
[Desert Mission Arc - #1]
...----------------...
Malam semakin larut dan mereka berdua masih berada di sana. Mereka telah mendengarkan puluhan lagu populer dari berbagai negara.
Dae-Vin menolehkan wajahnya ke arah Araya yang sedari tadi tak bersuara. Dia tersenyum tipis saat melihat Araya yang ternyata sudah tertidur.
Wajah polosnya terlihat begitu imut bagi Dae-Vin. Tetapi, tentu saja Dae-Vin masih tau diri. Dia tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Araya.
"Araya, pada misi-misi selanjutnya, aku akan melindungimu. Aku tak akan membiarkanmu tertidur untuk waktu yang lama lagi. Aku tak akan membiarkan apa yang telah terjadi pada ayahmu untuk terjadi padamu juga. Ketika waktunya sudah tiba, kita semua tidak akan berpisah. Kita tidak akan bertarung sendiri-sendiri seperti para senior kita dulu. Kita akan kembali dan membawa kabar bahagia untuk semua orang." kata Dae-Vin dalam hati.
Ia bertekad untuk melindungi Araya. Dia juga tidak akan membiarkan tragedi yang menimpa senior mereka dulu juga terjadi para tim mereka. Setelah diceritakan oleh Profesor F dan Profesor R, dia jadi bisa menganalisis kesalahan dan akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan itu.
Ditinggal selama delapan hari saja, Dae-Vin sudah mulai terpuruk. Bagaimana kalau selamanya?
"Araya sudah tertidur. Apa aku harus membangunkannya? Tidak-tidak. Aku tak tega untuk membangunkan dia." batin Dae-Vin masih sambil memandangi Araya.
Sekarang sudah hampir jam setengah sepuluh malam. Memang biasanya, Araya sudah tertidur saat jam segini.
Karena rasa tidak tega, pada akhirnya Dae-Vin membopongnya dan melakukan teleportasi langsung ke ruangan Araya.
Tidak butuh waktu lama dan mereka langsung sampai. Dengan sangat hati-hati, Dae-Vin merebahkan tubuh Araya di atas tempat tidur.
Dia memakaikan selimut pada Araya supaya tidak kedinginan, meskipun ketika itu jaketnya masih dipakai oleh Araya. Dia merelakannya, toh Dae-Vin lebih tahan terhadap suhu dingin.
"Mimpi indah, Araya." melangkahkan kakinya mundur, Dae-Vin berucap pelan. Sebelum melakukan teleportasi lagi, tak lupa Dae-Vin mematikan lampu terlebih dahulu.
...----------------...
Sepekan telah berlalu. Kondisi Araya sudah semakin membaik, meski belum seratus persen. Tapi bisa dibilang dia sudah baik-baik saja. Terutama bagian tangan kanannya dan bawah tulang rusuk saja yang belum pulih sepenuhnya.
Tentu hal itu bisa terjadi karena kualitas tenaga kesehatan dan teknologi di organisasi itu yang sudah sangat berkembang.
Hari ini, hari pertama dalam misi ketiga pencarian batu element untuk dapat melakukan tahap keempat. Mereka belum dapat melakukan tahap ketiga, karena batu yang mereka cari dalam misi sebelumnya itu masih belum selesai diproses. Jadi, bisa dibilang saat ini mereka masih dalam tahap kedua.
Mereka berempat sedang dalam mode manusia. Mereka baru saja sampai ke tempat pencarian batu element. Gurunnya benar-benar luas. Tidak ada apa-apa di sana selain pasir, debu, dan batu-batu kerikil.
"Gurunnya.. Luas sekali. Bagaimana caranya kita menemukan batu element di gurun seluas ini?" tanya Zaaryan setelah melihat hamparan pasir di gurun itu. Sejauh mata memandang hanya ada pasir dari gurun itu.
__ADS_1
"Entahlah, yang pasti tidak ada cara yang instan." jawab Hanny tanpa pikir panjang. Kemudian mulai berjalan di belakang Zaaryan.
Sedangkan Dae-Vin, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meninggalkan Araya seperti saat misi kedua yang selesai setengah bulan lalu. Saat ini, dirinya berjalan di belakang Araya. Dia akan menjaganya.
Saat ini, masih pagi. Masih sekitar jam setengah delapan, jadi suhu di sini belum begitu panas.
"Hanny! Zaaryan! Jangan terlalu jauh!" teriak Araya pada kedua rekannya yang sudah berada sekitar seratus meter di depannya.
"Jangan khawatir! Mumpung masih pagi, kita akan berpencar dulu!" jawab Hanny dengan suara yang tidak kalah kuat. Hanya saja, suara teriakan Hanny sedikit cempreng.
"Tidak apa Araya, kamu tidak sendirian." ucap Dae-Vin saat dirinya sudah berjalan di samping Araya.
"Ehm, iya." balas Araya singkat.
"Kalau lelah, bilang saja. Nanti kita istirahat." kata Dae-Vin. Dirinya masih khawatir pada keadaan Araya yang belum pulih sepenuhnya. Apalagi kakinya yang baru sembuh dua hari yang lalu, sudah harus digunakan untuk misi yang bisa dibilang cukup berat ini.
"Tidak apa-apa, aku sama sekali belum lelah." jawab Araya tanpa ada rasa keberatan. Dae-Vin hanya diam sebagai bentuk menanggapi.
Sejurus kemudian, Araya menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Dia melemparkan pandangannya sejauh mungkin untuk melihat hamparan padang pasir di samping kanannya. Terdapat sebatang pohon yang terlihat seperti pohon palem.
"Ada apa, Araya?" tanya Dae-Vin yang berhasil menyadarkan Araya dari lamunannya.
"Pohon apa? Aku tidak melihat apapun." memandang ke arah yang sama, Dae-Vin mengernyit heran mendengar perkataan Araya tadi.
Setelah itu, Araya berlari mendekati pohon yang dia maksud. Dengan segera, Dae-Vin mengikutinya hingga sampai ke tempat pohon tersebut tumbuh.
Dan benar saja, setelah dilihat lebih dekat, pohon itu benar-benar ada.
"Pohon palem di tengah gurun?" tanya Dae-Vin dengan suara pelan. "Bagaimana bisa aku tidak melihatnya? Apakah rabun jauhku semakin parah?"
"Entahlah. Tapi, aku merasakan sesuatu." gumam Araya sembari mengecek alat transformasi miliknya, kemudian mengarahkannya ke arah pohon itu.
Nit! Nit! Nit!
"Wah, ada ruangan rahasia di bawah pohon ini." ucap Araya dengan antusias sambil menurunkan tangannya.
"Ruangan? Apakah ini pohon palsu yang hanya untuk penanda ruangan rahasia itu?" tanya Dae-Vin dalam hati, kemudian berjalan mengelilingi pohon tersebut.
Pohon palem setinggi tiga meter dan diameter sekitar delapan puluh sentimeter itu tampak tidak ada yang aneh. Daunnya sama sekali tak bergerak karena tidak tertiup angin.
__ADS_1
Dae-Vin membenturkan telapak tangan kanannya yang telah terkepal, seperti sedang mengetuk pintu.
Teng! Teng! Teng!
Suaranya janggal, tidak seperti batang pohon yang dipukul. Suara itu lebih seperti logam berongga yang dipukul.
"Seperti ada rongga di dalam pohon ini." ucap Dae-Vin menyimpulkan. Araya menatap ke atas, menatap tepat pada daunnya yang masih belum terbuka.
Daun itu perlahan bergerak karena tertiup angin sepoi-sepoi yang membawa butiran-butiran pasir.
Angin tersebut juga membuat salah satu pelepahnya sedikit menurun dan akhirnya muncullah tangga dari dalam tanah. Tanggal tersebut dapat membawa mereka menuju ruangan rahasia di bawah tanah.
"Bagaimana? Apakah kita akan langsung masuk?" sebelum melangkahkan kakinya menuruni anak tangga itu, Araya melemparkan satu pertanyaan pada Dae-Vin.
"Kita kabari dulu yang lain. Supaya mereka tak khawatir, kita juga bisa memberi tau mereka kalau ada apa-apa." jawabnya dan kemudian mengirimkan sinyal pada Hanny dan Zaaryan yang sudah berada di tempat yang lain. Entah mengapa, mereka berdua begitu bersemangat.
Araya mengangguk setuju. Setelah selesai mengirimkan sinyal, mereka berdua pun melewati anak tangga tersebut.
Tap! Tap! Tap!
"Jauh sekali.. Semakin gelap.." gumam Araya setelah menyadari bahwa sedari tadi mereka tak kunjung sampai. Hanya udara yang terasa semakin pengap, dan pencahayaan yang semakin remang-remang.
"Bagaimana? Apakah kita akan ke luar lagi saja?" tanya Dae-Vin sambil menghentikan langkahnya.
Tanpa berbalik, Araya langsung menjawab, "tidak usah, kita masih belum tau apa yang ada di sana."
Pada akhirnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka sudah berjalan sejauh sekitar dua ratus meter ke dalam tanah. Hingga, mereka telah sampai ke dalam ruangan yang super besar, mungkin sebesar markas mereka.
Mereka hanya melihatnya dari balik dinding. Yah, mereka hanya melihat tanpa berani menunjukkan diri terlebih dahulu.
Di tempat itu, banyak orang berlalu-lalang. Orang-orang yang sebagian besar adalah laki-laki, memakai seragam dan peralatan keamanan. Di situ, juga tercium bau seperti minyak bumi.
To be continued.. .
...----------------...
Sebenarnya, apa yang mereka temukan di dalam ruang rahasia itu? Akankah mereka mendapatkan petunjuk?
Terima kasih karena sudah membaca sampai chapter ke-61! Mohon dukungannya ya..
__ADS_1