Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 32


__ADS_3

[After Mission Arc - #5]


...----------------...


Di posisi Hanny, dia masih terus berlari sampai dia hampir kehabisan napas. Darkness Swordman semakin mendekat ke arahnya. Hingga suatu ketika, Hanny telah sampai pada jalan buntu.


"Agh! Jalan buntu, apa yang harus aku lakukan?!" Pikir Hanny sambil berbalik, dan mendapati Darkness Swordman yang telah berada tepat di depannya.


"Mau lari kemana kau?" Tanyanya sambil melangkahkan kakinya mendekati Hanny. Perlahan-lahan, Hanny melangkah mundur.


"Jangan mendekat!" Teriak Hanny, tapi.. Sudah jelas, Darkness Swordman tidak akan melakukan apa yang Hanny inginkan.


"Serahkan kekuatan element mu!" Ujar Darkness Swordman sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Tidak akan! Speed of Sound!" Hanny mengaktifkan alat pengendali elemennya, dia hendak menggunakan element suara.


Baru bergerak 0.003 detik, tubuh Hanny sudah mematung. Sama sekali tak bisa digerakkan. Bahkan menggerakkan lidah pun tak bisa.


Tepat di bawah tubuh Hanny berdiri, terdapat bayangan yang berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar satu setengah meter, yang memancarkan aura kegelapan yang sangat kuat, membuatnya sampai tak bisa bergerak.


"HAHAHAHA! Itulah akibatnya kau melawan dariku! Kau telah menolak permintaan halusku, maka aku akan mengambilnya secara paksa darimu! Hyaa!" Darkness Swordman mulai mengeluarkan jurusnya yang digunakan untuk menyerap kekuatan element. Ada seperti tali bayangan yang keluar dari tangan Darkness Swordman, mencari alat pengendali elemen milik Hanny yang berada di tangan kirinya. Hingga, tali bayangan tersebut berhasil melilit tangan kirinya.


Rasanya begitu sakit ketika hal itu dilakukan. Apalagi secara paksa dan dilakukan dengan tak berperasaan. Hanny hanya diam menahan rasa sakit. Matanya berkaca-kaca. Terlihat, pergelangan tangan kirinya sampai memerah akibat pembuluh darahnya banyak yang pecah karena terlilit tali bayangan Darkness Swordman.


Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!


Terdengar seseorang melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah mereka.


"LAVA RAIN!" Teriak seseorang dari arah belakang Darkness Swordman. Tak lama kemudian, terdapat hujan lava berwarna oranye kemerahan yang terang dan berasal dari atas Darkness Swordman, dan otomatis mengenainya.


"Waah, kebetulan sekali. Kau sudah menggunakan tahap kedua. Bagus, bagus.." ucap Darkness Swordman sambil berbalik dan menghilangkan jurus yang mengunci pergerakan Hanny tadi. Seketika, Hanny terduduk sambil memandangi pergelangan tangan kirinya yang memerah.


"Apa yang kau lakukan pada temanku?!" Tanyanya dengan tegas. Dia adalah seseorang dengan armor berwarna merah bergradasi oranye. Dia juga memakai ban lengan bertuliskan Raditia. Dia Zaaryan, seorang pengendali elemen api.


...----------------...


Di tempat lain, Araya sedang memikirkan banyak hal. Tapi yang pasti, dia memikirkan keadaan Hanny yang tadi dikejar Darkness Swordman. Dia mondar-mandir di dekat irigasi.


"Semoga kau baik-baik saja, Hanny." Araya berharap dalam hati. Dia memandang ke kanan dan kirinya, sangat sepi. Tak ada siapapun. Hanya suara air yang terdengar tenang. Hingga suatu ketika, ada seseorang yang berlari ke arahnya dari arah dia datang tadi. Dia mengenakan jaket berwarna hitam, dan menggunakan masker, supaya tak terkena debu, mungkin.


"Hah.. hah.. hah.. Araya kau baik-baik saja kan?" Tanya orang tadi sambil menundukkan tubuhnya di depan sambil memggenggam telapak tangan Araya. Araya hampir tak mengenali orang tadi, tapi dia mengenali suaranya.


"S.. siapa.. kau?" Tanya Araya ragu, sambil menarik tangannya dari genggaman orang tadi.


"Kau yang menelponku, kau yang tak mengenaliku." Ucap orang tadi dengan nada yang rendah. Kemudian berdiri di hadapan Araya.


"Kau.. Kim Dae-Vin?" Araya bertanya sambil memberanikan diri untuk menatap mata biru Dae-Vin. Setelah pandangan mereka bertemu, Araya langsung mengalihkan pandangannya.


"Kau baik-baik saja, Araya? Apa ada yang terluka?" Kim Dae-Vin bertanya dengan nada khawatir, sambil memegang kedua bahu Araya dan menatap wajahnya.

__ADS_1


"I.. iya. Aku.. Aku baik-baik saja." Ucap Araya sambil memalingkan wajahnya. Kemudian, secara tiba-tiba, Dae-Vin menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi chubby Araya.


"Tatap orang yang sedang bicara denganmu." Ucap Dae-Vin, kemudian melepaskan Araya yang pikirannya sudah mulai traveling. Sebab tiba-tiba dia teringat time travel nya ke masa depan beberapa hari yang lalu.


"Fiuh, untung saja.." kata Araya dalam hati. Dia lega karena Dae-Vin tidak melakukan hal yang aneh-aneh terhadap anak di bawah umur seperti dirinya.


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja." Ucap Dae-Vin bersyukur. Araya pun mulai terpikirkan dengan satu hal.


"Ah iya, Dae-Vin. Hanny tadi, dia dikejar Darkness Swordman. Bagaimana kalau dia-" ucapan Araya terpotong setelah..


"Dia baik-baik saja, Zaaryan sudah ada di sana dengan elemen tahap kedua." Ucap Dae-Vin santai.


"Elemen tahap kedua? Jadi kalian sudah sampai ke tahap kedua?" Tanya Araya dengan ekspresi tertarik.


"Iya, nanti kau juga." Balas Dae-Vin sambil menepuk pelan pundak kiri Araya. Tentu saja hal itu membuat Araya tertunduk untuk menghindari kontak mata dengan Dae-Vin.


"Sekarang, kita hanya akan di sini menunggu Hanny dan Zaaryan." Lanjut Dae-Vin.


...----------------...


Kembali ke posisi Hanny dan Zaaryan.


"Woow santai nak, mentang-mentang kau sudah sampai ke tahap kedua, jangan kira kau bisa sombong." Ucap Darkness Swordman sambil membalikkan badannya, dan kini mereka berdua saling berhadapan.


"Memangnya siapa yang sombong? Aku hanya ingin membebaskan temanku." Balas Zaaryan, sebenarnya maksudnya lebih dari itu. Dia juga ingin menjadi anggota generasi ke sembilan yang pertama mengalahkan Darkness Swordman level empat.


"Hmm baiklah. Mari kita lihat seberapa hebat element tahap keduamu itu." Ucap Darkness Swordman sambil menggertakkan jari-jari tangannya.


"Hanny, aku akan membantumu ke tempat yang aman." Ucap Zaaryan sambil membantu Hanny untuk berdiri.


"I.. iya." Balas Hanny. Baru kali ini dia bersentuhan langsung dengan Zaaryan, meskipun Zaaryan menggunakan armor ketika itu.


Setelah itu, dengan cepat Zaaryan dan Hanny langsung menghilang dari tempat itu. Mereka sampai di tempat Araya dan Dae-Vin.


"Kalian langsung kembali saja, aku akan mengalahkan Darkness Swordman!" Ucap Zaaryan ketika mereka baru muncul di sana.


"Apa? Sendirian?" Tanya Araya ketika dirinya sudah berhadapan dengan Hanny.


"Iya. Dae-Vin, kau duluan saja bersama mereka. Aku akan kembali ke sana dan mengakhiri riwayatnya." Ujar Zaaryan penuh tekan dan semangat yang membara.


"Apa kau bisa mengalahkannya sendiri?" Tanya Dae-Vin, sesungguhnya dia masih sedikit ragu dengan kemampuan Zaaryan.


"Aku tidak akan tau sebelum mencobanya. Baiklah, kalian cepat ke markas saja!" Ucapan terakhir Zaaryan sebelum dirinya kembali menghilang. Ternyata elemen api tahap kedua juga bisa berteleportasi.


"Kenapa perasaanku sedikit tidak nyaman ya? Semoga Zaaryan baik-baik saja." Araya berkata dalam hati setelah Zaaryan menghilang dari pandangannya. Dia juga mencemaskan Zaaryan.


"Baiklah, ayo kita pulang. Semua berpegangan." Ucap Dae-Vin sambil mengaktifkan sesuatu menggunakan alat pengendali elemen miliknya.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan, Dae-Vin?" Tanya Hanny.

__ADS_1


"Sekarang aku bisa berteleportasi, biar cepat kita sampai ke markas. Tanganmu terluka kan?" Dae-Vin balik bertanya ketika melihat tangan kiri Hanny yang terluka akibat hal tadi.


"Araya, ayo." Ucap Dae-Vin menyadarkan lamunan Araya.


"Ah, i-iya."


...----------------...


Sesampainya di markas, mereka langsung menemui kak Aria supaya Hanny bisa merasa lebih baik. Saat ini, Hanny sedang berada di ruang perawatan. Araya dan Dae-Vin menunggu di luar.


"Aku jadi merasa tidak enak terhadap Hanny." Kata Araya dalam hati. Dia memang merasa bersalah karena tadi dia tak bersama Hanny ketika Hanny diserang.


"Apa yang kau pikirkan, Araya?" Tanya Dae-Vin setelah sedari tadi melihat gerak-gerik Araya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Aku.. aku merasa bersalah karena-"


"Hanny terluka?"


"Hmm iya. Dan juga perasaanku sedikit tidak nyaman ketika Zaaryan pergi sendiri tadi."


"Mereka berdua akan baik-baik saja. Aku tau, jika mereka tidak kuat, maka mereka tidak akan terpilih menjadi anggota. Begitupun dengan kita." Ujar Dae-Vin sambil mendongakkan kepala Araya supaya tidak menunduk terus.


Lima belas menit kemudian, Hanny sudah keluar dari ruangan perawatan. Tangan kirinya saat ini juga diperban seperti Araya. Jadi, saat ini dia mengenakan alat pengendali elemennya pada tangan kanannya.


"Hanny, kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Araya sambil menghampiri Hanny.


"Hmm, iya. Terima kasih teman-teman." Balas Hanny sambil mengangguk dan berterimakasih.


"Tidak Hanny, seharusnya aku yang minta maaf padamu. Jika saja tadi aku-"


"Bukan salahmu, Araya. Kalau kau yang dikejar Darkness Swordman kan bisa bahaya nanti, kau kan tidak membawa alat pengendali teleportasi. Lagipula, aku hanya fisura sedikit pada tulang hasta ku." Jelas Hanny sambil mengangguk pelan.


"Bagaimana dengan elemen-mu, Hanny?" Dae-Vin bertanya setelah tadi hanya memperhatikan mereka berdua.


"Ah iya, aku hampir lupa. Sepertinya sudah terambil 70 persen." Balas Hanny sambil melihat alat pengendali elemen pada tangan kanannya. Sudah lebih dari setengahnya yang terambil oleh Darkness Swordman.


"70 persen?" Tanya Araya dan Dae-Vin bersamaan.


"Iya, ini tinggal 30 persen. Untung saja aku belum mendapatkan elemen tahap kedua."


To be continued..


...----------------...


Fisura : retak tulang


Tulang hasta : tulang pada rangka anggota gerak bagian atas, segaris dengan kelingking.


...----------------...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa like kalau suka, komen untuk memberikan semangat dan juga saran, dan favorit kalau penasaran dengan kelanjutannya.


__ADS_2