Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 83


__ADS_3

[Primary Members Arc - #3]


...----------------...


"Haah.. Aku mengantuk. Apa Kak Lucas masih lama?" Sembari mengusap wajahnya, Araya berucap pura-pura tidak mendengar apa yang barusan Steve katakan. Sebenarnya Araya masih mendengarkan, namun, ia bingung harus menjawab apa.


"Jangan mengalihkan topik." Menatap tajam pada Araya, Steve masih menatapnya lekat-lekat. "Aku tahu kamu masih mendengarkan aku tadi."


Araya melangkahkan kakinya mundur untuk membuat jarak dengan laki-laki itu. Setelah dirasa berada dalam posisi yang aman, Araya mulai berpikir bagaimana menjawabnya.


"Ehm.. Maaf Kak, aku.. Aku sudah berjanji pada seseorang untuk menjadi perasaanku." Tertunduk, Araya berucap pelan dan hati-hati. Ia tidak ingin menolak dengan cara menyakiti. Dia juga ingin segera mengakhiri topik ini.


"Oh iya, Kak Steve benar-benar tidak merasa dingin?" Tanya Araya dengan topik berbeda sambil hendak melepas jaket dobelan yang Steve pinjamkan.


Pemuda itu menggeleng pelan. "Aku tidak bisa merasakan dingin."


Araya mengernyit heran, "tidak bisa merasakan dingin? Benarkah?"


Steve mengangguk pelan. "Iya, aku mempunyai penyakit CIPA." Ucapnya dengan nada yang kembali datar. Tapi, tidak demikian dengan ekspresinya. Perlahan-lahan, ia sudah tidak terlalu menutup diri pada Araya.


"CIPA? Aku belum pernah mendengar tentang penyakit itu.."


"CIPA itu singkatan dari Congenital insensitivity to pain. Penyakit ini tergolong sangat langka, penderitanya tidak bisa merasakan apapun, seperti sentuhan, suhu, berkeringat pun tidak bisa." Steve menjelaskan. Ia memang mengidap penyakit itu. Maka dari itu, ia tidak bisa merasakan dingin di tempat tersebut. Nanti tiba-tiba, tubuhnya bisa saja kaku dan membeku.


"Penyakit yang mengerikan.. Lalu, bagaimana cara Kak Steve mengatasinya?"


"Dengan bersyukur. Aku bersyukur karena tidak merasakan sakit, dan suatu saat akan langsung mati saja."


Mendengar jawaban dari Steve, Araya terdiam berpikir. "Kenapa Kak Steve berkata seperti itu?" Tanyanya dalam hati.


Tanpa pikir panjang, Araya melepas jaket yang tadi Steve pinjamkan. Kemudian, mengembalikannya pada pemiliknya.


"Kak Steve tidak boleh mati sekarang." Sambil menyodorkan jaket itu, Araya berucap dengan serius. "Kita masih punya misi. Memang bagus kalau tidak bisa merasa sakit, tapi dampak negatifnya jadi tidak bisa mengetahui apa yang terjadi pada tubuhmu."


Dalam pikirannya, Steve malah salah mengartikan. Otaknya menerjemahkan kalau tindakan Araya barusan itu menunjukkan rasa kasih sayang dan tidak rela kalau ia akan pergi begitu saja.


"Ada apa Kak?" Dengan polosnya, Araya bertanya sambil memiringkan kepalanya setelah melihat Steve yang tersenyum-senyum sendiri.


Laki-laki itu menggeleng pelan. Kemudian, menerima uluran jaket yang Araya kembalikan padanya. "Bukankah kamu lebih membutuhkannya?"

__ADS_1


"Shiroi sudah mengaktifkan sistem penghangat dari alat transformasi." Jawab Araya dengan jujur. Shiroi memang baru saja mengaktifkan penghangat setelah merasa kalau pemiliknya itu sedang kedinginan.


Bruk!


Mereka berdua sudah terlarut dalam pikiran masing-masing, hingga tidak sadar kalau Lucas sudah kembali dengan tangan kosong.


"Bagaimana?" Steve bertanya, ia mengernyit setelah menyadari kalau ada beberapa goresan di wajah Lucas.


"Ada monster di dalam sana." Sekilas mengedikkan dagunya ke arah seberang, Lucas memasukkan telapak tangan kanannya ke dalam saku. "Aku berusaha keras mendapatkan kelimanya."


Lucas menunjukkan satu batu kristal yang warnanya biru. "Monsternya sudah aku lumpuhkan."


"Kalau begitu, kita kembali ke pesawat. Henry dan Adli sudah berada di sana." Membalikkan badannya, Steve mulai berjalan hendak ke luar.


"Tunggu, kita harus obati dulu luka-lukamu Kak Lucas." Mendengar ucapan Araya, Steve menghentikan langkahnya. Kemudian, ia berbalik sekilas.


"Tidak perlu, nanti darahnya juga beku sendiri. Lagipula, tempat ini dingin, pasti cepat bekunya." Entah sebenarnya benar atau tidak, alasan Lucas tidak dapat dibantah oleh Araya. Di pipinya itu, hanya terdapat goresan tanpa ada darah yang merembes ke luar.


"Benar tidak apa-apa?" Tanya Araya untuk memastikan. Lucas menggeleng masih dengan ekspresi datarnya.


"Aku sudah terbiasa luka seperti ini. Patah tulang pun pernah." Ucapnya santai sambil mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, disusul oleh kedua rekannya yang lain. "Dan kudengar kamu pernah tertusuk pedang temanmu saat menjalankan misi ya?"


"Kalau kamu adalah gadis biasa, pasti kamu tidak akan berada di sini, iya kan?"


"Iya, mungkin sudah berada di alam lain."


Steve diam seribu bahasa setelah mendengarkan pembicaraan kedua orang itu. Ia merasa kalau Lucas juga perlahan-lahan menyukai Araya. Ayolah, kenapa jadi seperti genre harem? Bedanya, ini seorang perempuan yang dikelilingi para laki-laki yang menyukainya.


Terhitung, sudah ada lebih dari lima orang pemuda yang menyukai gadis yang sama. Pertama Kim Dae-Vin, kedua ada Zaaryan, Henry ketiga, Jeasson keempat, Steve kelima dan Lucas keenam. Hah? Yang benar saja? Dan koleksi ini pasti akan kembali bertambah. Entah orang yang berasal dari organisasi Elemental juga maupun hanya orang biasa.


...----------------...


"Kerja bagus teman-teman. Bahkan sekarang matahari baru akan terbit, tapi misi pertama sudah selesai. Kita akan langsung ke tempat tujuan berikutnya." Setelah rekan-rekannya berkumpul di kabin pesawat, Henry kembali menginstruksikan supaya mereka langsung melanjutkan misi.


Sekarang baru pukul 04:27 pagi. Suhu di dalam pesawat sangat berbeda dari di luar. Di dalam sini, penghangat telah dinyalakan sejak mereka sampai di sini.


"Heh, mau ke mana kau?" Tanya Henry pada Steve yang beranjak dari duduknya secara tiba-tiba.


"Makan." Jawabnya singkat, kemudian berjalan ke bagian belakang pesawat untuk makan. Meskipun penderita CIPA tidak bisa merasakan makanan, mereka harus tetap makan supaya punya energi untuk beraktivitas.

__ADS_1


"Park Hana, kalau kamu lapar, kenapa tidak ikut makan saja?" Ucap Henry pada Araya.


"Ehm, baiklah. Aku akan membuat kopi supaya tidak mengantuk. Mau kubuatkan juga?"


"Boleh,"


Sepuluh menit kemudian, Araya telah kembali ke ruangan kabin sambil membawa botol tahan panas berkapasitas sekitar satu liter.


"Terima kasih ya," ucap Henry berterima kasih setelah merima uluran botol tersebut dari Araya. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


Pesawat memang sudah kembali mengudara. Kali ini, pilotnya adalah Adli. Lima tujuan, lima pilot. Mereka akan kebagian jatah untuk mengemudikan pesawat menuju lokasi misi.


"Lokasi berikutnya, Bermuda Triangle." sambil meletakkan tab-nya di dashboard, Henry berucap ketika akan meminum kopi tadi.


"Segitiga Bermuda?" Menggenggam sabuk pengaman yang dia kenakan, Araya bertanya untuk memastikan kalau pendengarannya tidak salah.


"Aah! Panas!" Menjulurkan lidahnya, Henry baru ingat kalau kopi itu adalah kopi panas, bukan kopi dingin yang biasa dijual di toko-toko. "Iya, Park Hana. Kita akan ke sana." Henry kembali meneguk kopi itu secara perlahan-lahan. Kemudian, ia mengusap sudut bibirnya yang basah.


"Benarkah? Bukankah tempat itu berbahaya dan penuh misteri?" Tanya Araya lagi, dirinya masih belum percaya kalau mereka akan menjalankan misi di tempat itu. Rumornya, kawasan Segitiga Bermuda itu berbahaya dan tidak boleh dilewati kalau tidak mau celaka. Banyak pesawat dan kapal yang tenggelam di kawasan itu.


"Kenapa memangnya?" Adli menyahut, pandangannya masih fokus dan kedua tangannya berada pada stir kemudi.


"Di sana tidak ada yang menakutkan. Tidak ada misteri apapun juga." Ucap Lucas sambil sekilas mengarahkan pandangannya pada Araya.


"Iya, kecelakaan di sana sebenarnya itu disebabkan oleh kesalahan manusia itu sendiri. Oh iya, di Indonesia juga ada tempat seperti itu ya?" Kali ini, Henry kembali bersuara.


Araya mengangguk, "iya, Segitiga Masalembo namanya. Sangat jauh dari tempat tinggalku."


"Eh-eh, kenapa langitnya tiba-tiba gelap?"


Ucapan Adli barusan membuat ketiga orang lain di sana menatap langit di depan. Yang tadinya cerah berbintang, kini gelap seakan badai akan datang menerjang.


To be continued..


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan di chapter berikutnya!


Btw novel ini udah sampai 100K kata lho!


Dan juga … pekan ini author ujian, doain ya, semoga dapat nilai bagus ^^

__ADS_1


__ADS_2