Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 42


__ADS_3

[Mars Mission Arc - #5]


...----------------...


"Ehm.. Zaaryan.. Apakah kita masih hidup?" gumam Araya sembari mengerjap pelan. Tanpa sengaja, tangan kanannya menyentuh tangan kiri Zaaryan yang sedari tadi terdiam. Dan saat ini, mereka tidak menggunakan armor, mungkin energinya sudah habis.


"Sepertinya masih. Nyatanya aku bisa merasakan kamu menyentuh tanganku." balasnya dan seketika Araya menarik tangan kanannya supaya agak menjauh.


"Maaf," ucapnya lirih. Zaaryan mengangguk.


"Dan sekarang kita ada di mana? Kenapa gelap dan sumpek?" Araya mencoba berdiri, melihat sekelilingnya yang gelap, sempit dan juga panas.


"Sepertinya, kita berada di dalam goa." sembari berdiri di samping Araya, Zaaryan berucap asal, meskipun jawabannya itu masuk akal.


"Sejak kapan armor kita menghilang?" tanya Araya lagi sambil melihat pergelangan tangan kirinya. Cahaya remang-remang dari alat transformasi miliknya berkedip-kedip. Semakin lama semakin cepat.


"Eh ini kenapa? Tidak rusak lagi kan?" menyadari hal itu, Araya mengusap singkat benda multifungsi yang harus selalu dia pakai.


Jika memang rusak, berarti dia sudah mau tiga kali membuat alat tersebut menjadi error. Dan jika rusaknya sekarang, dia jelas akan sangat kesulitan memperbaikinya sendiri.


"Tidak, tapi sepertinya punyaku juga." melakukan hal yang sama, Zaaryan bergumam. Cahaya merah terang itu juga berkedip-kedip.


"Di lepas sebentar mungkin tidak apa-apa.." lanjutnya sembari melepas pengancing alat transformasinya. Mengamati pergelangan tangan kiri yang agak memerah, Zaaryan masih tak habis pikir bagaimana dirinya dan Araya bisa terdampar di dimensi aneh ini.


Kling! Kling! Kling! Kling!


Bunyi-bunyi itu terdengar seiring dengan kedipan lampu tersebut. Alat tersebut mengarahkan tangan mereka menuju ke dalam goa itu. Araya dan Zaaryan saling pandang dengan tatapan bertanya.


"Kita ikuti?" tanya Araya untuk memastikan. Mungkin saja akan ada petunjuk setelah ini.


"Kita coba saja." Zaaryan mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam goa itu. Semakin gelap dan juga terasa semakin sesak. Apalagi setelah lampu dari alat transformasi mereka yang tiba-tiba mati begitu saja, sebab..


"Eh, aku menemukan sesuatu." ucap Araya sembari mengangkat sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu. Ukurannya sebesar kotak tisu.


"Coba buka. Siapa tau itu batu elemen." ucap Zaaryan yang dibalas anggukan oleh Araya. Dia meletakkan kotak tersebut di tanah, dan kemudian membukanya.

__ADS_1


"KOSONG?!"


Lain dari dugaan, kotak tersebut tak berisi apa-apa. Di dalamnya memang terdapat kain hitam tebal untuk melapisi bagian dalamnya, tetapi tak ada benda apapun selain itu. Bukan cahaya gemerlip batu element, hanya udara kosong yang ke luar dari kotak tersebut.


"Mungkin sudah dicuri." ekspresi Zaaryan seketika berubah menjadi serius. Tangannya terkepal erat. Sedangkan Araya diam sembari meneliti isi kotak tersebut.


SHHHHH!


Suara berdesis itu lagi, mereka menatap ke arah sumber suara. Dari dalam sana, terlihat sepasang mata berwarna merah menyala, semakin lama semakin mendekat.


"Ayo Araya," ucap Zaaryan mengajak Araya untuk segera berlari menjauh. Tanpa pikir panjang, Araya pun ikut saja.


Dan benar saja, di belakang mereka ada seekor ular raksasa berwarna merah gelap, sisiknya terlihat sangat keras. Ukurannya mungkin sebesar ular yang tadi. Dan dia mengejar mereka!


"Cepatlah Araya!"


"Ini aku sudah cepat!"


Mereka masih terus berlari, terapi sepertinya sudah tidak ada jalan. Di ujung goa itu, terdapat sungai lava.


"Gunakan armor!"


Meskipun energi hampir sekarat, mereka memaksakan untuk tetap menggunakan armor supaya bisa melompati sungai lava tersebut dan sampai ke daratan di atasnya.


"Hah.. Hah.. Hah.. Dia tidak mengejar kita kan?" mendudukkan dirinya sembari menormalkan pernapasannya, Araya bertanya. Dia sudah sangat lelah sejak tadi hanya keliling-keliling dan lari-lari tanpa menemukan jalan ke luar dari dimensi ini.


"Sepertinya tidak." balasnya singkat sambil ikut mendudukkan dirinya di sebelah Araya. Dia juga sudah lelah. Jika saja mereka belum sampai ke tahap kedua, mungkin nasibnya akan lain.


Tanpa mereka sadari, tempat itu bukanlah tempat yang aman. Tepat di belakang mereka, seekor hewan raksasa dengan dua capit dan ekor yang mempunyai sengat sedang mengintai mereka.


SYUU! BRUAKH!


Ekor runcing hewan itu tiba-tiba menancap di tanah yang berada tepat di depan mereka berdua. Tak sempat mengambil ancang-ancang, kalajengking raksasa itu sudah menghempaskan tubuh Zaaryan hanya dengan mendorongnya dengan capit kanannya.


"Zaaryan!" tentu Araya tak akan tinggal diam. Dia nekat akan menggunakan sisa-sisa energinya untuk melawan hewan itu guna bertahan hidup.

__ADS_1


"Hati-hati Araya!" baru saja Araya akan menyerang dengan nature element miliknya, tubuhnya mendadak tak bisa bergerak bebas. Dari arah belakang, capit raksasa itu telah menjepit dirinya.


"Kyaaaa! Tidak tidak tidak!" berusaha meronta membebaskan diri, kalajengking itu malah menjepit dirinya semakin kuat. Mendekatkan tubuh Araya ke mulutnya, dan selanjutnya dimakan.


"Arayaaaa!" teriak Zaaryan setelah melihat kejadian mengenaskan itu. Semua sudah terlambat. Araya sudah dimakan oleh si hewan raksasa itu.


Berusaha bangkit meski energi tinggal lima belas persen, Zaaryan mungkin juga akan bertindak nekat.


"Ring of fire!" menggunakan jurus yang melibatkan sedikit energi, Zaaryan mengarahkan lingkaran-lingkaran api tersebut tepat ke arah sengat si kalajengking.


Kini, sengatnya sudah terikat. Tinggal mencengkeramnya erat dan nanti akan pecah sendiri.


KROAAAR!


Kalajengking itu meronta kesakitan, tentu karena tindakan Zaaryan yang menyiksanya. Sengatnya telah pecah, cairan berwarna merah menyala seperti lava berceceran di mana-mana. Hewan itu semakin melemas dan akhirnya mati.


Zaaryan mendudukkan dirinya, merutuki kesalahannya yang mungkin tidak akan berdampak baik padanya, maupun teman-temannya yang lain.


"Araya, maafkan aku.." ucap Zaaryan lirih sembari memejamkan matanya. Di situ hanya tinggal dia sendiri. Armornya juga memudar dengan perlahan. Energinya juga sudah tidak berpeluang untuk bisa digunakan kembali.


Dia mungkin akan trauma pada kejadian ini.


"Maaf karena tidak bisa melindungimu.. Jika aku bisa kembali nanti, bagaimana aku menjelaskannya pada mereka? Pasti salah satu dari mereka akan marah besar padaku, atau mungkin semua orang akan menghukum ku." masih sambil terduduk lemas, Zaaryan berucap dengan nada pasrah. Dirinya sudah kehabisan ide dan tenaga.


"Jika saja tadi aku tidak lengah, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." dengan penuh penyesalan, Zaaryan membatin.


"Duh, aku harus bilang bagaimana ya? Gawat kalau dia sampai berbalik dan melihatku yang seperti ini.." batin seseorang di belakang Zaaryan. Yah, orang itu adalah orang yang Zaaryan kira sudah berpulang.


Dia berdiri tepat di belakang Zaaryan yang sedang merutuki kesalahannya. Dalam hati, Araya juga merasa tidak enak karena sudah membuat khawatir.


Dengan langkah yang sangat perlahan, Araya mencoba mendekatinya. Melangkah sepelan mungkin supaya Zaaryan tidak langsung berbalik dan melihatnya.


To be continued..


...----------------...

__ADS_1


Hayo, apa ada yang menduga kalau Araya sudah tamat?


Terima kasih sudah membaca petualangan Araya dan kawan-kawan! Jangan lupa support-nya ya!


__ADS_2