Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 76


__ADS_3

[Headquarters Arc - #2]


...----------------...


"Kenapa? Kenapa aku harus berpisah dengan teman-temanku?" gerutu Araya dalam hati. Hari ini, ia bukan lagi menjadi anggota junior Elemental Asia, melainkan regu primer dari Elemental dunia.


Regu primer ini berisi lima anggota, dimana dia adalah satu-satunya anggota perempuan dan paling muda. Regu primer ini juga adalah regu yang anggotanya adalah perwakilan dari masing-masing organisasi cabang tingkat benua.


"Mana semuanya laki-laki lagi, hah.." dalam hati, sebenarnya Araya tidak terima. Tapi ini semua demi menjaga nama baik ayahnya yang beberapa saat lalu disinggung oleh mereka.


Beberapa saat lalu..


"Araya, kamu masuk regu primer." ucap Pak Farrel dengan tegas sembari mengarahkan tatapannya pada Araya.


"Regu primer?" awalnya, Araya tidak mengerti, apa itu regu primer dan bagaimana cara kerjanya. Dia baru mengetahui kalau ada pembagian regu jadi seperti ini.


"Iya, regu utama. Masing-masing adalah perwakilan dari organisasi tingkat benua. Ayahmu dulu juga sebenarnya anggota primer."


"Ayah? Tunggu, saya bahkan-" ucapan Araya terpotong. Baru saja ia hendak menjelaskan kalau ia masih belum tau apa-apa tentangnya.


"Bukankah kamu putrinya Arga? Ternyata sifat buruknya sedikit menular pada putrinya."


"Ehm.." Araya terdiam, ia tidak terima nama ayahnya dibawa-bawa dalam masalah yang buruk. "Baiklah, saya mau."


Pada akhirnya, Araya menerimanya bukan karena diri sendiri. Dan disinilah ia saat ini. Ruangan yang diperuntukkan khusus bagi anggota primer. Yang artinya, di sini ia dikelilingi orang-orang yang tidak ia kenal. Hanya satu yang ia kenal di antara orang-orang itu, yakni.. Henry.


"Hey, Ara- Maksudku Park-Hana." sapa Henry sambil mendudukkan dirinya di depan Araya. Di tempat itu, terdapat meja bundar dengan lima buah kursi yang mengelilinginya.


"H-hai Kak." jawab Araya. Dirinya masih kurang terbiasa dipanggil dengan nama itu. Jika di markas sebelumnya masih diperbolehkan memanggil dengan nama asli, maka berbeda aturan dengan di sini. Kalau memanggil anggota lain, harus memakai nama yang tertera pada ban lengannya.


"Kenapa kamu termenung saja?" tanyanya memecah keheningan. Memang di situ, hanya Henry yang menurutnya punya sifat ceria. Berbeda dengan ketiga anggota primer yang lain, mereka memasang wajah datar dan dingin.


"Tidak apa sih, Kak. Hanya saja, setelah masuk ke regu ini, pertemuanku dengan teman-teman jadi lebih dibatasi." kata Araya sambil menopang dagunya dengan lengannya yang terlipat di atas meja.


"Memangnya, aku bukan temanmu?"


"M-maksudku itu teman sepantaran. Teman yang berasal dari benua yang sama."

__ADS_1


"Ooh," Henry mengangguk pelan tanda mengerti. "Kalau begitu, ayo kita semua berteman." sambil berdiri dari duduknya, ucapan Henry barusan berhasil menarik ketiga anggota lainnya.


"Tujuan kita di sini adalah untuk memperkuat organisasi, bukan untuk berteman." balas seorang laki-laki yang memakai ban lengan bertuliskan 'Steve' dan terdapat gambar bendera Australia.


"Salah satu caranya adalah dengan berteman. Kalau kita berteman, kan pasti kita semua jadi makin akrab. Ayolah.." Henry membujuk, kemudian salah satu dari mereka pun berdiri.


"Hai, namaku Adli dari Mesir." ucap seseorang yang berusia sekitar delapan belas tahun. Dia tersenyum tipis ketika memperkenalkan diri.


"Steve, dari Australia."


"Aku Lucas, dari Kanada."


Kedua orang itu memperkenalkan dirinya dengan singkat. Meskipun begitu, Henry mengapresiasi perkenalan mereka dengan senyuman sambil berkata, "salam kenal, semoga kita bisa berteman dengan baik."


"Salam kenal Kak, aku.. Park-Hana." Araya membalas. Ketika dirinya berucap, keempat laki-laki di ruangan itu menatapnya yang membuat perasaannya tidak nyaman. Fobia terhadap laki-laki? Entahlah.


"Kamu, benar kan putrinya Arga?" tanya Lucas belum mengalihkan pandangannya dari Araya yang sedikit tertunduk.


"Eh, i-iya." menyadari kalau dirinya diberi pertanyaan, ia menjawabnya dengan gugup sambil mengangguk.


"Tapi sifatmu begitu berbeda dengannya." balas Lucas lagi, Araya hanya terdiam.


...----------------...


Saat ini, Park-Hana alias Araya sedang berada di ruangan pribadinya. Lagi-lagi, ruangannya terletak di area yang khusus diperuntukkan bagi anggota primer saja. Berada di kawasan markas bagian atas, ruangan mereka saling bersebelahan. Tentu hal ini membuat Araya jadi lebih waspada, toh ruangannya berada di antara ruangan anggota yang berbeda jenis dengannya.


Araya duduk termenung di atas tempat tidur sambil memeluk bantalnya. Terlarut dalam pikirannya yang sibuk memikirkan tentang nasibnya yang akan terjadi jika ia terus seperti ini. Belum lagi, ia juga bosan karena Araya belum bertemu teman-temannya lagi semenjak pembagian regu. Kim Dae-Vin masuk regu sekunder, sedangkan Hanny dan Zaaryan masuk regu tersier.


"Hmm aku bosan sekali, mana sekarang sudah malam. Bagaimana kalau aku mengirim pesan pada Dae-Vin?" gumamnya setelah tercetus ide itu dalam benaknya. Araya pun mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, kemudian segera membuka aplikasi chat.


"Hai Ryusei." ketiknya dan kemudian langsung ia kirim. Yah, masih ingat kan kalau nama samaran Dae-Vin adalah Ryusei?


[Mohon maaf, pesan anda telah diblokir]


"Hah? Apa-apaan ini?" Araya membelalakkan matanya melihat notifikasi itu. Chat-nya tidak terkirim, dan ia langsung mendapat pesan singkat itu dari aplikasi yang ia gunakan.


"Aplikasinya telah diblokir oleh pihak organisasi, Araya. Tidak diperkenankan mempunyai privasi jika kamu berada di markas pusat ini." ujar Shiroi menjelaskan.

__ADS_1


Araya menghela nafasnya kecewa. Privasi kan hak setiap orang, lalu sekarang dikemanakan hak-nya?


"Hah.. Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, Shiroi?" tanya Araya dengan nada rendah. Dirinya benar-benar tidak semangat semenjak datang ke sini.


"Tidak tau. Dan kenapa kamu tidak berkumpul dengan rekan-rekanmu saja di ruangan anggota primer?" Shiroi memberi saran yang dibalas gelengan pelan oleh Araya.


"Kamu tau kan, mereka itu laki-laki. Apalagi sekarang sudah malam. Bisa jadi nanti aku terkena kasus lagi."


"Ternyata kamu belum terlalu paham aturan bagi anggota primer, Araya."


Araya mengernyit setelah mendengar apa yang Shiroi katakan, "maksudmu?"


"Anggota primer aturannya lebih fleksibel. Tidak ada lagi aturan yang melarang romantisme."


Araya terkekeh pelan, "peraturan macam apa itu? Tidak adil sekali." Memang benar, yang diperbolehkan hanya anggota primer. Semakin ke bawah, aturannya malah semakin ketat. Anggota tersier yang mendapat aturan tersebut.


"Yah, aku juga berpikir demikian, Araya." Shiroi menjelaskan, "tapi apa yang bisa kita lakukan untuk hal ini?"


"Entahlah." menggeleng pelan, Araya tertunduk. Beberapa detik kemudian, ia langsung mengangkat pandangannya dan menatap alat transformasi yang masih terpasang di tangan kirinya.


"Eh Shiroi, sekarang tanggal berapa?" tanya Araya tiba-tiba.


"Tanggal dua belas bulan September. Kenapa memangnya?"


"Dua belas September? Yosh, bulan depan ulang tahunku."


"Ulang tahun? Wah, kamu akan tambah tua."


"Yap, aku akan tambah dewasa. Yang berarti tanggung jawabku akan semakin besar. Haha, saking aku tidak pernah lihat kalender, sampai lupa kalau ulang tahunku tak lama lagi." Araya tersenyum sambil mengusap bagian belakang kepalanya. Memang benar, ia selalu disibukkan oleh misi, jadi sampai lupa tanggal dan bulan.


Setelah itu, Araya beranjak dari tempat tidur itu, dan lalu berjalan menuju pintu.


"Kamu mau ke mana, Araya?" Shiroi bertanya, dan Araya langsung menghentikan langkahnya sejenak.


"Aku ingin coba pergi ke perpustakaan." setelah menjawab, Araya pun langsung kembali berjalan.


"Perpustakaan di markas pusat pasti menyimpan lebih banyak informasi daripada di markas sebelumnya." pikir Araya ketika dirinya masih terus berjalan menuju ruangan yang pasti penuh dengan buku-buku.

__ADS_1


**To be continued..


Menurut kalian, apa yang akan terjadi selanjutnya? Jangan lupa like dan komen setelah membaca ya** ^^


__ADS_2