
[Final Arc - #9]
...----------------...
Araya mendongakkan kepalanya, menatap batu asteroid yang beberapa detik lagi akan menyentuh tanah. Ia memusatkan pandangannya pada batu asteroid besar itu. Tanpa membutuhkan waktu lama, asteroid besar tersebut hilang dan berubah menjadi debu-debu halus yang bisa tertiup angin.
"Apa? Bagaimana—Ehem! Maksudku, lumayan juga kemampuanmu." Darkzero melipat tangannya, tatapannya tertuju pada Araya yang masih memasang wajah datarnya.
"Kami membutuhkan orang sepertimu. Bergabunglah dengan kami." secepat kilat Darkzero sekarang telah berdiri tepat di depan Araya. Bahkan jarah di antara mereka tidak sampai satu meter.
"Terlalu cepat seribu tahun."
JLEB!
Tanpa Darkzero sadari, sudah ada sebilah pedang yang tertancap di tubuhnya. Saat Araya bicara tadi, tangan kirinya menggerakkan pedang secepat mungkin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan saat Darkzero lengah.
"Eh? Berhasil kena, ya? Hebat." ucapnya. Tanpa merasa sakit, ia sama sekali tak mengubah ekspresinya. Dia malah menyempatkan diri untuk bertepuk tangan karena Araya berhasil menusuknya dengan pedang.
Mustahil bagi Darkzero untuk benar-benar tertusuk pedang. Yang tertusuk tadi hanyalah bayangannya. Darkzero dapat mengendalikan bayangannya sendiri sesuka hatinya.
Araya menatapnya dengan tatapan tajam. Ia ingin musuh di depannya itu menjadi seperti batu meteor yang tadi ia hancurkan sampai jadi debu. Namun, hal itu tak mempan pada Darkzero. Teknik 'Killing Stare' itu hanya bisa digunakan untuk melawan musuh yang kekuatannya setara atau di bawahnya. Kalau memaksakan teknik itu, efek buruk akan segera menghampirinya.
"Ayo-ayo! Kok diam?" melompat-lompat kecil, Darkzero berusaha menghasut Araya supaya langsung menyerangnya tanpa berpikir.
Saat itu, kondisi Araya sebenarnya sedang tidak baik. Tubuhnya seperti telah kehilangan jiwa. Sorot matanya kosong, tapi tajam. Kedua sistemnya juga dalam kondisi yang sama sepertinya. Tak bersuara. Di tempat itu, Darkzero seorang yang terus-terusan bicara seorang diri.
Tak jauh dari tempat itu, seseorang sedang berusaha keras untuk tetap menjaga kesadarannya. Meskipun tubuhnya terbaring lemah, dia masih sadar. Ditatapnya Araya dengan pandangan yang mulai buram. Laki-laki itu berupaya mengambil pedang miliknya yang cukup jauh untuk dia gapai.
Karena saat ini posisinya terbaring, ia bisa merasakan seseorang datang ke arahnya—merasakannya lewat tanah yang sedikit bergetar.
__ADS_1
Siapapun, tolong bantu Araya, ucapnya dalam hati setelah melihat seseorang berlari ke arahnya. Belum sempat mengetahui siapa orang itu, matanya sudah terpejam. Aura di sini benar-benar sangat kuat hingga mampu membuatnya kehilangan kesadaran.
Kembali ke posisi Araya. Sudah beberapa kali ia menggunakan teknik 'Killing Stare' untuk menyerang Darkzero. Sayangnya, usahanya itu sama sekali tak membuahkan hasil. Yang ada malah muncul cairan merah yang mengalir dari kedua matanya di masing-masing sudutnya. Yah, matanya berdarah karena ia sudah menggunakan teknik itu di luar batas.
"Itu 'kan, kalau tidak salah dia putrinya Arga. Tapi, kenapa dia jadi seperti itu?" gumam seseorang yang namanya belum dikenal oleh para anggota Elemental generasi kesembilan.
Namanya Axel. Sebelumnya, dia adalah anggota keempat Elemental Asia generasi kedelapan—rekan dari Kapten Akira. Ia sempat menghilang beberapa tahun karena disegel oleh Darkzero saat misi yang serupa seperti sekarang ini.
"Hey!" teriaknya untuk mengalihkan perhatian Darkzero. Benar saja, kedua makhluk berbeda dimensi itu menoleh ke arah suara yang dirasa menginterupsi mereka berdua.
"Cih! Gara-gara kau, dia jadi bebas. Tak apa, nanti aku akan menyegel kalian lagi, dan kau juga." Darkzero berucap sambil mengarahkan telunjuknya pada Axel, kemudian mengarahkannya pada Araya.
"Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan kau melakukannya!" berjalan mendekat pada Araya, Axel tak mengalihkan pandangannya dari Darkzero.
Tak lama setelahnya, ia menatap Araya, dan kebetulan Araya menatapnya juga dapat tatapan kosong. Sejenak pikiran Axel melayang. Ia juga masih belum mengalihkan pandangannya dari putri seniornya itu.
Eh, apa yang kulakukan?! Sadarlah!
Sepertinya bukan. Teknik 'Killing Stare' itu untuk menghancurkan, bukan mengendalikan pikiran. Axel mencoba berpikir positif. Mengendalikan akalnya yang tadi sempat traveling saat bertatapan dengan Araya.
Sebagian besar orang akan menganggapnya wajar karena Axel termasuk laki-laki dalam kategori belum dewasa. Aslinya, ia sudah berumur dua puluh enam tahun. Tapi, karena ia telah tersegel selama enam tahun, jadi, usianya tidak bertambah dan masih tetap dua puluh tahun. Kalian mengerti maksudku? Usianya tak bertambah selama enam tahun. Cerita ini benar-benar seperti genre 'reverse harem'.
"Yang tidur bertahun-tahun, sekarang sudah bangun. Apakah tidurmu nyenyak?" Darkzero mengungkit perihal segel yang beberapa saat lalu masih aktif.
"Lumayan. Segelmu ternyata cukup berpengaruh bagiku." ucap Axel dengan nada biasa, namun ada maksud tersembunyi. Entah apa yang dia pikirkan sekarang, laki-laki albino itu menyeringai sambil berdiri di depan Araya—berniat melindunginya.
"Kau tetaplah di belakangku, ya?" sekilas Axel menoleh ke belakang. Araya masih diam tanpa menanggapi sepatah katapun.
Sebenarnya dia ini kenapa sih, Axel bingung. Dia merasa ada yang tidak beres dengan gadis di belakangnya itu. Mata merah Araya kali ini terlihat lebih merah karena digenangi darahnya.
__ADS_1
Seperti tubuhnya sudah mati rasa, Araya membiarkan apapun yang terjadi padanya.
...----------------...
Di lain tempat, berjarak sekitar empat ratus meter dari lokasi Araya berada, Arga berdiri di balik bangunan yang sudah lama tak digunakan.
Dia berada di situ bukan hanya untuk bersembunyi, namun ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menganalisis keadaan untuk menyusun rencana lanjutan.
Dengan alat transformasi miliknya yang belum secanggih milik generasi kesembilan, ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Araya. Terutama untuk mengetahui apakah dia baik-baik saja atau tidak.
"Terdeteksi Element Rigel tingkat tinggi. Element ini adalah element langka yang baru saja ditemukan keberadaannya. Penggunaan berlebihan dapat menghancurkan alat transformasi dan juga tubuh pengguna." kata sistemnya, Arga mendengarkan dengan saksama.
Menghancurkan ya? Araya 'kan mewarisi tiga nyawa sepertiku, aku yakin dia pasti baik-baik saja, katanya dalam hati.
Namun nahas, Arga belum tahu kalau nyawa Araya sekarang hanya tinggal satu. Dia sudah kehilangan dua nyawa saat usianya masih begitu belia.
Tak jauh di belakang Arga, seseorang berarmor merah terlihat mendekat. Berjalan dengan sedikit mengendap-endap supaya tak menimbulkan suara di lingkungan yang sedang sunyi.
"Dia siapa? Kenapa dia bisa bertahan di sini?" tanya Henry kepada sistemnya. Ia sedikit curiga melihat Arga yang bahkan tanpa armor bisa bersikap 'biasa saja' di lingkungan yang sama sekali tak mendukung.
"Dia Arga. Anggota ketiga dari Elemental Asia generasi ketujuh. Selama ini, ia tak terlihat karena disegel oleh Darkzero. Dia juga merupakan ayah dari Park Hana." balas Quart yang membuat Henry terkejut seketika.
"APA?!"
Suara Henry cukup keras, hingga mampu membuat Arga mengetahui keberadaannya. Ia masih beruntung karena Darkzero dan yang lain tak mendengarnya.
Ketika menatapnya, Arga mengisyaratkan supaya Henry diam. Pemuda itu mengangguk. Arga lantas kembali memberi isyarat supaya Henry mendekat. Tanpa menunggu lama, Henry segera berjalan mendekatinya.
Di tempat itu, ia bisa melihat keadaan yang tak diharapkan umat manusia. "Araya berhadapan dengan Darkzero?"
__ADS_1
To be continued …
Maaf kalo battle-nya nggak seru. Harap maklum, aku masih author belajaran. Masih pemula juga. Semoga kalian suka. Terima kasih buat yang udah tetap baca sampai chapter ini. Nggak tau mau namatinnya kayak gimana nanti :)