Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 71


__ADS_3

[Vacation Arc - #4]


...----------------...


BRUK! BRUAKH! SRAK!


"Hah.. Hah.. Hah.. Kemampuannya benar-benar tidak terduga. Apa yang harus kita lakukan?" gumam Araya bertanya sambil memegangi bahu kirinya yang terkena benturan keras akibat serangan barusan.


"Jangan berbicara denganku Araya, nanti dia bisa tahu apa yang kita pikirkan!" balas Shiroi cepat, benar juga apa yang dia katakan. Darkillusion memang bisa mengetahui apa yang mereka diskusikan meskipun berada di dalam armor.


Araya pun memutuskan untuk menggunakan otaknya memikirkan rencana tanpa memberitahu rekan-rekannya maupun sistemnya sendiri.


"Hey Darkillusion! Kenapa kamu tiba-tiba menyerang kami?" pertanyaan Araya barusan berhasil menarik perhatian Darkillusion dan juga rekan-rekannya yang terlihat sudah kewalahan menghadapi musuh mereka.


"Kamu ingin tahu? Tujuan menyerang kalian adalah karena aku menginginkan batu elemen kalian itu!" jawab Darkillusion dengan suara lantang sambil menunjuk alat transformasi di tangan kiri Araya.


"Untuk apa kamu menginginkannya? Kalau kamu benar-benar menginginkannya, kenapa kalian tidak mencoba untuk memintanya dengan baik-baik?"


"Baik-baik katamu? Sifat baik bukanlah warisan dari leluhur kami!"


"Kalau sudah tahu itu bukan sifat baik, kenapa kalian ikuti sampai sekarang?"


Pertanyaan Araya barusan membuat Darkillusion naik pitam. Dia marah karena merasa generasi sebelumnya dijelek-jelekkan oleh manusia yang baru lahir kemarin sore.


"Kamu tahu apa hah?! Kalian para manusia tidak tahu apapun!" dengan segera Darkillusion mengakhiri percakapan. Kemudian ia segera berubah wujud untuk melancarkan serangan beruntun lagi.


"Gawat, dia menghilang lagi." kata Araya dalam hati sambil memasang kuda-kuda dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Araya di bawahmu!"


Mendengar teriakan Dae-Vin barusan, Araya menundukkan pandangannya untuk melihat ke bawah. Tapi secara tiba-tiba tubuhnya tertarik masuk ke dalam lubang berdiameter setengah meter itu. Araya telah masuk ke dalam tanah.


"Araya! Araya, di mana kamu Araya?!" Dae-Vin segera bangkit kemudian mengecek tanah tempat lubang tadi muncul. Namun hasilnya nihil, tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada debu-debu halus di atas permukaan paving blok.


"Ini benar-benar tidak bagus. Araya menghilang sekarang. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" balas Hanny bertanya sesaat setelah dirinya berada di sebelah Dae-Vin.


"Kita harus menyelamatkannya, kenapa kau harus bertanya?" Zaaryan menyahut yang dibalas tatapan setuju oleh kedua rekannya.


"Sebelum itu, kita harus memberi tahu markas dulu." balas Dae-Vin sambil mengangguk sekilas kemudian berdiri.


...----------------...

__ADS_1


"Di mana aku..?" tanya dengan suara lemah. Ia menatap sekelilingnya. Gelap, hanya ada cahaya remang-remang dari alat transformasi yang dia gunakan.


"Araya,"


Sontak Araya membalikkan badannya ke belakang setelah mendengar ada suara yang memanggil namanya.


"Kau baik-baik saja, Araya?" tanyanya setelah Araya menatapnya.


"Iya aku baik-baik saja kok, Dae-Vin." jawab Araya. Dirinya merasa lega setelah mengetahui kalau dia tidak sendirian di dimensi ini.


Tapi tunggu, bukankah tadi Dae-Vin ada di permukaan bersama dengan Zaaryan dan Hanny? Kalau begitu dia pasti Darkillusion. Araya masih belum mengetahui kalau dirinya tertipu. Dia hanyalah ilusi.


BYAR!


Tiba-tiba ruangan itu menjadi terang benderang. Mereka juga sudah berada di tempat yang berbeda. Jika sebelumnya mungkin mereka berada di bawah tanah, tapi sekarang mereka berada di pulau yang kenampakannya seperti lokasi markas mereka.


"Araya ada apa dengan alat transformasi milikmu itu?" tanyanya sambil menunjuk alat transformasi yang Araya kenakan.


"Hah? Kenapa?" sekilas Araya mengecek benda itu. Terlihat tidak ada yang salah. Alat itu juga masih seperti sebelumnya.


"Coba kulihat, sepertinya tadi ada yang aneh." balasnya sambil meraih tangan kiri Araya. Araya yang tidak tahu pun hanya diam, hingga dia merasakan sakit ketika tangannya dipelintir olehnya.


"Ah! Apa yang kau lakukan?!" seketika Araya menarik kembali tangannya, kemudian menatap Dae-Vin dengan tatapan tak biasa.


Mendengar itu, Araya langsung tahu kalau dia bukanlah Dae-Vin yang asli. Tapi, Darkillusion saat itu berpenampilan sama persis seperti Dae-Vin. Dia mengenakan armor tahap kedua berwarna biru.


"Kamu, kamu bukan Dae-Vin yang asli!" Araya berteriak sambil melangkah mundur guna menjaga jarak dengannya.


"Sudah tahu kenapa masih bertanya, kamu terlalu lama menyimpulkan, nak." balasnya sambil melipat tangannya.


Araya segera mengambil sikap waspada untuk berjaga-jaga jika dia menyerang.


"Hey, Apa kau ingin tau kenapa aku membawamu ke sini?" tanya Darkillusion sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Aku tidak tau dan tidak ingin tau!"


"Karena aku ingin mengubur kamu hidup-hidup di sini setelah aku berhasil merebut batu elemen darimu." ucapnya sambil menggemertakkan buku-buku jarinya. Araya membelalakkan matanya mendengar apa yang dia katakan barusan.


Belum sempat ia kembali memasang posisi siaga, Darkillusion sudah menghilang dari sana dalam satu kedipan mata.


Wush!

__ADS_1


Refleks, Araya berbalik ke belakang untuk melihat apa yang terjadi sebelum hal buruk menimpanya. Di sana, tak ada apapun.


"Araya, aku merasakan kalau Darkillusion sekarang berubah wujud menjadi angin." kata Shiroi memberi informasi pada Araya.


"Apa? Menjadi angin? Yang benar saja?"


"Iya, menurut informasi yang aku dapat, Darkillusion juga sudah berevolusi menjadi tahap ketiga. Dia bisa berubah menyerupai makhluk tak hidup juga."


"Ini tidak bagus.. Dia juga bisa berpindah ke mana saja.." gumam Araya sembari memandang sekeliling. Kembali mencoba fokus untuk menemukan Darkillusion meskipun berbeda wujud.


Blung!


Secara tiba-tiba, separuh tubuh Araya terperosok masuk ke dalam tanah. Bagaikan ada yang menggali, cekungan itu berdiameter satu meter dengan kedalaman sekitar tujuh puluh sentimeter.


"Hihi, sebentar lagi kamu akan terkubur." suara itu bergema, dia menatap ke bawah. Ada sepasang tangan bayangan yang semakin mendekat ke arahnya. Dengan segera Araya melompat ke luar.


"Dia bisa muncul di mana-mana.." gumamnya masih sambil berpikir keras untuk melakukan serangan yang mampu mengalahkannya.


"Araya!" seru seseorang dari arah lain. Seseorang yang sebenarnya ia tunggu kedatangannya. Orang itu berlari mendekat ke arahnya.


"Kim Dae-Vin?! Kamu pasti yang palsu!" melangkah menjauh, perasaan Araya menjadi was-was setelah melihat rekannya itu. Mengingat kalau Darkillusion sering berubah wujud menjadi Kim Dae-Vin, ada kemungkinan kalau Araya tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.


"Ini aku yang asli! Jangan menjauh," kata Dae-Vin berusaha meyakinkan. Dia memang yang asli. Dia baru saja sampai di sana menggunakan sistem teleportasi khusus yang hanya dimiliki armor tahap ketiga.


"Benarkah?"


"Iya!"


"Hahahaha! Dua lawan satu, bukankah itu tidak adil?" suara itu kembali terdengar. Dan tiba-tiba, Darkillusion muncul tepat di belakang Dae-Vin.


"Dae-Vin, awas!"


Namun, sudah terlambat. Darkillusion versi Kim Dae-Vin telah mendorongnya dengan kuat hingga Dae-Vin yang asli jadi terseret sejauh sepuluh meter.


"Lihatlah, fisikmu sedang lemah, nak. Sebaiknya kamu jangan banyak tingkah dulu. Oh iya, kamu pasti belum minum obat kan?" kata Darkillusion dengan nada puas. Perkataannya barusan berhasil membuat Dae-Vin menjadi ingat tentang sesuatu yang belum ia lakukan pagi ini, yakni minum obat.


"Dia benar, aku lupa minum obat. Hidungku semakin mampet.." gumamnya sambil mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya melalui mulut.


"Aku juga belum sarapan pula," sambungnya sambil mencoba untuk kembali berdiri. Tubuhnya memang masih bisa berdiri, namun rasanya begitu berat seakan berat badannya bertambah, ataupun gravitasi di sana lebih besar.


**To be continued..

__ADS_1


Menurut kalian, apakah mereka akan berhasil mengalahkan Darkillusion? Jangan lupa like, komen, dan favorit ya**!


__ADS_2