Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 25


__ADS_3

[Inauguration Exam Arc - #6]


...----------------...


"Araya, sekarang sudah hampir tengah hari. Sebaiknya kita mencari yang lain." kata Dae-Vin sambil menarik pergelangan tangan kanan Araya.


"Eh, tunggu-" Araya tidak bisa berkata-kata lagi. Begitupun dengan Jeasson. Lina langsung menyeretnya ke arah yang berlawanan.


Kim Dae-Vin masih menarik pergelangan tangan kanan Araya, sampai sejauh puluhan meter.


"Dae-Vin, ada apa? Lepaskan aku," pinta Araya setelah dari tadi Dae-Vin menggandeng tangannya bagaikan seorang anak kecil yang sedang menyebrang jalan bersama ayahnya. Dae-Vin menggandeng tangannya dengan erat, sehingga Araya sendiri tidak mampu untuk melepaskan diri.


Alih-alih melepaskan Araya, Dae-Vin malah berhenti. Dia berdiri sambil menatap ke bawah.


"Kau, masih bertanya ada apa?" ucap Dae-Vin terdengar kecewa, dia masih menatap ke bawah.


"Kenapa kau tidak peka?" ucapnya lagi, kali ini nada bicara nya terdengar sendu. Perlahan-lahan, Dae-Vin melepaskan genggaman tangannya.


"Hahh.." Dae-Vin menghela nafasnya, kemudian berbalik menatap Araya dengan tatapan datarnya. Dia memegang kedua pundak Araya, sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi badannya dengan Araya.


Jantung Araya berdegup kencang, wajah mereka begitu dekat, hembusan nafasnya pun sampai terasa. Araya mencoba untuk memandang ke arah yang lain. Jujur saja, dia sangat malu jika bertatapan langsung dengan Dae-Vin, apalagi dengan jarak yang sedekat ini.


"Hey, tatap orang yang di depanmu ini." ucap Dae-Vin sambil memegang dagu Araya, supaya Araya menatapnya.


Deg! Deg! Deg! Deg!


Jantung Araya berdegup semakin kencang. Pupil matanya melebar. Kemudian, Dae-Vin langsung memeluknya. Araya tidak bisa berkata-kata. Dia hanya dia saja ketika dirinya dipeluk erat oleh seseorang yang baru dikenalnya belum lama ini.


"Mumpung kita tidak di markas. Izinkan aku seperti ini, sebentar saja.." ucap Dae-Vin masih sambil memeluk Araya dengan erat. Dia memejamkan matanya. Araya sepertinya membutuhkan sedikit waktu lagi supaya otaknya bisa memproses kejadian yang sedang dia alami.


"Kenapa kau diam saja? Jawab aku," ucap Dae-Vin lagi. Araya tidak tau harus berkata apa.


"I.. i-iya. Ke..kenapa kau..ingin seperti ini?" Araya memberanikan diri untuk bertanya. Meskipun dirinya sangat gugup untuk saat ini.


"Kau akan tau suatu saat nanti. Pesan dariku, kau tidak boleh dekat dengan laki-laki lain." balas Dae-Vin tanpa melepaskan pelukannya.


"Jangan-jangan, apa yang dikatakan Hanny tadi itu benar? Dae-Vin menyukaiku?" tanya Araya dalam hati. Tanpa dia sadari, dia membalas pelukan Dae-Vin. Rasanya nyaman dan hangat. Kini mereka bisa sama-sama merasakan detak jantung orang yang sedang dipeluk.


Tidak lama kemudian, ada sesuatu yang sangat aneh. Suasana di sana menjadi tidak senyaman tadi.


"Kim Dae-Vin, a-apa itu?" tanya Araya dengan nada yang ketakutan. Dia memandang lurus ke depan, di belakang Dae-Vin. Berjarak sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berada.


"Apa?" tanya Dae-Vin masih tetap memeluknya.


"Seperti bayangan hitam." balas Araya masih dengan nada seperti tadi.


"Bayangan memang warna hitam." kata Dae-Vin dengan nada biasa.


"Dia.. semakin mendekat.."


"Kau mau membohongiku?"


"Aku tidak bohong, lihatlah ke belakangmu."


"Mana? Tidak ada?" ucap Dae-Vin setelah dia melihat ke belakangnya. Tidak ada apa-apa, hanya ada beberapa pohon dan semak-semak.

__ADS_1


"Tadi ada, aku benar-benar tidak- Awas!" Araya langsung mendorong tubuh Dae-Vin. Mereka terpisah akibat ada yang menyerang dari belakang mereka.


"Araya!"


"Hahahaha! Ternyata para Elemental muda sedang berada di sini. Bagus sekali, aku bisa langsung mengalahkan kalian! Hahahaha!" suaranya terdengar berat dan juga mengerikan. Dia bayangan hitam yang tadi. Dia bisa tiba-tiba berpindah tempat, tapi bukan menggunakan teleportasi. Dia bisa langsung berpindah tempat ke tempat yang terdapat bayangan.


"Tidak.. Tidak mungkin, dia kan.." kata Dae-Vin dalam hati. Dia benar-benar tidak percaya, Darkness Swordman telah muncul. Dia melihatnya di depan mata kepalanya sendiri.


Darkness Swordman, makhluk jahat dari dimensi lain. Entah bagaimana dia bisa sampai ke dimensinya manusia. Sebelumnya, pembatas antar dimensi itu sudah tertutup, tapi tidak permanen. Tidak semua penduduk dari dimensi lain itu jahat.


"Apa yang kau inginkan hah?!" tanya Dae-Vin dengan lantang setelah kembali berdiri.


"Yang aku inginkan? Aku ingin organisasi kalian itu dibubarkan, tidak, dihancurkan untuk selama-lamanya! Hahahaha!"


"Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" Araya menanggapi.


"Araya, kita masih belum cukup kuat untuk menghadapinya, sebaiknya kita-" ucapan Dae-Vin terpotong.


"Terimalah serangan pemanasanku ini! Hyaaa!" Darkness Swordman menggunakan teknik pedangnya. Pedang berlapis bayangan dan bilahnya sangat tipis. Mungkin setipis kertas karton.


"Awas!" Dae-Vin langsung mendorong Araya supaya tidak terkena serangan dari Darkness Swordman itu.


"Kita harus segera pergi dari sini," ucap Dae-Vin dengan suara yang pelan, tapi masih mampu di dengar oleh Araya.


"B.. baiklah." tanpa pikir panjang, Araya langsung menyetujuinya. Mereka berdua segera berlari secepat yang mereka bisa untuk menyelamatkan diri.


"Aku bisa saja menggunakan teleportasi, tapi.. Ah tak apa!"


"Dae-Vin, pegang tanganku! Kita akan teleportasi!" sambil berlari, Araya mengulurkan tangan kirinya.


"Jangan, nanti kau-"


"Baiklah," Dae-Vin pun hanya ikut saja. Dia kembali menggenggam tangan kiri Araya.


"Bawa kami ke tempat yang paling aman di pulau ini!"


...----------------...


"Hah.. aku sudah lelah.." ucap Zaaryan setelah sedari tadi mencoba untuk melapisi bilah pedang menggunakan elemen apinya. Tapi, percobaannya belumlah sempurna.


"Sudah lelah? Baru sepuluh menit kau mencobanya, lho." balas Henry sambil menatapnya. Memang benar, baru sepuluh menit mereka berlatih bersama, namun sudah puluhan kali percobaan, belum ada yang berhasil. Sesekali hampir berhasil, tapi apinya terlalu besar dan kemudian langsung padam.


"Seperti ini lho, fokuskan element-mu pada tangan yang memegang benda." ucap Henry lagi, sambil mencontohkan. Dia memegang pedangnya, tidak butuh waktu lama, bilah pedang itu langsung terlapisi oleh api.


"Aku sudah mencobanya." kata Zaaryan dengan nada agak putus asa. Memang dia sudah mencobanya berkali-kali, bahkan lebih baik sampai kelewat baik, hingga bilah pedang itu jadi seperti obor raksasa. Dia panik, kemudian langsung mati apinya.


"Yang penting itu kau fokus, tapi jangan terlalu serius. Kalau mau apinya besar dan bertahan lama, kau tinggal lebih memfokuskan element-mu saja. Jangan pikirkan yang lain, kecuali kalau kau sudah tidak mampu atau kehabisan energi." jelas Henry. Zaaryan hanya menatapnya biasa. Hingga pada akhirnya, ekspresi Henry tiba-tiba berubah. Yang tadinya bersemangat, menjadi waspada.


"Ada apa?" tanya Zaaryan setelah menyadari perubahan mendadak itu.


"Kau merasakannya? Panas.." balas Henry masih tetap dengan ekspresi waspadanya.


"Ya, kan Anda baru saja menggunakan elemen api."


"Tidak, bukan itu. Perasaanku tidak nyaman. Kuharap tidak terjadi sesuatu yang buruk." kata Henry sambil memegang tengkuknya.

__ADS_1


...----------------...


Di padang rumput, Hanny dan Xela masih saling menyerang disertai dengan perdebatan tentang hal tadi. Menyerang, kemudian berdebat. Setelah berdebat, menyerang lagi. Begitulah seterusnya.


"Kau itu benar-benar menyebalkan! Kau sudah mengacaukan rencanaku! Kau harus terima akibatnya!" kata Xela sambil menyerang dengan teknik es-nya. Dengan menggunakan elemen suaranya, Hanny bisa menghindarinya dengan cepat.


"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan itu. Tapi memangnya, apa rencana mu, nona?" tanya Hanny setelah berhasil menghindari hujaman bongkahan es yang tajam di ujungnya.


"Jangan pura-pura tidak tahu!"


JGEEERRR!


Suara petir tiba-tiba terdengar. Langit di sekitar pulau itu menjadi gelap tertutup kabut yang berwarna gelap. Dari kejauhan, samar-samar terlihat cahaya berwarna ungu yang mengarah ke langit. Seketika, mereka berdua menghentikan urusan mereka.


"Apa itu?" tanya Hanny dan Xela hampir bersamaan.


"Jangan-jangan, dia telah kembali," ucap Xela pelan, tapi Hanny masih bisa mendengar suaranya.


"Dia siapa yang kau maksud?"


"Darkness Swordman." ucap Xela lirih saat pandangannya masih tertuju ke langit.


"Siapa Darkness Swordman?" tanya Hanny lagi, dia memang selalu ingin tau.


"Sepertinya kau masih kurang membaca. Dia makhluk jahat dari dimensi lain. Makhluk bayangan, musuh terbesar World Elemental Organization."


"Makhluk dari dimensi lain? Apa yang dia inginkan?" lagi-lagi Hanny bertanya.


"Dia ingin menguasai dunia ini. Selain menjaga perdamaian dan keseimbangan alam, tugas organisasi ini juga untuk pertahanan manusia dari Darkness Swordman."


...----------------...


"Ah!" Araya baru saja sampai di suatu tempat yang lumayan jauh. Tapi, bukan berarti tempat itu aman. Mereka malah sampai di dekat jurang yang sangat dalam.


"Kenapa kita sampai di sini?" tanya Dae-Vin setelah mereka berdua barusan sampai.


"Entahlah. Tunggu, maaf aku lupa memberi tau kalau sebenarnya alat teleportasiku ini sedikit rusak ketika aku menyelamatkan anak singa tadi." Araya menjelaskan sambil menatap alat transformasi miliknya yang terdapat beberapa goresan.


"Begitu? Tidak apa, setidaknya kita tidak tepat di tengah jurang, dan sekarang kita sudah jauh dari makhluk itu. Yang terpenting sekarang kau tidak tidur tiba-tiba." kata Dae-Vin. Setelah berteleportasi untuk orang dua, kali ini Araya tidak lagi tidur secara tiba-tiba. Mungkin sudah cukup mahir atau mungkin karena alat teleportasi-nya itu sedikit rusak jadi tidak ada efek samping.


"Tapi, bagaimana dengan yang lain? Bagaimana kalau mereka bertemu Darkness Swordman? Hanny, Zaaryan, Kak Jeasson dan Kak Lina?" Araya mulai khawatir. Dae-Vin memegang kedua bahunya untuk membuatnya merasa lebih tenang.


"Tenanglah, mereka akan baik-baik saja. Mereka sudah tidak sendiri." ucap Dae-Vin sambil menatap Araya.


"Bagaimana kau tau?"


"Ya aku tau. Hanny sedang bersama Xela, kalau Zaaryan mungkin bersama anggota Element Eropa yang lain. Dan kedua orang tadi itu pasti sedang bersama." tebakan Dae-Vin memang benar. Saat ini tidak ada anggota yang sedang sendiri. Termasuk mereka berdua, tak sendirian.


"Araya.. Aku.. aku senang karena saat ini aku bisa bersama denganmu."


To be continued..


...----------------...


Author note :

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Konflik kecil kembali dimulai!


Apa yang akan terjadi pada mereka berdua selanjutnya? Apakah nanti akan ada anggota yang menjadi korban? Jangan lupa like, komen, dan favorit ya!


__ADS_2