
[Darkness Invasion Arc - #5]
...----------------...
"Untuk sementara, kita kabur dulu untuk mengulur waktu." bisik Hanny pada Araya sembari mengisyaratkan supaya Araya ikut bersembunyi bersamanya di balik batu besar.
"Ehm," Araya mengangguk sambil ikut menunduk di tempat itu, "kita akan tetap di sini sampai berapa lama?"
"Entahlah, tidak pasti. Kita perlu mengabari yang lain." menggeleng pelan, Hanny mencoba menghubungi seseorang dengan alat komunikasi pada armornya.
"Hanny … itu apa?" menatap lurus ke langit bagian selatan kota, Araya terbengong dengan pemandangan tak biasa.
"Itu portal yang membatasi dimensi manusia dengan dimensi Darkness. Dan portalnya hampir seratus persen terbuka."
"Lalu, apa yang akan terjadi jika portalnya sudah sepenuhnya terbuka?"
"Akan ada lebih banyak Darkness Swordman yang bisa ke dimensi ini."
"WAA! Aku menemukan kalian!" suara mengejutkan itu tiba-tiba muncul di depan mereka. Lebih tepatnya, Zeta yang muncul tepat di depan mereka berdua.
Sontak saja membuat Araya dan Hanny refleks menjauh. Sayangnya, mereka menghindar ke arah yang berlawanan. Araya ke kanan, dan Hanny ke kiri. Otomatis mereka terpisah.
"Hah … lagi-lagi aku dijauhi. Katakan, kenapa kalian menjauhi aku?" Zeta menghela napas, dia menghela napasnya. Nada bicaranya juga berubah.
"Karena kau itu jahat!" Hanny menjawab tegas sambil menyiapkan senjatanya untuk berjaga-jaga.
"Apakah aku … memang sejahat itu?" Zeta terduduk. Entah mengapa, semangat bertarungnya menjadi turun drastis. Atau ini hanyalah taktiknya saja untuk bisa menjebak mereka berdua?
Araya masih terdiam untuk mencerna keadaan. Pandangannya masih belum teralihkan dari tangan kiri Zeta yang bergetar yang alasannya belum ia ketahui.
Sejurus kemudian, kedua tangan bergetarnya itu mencengkram kepalanya sambil berteriak. "AAARRGGHH! Sakit! Panas!"
"Araya, jangan mendekatinya!" cegah Hanny supaya Araya tak mendekati Zeta yang tiba-tiba bersikap aneh. Tetapi, sudah terlambat. Sekarang, Araya berada tepat di depan Zeta yang terlihat kesakitan.
"Shiroi, sebenarnya dia itu kenapa?" Araya bertanya pada Shiroi. Mendadak perasaannya cemas dan aneh secara bersamaan ketika sifat Zeta tiba-tiba berubah.
"Dia itu masih belum bisa mengendalikan kekuatan darkness level tiga. Jadi, fisiknya bisa dibilang tidak kuat."
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Araya lagi. Tentu ia bersimpati ketika mendapati lawannya yang seperti itu. Perlu digarisbawahi, hanya bersimpati, bukan menyerah.
"Lepas kekuatan darkness-nya. Nanti dia akan pulih sendiri, tapi dia akan lebih menderita kalau dia diubah paksa menjadi manusia." mendengar penjelasan Shiroi, Araya terdiam. Otaknya sedang bekerja keras untuk berpikir cara paling efektif dalam menyelesaikan masalah ini.
"Araya, apa yang akan kau lakukan?" pada akhirnya, Hanny menghampirinya setelah tadi Araya tak sempat menanggapi ucapannya.
"Aku akan berjanji. Setelah aku melepas element darkness ini, kamu berada di pihakku. Aku yang akan melindungimu dan membelamu." Araya memegang kedua bahu Zeta. Hal itu juga membuat keduanya bertatapan secara tidak langsung.
Sekilas, Zeta terlihat menganggukkan kepalanya. Ia juga sudah terlihat pasrah dengan apa yang akan Araya lakukan terhadap dirinya.
Kemudian, Araya mulai mengeksekusi rencananya, yakni melepas darkness element yang terpasang pada alat transformasi milik Zeta.
Hanny hanya mengamatinya sambil harap-harap cemas. Semoga itu bukan jebakan, pikirnya. Dia juga cemas kalau seumpama Zeta tiba-tiba menyerangnya dengan memanfaatkan kelengahan mereka.
"Nah, sudah." sekilas, Araya tersenyum tipis setelah berhasil melepas element kegelapan dari alat transformasi Zeta. Mantan Darkness Swordman itu juga sudah terlihat lebih baik. Armornya memang masih melekat, hanya saja, warnanya tampak lebih pudar dan cerah.
"Kamu sekarang bagian dari tim-ku, ya?" Araya kembali berucap setelah Zeta menatapnya penuh rasa penasaran.
Tak lama, Zeta mengangguk. Dia memang lebih berbeda daripada yang tadi. Kali ini, aura yang terpancar darinya adalah aura manusia, bukan lagi aura kegelapan khas Darkness Swordman.
KLAP! JGEERR!
Araya berdiri, kemudian mendongakkan menatap ke arah gerbang dimensi yang kini telah terbuka sepenuhnya.
"Araya, jangan pergi sendirian." ucap Hanny sambil menepuk bahu kirinya dari belakang.
"Ayah … ayah sudah mempercayakan misi ini padaku. Aku harus pergi." ucap Araya lirih, pandangannya masih belum teralihkan dari gerbang dimensi yang membentang sepanjang tiga kilometer.
Krisis Darkness Swordman terburuk sepanjang sejarah. Pada generasi sebelumnya, gerbang itu tidak pernah seratus persen terbuka. Paling banyak hanya enam puluh persen. Yah, ini pertama kali dalam sejarah.
"Park Hana!" teriak seseorang dari kejauhan. Seketika, Araya mengedarkan pandangannya guna mencari sumber suara itu.
"Pak Hyun-Jae? Ada apa?" tanya Araya pada seniornya yang kini sudah sampai di tempat persembunyian mereka. Dan di belakang Hyun-Jae, ada suatu makhluk yang tidak Araya ketahui namanya.
"Kamu jangan terburu-buru ke sana!" Hyun-Jae berusaha menormalkan pernapasannya. "Karena kamu masuk ke daftar blacklist Darkzero."
"Hah?" awalnya, Araya mengernyit sambil menatapnya bingung. "Blacklist?"
__ADS_1
"Iya. Sebenarnya, alat transformasi milikmu itu memancarkan gelombang khusus yang tidak dimiliki anggota lain. Darkzero memanfaatkan hal itu untuk langsung membunuhmu setelah kamu masuk ke sana."
Araya mendengarkan penjelasan seniornya itu dari awal sampai selesai, tanpa menyela perkataannya.
"Apa, hanya aku yang masuk ke daftar blacklist?" Araya bertanya setelah Hyun-Jae selesai menjelaskan.
"Tidak. Bukan hanya kamu. Steve juga masuk daftar itu."
"Aku? Ada apa?" Steve muncul tanpa disadari oleh mereka. Sontak saja, semua orang di sana menatapnya.
"Kamu dan Araya masuk daftar blacklist. Kalian dilarang masuk ke dimensi darkness." singkat dan jelas Hyun-Jae menjelaskan. Sementara itu, Steve terdiam.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang?"
DUAARRR!
Sepersekian detik setelah Araya melontarkan satu pertanyaan, ledakan besar itu terdengar memekakkan telinga. Di dekat perbatasan sana, terlihat asap hitam mengepul. Dari kawasan tempat mereka berdiri, bahkan terasa tanah sedikit bergetar akibat ada pertempuran hebat di dekat gerbang dimensi.
"Hyun-Jae, kamu di mana sekarang?" tanya Kapten Akira pada Hyun-Jae melalui komunikasi armor.
"Aku tidak jauh dari gerbang dimensi. Apa yang terjadi?"
"Kau pasti dengar ledakan tadi, 'kan? Ada banyak Darkness Swordman level dua di sekitar sini. Aku perlu bantuanmu."
...----------------...
"Eh! Ledakan apa ini? Kenapa bisa terasa sampai sini?" gumam Dae-Vin sesaat setelah ia juga merasakan getaran akibat ledakan yang terasa sampai di beberapa daerah.
"Aku merasa ada yang tidak beres. Kuharap mereka baik-baik saja." sahut Lucas setelah sekilas mendengar gumaman Dae-Vin.
Di depan mereka, ada satu Darkness Robot yang sudah tak berdaya. Tubuhnya hancur dan rusak parah akibat diserang bertubi-tubi oleh kedua remaja itu. Kalau masalah merusak barang, serahkan saja pada mereka.
"Gelombang lautnya juga naik. Aku akan coba lihat keadaannya." sejurus kemudian, Lucas langsung melompat dan naik ke besi penyusun crane. Tak butuh waktu lama, pemuda berusia delapan belas tahun itu sudah berdiri di atas crane tersebut. Ia mengedarkan pandangannya untuk bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di tempat lain.
"Gerbang dimensi sudah benar-benar terbuka. Keadaan di sana pasti sangat kacau. Apa, kita harus pergi ke saja juga?" Lucas terdiam setelah mengatakan tiga kalimat itu.
**To be continued …
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komen setelah membaca, ya … biar author tetap semangat ngelanjutin cerita ini** ^^