
[After Mission Arc - #3]
...----------------...
"Araya, kapan kau sampai?" Tanya ibunya setelah Araya sampai ke rumah.
"Baru saja, ibu." Jawab Araya sambil tersenyum, kemudian menyalami ibunya, begitupun dengan Hanny.
"Ayo masuk. Ibu akan membuatkan minuman dulu." Ucap ibunya Araya, meminta mereka berdua untuk masuk.
"Tidak perlu repot-repot," Hanny menolak dengan halus.
"Tidak apa-apa, kalian kan pasti tidak boleh lama-lama kan? Kalau begitu, ayo."
Pada akhirnya, Hanny dan Araya menurut saja. Keadaan rumah yang sepi, kakaknya Araya sedang sekolah. Di sana hanya terdengar suara radio yang tidak terlalu keras.
"Waah, itu fotomu ya? Imut sekali.." ucap Hanny ketika melihat foto seseorang berumur sekitar satu tahun, yang dibingkai dan dipajang di meja dekat situ.
"Iya, hehe.. Itu saat aku masih satu tahun. Yang di sana saat masih TK, dan yang itu saat SD." Ucap Araya. Ya, disana tidak hanya terdapat satu foto, melainkan tiga. Disana juga terdapat fotonya bersama Allucia.
"Hmm, kira-kira bagaimana reaksi Dae-Vin ketika melihat foto itu?" Kata Hanny dalam hati. Dia memang sudah tau, kalau sebenarnya Kim Dae-Vin menyukai Araya.
"Waah, kau tak banyak berubah ya? Dari dulu sampai sekarang, imutnya masih sama." Ucap Hanny sambil mencolek pucuk hidung Araya dengan gemas.
"Hehehe.." Araya terkekeh pelan sambil menunjukkan senyuman yang seperti biasanya.
Tidak lama kemudian, ibunya Araya telah kembali menemui mereka di ruang tamu, sambil membawa dua cangkir teh hangat.
"Nah, diminum dulu." Ucap ibunya Araya sambil meletakkan dua cangkir teh hangat tersebut di atas meja.
"Terima kasih." Ucap Araya dan Hanny hampir bersamaan.
"Kalian pasti akrab ya? Selama ini sudah ada perkembangan apa? Cerita donk, sama ibu." Ucap ibunya Araya sambil duduk di kursi sofa yang juga berada di ruangan tersebut.
"Belum banyak perkembangan, waktu itu baru diberi tes dan misi pertama." Balas Araya sambil sedikit mengingat kejadian apa saja yang dia alami di markas sejauh ini.
"Bagaimana dengan teman-teman yang lain? Apakah sudah akrab?" Tanya ibunya Araya lagi.
"Bagaimana aku menjelaskannya ya?" Kata Araya dalam hati, dia bingung harus menjelaskannya apa, terutama tentang Kim Dae-Vin.
"Sekarang sudah sangat akrab, kami berdua sudah akrab sejak hari pertama bertemu. Tapi, selain denganku, Araya teman laki-laki kami yang-" ucapan Hanny terpotong, setelah Araya berdeham.
"Ehem, ehem!" Araya berdeham seraya mengalihkan pandangannya ke lain arah. Kemudian mengambil teh hangat tersebut dan meminumnya.
__ADS_1
Menyadari hal itu, ibunya Araya hanya tersenyum tipis. Dia sudah tau kalau sekarang Araya mempunyai teman laki-laki.
Waktu terus berlalu, hingga lima belas menit kemudian..
"Aku pulang.." ucap seseorang sambil melepas sepatunya, kemudian masuk ke rumah. Dia adalah Allucia, kakak perempuannya Araya.
"Selamat datang." Balas ibunya.
"Eh, kak Allucia? Bukankah hari ini sekolah? Kenapa sudah pulang?" Araya bertanya setelah dia menyadari siapa yang datang.
"Iya, jadi begini. Guru kami bilang, mereka mendapatkan pesan darurat dari organisasi Element Asia, Darkness Swordman mulai menggila. Jadi, sekolah diganti jadi online, sekolah dari rumah." Allucia menjelaskan.
"Apa?!" Tanya Araya dan Hanny bersamaan.
"Hmm, mereka bilang sekarang tidak boleh keluar rumah, dan selalu berhati-hati atau bisa ditangkap oleh Darkness Swordman. Baiklah, aku mau ke kamar dulu." Balas Allucia, sambil berjalan meninggalkan ruang tamu.
"Darkness Swordman? Sungguh? Tapi, kenapa kami belum diberi tau kabar ini ya? Kalau kabar tersebut memang benar, bisa gawat, misi kami bisa semakin berat." Hanny membatin. Perkiraannya memang benar, Darkness Swordman bisa saja semakin berbahaya jika di dunia manusia. Mereka akan menculik manusia, yang kemudian akan dibawa pergi dan tidak akan bisa kembali.
Hanny terus melamun memikirkan hal tersebut. Hingga Araya yang menyadarkannya dari lamunannya.
"Hanny? Hanny?" Araya memanggilnya sambil memegang bahu kirinya. Seketika Hanny menatapnya dengan tatapan seperti orang linglung.
"Apa, Araya?" Tanya Hanny sambil mencoba mengingat-ingat kejadian barusan saat dia melamun.
"Ng.. Iya, kurasa memang kita harus kembali. Sesuatu yang tidak beres sepertinya mulai terjadi." Ucap Hanny sambil beranjak dari duduknya.
"Ibu, kami akan kembali ke markas." Ucap Araya sambil memeluk ibunya.
"Iya, nak. Kamu baik-baik di sana ya. Semoga masalahnya bisa cepat selesai." Balas ibunya Araya sambil membalas pelukannya. Ada rasa tidak rela yang mengganjal, tapi dia harus tetap merelakan Araya, sebab suaminya telah memberi amanah padanya.
"Ibu jangan khawatir, aku pasti akan baik-baik saja. Ibu juga harus jaga diri ya, jangan keluar rumah kalau keadaannya belum membaik. Baiklah, ibu, Araya berangkat ya." Ucap Araya seraya melepaskan pelukannya dengan ibunya.
"Iya, Araya."
"Eh, Araya, Hanny, kalian sudah mau ke markas lagi?" Tanya Allucia setelah kembali dari kamarnya untuk mengganti pakaian.
"Iya kak, kami akan ke markas lagi. Sampai jumpa kak."
Dan setelah acara berpamitan, Araya dan Hanny akhirnya kembali ke markas. Dalam perjalanan ke markas, mereka melihat sesuatu yang sangat berbeda. Jika sebelumnya ramai dengan orang-orang yang melakukan aktivitas mereka, kini daerah tersebut menjadi sangat sepi. Bahkan tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Bukan cuma itu, pintu depan setiap rumah-rumah dan toko-toko di sekitar sana pasti ditutup rapat. Tak ada seorangpun yang menampakkan dirinya ketika itu. Jadi seperti bukan kota lagi. Hewan-hewan seperti kucing jalanan maupun burung merpati pun tak ada satupun.
"A.. Araya? Kenapa, di sini sepi sekali? Sebelumnya tidak seperti ini kan?" Tanya Hanny ketika dia mulai merasakan kejanggalan dan ketidaknyamanan. Hanny melipat lengannya di depan dada, sambil sesekali bergidik.
"Entahlah, aku tidak tau." Balas Araya. Dia juga merasa hal yang aneh seperti Hanny.
__ADS_1
...----------------...
Beberapa saat yang lalu, di markas, tepatnya di kamar Kim Dae-Vin. Dia sedang duduk bersandar dinding didekat pintu kamar mandi. Wajah sekitar pipinya basah. Tangan kanannya menggenggam batu es berbentuk kubus yang tadi dia ambil dari dalam lemari es di kantin. Sepertinya dia habis mengompres wajahnya.
"Hah.. Kenapa muncul di wajahku?" Katanya dalam hati. Dia mendongakkan kepalanya, memikirkan sebuah ide untuk dapat menghilangkan jerawat di pipinya yang baru dia ketahui keberadaannya belum lama tadi.
Tidak lama kemudian, dia mendapatkan sebuah ide. Dengan segera, dia mengeluarkan ponsel androidnya dari dalam saku celananya, kemudian mengaktifkannya untuk mencari kontak seseorang.
"Haruskah aku bertanya pada Hanny? Tunggu, apakah dia sekarang bersama Araya? Lebih baik jangan dulu. Hmm, aku akan bertanya pada Zaaryan dulu saja."
Dae-Vin pun men-scroll layar ponselnya untuk mencari nomor kontak Zaaryan. Setelah ketemu, langsung saja dia mengetikkan pesan.
"Zaaryan, apakah sekarang Hanny bersama Araya?" Dae-Vin mengirimkan pesan yang langsung dia kirim pada Zaaryan. Setelah terkirim, Dae-Vin menunggu balasannya. Lama, Zaaryan memang sedikit slow respon.
Lima belas menit kemudian, akhirnya yang ditunggu Kim Dae-Vin, balasan dari Zaaryan. Tapi..
"Iya, Hanny sedang bersama Araya untuk menemaninya pulang sebentar. Ada apa?"
Balasan yang kurang memuaskan bagi Dae-Vin. Padahal dia ingin bertanya tentang sesuatu.
"Tidak apa, hanya bertanya." Balas Dae-Vin lagi, moodnya sedang buruk saat ini.
"Oh iya, apa yang kau lakukan Dae-Vin? Sedari tadi, kau hanya di kamar terus kan?" Zaaryan kembali mengirimkan pesan. Tentu saja, Dae-Vin memberikan alasan lain untuk membalasnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin me time saja." Dae-Vin beralasan, jangan sampai Zaaryan mengetahui maksudnya yang sebenarnya.
"Ooh, begitu. Yasudah." Zaaryan mengakhiri.
Kim Dae-Vin menghela nafasnya. Meletakkan ponselnya di atas lantai yang dingin. Tidak lama kemudian, muncul sebuah notifikasi pada layar ponselnya yang dapat menyala secara otomatis. Itu notifikasi pesan dari Kapten.
"Kim Dae-Vin, segera datang ke ruangan utama." Begitu isi pesan singkat tersebut. Setelah membacanya, Dae-Vin segera mengambil jaketnya yang dia gantung di dalam lemari. Tak lupa, mengambil masker untuk menutupi wajahnya.
Setelah memakai keduanya, langsung saja dia pergi ke ruangan utama. Di sana, sudah ada Zaaryan, anggota generasi ke-delapan, dan juga kedua profesor.
"Kim Dae-Vin, kenapa kau?" Tanya Aria setelah melihat penampilan Dae-Vin, seperti seseorang yang sedang menyelinap.
"A.. Aku hanya sedikit kedinginan, dan juga, sepertinya aku terkena flu." Lagi-lagi, Kim Dae-Vin memberikan alasan yang tidak sepenuhnya benar. Kalau udara, memang agak dingin, tapi dia tidak flu kan?
To be continued..
...----------------...
Maaf update nya lama, tapi nanti double up kok, tenang aja ya. Akan terjadi sesuatu pada Araya, menurut kalian apa?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan favorit ya!