
[Inauguration Exam Arc - #4]
...----------------...
"Hey, kenapa kau jadi marah?" tanya si laki-laki sambil kembali memasukkan kembali pedangnya.
"Pikir saja sendiri." balas perempuan itu dengan ketus. Dia berdiri tepat di depan singa yang terus mengaum itu. Kemudian..
"Tranquilizer Powder," ucapnya pelan, kemudian di sekitar sana muncul serbuk-serbuk yang berwarna pink agak ungu. Tranquilizer Powder artinya serbuk penenang. Setelah muncul serbuk-serbuk tadi, singa tersebut berhenti mengaum dan menjadi tenang.
Perempuan itu mengelus kepala singa tersebut dengan lembut.
"Ternyata ini yang terjadi," ucapnya pelan.
"Ada apa?" tanya si laki-laki sambil berjalan mendekat ke arahnya. Begitupun dengan Araya.
"Anaknya telah menghilang saat dia sedang berburu. Dan ketika kita tidak sengaja memasuki wilayah kekuasaannya, dia menyangka kalau kita telah mengambil anaknya." jelasnya. Ternyata selain bisa menggunakan teknik serbuk penenang dan akar penahan, dia juga bisa mengetahui isi pikiran makhluk hidup lain. Luar biasa kan?
"Hari ini, di mana aku melihat anak singa ya?" tanya Araya dalam hati. Sepertinya tadi dia melihat seekor anak singa ketika dia sedang menunggu Hanny di pinggir sungai.
"Ah iya! Sepertinya aku melihatnya tadi." ucap Araya setelah mengingat-ingat kejadian yang belum lama terjadi.
"Melihat apa?" tanya mereka berdua kompak sembari mengarahkan pandangannya pada Araya.
"Anak singa. Sepertinya hanyut di sungai. Anak singa belum bisa berenang kan?" setelah itu, Araya mulai berlari meninggalkan tempat itu.
"Hey mau ke mana kau?" tanya perempuan tersebut sebelum Araya berlari lebih jauh.
"Mencarinya!" kata Araya sambil sekilas melihat ke belakang, kemudian lanjut berlari.
...----------------...
Sejak berpisah dengan teman-temannya, Zaaryan tidak menemukan apapun. Sejauh ini, dia belum bertemu dengan siapa-siapa. Saat ini, dia malah sampai di pantai berpasir putih yang merupakan pinggiran hutan di pulau itu.
"Kenapa aku malah sampai di pantai ya? Bukankah seperti tadi berada di tengah hutan? Cepatnya aku jalan.." kata Zaaryan dalam hati sambil memandang hamparan pasir pantai itu.
Di sana udaranya belum terlalu panas, toh masih belum terlalu siang. Tak jauh dari tempat Zaaryan berdiri, ada seseorang yang sedang duduk di bawah pohon yang tidak terlalu rindang, tinggi pohon itu sekitar sepuluh meter.
Zaaryan mendekat ke arah orang tersebut. Dia laki-laki berusia sekitar sembilan belas tahun. Di sana dia sedang membuat istana pasir, sengaja agak jauh dari perairan supaya istana pasir nya tidak hancur di terjang ombak.
"Permisi," ucap Zaaryan sambil berjalan mendekat ke arahnya.
"Eh, Kau pasti anggota organisasi elemen Asia ya?" ucapnya sambil mengalihkan pandangannya dari istana pasir yang sedang dia buat di bawah pohon itu.
"Benar. Kenapa Anda di sini sendirian?" tanya Zaaryan sambil duduk di sebelah orang itu. Orang tersebut juga memakai ban lengan bertuliskan 'Henry' dan juga terdapat gambar bendera Prancis.
"Kami diminta untuk berpencar. Tak aku sangka Kau menemukan aku di sini." balasnya sambil kembali menatap istana pasir yang masih belum jadi sepenuhnya.
"Oh iya, aku Henry, dari Prancis. Siapa namamu?" tanyanya setelah teringat bahwa mereka belum berkenalan. Dia menatap Zaaryan sambil memasang senyuman tipis.
"Namaku Zaaryan dari negara Malaysia. Salam kenal."
Setelah itu, mereka bersalaman. Zaaryan merasakan panas di telapak tangannya ketika itu. Kemudian..
"Tunggu, apakah Anda seorang pengendali elemen api?" tanya Zaaryan dengan ekspresi berbeda. Pasalnya, kulit laki-laki itu terasa panas, berbanding terbalik dengan luarnya yang terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Yap! Tepat sekali. Element api tahap kedua dan juga elemen tanah tahap pertama." balas Henry sambil tersenyum ramah. "Kau juga pengendali elemen api kan?" lanjut Henry sambil memasang tatapan menyelidik.
"I.. iya." jawab Zaaryan dengan sedikit terdapat perasaan aneh setelah melihat tatapan menyelidik dari Henry.
"Tahap berapa?" tanya Henry lagi.
"Masih tahap pertama." balas Zaaryan.
"Hmm cukup bagus. Aku saja baru-baru ini naik ke tahap kedua. Tidak terlalu sulit siih." kata Henry sambil membayangkan pengalamannya berlatih dalam menggunakan elemen supaya sampai ke tahap kedua.
"Sungguh?"
"Ya, Kau mau aku ajari? Kalau nanti kau bisa, aku akan memberimu hadiah, batu safir yang kalian perlukan."
"Waah, benarkah?" tanya Zaaryan dengan mata berbinar. Dari kata-kata dan ekspresinya, sepertinya Henry adalah orang yang cinta kedamaian. Lebih memilih untuk mengajari dari pada mengajaknya bertarung.
"Tentu saja. Kita akan berlatih selama empat jam. Kau siap?"
"Ya!" ucap Zaaryan bersemangat.
"Baiklah. Ini dia latihannya.." kata Henry sambil menunjukkan hamparan pasir, tanpa ada benda lainnya. Zaaryan mengubah ekspresi nya.
"M.. maksudnya apa?" tanya Zaaryan, dia masih belum mengerti maksud dari Henry.
"Latihan pertama. Membuat bangunan dari pasir ini tanpa alat. Kau hanya boleh menggunakan kedua tanganmu saja. Waktunya tiga puluh menit."
"Apa?"
......................
Lain halnya dengan Henry. Karyanya sangat bagus. Dia membuat bangunan yang sangat menyerupai dengan menara Eiffel yang berada di Paris, Perancis. Hanya saja ukurannya sangat jauh berbeda. Bisa dibilang, dia membuat miniaturnya saja.
"Waktunya habis!" kata Henry sambil melihat jam tangannya yang juga merupakan alat pengendali elemen. Kemudian, menepuk-nepuk telapak tangannya untuk membersihkan pasir yang menempel.
"Aku masih belum membuat apa-apa.." kata Zaaryan, tapi dia tetap tidak menyerah. Mungkin dia akan meminta dengan cara lain.
"Kau baru membuat gundukan? Sebenarnya kau ingin membuat apa?" tanya Henry setelah melihat apa yang di kerjakan Zaaryan sedari tadi. Zaaryan baru membuat gundukan pasir.
"Entahlah." balas Zaaryan dengan lesu.
"Hah.. baiklah. Aku kan baik, jadi aku akan memberimu kesempatan kedua. Buat lagi sebisamu, kali ini waktunya satu jam lima belas menit. Kau setuju?" ucap Henry. Zaaryan mengangguk setuju. Dia masih belum puas dengan karyanya Zaaryan. Jadi dia memberikan kesempatan kedua supaya dia bisa membuat yang lebih bagus dan lebih menarik lagi.
"Sekarang mulai!"
"Aku akan membuat apa ya? Hmm ah! Bagaimana kalau miniatur Menara Kembar Petronas saja ya?" kata Zaaryan dalam hati. Pada akhirnya, dia berniat untuk membuat miniatur Menara Kembar Petronas, yang merupakan salah satu keunikan dari negeri Jiran.
......................
"Waktunya habis!" Henry kembali mengumumkan. Kini waktunya sudah selesai. Zaaryan telah menyelesaikan karyanya, dia benar-benar membuat miniatur Menara Kembar Petronas.
"Hmm, lumayan. Ternyata kau hanya perlu waktu. Aku memberimu nilai delapan puluh." ucap Henry setelah melihat hasil kerja Zaaryan. Cukup bagus bagi seorang pemula yang baru pertama kali main pasir di pantai.
"Benarkah? Apakah aku lulus?" tanya Zaaryan tidak percaya.
"Untuk kali ini kau lulus, tapi masih ada tes lagi."
__ADS_1
"Tes apa itu?"
"Tes mengubah benda menjadi api."
...----------------...
"Hah.. hah.. hah.. Dia kuat sekali.." kata Dae-Vin dengan napas yang terengah-engah setelah beberapa menit dia bertarung melawan Xela supaya dia bisa mendapatkan zamrud itu.
"Kau masih tidak menyerah?" tanya Xela sambil memasang tatapan gembira saat melihat Dae-Vin yang mulai kelelahan. Keringat sudah membasahi pelipisnya sejak tadi.
"Tidak akan!"
"Wow wow, santai saja dik. Kalau tidak kuat, kau tidak perlu memaksakan diri.." ujar Xela sambil memegang dagu Dae-Vin. Keadaannya benar-benar menyulitkan. Tubuh Dae-Vin terperangkap di bongkahan es yang menyebabkan dia sulit bergerak, meskipun bongkahan es tersebut tidak terlalu besar. Xela sudah mencapai tahap kedua dari elemen es dan tahap ketiga dari elemen air.
"Jauhkan tanganmu!" kata Dae-Vin dengan nada dinginnya. Dia mulai risih dirinya dipegang-pegang orang lain.
"Ooh jadi kau tidak mau ya.." balas Xela. Kemudian dia berbalik, sebenarnya dia kecewa. Berbalik untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya.
"Tidak apa-apa.." ucap Xela lagi, perlahan-lahan bongkahan es itu mulai mencair.
"Kau kenapa?" Dae-Vin bertanya. Dia itu memang sedikit tidak peka, tentu saja cukup menyebalkan bagi beberapa orang yang menyukainya, menanyakan hal yang sudah pasti dan mudah ditebak.
"Tidak apa! Jangan dekati aku!" ucap Xela kemudian berlari meninggalkan padang rumput itu. Dae-Vin hanya menatapnya datar.
To be continued..
...----------------...
Author note :
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Oh iya bagi yang belum tau, ini ku kasih gambar Menara Kembar Petronas yang ada di Kuala Lumpur, Malaysia.
(Sumber : Pinterest)
Dan ada beberapa fakta tentang menara Kembar Petronas.
1) Pernah menyandang predikat sebagai gedung tertinggi di dunia pada tahun 1998 - 2004.
2) Mempunyai jembatan penghubung yang disebut dengan Skybridge yang terletak di lantai 41 dan 42, memiliki ketinggian 170 meter dari permukaan tanah.
3) Terdapat 88 tingkat gedung dengan total ketinggian 452 meter.
............
*Mohon koreksinya kalau ada yang salah ya.
Selanjutnya, apa yang akan terjadi pada Dae-Vin? Apakah dia akan menyerah dan menuruti kemauan Xela?
Apakah Araya bisa menemukan anak singa yang hilang?
Bagaimana cara Zaaryan supaya bisa mendapatkan batu safir yang mereka cari?
Jangan lupa like, komen dan favorit. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
__ADS_1