
[Vacation Arc - #2]
...----------------...
"Lho, Kim Dae-Vin? Kamu sudah pulang?" tanya Kak Aria sesaat setelah Dae-Vin melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan kesehatan.
Sontak, Dae-Vin menatapnya dengan tatapan khas orang tidak sehat. "Apa maksudmu Kak?" tanyanya dengan suara yang agak berdengung dikarenakan sedang flu.
"Bukankah tadi kamu jalan-jalan ke luar dengan teman-temanmu?" mengernyit heran, Kak Aria kembali bertanya.
Pertanyaannya membuat Dae-Vin jadi semakin bingung, "jalan-jalan dengan teman-teman? Aku bahkan belum bertemu mereka hari ini." jawabnya.
"Hah? Lalu yang tadi itu siapa?"
"Siapa?"
"Entahlah. Aku jadi bingung sendiri. Entah tadi itu aku sedang mimpi atau tidak." ucap Kak Aria sambil memegangi kepalanya. Dae-Vin hanya menatapnya dengan tatapan biasa.
"Eh iya, omong-omong, kamu kenapa ke sini? Kamu sakit?" tanyanya dengan topik berbeda.
Dae-Vin mengangguk pelan, "hanya flu dan agak tidak enak badan. Mungkin karena kemarin aku terkena banyak debu."
"Ooh, baiklah. Kamu istirahat saja, jangan lupa obatnya diminum."
"Hmm, baiklah aku pergi." ucap Dae-Vin sebelum akhirnya ia membalikkan badannya dan mulai berjalan kembali.
"Aku pergi bersama teman-teman? Padahal sedari tadi aku di kamar. Dan kenapa perasaanku terasa tidak enak ya? Apakah aku harus menyusul mereka?" dalam hati, Dae-Vin memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh seniornya belum lama tadi. Perasaannya menjadi was-was. Sesaat ia mengabaikan rasa pusing yang belum lama ini terasa di kepalanya.
"Benar! Aku harus menyusul mereka. Aku merasa ada yang tidak beres." gumamnya setelah memikirkan keputusannya. Setelah itu, ia mempercepat langkah kakinya ke ruangannya.
Saat ini, Dae-Vin sudah berada di luar markas. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk beristirahat, malah ia gunakan untuk jalan-jalan di luar dan mencari teman-temannya. Apalagi, Dae-Vin juga melupakan hal yang penting baginya saat ini, yakni minum obat.
Masih dengan pakaian yang tadi, ia berjalan melewati trotoar. Sambil sesekali melihat alat transformasi miliknya guna dapat menemukan lokasi mereka.
"Sudah tidak jauh. Aku harus cepat." gumamnya, setelah itu ia mempercepat langkah kakinya. Ia juga kembali mengabaikan rasa pusing dan hidung mampet yang menyerangnya sejak beberapa menit yang lalu.
...----------------...
"Bagaimana es krim-nya? Kamu suka?" tanya Zaaryan sambil menatap Araya yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Eh, i-iya. Aku suka. Terima kasih ya." balas Araya sesaat setelah tersentak dari lamunannya. Ia bahkan belum sempat menggigit es krim di tangannya. Tapi, ia bilang 'enak' itu dengan tanpa alasan. Mulutnya berucap dengan sendirinya tanpa membuat kesepakatan dengan otaknya terlalu dahulu. Keceplosan lebih tepatnya. Araya sedang melamun tadi, jadi ia tidak menyadari kalau sekarang Zaaryan sudah duduk di sebelahnya.
Setelah itu, barulah ia mulai menjilat es krim rasa cokelat itu, kemudian menggigitnya sebelum es krim tersebut mulai mencair.
Sesaat ia teringat akan Dae-Vin yang saat ini pasti bersama seorang Hanny. Araya menghela nafasnya setelah selesai menelan makanan dingin itu. Beberapa kali ia juga menahan air mata yang hendak ke luar.
"Sudahlah Araya, jangan terlalu dipikirkan. Jika bukan dia, pasti masih banyak yang lebih baik lagi." ucap Zaaryan memecah keheningan. Araya tertunduk.
"Iya, tapi di masa depan nanti, ia akan menjadi teman hidupku. Apakah aku akan jadi seorang pelakor?" kata Araya dalam hati. Benar juga, saat dewasa nanti, ia akan tinggal serumah dengannya. Lalu bagaimana?
"Hmm, kamu benar. Ehm, Zaaryan apa kamu pernah suka sama orang lain?" mencoba mengalihkan topik pembicaraan, Araya bertanya sambil sekilas menatap lawan bicaranya.
"Kalau masalah pernah atau tidak, tentu saja aku pernah." jawabnya diiringi senyuman tipis.
"Lalu kamu pernah mengungkapkan perasaanmu?"
"Tidak. Aku selalu takut kalau ditolak. Itulah yang membuatku ragu."
"Kamu pernah sakit hati?"
"Pernah. Dan aku tau kalau sekarang kamu sedang mengalaminya, iya kan?" Zaaryan balik bertanya. Araya kembali menundukkan kepalanya, membiarkan es krim yang dia pegang mulai meleleh. Sekilas, Araya menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa, aku ada di sisimu." itulah yang sebenarnya ingin ia katakan, namun ia mengurungkan niatnya karena sudah mengetahui kalau Araya lebih menyukai rekannya sendiri.
"Masalah ini mulai rumit. Sebenarnya ini siapa yang jadi sumber masalah?" dalam hati, Zaaryan bertanya pada diri sendiri. Kalau diurutkan, kenapa malah menjadi cinta segi empat? Mereka berempat sama-sama terjerat hubungan yang mungkin tak masuk akal.
Sepuluh menit berlalu, dan sekarang mereka berdua sudah menghabiskan es krimnya. Kemudian, Zaaryan mengajak Araya untuk jalan-jalan di taman yang tak jauh dari sana. Meskipun bisa ditebak kalau Dae-Vin dan Hanny ada di tempat itu juga.
"Hey kalian!" teriak seseorang dari arah belakang Araya dan Zaaryan. Meskipun berteriak, tapi suaranya tidak keras dan juga sedikit berdengung.
Mereka berdua segera berbalik dan menatap orang yang memanggil mereka. Melihat siapa orangnya, Araya langsung menundukkan pandangannya.
"Loh, Dae-Vin, kok kamu di sini?" tanya Zaaryan agak sinis, dia masih tidak suka perilaku Dae-Vin yang dia kira 'playboy'.
"Memangnya aku dari mana?" Dae-Vin balik bertanya sambil memasang wajah bingung. Dae-Vin membuka tutup mulutnya, dia bernapas melalui mulut karena hidungnya sudah benar-benar tersumbat. Apalagi, dia habis berlari tadi.
"Kok malah balik bertanya? Kamu tidak sadar apa yang telah kamu lakukan?" tanya Zaaryan lagi.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." menggeleng pelan, Dae-Vin berucap.
__ADS_1
Sekilas, Araya melirik laki-laki itu. Dia adalah Dae-Vin yang biasanya. Jika tadi ia mengenakan kemeja, Dae-Vin yang ini mengenakan jaket seperti biasanya.
"Dia.. Dia seperti biasanya? Kenapa penampilannya mendadak berubah? Sebenarnya apa yang terjadi?" Araya membatin. Setelah melihat kalau dia adalah Dae-Vin yang biasanya, kini Araya berani mendongakkan kepalanya untuk menatap ke depan.
"Eh Araya, kok kalian cuma berdua? Yang lain ke mana?" tanya Dae-Vin pada Araya.
Araya terdiam, kemudian mengedikkan dagunya ke depan. Dae-Vin pun membalikkan badannya dan melihat dua orang yang berjalan mendekati mereka bertiga.
"Loh? Ada dua Kim Dae-Vin?" Zaaryan membelalakkan matanya tak percaya. Di sana, Kim Dae-Vin benar-benar ada dua. Wajahnya sama, namun penampilannya yang berbeda.
"Ada dua? Apakah kalian kembar, Dae-Vin?" tanya Araya sama terkejutnya. Dia pun tak percaya, kalau di depannya itu ada dua laki-laki yang berwajah sama.
"Tidak, aku tidak kembar. Dia yang palsu." menggeleng pelan, Dae-Vin menunjuk ke arah dirinya yang berada di dekat Hanny.
"Apa? Apa maksudmu aku palsu?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. "Yang palsu itu kamu. Kamu barusan datang kan?" ia balik bertanya dengan nada dinginnya.
"Kamu yang palsu!"
"Kamu,"
"Ka- Hachiuu! Kamu palsu!"
"Psst, Zaaryan, menurutmu yang asli yang mana?" bisik Araya pada Zaaryan yang masih dia tercengang.
"Eh apa?"
"Yang asli yang mana?" Araya mengulangi pertanyaannya.
Zaaryan mengangkat bahu, "aku tidak tau."
"Sudahlah kalian berdua! Sekarang mana asli dan mana yang palsu?" ucap Hanny berusaha melerai perdebatan mereka berdua.
Sedangkan kedua Kim Dae-Vin itu saling menunjuk sambil berkata, "dia yang palsu!" Setelah itu, mereka berdua saling pandang dengan tatapan kebencian.
"Ngg, Araya!" ucap Hanny tiba-tiba. Sedangkan Araya sontak menatap ke arahnya.
"Kamu yang tentukan mana yang asli dan mana yang palsu."
**Bersambung..
__ADS_1
Kalo teman-teman pasti tau mana yang asli dan yang palsu. Menurut kalian, yang palsu itu sebenarnya siapa**?