
[Time Travel Arc - #2]
...----------------...
"Eh iya, ngomong-ngomong, kuenya sudah tinggal separuh?" tanya Dae-Vin ketika melihat kotak kue tadi yang isinya sudah tinggal separuh. Araya memang sangat menyukai kue, terutama jika rasa cokelat.
"Hehe.. iya," kata Araya sambil tertawa kecil. Dae-Vin tersenyum tipis.
"Tidak apa, kau habiskan saja. Aku sudah puas menjadi pencicip kue buatan kakakku." kata Dae-Vin sambil mengelus rambut Araya.
Keesokan harinya, Araya yang asli masih di sana. Sebenarnya, dia sudah tau. Satu jam di sini, sama dengan satu menit di dunia aslinya. Jadi, meskipun dia di sini sampai tiga hari-pun tak apa.
Hari ini sudah menjelang malam. Tepatnya jam setengah enam sore. Araya baru selesai mandi, setelah seharian tadi berada di kampus. Dia tak perlu khawatir menjaga rumah, karena sepekan ini, Dae-Vin sedang cuti bekerja.
Ketika baru ke luar dari kamar mandi, Dae-Vin sudah berdiri di ambang pintu. Pintu yang menjadi pembatas antara ruang tengah dengan dapur.
"Kenapa berdiri di sana?" tanya Araya setelah melihat Dae-Vin sedang berdiri mematung sambil melipat lengannya di depan dada.
"Tidak apa, hanya gabut." balasnya. Kemudian dia berjalan mendekati Araya, kemudian memegang kedua pundaknya.
"Hey, jangan pegang dulu. Nanti terbuka!" kata Araya sambil menepis pelan tangan Dae-Vin. Kemudian menyilangkan lengannya, seperti sedang melakukan butterfly hug. Dia melakukan itu, karena dia masih malu, dia sekarang juga masih menggunakan baju handuk berwarna oranye.
"Memangnya kenapa? Kan aku sudah boleh." ucap Dae-Vin sambil memasang ekspresi memelas.
"Belum waktunya." jawab Araya singkat, kemudian segera berjalan pergi.
"Hah.. lagi-lagi aku dicuekin.." gumam Dae-Vin yang tidak mampu didengar oleh Araya. Dia pun kemudian berjalan mengekor Araya.
"Hey, jangan masuk dulu, aku mau ganti baju." kata Araya sembari mendorong pelan bahu Dae-Vin supaya menjauh dari pintu.
"Baiklah, dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Peluk tiga detik."
"Hah?"
"Aku akan disini saja lah."
Araya tidak punya pilihan lain. Jadi, dia pun melakukan apa yang Dae-Vin inginkan. Memeluknya erat sembari berhitung satu sampai tiga.
Tiga detik memang tidak lama. Kemudian, sesuai janji, Dae-Vin pun menjauh untuk sementara.
...----------------...
Lima menit kemudian, Araya sudah selesai berganti pakaian. Saat ini, dia memakai baju pendek berwarna hijau tosca dan celana training tiga per empat.
"Sudah selesai?" tanya Dae-Vin dari luar kamar, ketika Araya masih belum membuka pintu.
"Sudah, masuk saja tidak apa." kata Araya, di dalam, dia masih merapikan rambutnya.
Setelah itu, Dae-Vin pun masuk ke dalam ruangan itu. Dia duduk di atas kasur yang lumayan besar. Sedangkan Araya, dia masih berdiri di depan meja riasnya.
"Tidak usah berlebihan, bagaimana pun juga, kau itu tetap cantik." kata Dae-Vin. Araya menatapnya datar.
"Sini, aku ingin bicara denganmu." ucap Dae-Vin sambil menepuk singkat permukaan kasur di dekatnya. Tanpa banyak bertanya, Araya pun segera duduk di samping Dae-Vin.
"Di sini, sepertinya tidak ada yang berubah sejak pertama kali kita tinggal di sini." kata Dae-Vin memulai pembicaraan, sembari melihat sekeliling kamar mereka.
"Hmm, iya. Aku tidak menambahkan apapun dan tidak mengubahnya. Hanya aku rapikan dan bersihkan setiap hari." balas Araya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Kenapa?" tanya Dae-Vin lagi.
__ADS_1
"Aku hanya berhemat. Aku tidak ingin membuang-buang uang untuk hal yang tidak diperlukan. Aku sangat sayang padamu. Sebenarnya, jika kau berangkat bekerja, perasaanku sangat tidak nyaman."
"Kenapa begitu?"
"Aku tau, menjadi pilot itu tidak mudah. Dan juga berbahaya. Sebenarnya aku tidak tega." jelas Araya sambil menundukkan kepalanya.
"Hey, jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku juga sayang padamu kok. Pesawat zaman sekarang itu kan sudah canggih sekali, dan juga kuat. Jadi, lebih aman. Lagipula, aku kan sudah ahli, hehe.." kata Dae-Vin sambil merangkul pundak Araya.
"Hmm, masih sempat-sempatnya. Dae-Vin, bisa kau berbaring sebentar?"
"Untuk apa?"
"Kau akan tau." kata Araya sambil berjalan ke arah meja riasnya. Dia mengambil satu wadah yang berisi skincare dan juga kapas.
"Apa, aku boleh membersihkan wajahmu?" tanya Araya.
"Tentu," jawab Dae-Vin singkat, kemudian dia berbaring.
"Saat bekerja, kau pasti tidak sempat merawat dirimu kan?"
"Iya, benar. Tapi tidak setiap hari sih,"
Kemudian, Araya mulai mengoleskan cleanser (pembersih wajah) menggunakan kapas, kemudian toner, lalu serum, dan terakhir diolesi pelembab.
"Nah, sudah selesai. Sudah tambah glow up seperti Oppa Oppa Korea." kata Araya setelah selesai membereskan alat-alat skincare-nya.
"Hey, aku ini memang termasuk Oppa Korea lho. Aku kan lebih tua darimu, dan kalau kau mau, kau boleh memanggilku dengan sebutan itu." kata Dae-Vin sambil memiringkan badannya, kemudian menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.
"Ehm.. Dae-Vin, apa aku boleh bertanya, kenapa kau mau denganku? Bukankah masih banyak Eonni eonni yang tertarik denganmu?" dengan hati-hati, Araya bertanya.
"Tidak apa." jawab Dae-Vin dengan singkat, membuat Araya tidak puas dengan jawabannya.
...----------------...
"Chagia, apa kau hari ini tidak ada kegiatan di kampus?" tanya Dae-Vin, dia membangunkan Araya.
"Hmm biarkan aku tidur sepuluh menit lagi." balas Araya tanpa membuka matanya.
"Baiklah," kata Dae-Vin singkat, kemudian membiarkan Araya tidur untuk sepuluh menit lagi. Saat itu, dia terus memandangi wajah Araya yang terlihat polos saat sedang tidur. Tak terasa, sepuluh menit telah berlalu. Dae-Vin harus kembali membangunkan Araya.
"Chagia, kau tidak jadi pergi ke kampus, kah?" Dae-Vin berbisik di dekat wajah Araya. Tapi, Araya tidak bangun. Kemudian, Dae-Vin mempunyai ide untuk mengecupnya supaya dia bangun. Dia pun mulai mendekatkan wajahnya, tapi dia mengurungkan niatnya setelah merasakan hembusan nafas Araya yang terasa agak panas. Dia menempelkan punggung tangannya ke dahi Araya.
Kemudian, dia memegang telapak tangan Araya, lalu menempelkannya di pipinya. Terasa panas. Sepertinya dia sedang demam.
"Araya, apa yang kau rasakan?" tanya Dae-Vin dengan nada cemas. Araya mulai terbangun.
"Aku tidak apa-apa." balas Araya pelan.
"Bagaimana bisa tidak apa-apa? Badanmu panas, apa kau juga pusing? Sakit perut? Apa mau ke klinik? Hari ini, kau tidak usah berangkat ke kampus." Dae-Vin mengajukan pertanyaan secara berturut-turut.
"Aku hanya agak pusing. Itu saja. Tidak usah ke klinik." jawab Araya sambil kembali memeluk gulingnya.
"Oh, baiklah. Mau aku buatkan makanan? Apa yang kau inginkan?"
"Aku tidak ingin makan,"
"Tapi kau harus makan, kemudian minum parasetamol. Aku buatkan bubur ya? Aku jamin pasti enak kok." Dae-Vin membujuk supaya Araya mau makan. Araya hanya mengangguk pelan.
...----------------...
"Ayo duduk dulu. Aku suapi ya?" Dae-Vin meminta Araya untuk duduk. Sambil membawa semangkuk bubur yang masih hangat, dia menawarkan untuk menyuapi Araya. Araya pun hanya menurut saja.
Lima belas menit kemudian, Araya sudah selesai makan. Sekarang, saatnya untuk minum obat.
__ADS_1
"Minum obat dulu, habis itu baru istirahat lagi." kata Dae-Vin sambil memberikan sebungkus parasetamol yang masih utuh, belum terminum satu kapsul pun. Dia juga memberikan sebotol air minum.
"Kau, sudah bisa menelan obat kan?" tanya Dae-Vin setelah memberikan sebotol air minum itu. Araya mengangguk. Tanpa berlama-lama lagi, Araya pun memasukkan kapsul obat itu, lalu langsung meneguk air minumnya sampai habis separuh. Supaya obat nya tidak tertinggal di kerongkongan.
Setelah selesai minum obat, Dae-Vin pergi ke dapur untuk memulangkan alat makan Araya tadi. Kemudian, dia kembali untuk menemani Araya.
"Apa kau mau tidur lagi?" tanya Dae-Vin setelah kembali ke kamar. Araya sedang termenung sambil memeluk kedua lututnya.
"Tidak." jawab Araya singkat.
"Apa sudah merasa baikan?" tanya Dae-Vin lagi sambil duduk di sebelah Araya.
"Masih sedikit pusing. Dan sekarang, aku agak kedinginan." balas Araya. Tadi badannya panas, sekarang dingin, terutama bagian telapak tangan dan kaki. Mungin dia masih belum terbiasa tinggal di sini yang mempunyai iklim subtropis.
Dae-Vin pun membuka resleting jaketnya, kemudian..
"Sini, aku peluk supaya tidak dingin lagi." kata Dae-Vin. Di sana, cuaca memang agak dingin, meskipun belum musim dingin. Jadi, kebanyakan orang akan menggunakan baju hangat di saat seperti ini.
"I.. iya." balas Araya, kemudian dia duduk di pangkuan Dae-Vin. Setelah itu, Dae-Vin pun memeluknya, meskipun tidak terlalu erat supaya tidak sesak.
Tiga puluh menit berlalu. Mereka berdua sama-sama diam. Tidak ada yang bersuara. Dae-Vin merasakan hembusan nafas Araya yang teratur. Kemudian, dia melihat wajahnya. Araya tengah tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahunya.
"Araya sayang, cepat sembuh ya. Kalau kau sakit, aku jadi merasa bersalah karena rasanya seperti gagal menjagamu. Aku selalu menyayangimu." ucap Dae-Vin pelan, kemudian menempelkannya dahinya pada dahi Araya.
...----------------...
Malam harinya, demam Araya sudah turun. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Tapi, Kim Dae-Vin masih memintanya untuk beristirahat lagi.
Saat ini, sudah jam sembilan malam. Dae-Vin sedang menemani Araya berbaring di atas tempat tidur, dengan kamar yang sudah gelap.
"Araya, kau belum tidur?" tanya Dae-Vin.
"Aku belum bisa tidur. Mau menceritakan sesuatu untukku? Misalnya, dongeng, atau pengalamanmu?" tanya Araya. Dia ingin Dae-Vin menceritakan suatu pengalamannya.
"Dongeng? Seperti anak kecil saja. Tapi, tak apa. Aku akan menceritakannya untukmu.
Dahulu kala, ada seorang remaja laki-laki yang terkenal akan sifatnya yang dingin, dan irit bicara. Namun, dia orang yang pintar. Hingga suatu saat, anak itu bertemu dengan seorang gadis yang bernama 'Park Hana'. Dalam bahasa Inggris, park artinya taman. Dan dalam bahasa Jepang, Hana artinya bunga. Jika digabungkan, Park Hana artinya taman bunga. Seperti namanya, dia gadis yang cantik. Setelah bertemu dengannya, laki-laki itu mulai menghilangkan sifat dinginnya, tamat."
"Hey, itu kan cerita kita dulu. Aku juga tau." kata Araya setelah mendengarkan cerita singkat nya Dae-Vin.
"Hehe, kau masih mengingatnya ya?" tanya Dae-Vin sambil terkekeh pelan.
"Tentu saja."
"Tapi mungkin kau belum tau ini, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah mulai menyukaimu. Kau ingat kan, waktu aku diminta untuk mengajarimu supaya bisa lulus tes ulang? Itu, aku benar-benar senang, hingga aku hampir lupa diri. Aku bersungguh-sungguh untuk membuatmu lulus. Tapi, kau mengingatkanku bahwa aku sudah kelewatan. Dan, kau tau kelanjutannya, kan?"
"Iya, aku ingat waktu itu. Saat itu, aku malu sekali kalau sampai ada yang lihat. Dan, ternyata sekarang kita sehati." balas Araya sambil memeluk Dae-Vin. Dae-Vin membalas pelukannya.
"Kau, senang bisa tinggal denganku?" tanya Dae-Vin.
"Tentu saja. Aku sangat senang bisa melanjutkan hidup bersamamu. Bukan karena harta, tapi aku memang mencintaimu." jawab Araya. Kali ini, Araya yang memulainya lebih dulu, yang tentu saja hal ini membuat Dae-Vin sangat senang.
"Ya ampun! Mereka- maksudku diriku versi dewasa, suka sekali melakukan hal itu. Memangnya, bagaimana rasanya ya?" Araya yang asli kembali melihat adegan yang seperti itu, lagi.
"Hmm, mungkin sekarang saatnya aku kembali. Bawa aku kembali ke sepuluh tahun sebelumnya." kata Araya asli, sambil kembali mengaktifkan alat teleportasi miliknya.
...****************...
Author note :
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Btw, chapter ini agak panjang ya?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit. Sampai jumpa di chapter berikutnya!