


Setelah itu, anggota Elemental Asia segera berkumpul, kemudian membenturkan alat pengendali elemen mereka. Saat itu, terdapat percikan yang kemudian berubah menjadi portal.


Tapi sebelum mereka masuk ke portal, mereka berdiri menghadap keempat Elemental Eropa, kemudian menundukkan badan untuk melakukan penghormatan dan untuk mengungkapkan rasa terima kasih.


Setelah itu, mereka berempat segera masuk ke dalam portal. Tapi sebelum itu, samar-samar Araya melihat Henry yang melambaikan tangannya.


Portal telah tertutup kemudian menghilang, menandakan mereka telah sampai di markas mereka.


"Hey, kenapa wajahmu memerah?" tanya Xela sambil menyikut lengan Henry.


"Ah, tidak apa-apa." jawabnya sambil memegang tengkuknya.


"Jangan-jangan kau juga menyukai Araya?" Jeasson menebak. Wajah Henry bertambah merah dan panas akibat menahan malu.


"A.. apa maksudmu 'juga'? Apa kau juga?"


"Te.. tentu saja tidak. Aku kan sudah dewasa, tidak mungkin menyukai anak kecil."


"Sudahlah, kalian sama-sama seperti anak kecil. Apa kalian juga tidak mau pulang?" Lina menjadi penengah perdebatan mereka. Sebenarnya, ada maksud tersembunyi ia melakukan itu.


...----------------...


"Selamat datang." ucap Kak Aria untuk menyambut mereka. Di ruangan itu, sudah ada Kapten Akira, Kak Aria, Kak Lee, Lrofesor R dan Profesor F.


"Apakah kalian berhasil menyelesaikan misinya?" tanya Profesor R sembari memasukkan telapak tangannya ke dalam saku jas putihnya.


"Iya!"


"Bagus, biar kulihat batu yang berhasil kalian dapatkan." ucap Profesor R. Kemudian, mereka menyerahkan barang tambang tadi kepada Profesor.


"Kenapa Araya membawa dua sekaligus?"


"Em, yang satunya.. Tadi Dae-Vin menitipkannya padaku. Dia tidak punya saku." ucap Araya memberi alasan, supaya Dae-Vin tetap bisa lulus. Alasan Araya tidak sepenuhnya bohong, pakaian yang dipakai Dae-Vin memang tidak mempunyai saku.


"Baiklah, kerja bagus semuanya. Sekarang, kalian sudah resmi menjadi anggota Elemental Asia." ucap Profesor R sambil tersenyum bangga.


"Terima kasih Profesor!"


"Kalian juga harus memakai ini. Masing-masing ambil satu." kata Kapten Akira sambil memberikan ban lengan yang bergambar lambang organisasi elemen Asia, bendera negara, dan juga username. Mereka pun mengambil satu, menurut asal negara mereka.


Araya mengambil ban lengan yang terdapat benda Indonesia, dengan username 'Park-Hana'. Agak aneh, benderanya merah putih, tapi namanya nama orang Korea.


Punya Dae-Vin bertuliskan 'Ryusei', dia malah diberi nama orang Jepang.


Sedangkan milik Zaaryan bertuliskan 'Raditia', dan milik Hanny bertuliskan 'Sunny'. Masih masuk akal, nama-nama itu sudah umum dan masih bisa cocok. dengan asal negara mereka.


"Kalau sudah, kalian harus selalu menggunakan itu ketika menjalankan misi. Mengerti?"


"Mengerti, Kapten!"


"Oh iya, di ruangan kalian sudah ada cadangannya. Dan, kami juga memberikan kejutan untuk kalian." ucap Profesor R. Keempat anggota juniornya memasang wajah penasaran. Kira-kira, apa kejutannya?


To be continued..


...----------------...


Jangan lupa like komen dan favorit ya! Sampai jumpa di chapter berikutnya. Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk membaca!

__ADS_1


__ADS_2