Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 19


__ADS_3

[ArVin Arc - #3]


...----------------...


"Jadi.. hanya itu yang perlu didiskusikan?" lanjut Araya bertanya.


"Tidak, bukan cuma itu. Kita juga akan berdiskusi untuk membuat rencana. Kita harus membuktikan kalau kita tidak bersalah."


"Caranya?" Araya bertanya lagi sembari memiringkan kepalanya.


"Mungkin cara ini sedikit tidak masuk akal. Tapi, kau sungguh ingin tau?"


Araya mengangguk, kemudian..


"Kenapa kau tidak duduk saja?" Araya baru menyadari kalau dari beberapa saat yang lalu dia belum mempersilahkannya untuk duduk.


"Bolehkah?"


"Hmm," Araya bergumam sambil mengangguk pelan.


"Aku duduk di sini saja." kata Dae-Vin sambil menarik kursi belajar Araya. Kemudian, dia duduk di situ.


"Jadi, kau punya rencana apa?" Araya ragu, jika mungkin Dae-Vin akan memberi tau rencana yang agak aneh mungkin.


"Begini, ada dugaan kalau kita telah terlibat romantisme, padahal kita sama sekali tak berniat untuk melakukannya kan? Dan tidak ada yang dirugikan."


"Iya,"


"Nah, kita harus membuktikan kalau kita itu tidak bersalah. Caranya dengan, kita ulangi lagi, tapi dengan cara yang berbeda."


"Apa?! Yang benar saja? Bukankah hal itu bisa membuat kita dipanggil ke markas pusat?" Araya menanggapi. Kalau dipikir-pikir, idenya cukup aneh. Yang benar saja mereka akan mengulangi hal itu lagi, cukup beresiko.


"Iya, aku tau. Kalau menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada mereka pun tidak ada gunanya. Bahkan ketika aku sedang bicara dengan ayahku, dia jadi tidak mempercayaiku." ucap Dae-Vin terdengar kecewa. Mengingat bahwa sebelum nya dia tadi sempat menghubungi ayahnya, alih-alih bisa meluruskan masalah, tapi ayahnya sama sekali tak mau mendengarkannya.


"Tapi, kau benar, Araya. Caraku cukup beresiko. Andai saja mereka tau apa yang kita rasakan." Dae-Vin sedikit menundukkan kepalanya setelah menyadari bertapa beresikonya cara itu. Dan, bisa saja dengan cara itu dia kembali melibatkan Araya.


"Oh iya, Dae-Vin. Sebenarnya, romantisme itu apa?" dengan polosnya, Araya bertanya. Dia memang belum terlalu mengerti hal seperti itu.


"Kau belum tau?"


Araya menggeleng pelan.


"Singkatnya, romantisme itu seperti terlibat hal-hal yang romantis, indah dan menyenangkan." Dae-Vin menjelaskannya secara singkat. Araya menunjukkan ekspresi aneh.


"Memangnya, waktu itu kita terlihat romantis ya?" tanya Araya lagi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Entahlah." jawab Dae-Vin. Dia juga memikirkan hal yang sama seperti Araya barusan.


"Jadi, bagaimana?" Araya menanyakan kesimpulan. Sejak tadi, sebenarnya dia tidak terlalu mengerti apa yang sedang dirinya diskusikan dengan Dae-Vin.


"Apanya?"


"Rencananya tidak jadi kan?"


"Kita lihat saja, pokoknya kita harus bersikap biasa saja, seolah-olah tidak ada yang terjadi pada kita." Dae-Vin mengambil kesimpulan.

__ADS_1


"Hmm ngomong-ngomong, kau habis menangis ya?" Dae-Vin membuka topik lain. Araya baru tersadar bahwa dirinya terlihat habis menangis.


"Tidak kok." balas Araya sambil sedikit mengalihkan pandangannya.


"Jangan bohong, aku sudah tau kok. Matamu merah dan sedikit bengkak."


"Apa? Yang benar saja?"


"Iya, aku tidak bohong."


Setelah itu, Araya memegang kedua matanya, merasakan bahwa kantung matanya menjadi sedikit lebih besar.


"Bagaimana ini?" tanya Araya dalam hati. Dia tidak mau kalau sampai bertambah parah besok pagi.


"Kompres saja dengan batu es." ucap Dae-Vin tiba-tiba. Apakah dia mengerti apa yang Araya pikirkan?


"Apa bisa sembuh?"


"Bisa, dulu aku sering melakukannya."


"Kenapa kau melakukannya?"


"Emm, lupakan saja." Dae-Vin mencoba mengalihkan pembicaraan lagi. Dia menatap ke arah jam digital. Sudah jam 00.27. Hampir jam setengah satu malam.


"Apa? Sudah lewat dua puluh tujuh menit?" tanya Dae-Vin sambil beranjak dari duduknya setelah mendapati waktu yang sudah lebih dari lima belas menit.


"Memangnya kenapa?" Araya bertanya.


"Kamera pengawas dan datanya sudah di aktifkan lagi. Apalagi sekarang kan sudah ada yang patroli. Bagaimana caranya aku kembali?" tanya Dae-Vin, pikirannya mulai kalut. Dia tidak berhenti berpikir bagaimana caranya untuk kembali ke ruangannya tanpa ketahuan.


"Apa maksudmu?"


"Aku akan membawamu ke ruanganmu."


"Bisakah? Tapi kan kau belum terlalu mahir. Bagaimana kalau nanti-"


"Kita coba saja." Araya bersikeras. Dia ingin mencoba membawa seseorang menggunakan kekuatan teleportasinya.


"Bagaimana caranya?" tanya Kim Dae-Vin lagi.


"Kau tinggal berpegangan padaku." ucap Araya sambil turun dari tempat tidurnya. Dia mengulurkan tangannya.


Dae-Vin pun melakukan apa yang Araya minta. Tapi, dia malah memegang pundak Araya.


"Ayo." ucapnya singkat.


"Hey, bukan pegang bajuku. Berpegangan langsung, bersentuhan kulit." balas Araya lagi.


Kemudian, dengan sedikit keraguan, Dae-Vin pun memegang pergelangan tangan kanan Araya. Setelah itu, Araya pun segera mengaktifkan alat kendali teleportasi miliknya.


"Bawa kami ke ruangannya Kim Dae-Vin."


...----------------...


Tak butuh waktu lama, Araya dan Kim Dae-Vin telah sampai di dalam ruangan yang menjadi tempat tujuan mereka. Ruangan dengan penerangan yang remang-remang.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Araya merasakan matanya yang sangat berat, badannya yang semakin melemas. Araya pun ambruk, tapi Dae-Vin segera menangkapnya supaya tidak jatuh.


Araya bukan pingsan, tapi dia tidur. Kenapa? Itulah efek samping dari penggunaan kekuatan teleportasi yang melebihi batas. Mengingat bahwa Araya yang belum cukup mahir menggunakannya, akhirnya dia mendapatkan imbasnya. Apalagi sekarang kan sudah lewat jam tidurnya.


"Sudah aku bilang, kau itu belum cukup mahir. Untung saja efek sampingnya hanya tertidur secara tiba-tiba. Kalau ada yang lebih parah kan bisa gawat." kata Dae-Vin dalam hati sambil membopong tubuh Araya. Kalau membawanya kembali, itu sama saja dengan mencari masalah yang akan melibatkan Araya lagi. Kemudian, dia memutuskan untuk menidurkannya di tempat tidurnya. Menutupi tubuh Araya dengan selimut. Lalu, sekarang dia akan tidur di mana?


"Biarkan Araya di sini saja sampai dia bangun. Aku akan tidur sambil duduk saja." batinnya. Kemudian, berjalan ke arah meja belajarnya. Dia duduk di kursinya, melipat kedua tangannya di atas meja, kemudian meletakkan kepalanya. Dia memejamkan matanya.


Tiga puluh menit berlalu. Sekarang sudah jam satu malam. Dae-Vin tak kunjung bisa tidur. Dia malah terpikir dengan hal-hal aneh.


"Tidak! Tidak boleh! Jangan jadikan Araya sebagai pemuas nafsumu! Lagipula, Araya harus melanjutkan masa depannya. Dia masih kecil." kata Dae-Vin sambil memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menghilangkan pikiran negatifnya itu.


Saat itu, dia sama sekali tidak merasa mengantuk. Dia mencari ide untuk melakukan suatu hal positif yang bisa menghilangkan rasa bosan, tapi tidak mengganggu.


"Apakah lebih baik kalau aku menulis jurnal saja ya?" batin Dae-Vin sambil melihat-lihat beberapa buku di depannya. Dia mengambil salah satunya. Buku yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis, sampulnya berwarna biru, dengan tulisan 'My Journal'. Buku itu berisi kegiatan sehari-harinya, perasaannya juga dia ungkapkan dalam bentuk tulisan, bisa dibilang itu buku harian.


Dia membuka buku itu, mencari lembar buku yang masih kosong. Mengambil pena, kemudian segera menuliskan sesuatu. Tapi sebelum itu, dia menyalakan lampu belajar terlebih dahulu.


......................


Sabtu, 30 Januari 2021


Kemarin, sudah satu pekan sejak aku pertama kali tinggal di markas ini. Kemarin, aku sangat kesal. Ayahku sudah tidak seperti dulu lagi. Dia sangat berubah. Dia jadi tak mau mendengarkan aku.


Tapi, ada satu rasa yang aku sembunyikan. Saat ini, jam satu malam lewat sepuluh menit, aku merasa bahagia yang selalu aku sembunyikan. Aku bisa bersama dengan seseorang yang kusukai untuk saat ini. Aku punya perasaan istimewa untuknya.


Sekarang aku sudah menyimpan kontak pribadinya. Aku bisa bertukar pesan dengannya tanpa harus diketahui pihak organisasi ini. Tapi, sedikit banyak kami harus membatasi hubungan, juga tetap harus bersikap biasa saja. Bersikap seperti seolah kami baru pertama kali bertemu.


Itu cukup menyakitkan bagiku. Aku sudah mulai membuka hati untuknya, tapi keadaannya malah seperti ini. Aku benar-benar tidak suka.


Hah, aku benar-benar kecewa untuk saat ini. Andaikan dulu aku mengerti perasaannya, ini tak ada terjadi, kemarin kemarinnya aku bisa dibilang sudah egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku menyesali perbuatanku.


Tapi dibalik banyak rintangan ini, semoga aku bisa tetap mempertahankan perasaanku. Aku tetap ingin memiliki perasaan ini selamanya. Saranghae, untuk seorang gadis berinisial A, berumur tiga belas tahun. Dia orang pertama yang berhasil mengisi hatiku yang sebelumnya terasa hampa. Aku ingin selalu bersamanya..


......................


Klutek!


Pena Dae-Vin telah terjatuh. Dae-Vin telah tertidur setelah selesai menuliskan isi pikirannya. Dia cukup lelah, setelah kemarin melaksanakan tes ulang yang hasilnya lumayan memuaskan.


Pagi harinya, sekitar jam setengah enam. Dae-Vin terbangun lebih dulu. Terlihat Araya masih tidur.


"Dia masih tidur ya? Biarkan saja dulu.." kata Dae-Vin dalam hati setelah terbangun dan melihat sekilas ke arah Araya yang masih tertidur pulas.


Setelah itu, Dae-Vin meregangkan tubuhnya yang terasa agak pegal karena tidur dengan keadaan duduk. Kemudian, dia berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan juga menjalankan panggilan alamnya.


To be continued..


...----------------...


Author note :


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Semoga terhibur ya!


Lagi-lagi di chapter ini hanya tentang Araya dan Dae-Vin aja. Tokoh lain pada ke mana?

__ADS_1


Ok sekian dulu. Jangan lupa like, komen dan favorit ya. Sampai jumpa di chapter berikutnya.


__ADS_2