
[Final Arc - #3]
...----------------...
"Hey kalian!" teriak seseorang sembari berlari ke arah dua orang laki-laki tak jauh di depannya. Seketika mereka berdua menoleh ke arahnya.
"Bagaimana keadaan di markas?" tanya Rain pada Fatih yang baru saja kembali dari markas guna mengambil barang yang tadi terlupakan.
"Di markas masih aman. Ternyata tidak semua anggota pasif diungsikan, beberapa dari mereka tetap tinggal untuk membantu anggota aktif yang cedera." Fatih menjelaskan. "Dan aku berhasil mendapatkan senjata pusaka kita. Rupanya selama ini tidak dikunci."
Fatih menunjukkan 'senjata pusaka' yang berbentuk pedang dua tangan—ganda. Warnanya hitam keabu-abuan dengan motif berbentuk seperti api berwarna putih. Senjata itu sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Sebelumnya, benda tersebut disimpan di ruang penyimpanan rahasia. Dikabarkan kalau benda pusaka itu dikunci, tapi nyatanya tidak.
"Apa? Tidak dikunci? Ceroboh sekali." Rain menanggapi sambil melipat tangannya. Yang bertugas mengamankan senjata ini adalah para petinggi organisasi Elemental. Mereka sering kali ditugaskan untuk hal-hal yang menyangkut 'kehormatan'.
"Untuk siapa senjata itu?" celetuk Zaaryan tiba-tiba, disaat kedua orang dewasa itu tengah merasa kesal karena tindakan ceroboh petinggi mereka yang tidak berhati-hati dalam menyimpan senjata ini.
"Ehm, entahlah. Satu orang terpilih, yang akan bisa menggunakan senjata istimewa ini. Jika benar-benar terpilih, maka senjata ini bisa mendatangi orang itu dengan sendirinya." Fatih menjelaskan tentang legenda itu. Yah, legenda Pedang Pusaka Elemental yang dibuat dari besi murni. Meski terbuat dari besi, pedang itu tidak pernah berkarat meskipun teroksidasi. Rumornya, kekuatan besar di dalamnya yang membuat pedang tersebut tidak bisa berkarat.
Tentu saja hanya legenda, ada yang percaya dan ada yang tidak.
"Kalian sudah menemukan cara untuk masuk ke sana?" mengedikkan dagunya, Fatih bertanya pada kedua orang itu. Tak jauh dari posisi mereka berdiri, gerbang pembatas dimensi telah menunggu untuk dilewati. Gerbang yang dapat membawamu menuju dimensi Darkness yang gelap mencekam.
"Iya, kita akan membantai dulu para Darkness Swordman untuk mendapatkan element kegelapan. Dengan element itu, kita baru bisa masuk ke sana." balas Zaaryan dengan antusias.
"Kenapa harus pakai element kegelapan? Bukankah dulu Arga bisa masuk ke sana tanpa menggunakan element Darkness?"
Pernyataan sekaligus pertanyaan dari Fatih memang ada benarnya. Dua generasi yang lalu, Arga masuk ke sana dengan element yang asli, tanpa ada element kegelapan.
Seiring berjalannya waktu, gerbang dimensi juga mengalami modifikasi. Kali ini, jadi terdapat sensor yang mengharuskan seseorang yang memasukinya harus punya element kegelapan untuk bisa masuk ke dimensi Darkness.
"Itu bukan gerbang dimensi yang dulu. Sekarang kita—" ucapan Rain terpotong setelah tiba-tiba pedang ganda yang dipegang Fatih tadi melayang dengan sendirinya. Melayang dan tanpa turun kembali lagi, hal ini melawan hukum gravitasi.
"Eh?"
Pedang itu masih melayang setelah waktu berlalu sepuluh detik. Tidak lama kemudian, ujung bilahnya mengarah ke arah gerbang dimensi. Kemudian, pedang itu bergerak cepat ke arah yang berlawanan. Kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata orang biasa. Selain cepat, pedang itu juga mulai bersinar.
...----------------...
__ADS_1
WUSH!
"Itu 'kan, Pedang Pusaka!" kata Eve terkejut melihat pedang pusaka mereka yang sekarang sudah berada di genggaman Araya, tanpa ada yang memberikan.
"Bagaimana bisa? Berarti dia orang yang terpilih." Theo menimpali, ia sama terkejutnya dengan rekan regu sekunder-nya.
Araya masih diam, wajahnya tanpa ekspresi. Bagi orang biasa yang melihatnya, mungkin akan mengira kalau dia kelelahan dan kurang tidur—meski itu fakta. Hal itu dapat diketahui dari kantung matanya yang terlihat sedikit menghitam.
Setelah menggunakan element Rigel dan Darkness secara bersamaan, nyawanya yang sekarang hanya satu seakan hampir terpisah dengan raganya. Goyah.
"Park Hana? Kamu ini kenapa? Kamu mendengarku tidak?" Theo bertanya sambil mengguncang bahunya. Berharap Araya segera tersadar dan kembali berdiri.
Namun, gadis itu masih diam dengan tatapan kosongnya. Saat Theo melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Araya, dia masih tak bereaksi.
"Hey, dia ini kenapa? Dia membuatku sedikit takut." Theo menyerah setelah beberapa kali usahanya gagal untuk menyadarkan Araya. Dia berdiri dan berhadapan dengan Eve.
"Aku tidak tahu. Seperti ada yang aneh." mengangkat bahunya, Eve bergumam. Otaknya sibuk mengira-ngira penyebab Araya bisa seperti itu.
"Apa kita harus menghubungi yang lain?"
"Tidak, kita tidak boleh mengganggu mereka. Mereka pasti masih sibuk menangani Darkness Swordman sialan itu."
Jika sebelumnya duduk seperti patung yang bernapas, sekarang Araya berdiri masih dengan ekspresi dan tatapan datarnya. Menatap lurus ke depan—ke arah gerbang pembatas dimensi.
"Park Hana, apa yang … akan kamu lakukan?" Eve memelankan suaranya setelah pandangannya bersirobok dengan Araya. Ia sedikit merinding ketika itu, seakan-akan Araya menganggapnya musuh bebuyutan dan akan menyerangnya kapan saja.
"Park Hana butuh penyesuaian dengan element barunya." kata Ther—sistemnya Eve—setelah barusan ia mendapat informasi dari Zack tentang hal yang terjadi pada Araya. Zack sengaja melakukannya supaya mereka tidak takut dan tidak menganggapnya musuh.
"Jadi begitu? Element yang berbahaya. Apakah Park Hana akan baik-baik saja nanti?"
KLAP!
Araya langsung menghilang begitu saja. Meski tanpa armor, ia masih bisa teleportasi dengan element gabungan yang baru dia miliki. Teleportasi dengan sangat cepat, secepat sambaran kilat.
"Hah? Apa yang akan dia lakukan?" Theo membelalakkan matanya. Sejauh ini, ia belum pernah melihat seseorang berteleportasi secepat kilat kecuali di film-film. Bahkan agak sulit melakukannya meskipun sudah tahap keempat.
"Entahlah. Aku merasa kalau kejadian besar nan dahsyat akan segera terjadi." balas Eve sambil menatap ke arah langit yang menjelang malam. Awan hitam juga sudah berkumpul di atas dimensi mereka sedari tadi. Namun, hujan tak kunjung turun. Awan hitam itu seperti payung yang menghalangi cahaya matahari.
__ADS_1
...----------------...
"Ryusei!" Lucas berteriak, memberi aba-aba pada Dae-Vin supaya dia memberi serangan penutup.
"Iya!"
WUSH! JDUAR!
Ini ledakan yang kesekian kalinya semenjak gerbang dimensi terbuka. Dae-Vin menyerang dengan element airnya untuk melenyapkan Darkness Robot yang tadi menyerang mereka dari udara.
"Kerja bagus." Lucas menepuk bahu kanannya.
"Kau juga."
"Emm, aku merasa kalau kau harus pergi ke tempat lain." nada bicara Lucas berubah. Sepertinya, ekspresi wajahnya pun juga berubah.
"Apa maksudmu? Bukankah aku sudah ditugaskan di sini?" Dae-Vin tidak mengerti apa maksud dari perkataan Lucas. Pemuda itu awalnya menolak.
"Sekarang rencananya berubah. Aku baru saja menerima laporan kalau Steve sudah tidak bisa ikut berjuang. Tadi, dia tiba-tiba bisa berada di dimensi Darkness bersama dengan Park Hana."
"Park Hana? Bagaimana bisa? Apa yang Darkzero lakukan pada mereka?"
"Dia menyiksa mereka."
"Apa …?" Dae-Vin ternganga tidak percaya. Mendengar kabar bahwa orang yang disayanginya disiksa, tentu ia marah dan tidak terima. Kedua tangannya terkepal erat. Lucas yang melihatnya tentu mengerti emosi yang dirasakannya.
"Katakan padaku, di mana mereka?" Dae-Vin menatap Lucas dengan tatapan yang terasa menusuk. Auranya berbeda dari yang tadi.
"Terakhir kali aku ketahui, mereka ada di markas."
Informasi yang Lucas dapatkan memang terlambat. Bukan 'mereka' yang ada di markas, namun Steve yang saat ini terbaring tak berdaya di atas brankar.
Tanpa menunggu lama, Dae-Vin berbalik dan kemudian menggunakan teleportasinya untuk bisa cepat sampai ke markas pusat mereka.
To be continued …
Terima kasih buat kalian yang udah baca chapter ini, jangan lupa like dan komen ya!
__ADS_1
Btw Eve itu cewek, bukan cowok apalagi penyanyi lagu Ka— ehm, kalian mungkin tau maksudku :)