
[Mars Mission Arc - #2]
...----------------...
Singkat cerita, ketika pesawat yang mereka tumpangi sudah ke luar dari atmosfer bumi. Tidak ada gaya gravitasi, jadi mereka akan melayang-layang di udara jika tidak mengenakan sabuk pengaman.
Mereka berempat berada di kabin yang menjadi ruangan utama. Yang mengemudikan pesawat ini adalah Kim Dae-Vin dan juga Zaaryan, sedangkan Araya dan Hanny menjadi pilot cadangan saja.
"Lapor, kami telah sampai di ruang angkasa dengan selamat, tidak ada kendala. Laporan selesai," ucap Dae-Vin berbicara lewat alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
"Laporan diterima, kalau kalian lelah, kalian boleh beristirahat dahulu selama lima sampai sepuluh menit, dan memberhentikan pesawat kalian di sana. Jangan lupa untuk mengaktifkan mode diam." ucap Kapten Akira terdengar dari seberang.
"Baik, kapten."
Setelah selesai memberi laporan, mereka pun melakukan apa yang diperintahkan. Yakni memberhentikan pesawat untuk mengistirahatkan dan mendinginkan mesinnya. Sedangkan para penghuninya masih sibuk mengamati jutaan bintang di langit yang nampak sangat jelas jika dilihat dari ruang angkasa ini.
"Hey teman-teman, kenapa ya di ruang angkasa tidak ada oksigen?" sembari mengarahkan pandangannya ke luar jendela, Araya berucap melontarkan pertanyaan.
Pikirannya sedang berimajinasi, apa yang akan terjadi jika ruang angkasa ini ada oksigen? Pasti para astronom tidak perlu menggunakan pakaian luar angkasa dan membawa tabung oksigen jika hendak melakukan penjelajahan ke bulan.
"Hmm.. Mungkin karena-" di saat Hanny baru hendak mengungkapkan pendapatnya, ucapannya sudah terpotong oleh perkataan Dae-Vin.
"Karena di ruang angkasa tidak ada makhluk hidup penghasil oksigen. Kalau di Bumi kan ada tumbuh-tumbuhan, dan ada fitoplankton yang menghasilkan oksigen di perairan." ucap Dae-Vin mengungkapkan pendapatnya. Sedangkan Hanny memasang wajah datar, dia sedikit kesal karena Dae-Vin menyela ucapannya.
__ADS_1
"Menurut kalian, apakah alien itu benar-benar ada?" kini Zaaryan yang angkat bicara. Dia bertanya sembari menyangga dagunya dengan tangan kanannya, mengarahkan pandangannya ke luar pesawat.
"Entahlah, hal itu masih diteliti kan?" Hanny menanggapi sambil sedikit mengubah posisi duduknya, sebab pinggangnya mulai pegal setelah perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit.
"Iya, sampai sekarang masih diteliti. Mungkin memang benar ada, hanya saja tempat mereka belum pernah ditemukan oleh manusia. Mereka berada sangat jauh, sedangkan manusia belum menemukan teknologi yang dapat membawa mereka menempuh perjalanan ratusan ribu tahun cahaya dalam waktu singkat." ujar Dae-Vin menanggapi sambil memandang ke arah galaksi yang teramat jauh. Bukan sok pintar atau apa, dia hanya mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
Sungguh, entah mengapa hal itu agak sulit dia lakukan semasa sekolah. Mungkin karena kepribadiannya yang terlalu introvert, dia tipe orang yang penyendiri dan suka menutup diri dari kehidupan bersosial.
"Baiklah, kurasa sekarang kita sudah boleh ke sana." ucap Dae-Vin setelah melihat jam yang jarum pendeknya menunjuk angka delapan, dan jarum panjangnya ke arah angka tujuh. Mereka hanya memerlukan waktu tiga puluh menit untuk sampai ke luar angkasa. Dan lima menitnya mereka gunakan untuk mendinginkan mesin sebentar.
Aslinya bisa lebih cepat lagi, tetapi karena pilot dari pesawat itu masih junior, jadi.. Seperti ini mungkin pilihan terbaik.
Setelah itu, Dae-Vin dan Zaaryan mulai menekan beberapa tombol untuk kembali mengaktifkan mesin jet pesawat tersebut. Mengarahkan stir kemudi pesawat, bergerak menuju ke planet Mars.
...----------------...
Ekspresinya takjub, matanya berbinar, sebab ini pertama kalinya dia melihat planet Mars secara langsung, bukan dari buku maupun internet. Begitu juga dengan Araya serta Zaaryan. Sedangkan Dae-Vin, dia nampak biasa saja. Setelah mendaratkan pesawat, kedua tangannya masih sibuk menekan beberapa tombol dan menarik beberapa tuas guna menonaktifkan mesin pesawat sebelum nanti mereka tinggal untuk melakukan penjelajahan.
"Jangan langsung ke luar, kawan-kawan. Kita harus memakai armor. Di sini udaranya tidak seperti di Bumi, pastikan menyalakan penyaring udara." ucap Zaaryan sambil mulai melepas s**afety belt khusus yang sedari tadi belum dia lepas.
"Okay," jawab Araya dan Hanny kompak sembari mengangguk antusias. Tidak diberi tau juga, mereka sudah tau, hanya saja mungkin perlu diingatkan lagi daripada lupa.
Setelah semua anggota berada di ruangan tengah, tempat di mana mereka bisa membuka bagian bawah pesawat. Dan di situ juga, mereka mengaktifkan mode armor.
__ADS_1
"Wah, aku baru pertama kali melihat armor kamu, Araya." Hanny berucap sambil masih mengamati armor putih bergradasi hijau yang melekat di tubuh Araya. Sebelumnya, dia memang belum pernah melihat Araya versi armor tahap kedua.
"Hihihi.. Kau benar juga. Aku juga pertama kalinya melihatmu memakai itu."
"Ekhem! Ayo mulai." ucap Dae-Vin sambil mulai melangkahkan kakinya mendekati pintu ke luar, tangan kirinya menekan saklar dan seketika pintu terbuka.
Sebenarnya hal ini hanya dia gunakan untuk menghilangkan jenuh. Bukan jenuh terus-terusan berada di dalam pesawat, tapi dia mulai jenuh karena tidak diajak bicara lagi oleh Araya sejak beberapa menit yang lalu, kesannya seperti 'dikacangin'. Padahal baru beberapa menit. Dan Araya masih belum peka terhadap perasaan Dae-Vin.
"Apakah sebaiknya, kita tidak usah berpencar?" tanya Zaaryan dengan pandangan yang sibuk mengamati sekeliling. Saat ini, mereka berempat sudah mulai bergerak melakukan penelusuran. Mencari di lokasi tertentu untuk dapat menemukan batu element yang mereka cari.
"Tidak usah, tapi pastikan sinyal pendeteksi kalian tetap menyala." balas Dae-Vin tanpa menoleh ke belakang. Dirinya berjalan di depan. Di belakangnya, ada Hanny. Dan yang paling belakang ada Araya serta Zaaryan.
Batuan di planet Mars sedikit berbeda dari di Bumi, bedanya adalah warna. Jika di Bumi tanahnya berwarna dominan coklat, maka di sini tanahnya berwarna merah. Sebab di planet ini, tanahnya mempunyai banyak unsur logam.
Di planet Mars ini juga mempunyai beberapa keunikan. Selain tanahnya yang berwarna merah, planet Mars mempunyai gunung tertinggi di tata surya. Gunung itu bernama Olympus Mons yang tingginya kurang lebih dua puluh lima kilometer, atau sekitar tiga kali lipat tinggi gunung Everest di Bumi.
Jika membahas tentang planet Mars, jangan lupakan tentang Phobos dan Deimos. Dua satelit alami planet mars ini, atau disebut juga sebagai bulannya planet Mars. Mempunyai ukuran yang berbeda, bentuknya tidak terlalu bulat seperti bulan, tapi memiliki orbit atau lintasan di sekeliling planet ini.
Planet Mars masuk ke golongan planet terestrial, karena tersusun atas batuan, selain Merkurius, Venus dan Bumi. Ada lagi satu fakta penting. Selain mempunyai julukan 'planet merah', Mars termasuk ke planet dalam. Karena letaknya yang dekat dengan matahari dan berada di dalam sabuk asteroid.
To be continued..
...----------------...
__ADS_1
Terima kasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Di chapter kali ini, banyak penjelasan ya. Sekalian mereview kembali materi pelajaran IPA waktu kelas 7. Dan author suka kalau temanya tentang antariksa, meskipun terkadang suka takut-takut gimana gitu.
Okelah, itu aja. Jangan lupa like, komen dan favorit ya. Sekian.