Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 84


__ADS_3

[Primary Members Arc - #4]


...----------------...


"Itu awan cumulonimbus, badai akan datang. Sebaiknya kita mendarat dulu." Henry memberi saran, sesaat setelah ia melihat perkiraan cuaca di daerah itu. Kemungkinan presipitasi yang mencapai 90%, terdapat gambar hujan berpetir pada layar tab-nya.


"Oke," balas Adli tanpa pikir panjang. Ia segera menurunkan kecepatan dan ketinggian pesawat, kemudian mencoba melakukan pendaratan pada pulau yang berada tidak jauh dari sana.


Tidak sampai lima menit, pesawat telah berhasil mendarat dengan mulus. Steve kembali ke ruangan itu untuk menemui rekan-rekannya.


"Ada apa?" Tanya Steve pada Henry yang sedang meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat duduk berjam-jam, meskipun tadi sempat ia gunakan untuk berjalan-jalan di Kutub Utara.


"Kamu tidak lihat? Hujan deras itu, ada awan cumulonimbus juga, berpotensi badai." Sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, Henry berucap sambil menatap titik-titik air yang membasahi jendela bagian luar. Hujan memang sudah turun sejak beberapa detik lalu.


"Sekalian kita beristirahat untuk misi nanti, kita akan melanjutkannya lagi setelah matahari terbit." Sambung Henry berucap. Memang benar, sekarang ini, matahari masih belum terbit. Apalagi, mereka sekarang berada di belahan bumi yang letaknya lebih ke barat, otomatis waktu terbitnya matahari jadi tertunda. Jika di markas sana, pasti sudah setengah tujuh pagi.


"Kira-kira, apa yang sedang terjadi di markas ya? Bagaimana dengan Dae-Vin? Semoga semua orang baik-baik saja." Kata Araya dalam hati. Sambil menatap langit yang masih gelap, Araya berharap supaya keadaan di sana mulai membaik. Tentu ia tidak ingin kalau rekan-rekannya di sana terluka akibat melawan Darkness Swordman yang tidak sebanding dengan kekuatan mereka.


Ruangan kabin itu menjadi sunyi. Mereka terlarut dalam pemikiran masing-masing. Araya menulis sesuatu pada permukaan kaca yang sedikit mengembun karena terpaan napasnya.


"Ngomong-ngomong, pesawat ini mendarat di pantai ya?" Tanya Araya setelah beberapa saat terdiam. Pertanyaannya itu berhasil memecah kesunyian di ruangan tertutup itu.


Henry memutar kursinya ke belakang dan menatap Araya. "Iya, di tengah pulau ini ada hutan. Kalau mendarat di sana, yang ada nanti sayapnya malah tersangkut pepohonan."


Araya mengangguk pelan, kemudian kembali menatap jendela. Ia canggung kalau harus bertatapan dengan laki-laki.


"Park Hana,"


"Iya?"


"Kamu mencemaskan teman-temanmu di markas?"


Araya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Henry. Mereka berdua duduk saling berhadapan, jadi Henry bisa membaca isi pikirannya hanya dengan menatapnya.

__ADS_1


Sedangkan Steve yang duduk di kursi paling kanan, sekilas menatap mereka dengan tatapan tidak suka yang dia sembunyikan di balik ekspresi datarnya.


Keempat pasang mata tertuju pada Adli yang berdiri secara tiba-tiba. Tatapannya serius ketika ia menatap rekan-rekannya. "Teman-teman, firasatku tidak enak. Aku akan pergi ke luar untuk memeriksa keadaan. Aku akan mengabari kalian kalau ada apa-apa."


"Tunggu, Adli!"


Tanpa berniat mendengarkan perkataan Henry, Adli berlari meninggalkan ruangan itu. Dengan segera, ia mengaktifkan mode armor tahap ketiga dan pergi ke luar pesawat. Menerjang guyuran hujan dan tak menghiraukan kegelapan, ia merasakan sesuatu yang janggal dari daerah itu.


"Adli, coba kamu menatap ke laut!" Sistemnya berucap memberi tahu. Adli segera berbalik dan menatap ke selatan. Saat ini, ia berada tepat di belakang pesawat. Menatap hamparan laut berombak yang mengikis bebatuan pantai.


Dari kejauhan, terlihat sesuatu muncul dari permukaan laut. Suatu benda panjang yang bergerak-gerak seperti tentakel gurita, hanya saja ukurannya ratusan kali lebih besar.


"Apa.. Itu?" Terbelalak, Adli bertanya pada sistemnya. Dengan mode zoom ia melihat pemandangan janggal itu.


"Itu adalah Kraken, makhluk mitologi yang dirumorkan adalah penunggu kawasan Segitiga Bermuda." Ujar East, sistemnya yang telah bersamanya sejak beberapa bulan.


"Tapi, bukankah ia hanya makhluk mitologi yang belum tentu benar keberadaannya?"


"Masih diteliti, ada yang percaya dan ada yang tidak. Bisa jadi dia adalah penyamaran dari Darkness Swordman."


"Adli, apa yang terjadi? Apa ada masalah?" Tanya Henry melalui alat komunikasi. Sejenak, Adli terdiam. Ia sedang mempertimbangkan untuk memberi tahu rekan-rekannya atau tidak. Pasalnya, ini cukup beresiko dan berbahaya. Namun, rupanya mereka telah tiba di kawasan Segitiga Bermuda, yang berarti misi kedua mereka telah dimulai.


"Hey, ada apa?" Henry kembali melontarkan pertanyaan setelah Adli tak kunjung memberikan jawaban pasti.


"Ehm itu, aku melihat hewan raksasa di laut." Dengan ragu, Adli memberitahukan yang sebenarnya.


"Hewan raksasa? Mungkin ikan paus."


"Bukan. Hewan itu terlihat seperti gurita, tapi ukurannya besar sekali.. Aku memperkirakan kalau ukurannya sebesar kapal pesiar."


Mendengar pernyataan barusan, Henry tergelak. Ia menahan tawanya, sedangkan ketiga rekannya yang berada di pesawat tidak menunjukkan ekspresi demikian. Mereka langsung percaya dengan apa yang dikatakan Adli.


"Kalau kamu tidak percaya, keluarlah dan lihatlah dengan mata kepalamu sendiri." Agak ketus, Adli berucap kemudian mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


Pandangannya masih tertuju pada tentakel-tentakel raksasa itu. Laut memang masih penuh dengan misteri dan rahasia. Belum ada separuh dari seluruh lautan yang berhasil diteliti oleh manusia.


Tidak sampai semenit kemudian, keempat rekannya yang lain sudah berada di sana juga dalam mode armor tahap ketiga.


"Shiroi, apa itu benar-benar monster laut?" Tanya Araya pada Shiroi. Ia bergidik ngeri menatap monster tersebut dari kejauhan.


"Iya, namanya kraken. Tapi kurasa, dia itu jelmaan Darkness Swordman, bukan kraken asli. Kraken itu sebenarnya makhluk mitologi, belum dapat dipastikan kalau dia nyata atau tidak." Jelas Shiroi, Araya mengangguk pelan menanggapi. Hal itu cukup masuk akal, monster itu warnanya hitam pekat yang merupakan salah satu ciri dari Darkness Swordman.


"Hey hey, aku mendeteksi kalau batu element sudah tidak jauh." Ucap Henry memecah keheningan. Melalui layar hologram di depannya, ia mendapatkan sinyal batu element di sekitaran sana.


Wush! Wush! Wush!


Suara desiran ombak terdengar semakin keras. Ombak semakin kuat seiring angin yang berhembus kencang. Hujan juga semakin deras. Langit masih gelap karena sekarang terbilang masih dini hari.


JGERR!


Setelah terdengar sambaran petir barusan, monster itu menghilang. Entah kembali masuk ke dalam laut atau menghilang begitu saja.


"Eh? Ke mana perginya?" Tanya Lucas sambil memandang hamparan laut itu untuk mencari keberadaan si monster. Namun nihil, tidak ada apapun yang mencurigakan di sana. Ia menghilang bertepatan dengan suara petir tadi.


"Jangan biarkan dia pergi! Kita harus mengerjarnya!" Ucap Henry antusias. Ia sudah memastikan dengan akurat kalau batu element kedua ada di tempat persembunyian si monster.


"Park Hana, kamu tetaplah bersamaku!" Sambungnya sambil menggenggam tangan kanan Araya.


...----------------...


"Laut malam itu menyeramkan ya.." Ucap Araya pelan sambil memandang hamparan air laut yang ada di bawahnya. Saat ini, ia bersama Henry naik jetski sedang menyusuri lautan untuk menemukan monster tadi.


"Iya, ini juga pertama kalinya bagiku melihat laut sedekat ini saat malam." Balas Henry masih fokus menyetir. "Pegangan, Hana. Nanti kamu jatuh.." Lanjutnya setelah merasakan kalau pegangan Araya mengendur.


"Bukankah nanti kita juga akan melompat ke sana?" Balas Araya masih sambil menatap laut yang tampak hitam. Terang pada bagian depan jetski saja.


"Yah, maksudku kita tidak akan langsung terjun untuk sekarang. Pokoknya kamu pegangan dulu." Ucap Henry sambil menggenggam pergelangan tangan Araya dengan tangan kirinya, kemudian melingkarkan pada pinggangnya. Tentu di balik hal itu, ada niat tersembunyi selain untuk keselamatan.

__ADS_1


**To be continued..


Apa itu benar-benar monster? Nantikan di chapter berikutnya** ^^


__ADS_2