
[Mars Mission Arc - #6)
...----------------...
"A-ano, boleh aku pinjam jaketmu?" dengan keraguan yang tertampan jelas di wajahnya, Araya mencoba meminta izin dulu.
Laki-laki di depannya itu seketika mengarahkan kedua tangannya ke belakang sembari berucap, "nih ambil saja."
Dengan segera dan sebelum dia menyadarinya, Araya pun langsung melepas jaket merah abu-abu yang dikenakan Zaaryan. Beruntung bagian depannya tidak diresleting, jadi lebih mudah melepasnya.
Setelah selesai melepasnya, Araya segera mengenakan jaket itu secepat mungkin supaya tidak langsung disadari oleh Zaaryan.
"Terima kasih," tak lupa berterima kasih, Araya berucap sembari menaikkan resleting hingga ke atas.
"Eh, suara itu.." ucap Zaaryan lirih yang tak mampu didengar Araya. Dia berbalik, dan melihat Araya yang sudah memakai jaketnya.
"Araya? Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka?" tanya Zaaryan berturut-turut yang terdengar posesif, dia seketika berdiri sembari ia memegang kedua bahu Araya.
Araya mengangguk menanggapi. Zaaryan menghela napas lega sambil berjalan selangkah mundur dari Araya.
"Maaf sudah membuatmu cemas, hehehe.." kata Araya disertai kekehan kecil sambil mengusap tengkuknya.
"Hehe.. Hehe.. Tak ada yang lucu." menirukan suara kekehan Araya, Zaaryan berucap sambil mengacak singkat rambut Araya.
"Iya-iya, maaf." mengulang kembali kata maafnya, Araya juga tak enak hati karena telah membuat rekannya itu cemas dan takut.
"Eh Araya," kali ini, Zaaryan berujar sambil memasang ekspresi wajah serius. Dia baru menyadari hal ini. Diamatinya tubuh Araya dari atas sampai bawah. Berbeda dari yang tadi, kini Araya hanya mengenakan jaket miliknya, serta sepatu yang masih utuh.
"Mana seragam kamu?" lanjutnya bertanya pada Araya, pasalnya saat itu Araya hanya mengenakan jaket yang terlihat kebesaran untuk Araya.
Bagian lengannya yang terlalu panjang, bisa ditekuk beberapa kali jika Araya yang mengenakannya. Serta dengan jaket yang kebesaran itu, mampu menutupi separuh pahanya yang sebelumnya terekspos.
"Seragamku hancur akibat aku hampir termakan oleh kalajengking raksasa tadi." jujur Araya sembari menunduk.
"D-di pesawat masih ada cadangannya kan?" memberanikan diri mengangkat wajahnya, Araya bertanya yang dibalas anggukan kecil oleh Zaaryan.
__ADS_1
"Kalau masalah cadangan sih tentu saja ada, tapi yang harus dipikirkan, bagaimana caranya kita kembali?"
Pertanyaan itu kembali membuat mereka terdiam untuk berpikir. Itu bukanlah pertanyaan sepele. Tapi bagi mereka, satu pertanyaan tersebut sudah membuang cukup banyak waktu dan tenaga, serta hampir mengorbankan nyawa.
"Ehem! Bagaimana kalian berdua bisa ada di sini?" berdeham singkat, salah satu dari dua orang berlainan jenis berdiri di belakang mereka. Araya dan Zaaryan seketika berbalik.
"Dae-Vin? Hanny?" ucap mereka kompak setelah melihat kedua rekan mereka yang lain.
"Setelah kami cari-cari ternyata kalian berduaan di sini?" menarik pergelangan tangan Araya menjauh dari Zaaryan, Hanny berucap dengan nada agak ketus.
"Bagaimana.. Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?" dengan nyali yang sedikit, Araya mencoba bertanya. Dia mengira kalau jawaban panjang kali lebar akan dia terima saat ini juga.
"Kamu masih bertanya? Apakah kalian tau, berapa lama kalian menghilang?" sembari berkacak pinggang, Hanny bertanya untuk menghilangkan rasa khawatir dan penasarannya yang sudah beberapa hari ini dia rasakan.
"Ehm mungkin satu-" belum sempat Araya menyelesaikan kata-katanya, padahal tinggal bilang satu kata lagi, yakni 'hari'.
"Satu pekan." Dae-Vin menyahut. Araya dan Zaaryan membelalakkan matanya tak percaya.
"Yang benar saja sampai satu pekan?" tanya Zaaryan sambil sedikit mengernyit heran.
"Sudahlah, sekarang lebih baik kita kembali ke pesawat." ucap Hanny mengalihkan perhatian. "Ayo," lanjutnya sembari menggandeng tangan kanan Araya.
"Aku bisa teleportasi lintas dimensi." jawabnya santai. Kemudian mulai mengaktifkan portal berwarna kuning agak oranye dengan diameter sekitar tiga setengah meter.
"Tapi bagaimana dengan batu element-nya?"
"Jangan khawatir, kami sudah menemukannya."
Dae-Vin baru menyadari ada hal tak wajar yang terjadi pada Araya. Dia menatapnya dengan tatapan datar, kemudian menarik bahu Zaaryan yang sudah berjalan di depannya.
"Apa yang kamu lakukan pada Araya?" tanyanya dengan ekspresi dingin dan sorot mata tajam yang dulu sering dia perlihatkan pada orang lain.
"A-aku tidak melakukan apa-apa kok." sembari menggeleng pelan, Zaaryan menjawab dengan sedikit tergagap. Dia juga merasakan hawa dingin yang membuat bulu kuduknya mulai berdiri.
"Kenapa Araya tak menggunakan seragamnya?" kali ini, Dae-Vin mencengkeram kerah seragam Zaaryan, masih dengan sikap posesifnya yang mungkin sudah kelewatan jika diamati dari sudut pandang Zaaryan.
__ADS_1
"Ehm.. Sebaiknya kita ke pesawat dulu, baru membahas-" belum sempat Zaaryan menyelesaikan kalimatnya, seruan Hanny yang terdengar melengking berhasil mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Hey kalian berdua! Kalian mau kembali atau tidak?!" dari jarak sekitar lima puluh meter, dia berteriak guna menyadarkan kedua rekan laki-lakinya tersebut.
"Kali ini aku membiarkanmu, tapi...jangan lupa konsekuensinya kalau kamu melakukan hal buruk pada Araya." memincingkan matanya, Dae-Vin melirik Zaaryan dengan tatapan sinis tidak suka.
"Hah.. Sudah kubilang aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa kamu tidak percaya padaku?"
...----------------...
"Araya," panggil Dae-Vin tepat di belakang Araya. Baru saja Araya hendak masuk ke ruangannya, dirinya harus berbalik terlebih dahulu.
"Iya?" balasnya singkat sembari membalikkan badannya menghadap ke belakang.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" maju selangkah, Dae-Vin bertanya menginterogasi. Araya melangkah mundur.
"Ehm tidak banyak yang terjadi kok," mencoba menjawab dengan tenang, Araya memasang senyum tipis. Sedangkan orang di depannya itu belum mengubah ekspresinya sama sekali.
"Jawab saja Araya, tak perlu menyembunyikan apapun. Jikalau rahasia, aku tidak akan membocorkannya." ujar Dae-Vin sambil menjulurkan tangan kirinya menyentuh dinding tepat di samping bahu Araya.
"Tidak ada yang aku rahasiakan kok. Kalau kau benar-benar ingin tau, aku bisa menceritakannya tanpa mengurangi ataupun menambahkan."
"Baiklah, ceritakan."
"Aku, tadi hampir dimakan kalajengking raksasa." memalingkan wajahnya, Araya tentu merasa agak risih setelah dirinya ditatap lamat-lamat oleh rekannya itu.
"Sebelumnya, aku sempat masuk ke dalam mulutnya dan akibat dari itu, seragamku robek semua. Untunglah sebelum aku dicerna, aku memaksa teleportasi ke luar." lanjut Araya menjelaskan. Dae-Vin menghela nafas pelan, kemudian mengusap tengkuknya.
"Seragam kamu robek semua?" tanyanya lagi. Pertanyaan tak terduga itu membuat Araya seketika terdiam dan mengubah ekspresinya.
"I-iya. Hanya sepatu yang masih utuh." jawab Araya sambil menunjuk ke bawah pada sepatu yang sama seperti saat terakhir kali dia pakai.
"Apa sebelumnya, ada yang melihatmu?"
"Melihat ap- Oooh itu, tidak ada yang melihat kok. Zaaryan tidak menyadari keadaanku saat aku meminjam jaketnya. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
Awalnya Dae-Vin sedikit lega mendengar penjelasan Araya, tetapi setelah ditanya kenapa, dia jadi bingung harus menjawab apa.
To be continued..