
[Time Travel Arc - #1]
...----------------...
[Note : Kalau bercetak miring, berarti dialognya Araya yang asli ya.]
...----------------...
Saat ini, Araya yang asli sudah sampai di masa depan. Tepatnya pada sepuluh tahun yang akan datang. Saat itu, usianya sudah dua puluh tiga tahun. Ketika sampai di waktu itu, tubuhnya menjadi tembus pandang alias transparan. Suaranya menjadi tidak terdengar.
Di sini sudah malam. Araya muncul di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit. Di situ terdapat beberapa kursi sofa. Di ruangan itu pula, adalah seseorang yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Dia adalah Araya versi dewasa.
"Hah.. dia sudah terlambat dua jam." kata Araya yang sudah dewasa setelah melihat jam melalui ponsel androidnya.
"Siapa yang dia maksud?" tanya Araya yang asli. Meskipun dia bertanya, tetap saja dirinya yang lain itu tidak akan bisa menjawabnya.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu yang diketuk. Kemudian pintu itu terbuka.
"Aku pulang.." ucap seorang laki-laki yang baru masuk. Berusia sekitar dua puluh enam tahun. Di tangan kirinya, dia menenteng sebuah tas yang terbuat dari karton.
"Akhirnya kau pulang. Selamat datang." ucap Araya sambil mematikan ponselnya, kemudian meletakkannya di atas meja.
"Maaf aku terlambat di hari ulang tahunmu. Ini, aku bawakan hadiah. Kau pasti suka." ucap laki-laki itu sambil mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas tersebut, dan kemudian meletakkannya di atas meja di depan Araya. Araya pun langsung membuka kotak itu.
"Waaah. Kue black forest, kesukaanku. Terima kasih." ucap Araya dengan mata yang berbinar, kemudian mulai mengambil sepotong kue tersebut.
"Sama-sama. Aku tau kau menyukainya. Jadi, aku mampir sebentar untuk membelikanmu ini."
"Bagaimana kau tau, kalau ini kesukaanku?" tanya Araya sambil mulai melahap kue itu.
"Tentu saja aku tau. Bagaimana mungkin aku tidak tau selera istriku ini." ucapnya sambil merangkul pundak Araya.
"Apa?! Istri? Jadi laki-laki itu adalah suamiku di masa depan? Tampan sekali.. Tapi, tunggu. Kenapa sepertinya dia tidak asing ya? Di mana aku pernah melihatnya? Jangan-jangan dia Kim Dae-Vin." batin Araya. Dia malah jadi sedikit bingung setelah mendengarkan percakapan kedua orang dewasa yang ada di depannya.
"Kau mau?" tanya Araya sambil menunjukkan sepotong kue yang masih utuh dan belum tergigit olehnya.
"Suapi.." pintanya dengan nada agak manja.
"Makan sendiri lah."
"Aku belum cuci tangan."
"Kalau begitu, lekas cuci tangan."
"Malas, nanti saja sekalian mandi."
__ADS_1
"Alasan. Buku mulutmu." pada akhirnya, Araya akan menyuapi laki-laki itu. Dia pun menerimanya.
"Kau makanlah, aku mau mandi dulu." ucap laki-laki itu sebelum akhirnya pergi ke ruangan belakang.
"Okey." balas Araya sambil lanjut makan.
...----------------...
Lima belas menit kemudian, setelah laki-laki itu selesai membersihkan dirinya. Dia kembali menemui Araya. Pertama-tama, dia menutup kedua mata Araya dengan telapak tangannya yang masih dingin.
"Sudah jelas ini Kim Dae-Vin." kata Araya tanpa harus melihat orang yang menutup kedua matanya.
"Apa?! Kim Dae-Vin? Tidak mungkin. Bagaimana dia bisa seperti itu. Sangat berbeda dengan yang enam belas tahun." Araya yang asli benar-benar terkejut setelah tau bahwa laki-laki yang tinggal bersamanya itu bernama Kim Dae-Vin. Dae-Vin dewasa sangat berbeda dengan Dae-Vin remaja. Yang asli, Araya dan Dae-Vin tidak terlalu akrab kan?
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Dae-Vin, kemudian dia duduk di samping Araya lagi.
"Tentu saja, di rumah ini hanya ada kau dan aku." kata Araya sambil melahap habis kue yang masih dia pegang.
"Iya kau benar. Suatu saat nanti akan ada Kim Ar-Vin."
"Kim Ar-Vin? Siapa dia?" tanya Araya tidak mengerti maksudnya.
"Dia seorang laki-laki yang tampan tapi imut, baik hati, cerdas. Dan juga seorang blasteran Indonesia Korea. Kau mau bertemu dengannya?" tanya Dae-Vin, namun Araya menggelengkan kepalanya pelan. Araya sudah tau maksudnya.
"Kenapa kau tidak mau, hmm? Supaya rumah ini tidak sepi." ucap Dae-Vin sambil mengambil satu potong kue, "minta ya," sambungnya. Araya mengangguk tanda dia mengizinkan.
"Kenapa kau tidak mau?" Dae-Vin mengulangi pertanyaannya yang sama.
Setelah itu, suasana menjadi canggung dan sunyi. Mereka tidak berbicara satu kata pun. Hingga..
"Araya, kamu sudah berubah ya.." kata Dae-Vin dengan nada datar. Tapi, di wajahnya, dia memasang ekspresi yang menandakan kesedihan.
"Apa maksudmu?" tanya Araya sambil mengelap telapak tangannya menggunakan tisu.
"Kau, tidak seperti dulu lagi. Dulu kau selalu ceria, sering tersenyum, tidak irit bicara. Aku lebih suka dirimu yang dulu. Kenapa sekarang kau berubah? Padahal sekarang kau sudah menjadi teman hidupku untuk selamanya dan satu-satunya. Kenapa?" tanya Dae-Vin dengan ekspresi yang sengaja dibuat agak sendu.
Araya menundukkan kepalanya, dengan hati-hati, dia menjawab.
"Aku.. aku hanya malu dan takut, sebelumnya kan kita hanya rekan tim. Sekarang sangat lebih dari itu. Lagipula, waktu kecil aku sangat jarang bahkan hampir tidak pernah bertemu dengan ayahku, jadi aku masih agak takut dengan laki-laki." Araya menjelaskan dengan nada pelan. Dia tidak mau kalau sampai perkataannya menyakiti lawan bicaranya.
"Memangnya, ayahku kemana ya? Dan, siapa sebenarnya ayahku? Aku tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingat namanya saja." batin Araya yang asli. Memang selama ini dia hanya tinggal bersama ibu dan kakaknya.
"Jadi begitu? Kau tidak perlu malu dan takut denganku. Jangan takut, jangan malu, jangan canggung. Kuncinya hanya satu, yaitu nikmati saja. Kau bisa kan?" tanya Dae-Vin setelah Araya memberanikan diri untuk menatapnya.
"Tidak bisa.." jawab Araya pelan.
"Bisa,"
__ADS_1
"Tidak bisa,"
"Bisa,"
"Tidak bi-" Araya tidak menyelesaikan kata-kata, karena ada suatu alasan.
"Ya ampun! Apa yang ku lihat?! Jangan lihat.. jangan lihat!" Araya segera berbalik supaya tidak melihat adegan dewasa yang akan dirinya lakukan ketika sudah dewasa.
"Ini benar-benar tidak terduga. Dan kenapa aku baper ya? Padahal aku sudah terbiasa melihat adegan seperti itu di drama. Adegan di sini benar-benar nyata dan tanpa ada editan sedikit pun." batin Araya. Sebelumnya, dia sering melihat adegan seperti itu di drama yang sering dia dan kakaknya tonton bersama di televisi. Setelah itu, ibunya langsung mencabut colokan televisi ketika terdapat adegan seperti itu pada drama yang sedang dia dan kakaknya tonton.
Satu menit kemudian, Araya hampir lolos. Dae-Vin sengaja melepaskannya. Tapi, Araya menggunakan kesempatan itu untuk kabur, sehingga, Dae-Vin langsung menarik tangannya ketika Araya hendak beranjak dari duduknya.
"Jangan pergi." ucap Dae-Vin lirih.
"Hah.. baiklah." Araya menghela nafasnya, kemudian kembali duduk. Tapi selama beberapa detik berikutnya, belum ada yang membuka suara.
"Dae-Vin, ada apa denganmu?" Araya mencoba untuk memulai pembicaraan.
"Maksudmu? Dan tolong kalau di rumah jangan panggil aku Dae-Vin."
"Lalu mau di panggil apa?" Araya kembali bertanya. Yah, dia memang tidak tau. Dia sudah terbiasa memanggilnya dengan panggilan langsung nama.
"Panggil sayang." jawab Dae-Vin dengan pasti sembari memasang raut wajah puas.
"Okey, tapi hanya saat di rumah saja kan?"
"Di mana saja, kau harus memanggilku begitu. Oh iya, aku punya satu challenge untukmu." sembari berucap, Dae-Vin memasang senyum seringai.
"Apa challenge-nya?" Araya yang dewasa ternyata masih begitu polos. Dia tidak tau apa yang Dae-Vin maksud.
"Besok kau kan berangkat ke kampus, nah aku akan mengantarmu sampai ke depan ruanganmu. Kemudian kau harus memanggilku 'sayang' di depan teman-temanmu." Dae-Vin menjawab masih dengan senyum puas yang terpasang di wajahnya. Seketika Araya membelalakkan matanya. Wajahnya merona, kemudian dia mencubit singkat lengan Dae-Vin.
"Aduh aduh, sakit! Ampuun, sayang!" Dae-Vin yang dewasa memang pandai berakting. Tentu saja dia hanya pura-pura kesakitan. Cubitan Araya memang tak seberapa.
"Tidak mau pokoknya. Jangan memberiku tantangan yang aneh-aneh dan tidak normal." ucap Araya sembari memasang wajah kesal dan memalingkan pandangannya dari Dae-Vin.
"Tapi itu kan hal wajar, kita bahkan bisa melakukan hal yang lebih ekstrim lagi. Atau jangan-jangan, kau mau hal yang lebih ekstrim lagi?"
"Tentu saja tidak! Teman-temanku banyak yang masih single, nanti mereka iri, bagaimana hah?"
"Biar mereka cari sendiri. Aku kan sudah punyamu, tak tergantikan dan tak boleh diganti."
To be continued..
...****************...
Author note :
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Ada yang aku skip yap, daripada nanti malah berputar-putar di otak :v
Jangan lupa like, komen, favorit. Bagian time travel masih belum selesai. Sampai jumpa di chapter berikutnya!