
[Darkness Invasion Arc - #7]
...----------------...
"Kita harus segera pergi dari sini, Park Hana." seraya memasang tatapan serius, Steve berucap.
Araya balas mengangguk, "Iya, tapi, bagaimana caranya?"
Mereka berdua kini berdiri saling membelakangi. Steve berdiri menghadap Darkzero, sedangkan Araya menghadap dinding penghalang yang transparan.
Shiroi, kenapa … kenapa jadi seperti ini?! Seharusnya aku lebih hati-hati. Araya merutuki kecerobohannya dan menyalahkan dirinya sendiri. Padahal, itu tidak sepenuhnya salahnya.
Ditatapnya dinding transparan itu, perlahan ia menjulurkan tangan kanannya untuk mencoba menembusnya. Namun, hal tak dia duga terjadi.
Bukannya berhasil ditembus, Araya malah merasakan tangannya tersetrum arus listrik.
"Kak Steve, dinding ini seperti ada listriknya." bisik Araya pada Steve.
"Itu buruk. Akan sulit bagi kita untuk keluar dari sini." balas laki-laki itu sambil sekilas menatap Araya.
"Kalian tidak akan bisa kabur!" Darkzero berucap sembari memainkan jemari tangannya. Tak berselang lama kemudian, mereka bertiga telah berada di tempat yang berbeda.
Di tempat ini, jauh lebih gelap—seperti malam tanpa bulan dan bintang. Sesekali, kilatan petir di langit terlihat. Yah, hanya itu yang membuat terang tempat itu meski hanya sebentar.
"Tetaplah di dekatku." gumam Steve untuk memastikan kalau Araya masih di belakangnya.
"Iya."
"Hahahaha! Selamat datang di ruangan eksekusi!" Darkzero tertawa. Ia merentangkan tangannya sambil mendongak.
Ruangan eksekusi?
Mendengar kalimat itu, perasaan Araya dan Steve dari semakin was-was, mengingat bahwa nama mereka berdua sama-sama dicatat dalam daftar blacklist.
"Zack, apa ada cara untuk pergi dari sini?" Steve bertanya pada sistemnya. Meskipun rasanya itu cukup sulit, tapi, mereka akan berusaha menyelamatkan diri.
"Aku tidak tahu. Di sekitar sini, tidak ada benda yang berpeluang bisa digunakan untuk keluar dari tempat ini. Ruangan ini seperti tanpa batas."
"Tanpa batas?" gumam Steve dan Araya hampir bersamaan. Jika benar-benar tanpa batas, maka mustahil bagi mereka untuk bisa keluar. Bagaikan di luar angkasa yang tanpa batas, tapi di tempat ini, sama sekali tidak ada benda apapun yang bisa mereka gunakan.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita bersenang-senang." Darkzero berucap sembari melangkah mendekat. Semakin dia mendekat, semakin terasa aura kuat yang begitu mencekam. Semakin ia mendekat pula, udara serasa mencekik mereka hingga kesulitan bernapas.
"T—tunggu!" Araya memberanikan diri untuk mencegahnya dan sekalian mengulur waktu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Araya mengisyaratkan supaya Darkzero berhenti sejenak.
"Bukankah itu tidak adil, kalau … kalau Anda menyerangku saat aku dalam mode manusia? Jika seperti itu, Anda tidak bisa melihat kemampuan asliku." Araya berucap, melawan rasa takutnya untuk bisa mendapatkan Shiroi kembali. Jika tidak, maka ia akan tetap seperti itu dan tidak bisa mengendalikan kekuatan element.
"Hmm kamu benar juga. Baiklah!" Darkzero bergumam sambil mengusap dagunya.
CTAK!
Setelah bunyi itu terdengar, alat transformasi milik Araya jadi seperti semula. Tidak lagi membatu, Shiroi juga seketika kembali.
"Shiroi, kau baik-baik saja?" Araya bertanya sambil menatap transformation tool miliknya yang sudah kembali berwarna.
"Iya. Sebenarnya, apa yang terjadi?" suara Shiroi terdengar.
"Syukurlah, kamu sudah kembali. Lain kali aku ceritakan. Sekarang, kamu harus membantuku."
"Baik!"
Setelah Shiroi kembali, Araya mencoba untuk tidak membuang lebih banyak waktu. Ia segera berubah ke mode armor untuk membantu Steve mengalahkan Darkzero.
"Setidaknya, aku mati bukan dalam mode manusia. Oh iya, jika kami mati, apakah yang akan terjadi dengan yang lainnya?" Araya berusaha bicara sesantai mungkin, seolah-olah ajalnya belum akan menjemput.
"Hey, kau apa yang kau bicarakan?" Steve menyikut pelan lengan Araya. Ia merasa sedikit janggal dengan perkataan gadis itu.
"Jika kalian mati, tidak akan terjadi apa-apa pada mereka." balas Darkzero. "Sudah dapat jawabannya, 'kan? Kalau sudah, aku akan mulai mengeksekusi kalian!"
Seketika aura Darkzero semakin pekat, terutama di tangan kanannya. Di tangannya, muncul sebilah pedang yang diselimuti kabut berwarna hitam.
"Park Hana, berjanjilah padaku kalau kita tidak akan mati." menggenggam tangan kanan Araya, Steve berucap dengan suara bergetar. Dari gelagatnya, dapat diketahui kalau dia sebenarnya juga takut.
"Aku tidak bisa berjanji, Kak."
"Apapun itu, berusahalah agar tidak mati!"
"Hmm, oke." Araya mengangguk antusias, sementara Steve melepaskan genggamannya.
...----------------...
__ADS_1
"Rain, apa tidak ada cara lain supaya kita bisa sampai lebih cepat?" sembari berlari secepat mungkin, seseorang dengan armor merah bertanya meski ini bukan saat yang tepat.
"Tidak ada. Hanya ini caranya." balas seorang rekannya yang saat ini juga sedang berlari. Yah, mereka adalah Profesor R dan Profesor F. Mereka juga kembali menggunakan armor setelah bertahun-tahun benda itu dianggurkan.
"Aku punya firasat buruk tentang Araya dan Steve." Fatih—Profesor F—kembali bersuara.
"Iya, makanya, kita harus cepat ke sana!"
Setelah bermenit-menit mereka berlari, tibalah mereka di depan gerbang dimensi. Di gerbang itu, perbedaan antara dimensi manusia dengan dimensi Darkness sangat kentara.
Di sekitaran sana, ada sekitar dua ratus Darkness Swordman level lima yang masih berkeliaran mencari mangsa untuk dijadikan bagian dari mereka. Di sana juga tidak diketahui keberadaan para anggota tersier yang seharusnya bertugas di tempat ini.
"Ah sialan! Kita melupakan tujuan awal kita." celetuk Fatih sembari berusaha menghentikan langkah kakinya yang sudah terlanjur cepat. Begitupun dengan Rain, ia pun berhenti berlari setelah rekannya itu berkata demikian.
"Tujuan awal?" Rain balik bertanya.
"Iya, sekarang kita sudah sampai dan baru teringat rencana awal." Fatih menepuk dahinya. Saking banyaknya hal dan rencana yang ia pikirkan, ia sampai lupa dengan rencana awal sekaligus rencana paling utama.
"Jangan bilang kita melupakan senjata pusaka?"
"Itu yang ingin aku katakan."
"Argh! Kenapa baru ingat sekarang?! Sekarang siapa yang akan kembali untuk mengambilnya?" Rain berbalik dan menatap rekannya itu. Mereka berdua sama-sama lupa. Di usia yang sudah kepala empat, wajar saja hal itu terjadi.
"Biar aku yang kembali. Kau masuklah ke dimensi Darkness untuk membantu yang lain." Fatih mundur beberapa langkah, dan setelah itu, ia segera berbalik dan berlari kembali ke markas.
Kenapa tak menggunakan teleportasi? Hal itu sulit dilakukan, dikarenakan adanya gelombang khusus di sekitaran perbatasan dimensi yang menyebabkan mereka sulit menggunakan teknik teleportasi.
Selagi Fatih kembali ke markas, Rain masih berdiri di sana. Ditatapnya gerbang dimensi yang terbuka lebar. Ketika ia mencoba masuk, ia terpental ke belakang hingga sejauh tiga meter. Seperti ada tolakan yang membuat bisa seperti itu.
"Aku harus cari cara lain." gumamnya sembari menatap penghalang transparan melalui layar hologram pada armornya.
Rain mulai berjalan di sekitaran sana sambil sesekali memindai dengan pemindai hologram yang sudah beberapa kali ia modifikasi.
"Sepertinya akan sulit untuk masuk ke sana."
**To be continued …
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Jangan lupa like dan komen setelah membaca** ^_^
__ADS_1