
[Elements Transformation Arc - #2]
...----------------...
"Akh! Cih! Jurus yang sama, apa tidak ada yang lain?" tanya Darkness Swordman sambil dengan mudah menghindar. Hal itu otomatis membuat tali bayangan tadi mengendur dan Araya berhasil bebas.
"Araya, sini!" ucap Zaaryan sambil mengisyaratkan supaya Araya mendekat kearahnya. Araya pun hanya menurut saja.
"Ayo gunakan teknik kombinasi," ucapnya agak cepat. Araya langsung mengangguk saja, yah meskipun dia juga belum paham bagaimana caranya melakukan kombinasi.
"Caranya?" Araya menyempatkan untuk bertanya meskipun dalam keadaan yang tidak tepat.
Zaaryan tak menjawab, dia malah langsung menarik tangan kanan Araya, kemudian menempelkannya pada tangan dirinya, tepatnya pada alat transformasi mereka. Seketika, warnanya langsung berubah menjadi warna merah bergradasi hijau.
"Eh?!"
"Araya, lakukan teknik!"
"Teknik apa?"
"Terserah!"
Araya pun menciptakan teknik yang dia sendiri tidak tau namanya. Dia mengarahkan tekniknya tepat di belakang si Darkness Swordman.
Tiba-tiba muncul tumbuhan Venus Flytrap raksasa di belakangnya.
"Makan dia!!" sembari berteriak, Araya tetap mempertahankan tekniknya supaya tetap bisa bertahan.
Tumbuhan itu langsung memakannya sebelum Darkness Swordman tadi sempat menghindar. Dan juga, akibat dari teknik kombinasi, terdapat cairan magma di dalam tumbuhan tadi. Warna luarnya juga tidak biasa. Warnanya adalah hijau yang mempunyai bintik-bintik merah.
Tumbuhan tadi bergerak-gerak saat memakan Darkness Swordman. Tak butuh waktu lama, Darkness Swordman telah hancur, dan tumbuhan tersebut pun menghilang.
Araya dan Zaaryan kembali ke bentuk semula, human mode. Sambil mulai berjalan kembali ke markas, mereka berbincang-bincang ringan.
"Kerja bagus, Araya. Tapi, tunggu. Bagaimana kau bisa tau teknik itu?" ucap Zaaryan memuji sekali bertanya.
"Terima kasih. Aku.. juga tidak tau bagaimana aku bisa tau teknik itu. Padahal aku hanya asal berucap saja." jawab Araya disertai senyuman canggung. Yang dia katakan memang benar, mengingat bahwa dia baru pertama kalinya menggunakan element tahap kedua.
"Lain kali, jangan asal. Itu berbahaya."
"Iya, maaf.."
"Eh iya, bagaimana kau di sini, Araya? Kenapa tidak tetap di markas?"
"Kan sudah kubilang, aku hanya memeriksa keadaan. Dan kebetulan tadi aku melihatmu kewalahan menghadapinya."
"Hmm itu aku hanya agak lengah tadi. Dan tau-tau, dia sudah menyerangku begitu saja. Tentu saja aku kewalahan, dia tau kalau aku sedang lengah." jelas Zaaryan beralasan. Memang sulit menghadapi Darkness Swordman level empat, apalagi hanya satu lawan satu. Belum lagi kalau menghadapi yang levelnya lebih kecil, malah akan semakin sulit.
__ADS_1
...----------------...
Sesampainya di markas, Araya sudah bisa bernapas lega. Saat ini, dia berada di ruangannya, berdiri di depan jendela kaca yang lumayan besar untuk melihat pemandangan bawah laut.
"Syukurlah tadi tidak terjadi kejadian yang lebih buruk." Araya berucap dalam hati sembari menyentuh permukaan kaca tersebut. Dingin.
Tidak lama kemudian..
"Araya.." panggil seseorang dari arah belakangnya. Araya segera membalikkan badannya, menatap seseorang yang memanggilnya.
Kletak!
Karena terlalu refleks, alat transformasi miliknya terbentuk sudut dinding. Tanpa dia sadari, ada yang berubah.
"Eh kak Aria, ada apa?"
"Hanya untuk memeriksa keadaanmu. Kau baik-baik saja kan?" tanyanya sembari memegang pundak kiri Araya.
"Aku baik-baik saja kak. Tak perlu khawatir." balas Araya dengan tenang dan disertai senyuman, bersikap baik-baik saja seakan tidak habis terjadi apa-apa.
"Oh syukurlah. Lain kali, jangan ceroboh. Tanganmu itu masih belum sembuh total. Jangan sampai semakin parah." Kak Aria sedikit menunduk sembari melihat dan memeriksa tangan kiri Araya yang terbalut perban putih.
"Hmm iya, maaf." ucap Araya pelan.
"Sudah tidak apa-apa. Sebentar lagi waktu makan siang. Segeralah ke kantin ya. Baiklah, aku pergi dulu." Kak Aria berjalan menuju pintu sembari melambaikan tangannya. Araya mengangguk dengan pasti.
Setelah itu, Araya kembali berbalik untuk kembali melihat pemandangan coral alias terumbu karang. Tapi, sesuatu yang sangat janggal telah terjadi. Dia melihat pantulan dirinya melalui kaca penutup, aneh sekali.
"Hah?! Apa ini?!" Araya berucap sembari memegang bagian atas kepalanya. Ada dua telinga kucing. Bagaimana bisa? Dia tidak memakai bando. Ini telinga asli, telinganya.
"Bagaimana ini.. Bagaimana bisa terjadi padaku? Apakah aku akan menjadi half cat?" ucapnya lagi, mengamati warna matanya yang sudah berubah. Jika sebelumnya berwarna coklat tua, kali ini berwarna hijau agak kuning.
"Haduh, jangan-jangan ada ekornya juga ini.." Araya berusaha menepis firasat buruknya. Berharap supaya dia tidak memiliki ekor layaknya kucing sungguhan.
Kemudian, dia pun pergi ke kamar mandi untuk melihatnya.
Tak butuh waktu lama, dia sudah kembali.
"Haah, bagaimana ini? Sangat tidak nyaman.." batinnya, dia bingung harus melakukan apa untuk saat ini. Dia juga telah mengecek alat transformasinya, namun, dia sama sekali belum tau cara memprogram ulangnya.
"Ah iya, hampir lupa. Sekarang waktu makan siang." Setelah melihat jam digital di dinding ruangannya, Araya pun berjalan menuju pintu ke luar. Namun, langkahnya seketika terhenti setelah dia teringat akan sesuatu.
"Tapi, bagaimana denganku?" gumamnya sambil berpikir bagaimana supaya dirinya tidak ketahuan telah menjadi half cat.
"Shiroi?" ucapnya memanggil drone managernya. Tidak lama kemudian, benda terbang berwarna putih bergerak ke arahnya.
"Ada apa, Araya?"
__ADS_1
"Bagaimana caranya supaya telinga kucing ini tidak ada yang tau?"
"Hmm mungkin memakai jaket dapat mengatasinya. Kau bisa mengenakan tudungnya untuk menutupi telinga kucing itu." Shiroi memberi saran yang kemudian langsung diberi anggukan antusias oleh Araya.
...----------------...
Saat ini, Araya dan rekan-rekan timnya sedang makan siang bersama. Kecuali Dae-Vin, entah dia punya urusan apa sampai jarang keluar ruangannya, itulah yang ada di pikiran mereka.
Araya duduk di sebelahnya Hanny. Sedangkan di depan mereka hanya ada Zaaryan seorang. Dan di depan mereka, ada tiga porsi makan siang. Menu kali ini, adalah sup daging. Kedua temannya tampak sedang menikmati hidangan makan siang mereka. Sedangkan Araya masih diam.
"Hey Araya, ayo dimakan. Kenapa kau malah diam?" tanya Hanny, sejenak dia meletakkan alat makannya sambil menoleh ke arah Araya.
"Eh, i-iya.." balas Araya sembari mengangguk dan tersenyum canggung.
"Ehmm, sebentar, kursinya kurang maju." Araya memberi alasan. Dia pun sedikit memajukan kursinya ke depan.
"Aduh! Ekorku kedudukan!" Araya sedikit meringis merasakan ekornya yang dia duduki. Tentu saja rasanya tidak akan nyaman.
Araya menatap atas meja di depannya. Dia mendekatkan wajahnya, tunggu, apakah dia akan makan layaknya seekor kucing?!
"Eh?! Apa yang akan kau lakukan, Araya? Pakai sendok." cegah Hanny sembari memberikan sendok ke tangan Araya. Araya hanya menerimanya.
"Aduh, bagaimana ini? Aku jadi lupa cara memegang sendok." gumam Araya dalam batin. Dia mencoba menggenggam gagang sendok itu, dan dia berusaha untuk menggunakannya.
Kluntinggg!
Sendok yang Araya pegang malah terjatuh, tapi untungnya masih di atas meja.
"Ada apa denganmu, Araya? Apa tanganmu yang kanan juga sakit?" tanya Zaaryan setelah menunda untuk memasukkan sesuap makanannya ke dalam mulut.
"Tanganku tidak sakit kok." jawab Araya disertai gelengan pelan.
"Lalu kau kenapa? Aneh sekali.." ucap Hanny seraya menarik ke belakang tudung jaket Araya. Alhasil, kedua telinga kucingnya terlihat.
Kedua temannya membelalakkan matanya setelah melihat apa yang terjadi pada Araya.
"Hah?! Araya, bagaimana bisa begini?" tanya Hanny dengan tatapan mata bingung plus khawatir.
"Aku tidak tau. Padahal tadi aku kan masih baik-baik saja." jawab Araya sambil mengangkat bahu tanda dia juga tidak mengerti.
"Profesor! Sepertinya alat transformasi milik Araya bermasalah lagi." ucap Zaaryan memanggil profesor. Setelah itu, beberapa pasang mata mengarah pada Araya. Termasuk ketiga anggota Elemental generasi kedelapan. Namun sebelum itu, Araya dengan cepat kembali memakai tudung jaketnya lagi.
To be continued..
...----------------...
Terima kasih sudah membaca kisah Araya. Jangan lupa like, komen dan favorit ya! Sampai jumpa di chapter berikutnya!
__ADS_1