Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 22


__ADS_3

[Inauguration Exam Arc - #3]


...----------------...


Dae-Vin terduduk di padang rumput itu. Dia sudah cukup lelah, sudah tiga puluh menit dia berjalan tanpa istirahat.


"Kalau dipikir-pikir, di sini indah sekali. Apalagi kalau ada dia, pasti tambah indah." pikirnya sambil membayangkan dirinya bermain di bawah pelangi bersama dengan seseorang yang dia sukai. Apa yang dia pikirkan? Tidak biasanya.


Tik! Tik! Tik! Tik!


"Hujan?"


Ada beberapa tetes air yang mengenai dirinya. Dae-Vin menatap ke langit. Langinya masih cerah seperti tadi tidak ada awan segumpal pun.


"Langitnya cerah, tidak ada awan. Yang benar saja sekarang hujan?" batin Dae-Vin merasa seperti ada yang aneh. Hujan turun di hari cerah yang tidak ada awan sama sekali.


"Air ini sepertinya bukan air yang turun dari langit. Ini.. air dari seorang pengendali elemen air yang lain!" Dae-Vin baru tersadar bahwa diri nya di sana tidak seorang diri. Ada orang lain yang juga sedang berada di sana.


Kretek! Suara ranting pohon yang patah akibat terinjak.


Kim Dae-Vin menolehkan kepalanya ke belakang, tidak ada orang yang terlihat. Tapi di sana benar-benar ada orang, orang itu bersembunyi. Dae-Vin sengaja tidak berteriak supaya dia tidak lari. Dae-Vin berdiri, kemudian berjalan ke arah sumber suara tadi dengan langkah yang tanpa suara sama sekali.


"Eh? Menghilang ke mana dia?" tanya seseorang dengan suara yang pelan. Sedari tadi, dia mengawasi Kim Dae-Vin dari balik pohon besar. Tapi, dia tidak tau kalau Dae-Vin sudah di belakangnya.


"Ehem!" Dae-Vin berdeham tepat di belakang orang itu.


Setelah menyadari keberadaan Dae-Vin di belakangnya, dia langsung berbalik.


"Waaa! Kau mengagetkan saja." ucap orang itu. Dia adalah gadis berusia sekitar delapan belas tahun, berambut pirang yang dikepang dua, bola matanya berwarna biru terang. Dia memakai ban lengan yang bertuliskan 'Xela' dan juga lambang organisasi elemen Eropa, serta gambar bendera Belanda.


"Siapa yang mulai duluan?" tanya Dae-Vin dengan tatapan dan nada yang dingin, biasa dia gunakan untuk menghadapi orang asing.


"Hehe.. maaf. Oh iya, kau pasti dari organisasi elemen Asia ya?" tanyanya setelah meminta maaf, juga memamerkan senyuman tipis.


"Sudah tau kenapa bertanya?" balas Dae-Vin, dia tidak suka basa-basi, to the poin saja.


"Kamu ini, tidak sopan sekali. Aku hanya ingin berkenalan. Namaku Xela, dari negara Belanda. Salam kenal." ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.


"Kim Dae-Vin, Korea Selatan. Salken." balas Dae-Vin singkat tanpa berjabat tangan dengan Xela. Xela cemberut karena merasa tidak dihargai.


"Dingin sekali dia.. Apa dia tidak tertarik denganku? Hmm.. aha! Aku punya ide." kata Xela dalam hati sambil memikirkan rencana supaya Dae-Vin tidak terlalu cuek dengannya. Dia menyeringai setelah mendapat rencana yang seperti nya akan bagus.


"Hey, kau mencari ini kan?" tanya Xela setelah mengambil sesuatu dari dalam sakunya, kemudian menunjukkannya pada Dae-Vin. Benda itu..

__ADS_1


"Itu kan, batu zamrud yang kami cari." kata Dae-Vin dalam hati setelah menatap benda yang Xela tunjukkan. Batu zamrud yang kecil dan berwarna hijau, dia yang membawanya.


"Iya, kami membutuhkan itu. Tolong berikan." ucap Dae-Vin. Setelah itu, Xela langsung menggenggam erat batu zamrud itu, kemudian menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


"Eits, tidak semudah itu. Ada syaratnya." kata Xela, dia kembali tersenyum, seakan dia sudah menang.


"Katakan apa syaratnya,"


"Syaratnya, kamu harus bertanding denganku. Kalau kamu menang, aku akan memberi batu zamrud ini, dan kalau kau kalah, kau akan menjadi.."


"Baiklah-baiklah, aku setuju! Tidak usah lama-lama!" kata Dae-Vin, dia langsung setuju saja tanpa memikirkan akibatnya jika dia kalah.


"Eh? Dia langsung setuju saja? Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan bermain dengan laki-laki tampan." batin Xela sambil menyeringai.


"Apapun yang terjadi, aku tidak boleh kalah!" dalam hati, Dae-Vin bertekad untuk menang dan mendapatkan batu zamrud itu supaya dia bisa cepat bertemu teman-temannya, tepatnya anggota yang paling junior dalam tim mereka.


...----------------...


Setelah berjalan cukup jauh, Araya dan Hanny akhirnya sampai di dekat sungai. Sungai yang tidak terlalu besar dengan arus yang tidak terlalu deras, airnya sangat jernih karena tidak terkontaminasi oleh zat-zat kimia. Saking jernihnya, dasar sungainya pun terlihat dengan jelas.


"Araya, kau bilang kamu lelah kan? Sebaiknya kamu istirahat di sini dulu. Aku akan memeriksa bagian sana." kata Hanny sebelum dia kembali berjalan menelusuri hutan.


"Okey, jangan lama-lama ya." kata Araya, dia memang cukup lelah, jadi Hanny memintanya untuk istirahat saja.


Sudah lebih dari lima belas menit Araya menunggu di sana, tapi Hanny tak kunjung kembali. Dia mulai bosan dan juga sedikit mengantuk. Di sana suasana nya sangat tenang dan juga nyaman. Di sana hanya suara arus sungai yang terdengar jelas, udaranya sangat sejuk dan segar.


Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki seseorang yang terdengar cepat. Orang itu sedang berlari. Selain langkah kaki yang terdengar cepat, juga terdengar suara auman hewan buas, entah itu harimau, singa, macan tutul, dan hewan sejenis lainnya.


Dari kejauhan, dia melihat ada dua orang yang


masing-masing laki-laki dan perempuan sedang berlari, dan di belakang mereka ada seekor singa yang mengejar mereka. Mereka berlari cepat ke arah Araya!


"AYO CEPAT LARI!!" teriak si laki-laki sambil berlari ke arah Araya sambil mengibas-ibaskan tangannya, dia juga memintanya untuk lari supaya tidak tertangkap oleh singa yang berada tak jauh dari mereka.


Tanpa pikir panjang, Araya pun ikut berlari bersama mereka. Sebenarnya dia bisa saja menggunakan kekuatan teleportasi untuk berpindah tempat tanpa harus membuang tenaga, tapi dia tidak tega meninggalkan kedua orang itu.


"Aku lelah.. hah.. hah.. hah.." Araya berhenti berlari, dia mencondongkan tubuhnya sambil berusaha menormalkan napasnya.


"Hey, apa yang kau lakukan nak? Dia sudah sudah di belakangmu!" ucap laki-laki itu sambil menunjuk singkat ke arah belakangnya. Ketika Araya melihat ke belakang, memang benar, ada seseorang singa betina yang bersiap untuk menerkam mereka bertiga.


Pada akhirnya, mereka berdua sama-sama berjalan ke arah belakang Araya untuk melindunginya.


"Hey, menurutmu apakah dia marah?" tanya laki-laki itu pada teman perempuannya yang berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya? Sudah jelas dia marah. Kita tadi berada di daerah kekuasaan mereka." balas si perempuan itu dengan nada sedikit kesal.


Ngaum!


Singa itu mengaum, sambil mengambil ancang-ancang untuk menerkam mereka.


"Awas!" seru laki-laki itu sambil mendorong tubuh Araya supaya tidak kena terkam oleh singa itu. Alhasil, Araya berada di bawah tubuh orang itu. Singa tersebut menggigit dan mencakar-cakar punggung laki-laki itu. Tapi anehnya, dia tak merasakan sakit sedikitpun, tidak ada darah yang ke luar dari tubuhnya, setetes pun tidak ada.


"Retainer Root!" Sebelum keadaan semakin memburuk, perempuan itu menggunakan kekuatan elemen yang berjenis 'Nature Element' untuk mencegah pergerakan singa itu. Retainer Root yang artinya akar penahan. Dia menggunakan jurus itu untuk mengikat kedua kaki belakang singa tersebut.


"Waah, elemen alam.." kata Araya dalam hati setelah menyaksikan penggunaan elemen alam di depan matanya sendiri.


Setelah melakukan teknik itu, singa tersebut jadi tertarik sedikit ke arah belakang, dan jadi tidak bisa bergerak bebas. Setelah itu, laki-laki tadi berdiri dan hendak menarik pedangnya.


"Waktunya menyelesaikan ini," sembari bangkit, laki-laki itu berucap.


TCING!


Suara pedang yang sedang ditarik ke luar dari sarungnya.


"Tunggu!" teriak Araya untuk mencegah niat dari si laki-laki. Dia tau maksudnya. Setelah itu, orang-orang tadi menatap ke arahnya.


"Menyingkirlah! Kau bisa terluka," laki-laki itu meminta Araya untuk segera menyingkir dari hadapannya.


"Jangan sakiti dia!" kata Araya sambil tetap berdiri di depan orang itu. Kedua orang tadi masih menatap Araya.


"Jangan bunuh dia! Dia hewan yang mulai terancam punah." lanjut Araya.


"Iya, dia benar. Sebaiknya kau jangan bertindak semena-mena." kata si perempuan yang menggunakan elemen alam tadi, dia mendukung pendapat Araya. Dia juga memasang tatapan dingin untuk si laki-laki.


"Hey, kenapa kau jadi marah?" tanya si laki-laki sambil kembali memasukkan pedangnya.


"Pikir saja sendiri." balas perempuan itu. Dia berdiri tepat di depan singa yang terus mengaum itu.


To be continued..


...----------------...


Author note :


Thanks sudah membaca cerita ini. Kira-kira siapa kedua orang yang sedang bersama Araya itu? Apa yang akan mereka lakukan?


Dan apakah Dae-Vin bisa mengalahkan perempuan tadi itu? Kemana perginya Zaaryan? Jawabannya ada di chapter berikutnya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan favorit ya. Sampai bertemu di chapter selanjutnya!


__ADS_2