Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 26


__ADS_3

[Inauguration Exam Arc - #7]


...----------------...


"Araya.. Aku.. aku senang karena saat ini aku bisa bersama denganmu." ucapnya sambil memegang kedua pundak Araya.


"A-aku.. aku juga,"


"Apa yang sudah aku katakan? Ini membuatku sangat malu!" kata Araya dalam hati setelah mengatakan kalimat tadi.


"Emm, Dae-Vin, menurutmu sekarang kita ada di mana?" Araya mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Sepertinya di tempat tertinggi di pulau ini." balas Dae-Vin tanpa mengalihkan pandangannya dari Araya. Araya yang terus dipandangi Dae-Vin, tentu saja merasa risih dan tidak nyaman serta malu.


"Kim Dae-Vin, bisakah kau tidak memandangiku seperti itu?" ucap Araya sambil menundukkan kepalanya.


"Memangnya kenapa? Kau mau apa, kalau aku terus seperti ini?" Dae-Vin balik bertanya, apa dia sudah hampir kehilangan kendali? Atau mungkin sudah benar-benar kehilangan kendali?


"Kau mau meneror seperti apapun, apapun itu, akan aku terima," lanjutnya. Araya sudah kehabisan kata-kata. Tidak tau harus menanggapi seperti apa, dia pun mengambil tindakan lain.


Araya memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celananya, mencari sesuatu yang tadi dia kantongi, yaitu gold dan batu Ruby.


"Untung masih ada dua." ucap Araya saat memasukkan tangannya ke dalam saku, di situ, benda yang mereka cari masih utuh.


"Kau mencoba mengalihkan topik," ucap Dae-Vin dengan nada datarnya. Dan itu membuat Araya merinding.


"Upss," Araya tidak menyangka kalau Dae-Vin akan tau secepat itu. Tapi tindakannya itu benar-benar sudah jelas kalau dia sedang mengalihkan topik.


...----------------...


Di bagian hutan yang lain, ada seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh dua tahun, dan seorang perempuan berusia sekitar dua puluh tahun, sedang berdiri berhadapan dengan makhluk yang berwarna hitam.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya laki-laki itu. Dia adalah Jeasson, mereka sedang berhadapan dengan Darkness Swordman. Mereka berdua langsung mencarinya setelah melihat cahaya berwarna ungu yang mengarah ke langit belum lama tadi.


"Wah wah wah, aku kira hanya anak-anak itu yang ada di sini, ternyata juga ada kalian." ucapnya sambil menggeleng pelan.


"Apa yang kau lakukan pada mereka?!" kini, Lina yang membuka suara.


"Yang kulakukan pada mereka? Aku langsung membunuhnya saja," ucapnya dengan nada biasa, bohong. Ya, dia berbohong. Mendengar itu, Jeasson membelalakkan matanya. Setelah itu, Lina langsung menendang lutut bagian belakang Jeasson.


"Ah! Apa yang kau lakukan?" tanya Jeasson setelah menerima tindakan dari Lina.


"Kenapa kau percaya, dia berbohong!" ucap Lina berbisik.


TCING! TCING! TCING!


Detik selanjutnya, ketiga pohon besar di sekitar sana langsung tumbang dalam sekali tebasan.


"B-bagaimana mungkin?" mereka berdua membelalakkan matanya setelah melihat apa yang terjadi. Tempat yang tadinya rindang, kini menjadi terang karena pohonnya telah tumbang.


"Ini baru pemanasan," ucap Darkness Swordman dengan sombongnya sambil memutar-mutar pedangnya dengan satu tangan.


"Selanjutnya adalah kalian!" ujar Darkness Swordman sambil menunjuk mereka berdua secara bergantian menggunakan ujung bilah pedangnya yang tipis dan juga runcing.

__ADS_1


...----------------...


"Suara apa itu? Seperti suara pohon tumbang," ucap Henry setelah mendengar suara pohon yang roboh. Di dekat pantai, suasananya masih sama seperti tadi.


"Aku tidak mendengar apapun," balas Zaaryan sambil menggeleng pelan. Memang posisi Darkness Swordman bisa dibilang cukup jauh dari mereka berdua. Oh iya, sebenarnya Henry punya indra keenam yang dapat merasakan kejadian yang sedang terjadi, meskipun jaraknya sangat jauh darinya.


"Zaaryan, sebaiknya kau segera meninggalkan tempat ini. Aku akan mencarinya, teman-temanku dalam bahaya," ucap Henry sambil memberinya tatapan serius.


"Memangnya apa yang terjadi?" Zaaryan masih belum mengerti.


"Ada Darkness Swordman di pulau ini, dia sangat berbahaya. Sebaiknya kau pergi ke tempat tertinggi di pulau ini, teman-teman mu ada di sana." Henry memberinya saran.


"Tapi, bagaimana denganmu?"


"Aku akan baik-baik saja, percayalah padaku." ucap Henry sambil menepuk pelan pundak Zaaryan. Dia berusaha tetap tenang supaya Zaaryan tidak begitu mencemaskannya.


"Kalau kau sudah bertemu dengan semua temanmu, kau benturkan saja alat pengendali elemen kalian, nanti portalnya akan muncul dengan sendirinya. Dan, ini. Kau bawa saja, semoga bisa membantu." lanjut Henry sambil memegang telapak tangan Zaaryan, kemudian memberikan batu safir padanya.


"Apa? Sungguh?" tanya Zaaryan setelah Henry memberikan batu tersebut secara cuma-cuma.


"Hmm, baiklah aku pergi. Kau juga harus segera pergi. Sampai jumpa!" Henry mengangguk pelan, kemudian segera berlari masuk ke dalam hutan yang agak gelap itu.


"Terima kasih. Hati-hati!" ucap Zaaryan sambil menatap punggung Henry yang mulai menjauh. Setelah mengatakan itu, Henry berbalik, kemudian mengangguk dengan pasti.


"Okey!" balas Henry, kemudian lanjut berlari.


"Tempat tertinggi di pulau ini? Di mana ya?"


...----------------...


"Hanny, sebaiknya kau segera pergi dari tempat ini. Sesuatu yang lebih buruk bisa saja terjadi." Xela menatapnya dengan tatapan serius.


"Aku harus pergi ke mana? Dan bagaimana denganmu?"


"Ke tempat yang tertinggi di pulau ini. Aku akan pergi ke sana untuk membantu teman-temanku, ini bawalah." ucap Xela sambil memberikan batu zamrud pada Hanny.


"Te.. terima kasih," ucap Hanny berterima kasih.


"Iya, tapi sebagai gantinya, tolong sampaikan salamku kepada Kim Dae-Vin ya! Kalau kau sudah bertemu dengan semua temanmu, kau harus langsung kembali saja, kami akan baik-baik saja. Baiklah, sampai jumpa!" kata Xela, kemudian segera berlari meninggalkan Hanny sendirian. Hanny menatapnya dengan tatapan datar.


"Masih sempat-sempatnya," gumamnya pelan, setelah Xela menitipkan salam untuk Kim Dae-Vin. Kira-kira setelah Dae-Vin tau, bagaimana reaksinya?


...----------------...


"Kim Dae-Vin, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Araya dengan nada dan ekspresi khawatir. Sedari tadi, mereka hanya berdiri di sana, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk.


"Kita harus menunggu yang lain. Ini, Zaaryan sedang ke sini. Dan Hanny juga sedang bergerak kemari, tapi masih jauh." jawab Dae-Vin sambil memantau alat pengendali elemen miliknya yang bisa digunakan untuk melacak rekan-rekan timnya.


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk," ucap Araya dalam hati. Dia berharap supaya Darkness Swordman tidak membuat masalah dengan anggota Element Eropa. Semoga semuanya bisa kembali ke markas dengan selamat.


Setelah itu, Araya pun duduk karena kakinya sudah cukup pegal setelah dari tadi lari-lari, kemudian berdiri di sana. Araya duduk, Dae-Vin ikutan duduk di sebelahnya.


"Apa yang kau pikirkan Araya?" tanya Dae-Vin sambil menatap bagian samping kanan wajah Araya.

__ADS_1


"Aku hanya berpikir, bagaimana jika aku sendirian sejak tadi? Aku sudah hanyut di sungai, kemudian melewati air terjun. Mungkin aku tidak sudah tidak di dunia lagi." kata Araya tanpa mengalihkan pandangannya dan menatap lurus.


"Oh itu. Bilang saja, kau bersyukur bisa bertemu denganku. Dan, aku juga bersyukur bisa menemukanmu." ucap Dae-Vin dengan nada penuh syukur. Dia tersenyum tipis. Mendengar hal itu, Araya menolehkan kepalanya.


"Araya, apa yang kau rasakan ketika berada di dekatku?" tanya Dae-Vin. Araya memasang ekspresi bingung. Dia harus menjawab apa? Apakah dia harus jujur?


"Teman-teman!" teriak seseorang dari arah belakang mereka. Araya dan Dae-Vin seketika menoleh ke belakang.


"Hah.. hah.. hah.. maaf mengganggu kebersamaan kalian," ucap Zaaryan yang baru sampai dengan napas yang tersengal-sengal.


"Eh, tidak kok. Kami memang sedang menunggu yang lain. Tinggal Hanny yang belum sampai." balas Araya dengan sedikit menahan malu karena ada orang lain yang tau.


"Jadi.. hah.. Dia memang benar.." ucap Zaaryan masih berusaha memulihkan pernapasannya.


"Siapa 'dia' yang kau maksud?" tanya Dae-Vin kembali dengan nada datarnya.


"Kak Henry. Tadi aku belajar beberapa hal dari nya. Tebakannya selalu benar. Jadi, memang ada Darkness Swordman ya?" balas Zaaryan.


"Iya, tadi kami bertemu dengannya. Menyeramkan.." ujar Araya sambil bergidik ngeri membayangkan pertemuan mereka dengan Darkness Swordman yang benar-benar tidak terduga akan terjadi.


"Oh iya, aku sudah mendapatkan batu safi-nya. Bagaimana dengan kalian?"


"Kami juga mendapatkan gold dan batu ruby-nya."


"Mendapatkan dua sekaligus?"


"Iya,"


"Waah, beruntung sekali."


Itulah pembicaraan singkat Araya dan Zaaryan. Dae-Vin hanya menatap lurus dengan tatapan datar. Dalam hatinya, dia tidak suka ada orang lain yang menggangu momen mereka.


...----------------...


"Ah, akhirnya nona terlambat sudah datang.." ucap Henry setelah melihat Xela yang baru sampai dan bergabung dengan mereka.


"Iya, kau sudah terlambat, kami baru akan menghabisinya." lanjut Lina. Xela memang anggota yang agak lambat, jadi dia sering terlambat. Tapi, kemampuannya sudah jauh di atas standar kemampuan seseorang pengendali elemen air dan elemen es yang merupakan turunannya.


"Tentu saja aku terlambat, aku harus berlari jauh untuk sampai di sini." balas Xela dengan wajah kesal sembari mencebikkan bibirnya.


"Baiklah teman-teman, ayo kita selesaikan!" ucap Jeasson supaya teman-temannya bisa fokus. Perhatian mereka tadi sedikit teralihkan oleh Xela yang baru sampai.


"Kalian yakin? Empat lawan satu, baiklah!" setelah berucap, Darkness Swordman langsung menggunakan suatu teknik.


ZLEB!


Dalam satu kedipan mata, dia langsung menghilang.


To be continued..


...----------------...


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ke mana perginya Darkness Swordman ketika hendak dikalahkan? Kepergiannya yang tiba-tiba merupakan tanda bahaya bagi mereka semua.

__ADS_1


Apakah mereka semua bisa kembali ke markas mereka? Jangan lupa like, komen dan favorit ya!


__ADS_2