
[Primary Members Arc - #7]
...----------------...
"Hey, kamu baik-baik saja?" suara seseorang terdengar disaat Araya baru saja membuka matanya.
"Apa … apa yang terjadi?" memegangi kepalanya dengan tangan kanannya, Araya balik bertanya setelah berhasil mendudukkan diri. Tadi, Araya sempat melewatkan beberapa peristiwa saat dia tidak sadarkan diri selama beberapa menit. Atau mungkin, beberapa jam?
"Kamu pingsan tadi, sekarang Henry dan yang lainnya sedang mencoba mengambil batu element itu." Lucas menjelaskan sambil sekilas mengedikkan dagunya ke arah jendela.
Yah, saat ini mereka berdua berada di pesawat. Sesuatu yang buruk terjadi pada Araya beberapa saat yang lalu.
Araya terdiam sejenak. Dia menatap alat transformasi miliknya yang masih sama seperti sebelumnya.
"Shiroi, sebenarnya apa yang terjadi tadi?" Araya bertanya pada Shiroi. Semenjak air laut bergetar tadi, dia sudah tidak ingat apa-apa dan terbangun saat dirinya sudah berada di pesawat.
"Itu tadi, adalah efek dari batu element. Dia tidak ingin diambil, jadi dia menolak dengan cara demikian." pernyataan Shiroi membuat Araya kembali diam. Dia berpikir, apakah batu element punya perasaan?
"Maksudmu, dia menolak diambil?"
"Ya."
Araya mencoba berpikir sembari menatap lurus ke arah jendela. Sekarang ini, sudah menjelang pagi. Langit sudah tidak gelap seperti tadi.
"Kak Lucas …." panggil Araya tiba-tiba. Lucas seketika menatapnya dengan tatapan biasa.
"Sudah sejak kapan mereka di sana?" tanyanya untuk memastikan. Araya punya firasat buruk tentang hal ini. Dia berharap semoga semuanya baik-baik saja. Semua orang, baik regu primer, maupun regu lain yang tengah berjuang di sekitaran markas.
"Tiga jam yang lalu." jawab Lucas dengan singkat. Tidak ada raut wajah khawatir yang bisa dilihat oleh Araya. "Mereka baik-baik saja, aku menghubunginya sepuluh menit yang lalu." sambungnya.
Hal itu tentu membuat Araya sedikit merasa lega. Hanya sedikit. Dalam waktu sepuluh menit, pasti banyak hal yang terjadi di tempat lain.
"Kalau begitu, ayo ke sana Kak!" beranjak dari duduknya, Araya ingin cepat-cepat membantu rekan-rekannya yang sedang berusaha dalam misi itu.
"Hey, kamu masih belum pulih. Sebaiknya kamu istirahat dulu." cegah Lucas sambil menggenggam pergelangan tangan kiri Araya.
__ADS_1
"Tidak ada waktu untuk istirahat, Kak. Kak Lucas ingat, teman-teman dari regu lain juga sedang berjuang. Kita juga harus segera menyelesaikan misi ini supaya kita bisa cepat kembali …." Araya bersikeras. Jika tangannya tidak bisa lepas dari genggaman Lucas, maka cara lain yang bisa dia gunakan adalah sekalian menariknya untuk segera bergegas menuju lokasi kejadian.
"Dasar anak keras kepala," Lucas membatin. Laki-laki itu berjalan tepat di belakang Araya sembari beberapa kali menatap tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Araya.
Namun, belum juga mereka berdua keluar dari pesawat, mereka telah dikejutkan dengan suatu makhluk yang berada di dekat ruang mesin.
"Ya ampun! Makhluk apa itu?!" tanya Araya sambil berdiri terpaku ketika melihat wujud makhluk tersebut.
Hewan itu berukuran kecil, mempunyai telinga yang agak panjang, dan sekarang sedang mengkonsumsi energi dan merusak mesin pesawat. Bentuknya cukup aneh dan agak menyeramkan.
"Itu … Gremlin." balas Lucas dengan suara berbisik. Dia segera menarik Araya ke dekatnya supaya sedikit menjauh dari makhluk kecil itu.
"Gremlin? Hewan apa itu? Aku belum pernah mendengar tentangnya," Araya kembali bertanya. Dari balik pembatas ruangan, Araya mengamati gerak-gerik makhluk itu. Gremlin itu sudah berhasil merusak dan memutus puluhan kabel. Banyak helaian kabel-kabel yang berserakan di ruang mesin.
"Itu makhluk mitologi yang populer di Eropa. Dia suka merusak mesin pesawat dan memakan energinya."
Araya terdiam setelah mendengar dua kata, 'makhluk' dan 'mitologi'. Tapi, bukankah itu hanya mitos?
Tidak berselang lama kemudian. Terdengar suara-suara aneh tepat di bawah mereka berdua. Bunyi suaranya sulit untuk dijelaskan. Kedua remaja itu menatap ke bawah secara bersamaan.
"Park Hana, tunggu!"
JDUAK!
"Aduh!" seraya mengusap dahinya, Araya merasakan sakit dan nyeri akibat kepalanya terpentok dinding. Dia berlari sambil menutup mata, tentu hal ini adalah akibatnya.
Araya masih tidak menggubris teriakan dari Lucas. Tanpa menghiraukan laki-laki itu, Araya berlari keluar dari pesawat. Lagipula, dia sudah tahu kalau Lucas pasti akan mengikutinya.
"Kau baik-baik saja? Dahimu benjol …." sambil mengecek dahi Araya yang terpentok tembok tadi, Lucas kembali menanyakan keadaannya. Menelitinya sambil berharap kalau tidak ada yang benjol di dahi.
"Aku baik-baik saja kok." Araya mencoba menutupi dahinya dengan rambut poni yang sejajar dengan alis. Mengembalikannya seperti semula setelah tadi sempat Lucas acak-acak sedikit.
"I-itu! Itu Gremlin!" Araya tergagap setelah menyadari kalau Gremlin tadi sudah berada di ambang pintu pesawat. Jarak antara mereka dengan makhluk itu hanya beberapa meter saja.
"Sepertinya ada yang aneh. Gremlin hanya ada di cerita fiksi. Kalau yang di sini, pasti ulah Darkness Swordman." ujar Lucas nyaris bergumam. Menatap tajam ke arah makhluk tersebut, Lucas memasang sikap waspada.
__ADS_1
"Wah wah wah. Ternyata kamu cukup cerdas dari yang kubayangkan."
SYUUU ….
"Darkness Swordman?!" Araya dan Lucas berucap hampir bersamaan. Tepat di sebelah Gremlin itu, muncul makhluk berzirah serba hitam yang sudah sangat tidak asing bagi mereka.
Benar, yang mereka lihat adalah Darkness Swordman. Tidak salah lagi. Terlihat, Darkness Swordman menunduk dan mengusap kepala si Gremlin.
"Kerja bagus, sobat." ucapnya yang langsung dibalas anggukan antusias dari Gremlin itu. Dan dalam sekejap mata, Gremlin sudah menghilang begitu saja.
"Park Hana, dia Darkness Swordman level dua. Dia sangat berbahaya. Jadi, sebaiknya kamu pergi dari sini dan tinggalkan aku sendiri!" Lucas sedikit menoleh ke belakang sementara tangan kanannya memegang bahu kiri Araya supaya gadis itu tidak berhadapan langsung dengan Darkness Swordman.
"Apa? Kenapa aku harus pergi? Aku akan membantumu, Kak!" Araya bersikeras sembari menepis tangan kanan Lucas yang tadi berada di bahunya.
"Tidak! Kamu belum cukup kuat! Kamu segera pergi dan biarkan aku yang menghadapinya!"
"Kenapa aku yang harus pergi? Kalau aku lemah, tidak mungkin aku menjadi anggota primer, Kak! Pokoknya, aku akan membantumu! Tidak boleh menolak!"
"Hoaahm … sudah berdebatnya? Ah, aku baru tahu kalau kalian para anggota primer." Darkness Swordman menengahi perdebatan mereka berdua. Jika saja dia tak bersuara, mungkin perdebatan singkat Araya dan Lucas masih berlangsung.
Mereka berdua sama-sama menatap ke arah Darkness Swordman. Pagi-pagi begini, makhluk itu sudah membuat kekacauan di pesawat. Untunglah tadi Lucas diminta untuk menemani Araya di pesawat. Jika tidak, pasti akan berbeda ceritanya.
Kedua anggota Elemental itu masih terdiam. Mereka sama-sama tidak berniat bertanya tentang apa yang diinginkan oleh si Darkness Swordman. Sebab, mereka sudah tahu jawaban pastinya. Dia menginginkan batu element mereka.
"Hey, kalian hanya berdua? Mana yang lain?" sembari melangkahkan kakinya mendekati kedua orang itu, Darkness Swordman bertanya dengan nada seakan mereka sudah akrab.
"Kau tidak perlu tahu!" jawab Lucas dengan tegas. Dia masih memasang kuda-kuda dan sikap waspada untuk berjaga-jaga jika Darkness Swordman menyerang tiba-tiba.
"Aku tidak akan menyerang kalian sebelum mereka kembali. Jika berdua, kalian itu lemah! Kalian berdua bukanlah tandinganku!"
To be continued …
...****************...
Buat visualnya gremlin, kalian bisa cari di internet ya.
__ADS_1
Terima kasih buat teman-teman yang setia membaca. Jangan lupa like-nya, karena kasih like itu gratis :)