Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 106


__ADS_3

[Final Arc - #8]


...----------------...


Kenapa kepalaku sakit sekali, kata Araya dalam hati sesaat setelah merasakan nyeri hebat di kepalanya. Memang sama sekali tak terluka, tapi rasanya seperti habis dipukuli.


"Araya, kenapa?" tanya Hanny sambil menghampiri Araya yang tertunduk sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanannya. Tangan kirinya memegang dua pedang sekaligus.


"Kepalaku … tiba-tiba sakit." Araya memejamkan matanya, berusaha menahan rasa sakit dan nyeri yang tiba-tiba menyerangnya.


"Hey, Araya, sadarlah! Kami tidak bisa terus-terusan di sana! Kembalilah!"


"Araya, cepat kembali! Kami menunggumu!"


Samar-samar Araya mendengar suara itu. Rasa sakit pada kepalanya bertambah ketika suara-suara itu terdengar—dalam pikirannya.


"Cih, belum-belum sudah pusing. Pasti kamu terlalu banyak berpikir. Kalau begitu, kenapa tidak menyerah saja?" ejek Darkzero sambil menatap remeh pada Araya.


Araya kembali berdiri, mengoper salah satu pedang pada tangan kanannya. "Heh, kau sadar siapa yang telah kau beri saran untuk menyerah? Aku tidak akan menyerah."


"Oh ya? Aku tak percaya."


WUSH!


Darkzero bergerak secepat kilat, dan kemudian kembali lagi ke posisinya semula. "Lihatlah, sekarang hanya tinggal kau sendiri." Darkzero menunjuk ke arah papan skor. Araya menoleh ke sana untuk memastikan.


"A—pa?" Araya tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Regu Darkzero masih utuh, sedangkan regu yang satunya hanya tinggal dirinya sendiri.


Dan sekarang, Araya telah dikepung dengan tujuh Darkness Swordman yang bersiap menyerangnya.


"Kalau aku kalah, maka aku akan bisa keluar juga kan?" Araya bertanya, ia berpura-pura baik-baik saja meski dia sangat merasa bersalah.


"Tidak akan. Kamu tetap tidak bisa keluar dari sini meskipun kamu kalah." balas Darkzero masih dengan nada bicara yang sama.


"Park Hana, pedangnya sudah selesai dimodifikasi." celetuk Zack yang seketika memunculkan secercah harapan bagi Araya untuk bisa keluar. Kedua pedang yang masih ada di tangannya dia genggam erat.

__ADS_1


Aku akan menggunakan element Rigel supaya lebih cepat. Terserah dengan apa yang akan terjadi dengan tubuhku, pikirnya sembari menyusun rencana baru.


Tapi, kalau mereka berdua tambah eror bagaimana? Aku harus berpikir, Araya berpikir keras untuk mempertimbangkan keputusannya supaya tidak ada dampak yang bisa merugikannya.


"Kau mau menggunakan element Rigel ya?" tanya Shiroi tiba-tiba. Konsentrasi Araya seketika buyar.


Araya mengangguk pelan sambil bergumam, "Iya."


"Baiklah, aku tidak keberatan. Kurasa yang eror itu hanya saat di dunia ilusi, di dunia nyata sebenarnya tidak eror. Apakah kau keberadaan, Zack?"


"Aku tidak keberatan. Selagi ini bisa membantu, aku akan melakukan apapun untuk melindungi Park Hana." kata Zack. Ia memang masih mengingat pesan terakhir Steve padanya. Ia tidak akan mengecewakan rekan yang sudah setahun bersamanya.


"Baiklah."


...----------------...


"Eum … "


"Hey, kau baik-baik saja?" tanya Arga saat Araya baru saja membuka matanya. Tubuhnya terbaring di atas pangkuan laki-laki yang berstatus 'ayahnya' itu.


Matanya melebar melihat siapa yang tertangkap pandangannya. Araya langsung berdiri, kemudian melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan Darkzero. Gerak-geriknya mirip seperti orang habis mengigau.


Araya berbalik, menatap laki-laki itu. "Siapa kau?" Araya balik bertanya sambil memasang sikap waspada. Dia masih belum tahu kalau orang di depannya itu adalah ayahnya.


"Kamu akan segera tahu." balas Arga dengan santai.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Araya kembali berbalik dan kemudian meninggalkannya sendiri. Kalau Dae-Vin? Dia sedang berkeliling sekitaran situ untuk mencari apakah ada Darkness Swordman lain yang setingkat dengan Darkzero. Yah, memang hanya satu persen dari total jumlah Darkness Swordman yang mencapai level satu.


"Kenapa aku tidak dari tadi menggunakan element Rigel supaya tidak membuang-buang waktu. Oh iya! Bagaimana keadaan yang lainnya ya?" sembari berlari tanpa tahu arah, Araya bergumam.


"Sebentar, Araya. Aku masih mencari informasi." balas Shiroi, sistemnya itu berusaha mencari informasi sejelas mungkin tentang kondisi rekan-rekan mereka.


Beberapa detik kemudian, info yang dia tunggu pun hanya tinggal didengar. Informasi yang mengejutkan.


"Mereka semua sekarat! Beberapa anggota lain yang melihatnya segera membawanya ke markas untuk ditangani tenaga medis." Shiroi lekas memberitahu informasi yang barusan ia dapatkan.

__ADS_1


Mendengar hal itu, langkah kaki Araya terhenti. "Apa?" gumamnya dengan suara yang sangat pelan—nyaris tak terdengar.


"Lagi-lagi … ini salahku. Seharusnya aku tidak ceroboh menerima permainan itu. Seharusnya aku tadi—" Araya tak melanjutkan kata-katanya. Kedua tangannya terkepal erat saat air matanya mulai meleleh.


Tangannya bergetar, matanya mulai terpejam. Tidak lama kemudian, ia kembali membuka matanya. Kali ini, warna iris matanya berubah. Yang tadinya warna cokelat gelap, kini menjadi warna merah terang.


Hanya berselang satu detik setelah ia membuka matanya, sekelilingnya terdapat dinding lingkaran transparan yang mengelilinginya dan semakin meluas. Apapun yang berada di dalamnya tak akan bisa keluar. Termasuk Darkzero yang dia incar untuk dibunuh.


Di tempat lain, masih di dalam dinding transparan yang Araya buat. Semua anggota Elemental dan juga Darkness Swordman yang berada di sana kehilangan kesadarannya. Ini adalah efeknya, yang tidak kuat menghadapi tekanan dan gelombang dari dinding itu, akan langsung kehilangan kesadaran.


"Ternyata kabur ke sini." sambil menapakkan kakinya di tanah, Darkzero berucap dengan angkuh seraya menatap remeh Araya, sedangkan Araya hanya memasang wajah datarnya.


Araya tak mengatakan apapun. Kedua pedang pusaka tiba-tiba muncul di kedua tangannya, seakan dalam hati Araya sudah memanggilnya.


Warna pedangnya juga berubah menjadi agak hitam kemerah-merahan. Element Rigel-nya pun menjadi semakin kuat. Jauh lebih kuat daripada yang sebelumnya. Terdapat kilatan petir berwarna merah di sekitar bilah pedangnya, menandakan betapa kuat dan panas pedang tersebut.


"Heh, kau masih belum cukup kuat untuk mengalahkanku, Nak." Darkzero berucap dengan menekankan kata 'masih'.


SYUU! JLEB!


Pedang yang tadi Araya pegang dengan tangan kanannya, bisa melayang sendiri, kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi mengarah pada Darkzero. Dan terakhir, pedang tersebut menancap di dinding bangunan yang tak jauh dari sana—karena tadi Darkzero sempat menghindar.


"Hehe, santai saja." Darkzero menghela napasnya, kemudian ia kembali ke posisinya semula. "Jika ingin menang, kau tidak perlu terburu-buru atau kau akan melewatkan beberapa hal penting."


Araya tak menanggapinya. Tangan kanannya terulur, pedang yang tadi menancap di tembok seketika kembali ke genggamannya.


Di depannya, terlihat Darkzero yang menggosokkan telapak tangannya seperti orang kedinginan. Kemudian, ia menyilangkan jari-jarinya.


Seketika tekanan di atmosfer itu terasa berbeda. Terasa lebih berat dari sebelumnya. Darkzero menatap ke langit sudah tidak gelap.


Langit yang biasanya gelap itu diterangi oleh meteor yang sebentar lagi akan jatuh tepat di lokasi tempat mereka berdiri. Darkzero memang telah merencanakan hal ini.


"Hahahaha! Kau tak akan bisa lolos. Meskipun kau lari, efek dentuman asteroid ini tetap akan mengenaimu." kata Darkzero dengan nada sombong seakan dirinya sudah menang.


"Kalau tidak bisa lari, maka … aku tak akan lari." Araya berucap dengan nada santai. Hal seperti itu bukanlah apa-apa bagi dirinya yang berbeda dari sebelumnya. "Serangan biasa seperti itu tak akan bisa mengenaiku."

__ADS_1


To be continued …


Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa tinggalkan like dan komen biar author tetap semangat nulis :)


__ADS_2