
[Mars Mission Arc - #3]
...----------------...
Saat ini, keempat anggota sudah berjalan sejauh empat kilometer, dan belum beristirahat satu menit pun. Sebab, mereka tak merasakan lelah dikarenakan armor mereka mempunyai bagian yang berfungsi untuk penyimpan energi, sehingga meminimalisir rasa lelah pemakainya.
Masih setia berjalan untuk beberapa waktu ke depan, Araya sudah mulai jenuh. Sebab sedari tadi keadaan sunyi. Tidak ada yang memulai topik pembicaraan. Hingga, Araya menghentikan langkahnya sesaat dan memandang ke arah hamparan permukaan tanah planet Mars.
"Ada apa, Araya?" ikut menghentikan langkahnya, Zaaryan berbalik sembari bertanya.
"Ehm, tidak apa." balas Araya sambil tersenyum, meskipun wajahnya tak terlihat. Setelah itu, dirinya mulai berjalan lagi.
Belum juga Araya berjalan sepuluh langkah semenjak dirinya berhenti, tiba-tiba..
SLAB!
Kelebat bayangan hitam muncul melewati depan Araya dan Zaaryan, seketika pemandangan di depan mereka berubah total.
Di sini, terdapat hamparan tanah yang pecah-pecah, dan di sela-sela terdapat cairan berwarna oranye kemerahan yang terlihat menyala, cairan itu adalah lava!
Selain itu, di sekeliling mereka juga terdapat banyak gunung berapi yang semuanya mengeluarkan lava dari kawahnya, awan panas mengepul di atas kawah. Suhu di sini benar-benar tinggi. Langitnya juga gelap seperti langit malam tanpa bintang, terlihat beberapa kali muncul kilatan cahaya petir.
"Z-Zaaryan, kita ada di mana? Bagaimana kita bisa ada di sini?" tanya Araya sembari memandang ke sekelilingnya yang tidak biasa. Terakhir kali dia melihatnya tadi, bukan seperti ini kan?
"Aku juga tidak tau, Araya. Kita masih di Mars kan? Jangan-jangan kita diculik alien?" ucap Zaaryan menerka-nerka. Pikirannya sudah mulai membayangkan dan memperkirakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Membayangkan wajah alien yang berwarna hijau dan kepalanya lonjong, serta mata yang hitam polos.
"Atau jangan-jangan, kita sudah di neraka?" tanya Araya sembari berbalik menatap Zaaryan. Tatapannya sarat akan kekhawatiran. Bagaimana kalau dugaannya benar?
"Sepertinya tidak, Araya. Kita bahkan belum meninggal. Dan tubuh kita masih bebas, tidak dirantai, kan?" Zaaryan memberi pernyataan yang berupa pertanyaan, sambil menunjukkan kedua pergelangan tangannya yang masih bebas dan tertutupi armor merahnya.
"Hmm kau benar. Aku sudah berpikir terlalu jauh." Araya bergumam, dirinya kembali mengamati sekeliling. Mencoba mencari tau di mana lokasi mereka saat ini dengan fitur pemindai yang terdapat dalam armor miliknya.
'Lokasi tidak ditemukan'
__ADS_1
Layar hologram miliknya menunjukkan tiga kata tersebut. Araya semakin bingung, bagaimana bisa lokasinya tidak dapat ditemukan?
Selagi Araya mencoba mencari tau lokasi mereka, Zaaryan sedang berusaha menghubungi markas dan juga Dae-Vin maupun Hanny.
"Araya, seperti.. Kita terisolasi di sini. Kamu bisa menemukan nama lokasinya?" tanya Zaaryan, terdengar helaan nafasnya yang menandakan kalau dia hampir menyerah. Mencoba untuk tetap tenang sembari memastikan sensing nya tetap aktif.
"Tidak bisa. Kamu benar, sepertinya kita terisolasi. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Menghubungi yang lain tidak bisa ya?"
"Tidak bisa. Menurutku, saat ini kita berada di dimensi lain."
...----------------...
"Dae-Vin, berhenti!" ucap Hanny seraya memegang bahu kanan Dae-Vin supaya Dae-Vin berhenti berjalan.
"Apa?" sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, Dae-Vin bertanya dengan nada malas.
"Araya dan Zaaryan menghilang!"
"Hah? Bagaimana bisa?" seketika membalikkan badannya, Dae-Vin menatap ke belakang yang tidak ada siapa-siapa selain Hanny. Dirinya langsung mengaktifkan fitur pelacak yang dapat mencari tau lokasi anggota lain.
"Ke mana mereka? Mereka tidak memutuskan untuk berpencar kan? Mereka tidak marah karena aku mendiamkan mereka, kan?" tanya Dae-Vin sembari berdiri saling berhadapan dengan Hanny, dia memasang ekspresi wajah khawatir dan berharap pada jawaban Hanny yang akan terucap sebentar lagi.
Namun, lain dari dugaan. Hanny hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak mengerti. Kim Dae-Vin langsung berbalik, berlari untuk mencari kedua temannya sambil terus mencoba menghubungi mereka, tidak peduli pada teriakan Hanny yang memanggil-manggil namanya seraya ikut berlari mengejarnya.
...----------------...
"Bagaimana caranya kita dapat ke luar dari sini?" sembari menunjukkan ekspresi cemas dan bingung, Araya berucap sembari berjalan memutari tempat itu.
Araya menghentikan langkahnya ketika dia sudah berada di 'ujung' daratan itu. Dia bergidik melihat lautan lava yang panas menyala. Nampak hamparan lava tersebut semakin meninggi dan berpotensi untuk dapat menenggelamkan daratan tempatnya berpijak.
Tidak lama kemudian, daratan tempatnya berdiri itu bergetar. Bukan gempa, namun ketidak seimbangan beban pada pulau tersebut. Tanpa dapat dilihat dengan mata kepala mereka, ternyata terdapat batu besar yang ukurannya lebih kecil dari daratan tersebut yang menjadi penyangga.
"Araya! Ke sini!" teriak Zaaryan sembari mengisyaratkan supaya Araya segera bergerak ke arahnya. Zaaryan sudah berada tepat tengah di pulau itu, sedangkan Araya masih di pinggir.
__ADS_1
Menyadari hal yang terjadi, Araya langsung berlari ke tengah supaya pulau tersebut kembali seimbang.
"Hah.. hah.. hah.. Kukira ini daratan yang rata.." ucap Araya setelah berhasil sampai ke tempatnya Zaaryan. Dia mencoba menormalkan kembali pernapasan sembari membungkukkan badannya.
Mungkin karena suhu yang terlalu tinggi di daerah itu bisa membuat baterai armor mereka menjadi boros. Sehingga berdampak pada penggunaannya, menjadi tidak efisien dan tidak senyaman ketika tadi.
"Iya, aku pikir juga begitu. Setelah kucoba beberapa kali, fitur armor ini tak terlalu berfungsi baik, terutama yang mengandalkan sinyal." ujar Zaaryan.
Sebelumnya, dirinya telah mencoba beberapa kali untuk menggunakan fitur yang terdapat pada armor yang dia kenakan. Tapi, hanya fitur pendingin yang masih berfungsi dengan baik.
"Lalu, bagaimana nasib kita sekarang? Apakah kita akan berakhir di sini?" tanya Araya dengan nada putus asa. Dia mendudukkan dirinya di atas tanah yang terasa hangat, namun tidak terasa olehnya dikarenakan dia mengaktifkan pendingin dari dalam armor.
"Tidak. Kita harus berusaha ke luar dari dimensi sini. Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Pasti ada jalan ke luar."
Sembari berbalik, Zaaryan menyalakan mode zoom untuk dapat melihat benda-benda di sekitar mereka dengan lebih jelas. Tetapi, kemungkinan besar tidak ditemukan benda aneh yang berpeluang besar untuk dapat membawa mereka kembali. Dirinya berjalan dengan hati-hati ke arah yang berlawanan dengan Araya tadi.
Ketika itu pula, Araya merasakan sesuatu yang aneh, tepat berada di bawahnya. Dia mendekatkan wajahnya ke tanah. Dia mendengar suara-suara aneh dari dalam tanah dan terasa getaran kecil.
Araya mengaktifkan mode tembus pandang untuk dapat melihat apa yang ada di dalam daratan itu.
"Hah?! ZAARYAN! Cepat lariiiii!" Araya langsung berdiri, dan kemudian berlari ke arah Zaaryan sembari berteriak sekencang-kencangnya, sebab fitur komunikasi mereka tak dapat berfungsi dengan baik.
Tak menghiraukan kondisi armor yang semakin lama semakin tak nyaman, Araya masih berusaha untuk dapat menyelamatkan dirinya. Meskipun sepertinya kecil peluang untuk dapat selamat.
Mendengar teriakan Araya, Zaaryan berbalik, belum sempat dirinya bertanya apa yang terjadi, tubuhnya sudah diterjang oleh Araya. Karena dia berbalik tiba-tiba dan Araya yang tak sempat menghentikan langkah kakinya yang bergerak cepat, pada akhirnya tubuh mereka bertabrakan.
BUUMMM!
Ke luar semburan lava panas dan juga uapnya dari tengah daratan tersebut, menimbulkan lubang berdiameter sekitar sepuluh meter.
To be continued..
...----------------...
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah mereka berdua dapat selamat atau riwayat mereka tamat? Nantikan kelanjutan di chapter berikutnya! Jangan lupa like dan komen, favorite kala kalian suka. Sekian dan terima kasih.