
[Inauguration Exam Arc - #1]
...----------------...
Pagi harinya, sekitar jam setengah enam. Dae-Vin terbangun lebih dulu. Terlihat Araya masih tidur.
"Dia masih tidur ya? Biarkan saja dulu.." kata Dae-Vin dalam hati setelah terbangun dan melihat sekilas ke arah Araya yang masih tertidur pulas.
Setelah itu, Dae-Vin meregangkan tubuhnya yang terasa agak pegal karena tidur dengan posisi duduk. Kemudian, dia berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan juga menjalankan panggilan alamnya.
Sepuluh menit setelah Dae-Vin pergi ke kamar mandi, Araya telah terbangun. Di ruangan itu hanya ada dirinya.
"Di mana ini?" tanya nya pada diri sendiri setelah mengetahui bahwa dia tertidur tidak di kamarnya.
"Ah iya! Ini di kamar Dae-Vin!"
Setelah membuka mata, Araya langsung berdiri, kemudian melihat tempat yang dirinya gunakan untuk tidur.
"Fiuh.. untung saja tidak ada noda." ucap Araya dalam hati. Dia lega, karena tempat yang dia tiduri tadi masih berwarna polos, tak ada setitik noda pun.
"Sedang melihat apa?" celutuk Dae-Vin tiba-tiba dari arah belakangnya. Araya terkejut, dia langsung berbalik ke belakang.
"Eh, emm. Tidak ada apa-apa kok." balas Araya diiringi dengan gelengan pelan, jangan sampai Dae-Vin mengetahui. "Bagaimana aku bisa tidur di sini ya?" lanjutnya bertanya pada Dae-Vin.
"Semalam kau mengantarkan aku. Ketika sampai di sini, kau langsung tertidur. Dan akhirnya kamu tidur di sini." ucap Dae-Vin menjelaskan, ketika itu wajah Araya malah merona. Apa lagi, saat itu Dae-Vin baru selesai mandi, rambutnya masih masih agak basah, membuatnya terlihat keren dan- Em, kamu tau lanjutannya.
"Jika semalam aku tidur di sini.. Lalu bagaimana denganmu? Kau tidur di mana?" Araya bertanya sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Di sana," ucap Dae-Vin singkat sambil menunjuk ke arah meja belajarnya. Araya pun melihat ke arah yang Dae-Vin tunjukkan.
"Ooh.."
"Jangan khawatir, aku tidak melakukan hal-hal aneh kok. Aku bukan tipe yang seperti itu." ucap Dae-Vin. Araya merasakan lega karena dia masih aman-aman saja.
"Maaf sudah merepotkan. Aku akan kembali ke kamar dulu." ucap Araya sambil mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Tunggu!" cegah Dae-Vin. Seketika Araya menghentikan langkahnya.
"Kamera pengawas dan datanya masih aktif, sebaiknya kau menggunakan teleportasi saja supaya tidak ketahuan." Dae-Vin memberi saran. Araya langsung mengerti maksudnya, supaya dia tidak terkena masalah lagi nanti.
"Ah iya, kau benar. Baiklah, terima kasih ya. Aku pergi dulu. Bawa aku ke ruanganku." ucap Araya sambil mengaktifkan alat teleportasi-nya, dan seketika dia menghilang.
"Yaah, dia sudah pergi. Padahal aku masih ingin dia berada di sini."
...----------------...
Sesampainya di kamar, Araya melihat kamarnya yang masih terang benderang, dia lupa mematikan lampunya sebelum dia pergi semalam. Dia pun mencoba melihat tab-nya. Ada pesan dari Kapten Akira.
"Selamat pagi. Semua anggota generasi sembilan diharapkan untuk datang ke ruangan utama saat sebelum jam delapan pagi. Akan ada pemberitahuan tentang ujian peresmian. Terima kasih."
Pesan singkat dari Kapten Akira. Mereka diminta untuk datang ke ruangan utama nanti. Ujian peresmian sudah tidak lama lagi. Jika lulus, maka mereka akan benar-benar menjadi anggota 'Elemental Organization of Asia' yang resmi, mereka jika akan diberi tanda pengenal dan juga username.
__ADS_1
"Baiklah, tak lama lagi ujian peresmian. Kira-kira apa saja yang akan diuji ya?" kata Araya dalam hati. Setelah itu dia memutuskan untuk bersiap-siap, sebab sekarang sudah jam enam pagi lewat lima menit.
...----------------...
Jam tujuh pagi lewat tiga puluh menit, Araya dan kawan-kawan sudah berada di ruangan utama bersama dengan senior mereka juga. Pertemuan kali ini hanya akan membahas tentang ujian peresmian.
"Semua sudah hadir?" tanya Kapten Akira sebelum memulai penjelasan.
"Sudah, Kapten!"
"Baiklah, sebelum itu, aku akan memberi tau bahwa besok kalian akan melaksanakan ujian peresmian.
Ujian peresmian, selalu di laksanakan yang tujuannya adalah menentukan kepantasan kalian untuk menjadi anggota 'Elemental Organization of Asia'. Jika kalian lulus, berarti kalian sudah pantas menjadi anggota organisasi.
Di ujian besok, kalian berempat akan mendatangi sebuah pulau terpencil yang di sana terdapat hutan yang lebat, belum ada manusia yang berhasil menjelajahi seluruh penjuru di pulau itu.
Besok, kalian harus mencari empat jenis barang tambang. Ada batu Ruby, safir, gold dan juga zamrud. Keempat benda itu lumayan kecil, benda itu masing-masing dibawa oleh pihak organisasi generasi ke delapan dari benua Eropa.
Sampai sini, ada yang mau bertanya?" tanya Kapten Akira setelah menjelaskan dengan lumayan panjang. Hanny mengangkat tangan kanannya sebelum mengajukan pertanyaan.
"Jadi, besok di sana bukan hanya ada kami berempat ya?" Hanny bertanya.
"Iya, di sana nanti akan ada delapan orang, itu sudah termasuk kalian. Kalian harus menemukan mereka, kemudian mencoba untuk merebut barang itu dari mereka." jawab Kapten Akira.
"Tunggu, kenapa harus merebut?" Zaaryan bertanya. Apakah besok akan ada perlawanan? Melawan orang-orang dari organisasi Elemental juga?
"Tentu saja, tapi jangan khawatir. Mereka sudah membuat kesepakatan untuk bekerja sama dengan kita, kalian tidak akan terluka." balas Kapten Akira sambil tersenyum tipis.
"Sepuluh jam. Iya, sepuluh jam dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore. Kalian harus kembali saat matahari mulai terbenam ya. Kalau tidak, berarti kalian belum lulus." jawab Kapten Akira. Sepuluh jam harus mereka gunakan sebaik-baiknya untuk mencari anggota organisasi dari Eropa untuk mendapatkan barang yang mereka cari.
"Kapten, apa yang akan kami lakukan sekarang?" tanya Dae-Vin. Seperti biasa, menggunakan nada datar nya itu.
"Bebas." jawab Kapten Akira dengan singkat. Hari ini hanya ada pengumuman, dan tak ada kegiatan lain. Bebas mau melakukan apapun, asalkan tidak melanggar peraturan lagi. Mau olahraga boleh, berlatih sendiri boleh, membaca buku boleh, mau tidur pun boleh.
...----------------...
Siang harinya, sekitar jam setengah dua belas, Araya ingin membuat kesepakatan supaya bisa menemui Kak Aria. Kenapa? Lihat saja nanti. Araya mengetik pesan yang akan dia kirim kan kepada kak Aria.
"Permisi Kak Aria, apakah aku boleh minta waktunya sebentar?" kata Araya dalam hati sambil mengetikkan kalimat itu, kemudian mengirimkannya. Tak lama kemudian, Araya sudah mendapatkan balasan.
"Tentu, ada apa?" balas Kak Aria.
"Apakah kita bisa bertemu sebentar? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Kak Aria."
"Boleh, mau di mana?"
"Terserah Kak Aria saja."
"Kalau begitu, di ruanganku saja. Kau tinggal berjalan ke kiri dari ruanganmu, kemudian belok ke kanan di ujung lorong ya."
"Baiklah kak."
__ADS_1
...----------------...
"Jadi, kau ingin membahas apa, Araya?" tanya Aria sebelum memulai topik.
"E.. Itu, aku ingin bertanya. Apakah Kak Aria punya obat pemberhenti-" Araya bertanya. Itulah yang ingin dia tanyakan.
"Tentu saja aku punya. Memangnya kenapa?" tanya Aria lagi.
"Aku kan sedang 'itu', dan besok masih belum berhenti, dan mungkin hal itu bisa membuatku merasa sedikit tidak nyaman." kata Araya. Jujur saja, Araya saat ini masih kedatangan tamu, jadi ya begitulah.
"Kalau kau sedang kedatangan, kenapa kau tidak mengajukan penundaan ujian peresmian ini saja?" Aria mencoba untuk memberi saran.
"Apakah boleh?"
"Boleh. Nanti ujianmu akan menyusul."
"Tapi.. kalau tertunda mungkin aku tidak bisa cepat lulus." kata Araya sambil menundukkan wajahnya. Dia merasa tidak enak kalau dia harus menunda ujian peresmian demi kepentingannya sendiri.
"Dan ujian ini berkelompok kan? Kalo tertunda, nanti aku akan sekelompok dengan siapa?" pikir Araya.
"Hah, baiklah. Minumnya satu kali sehari saja ya." kata Kak Aria sambil mulai mencari sesuatu dalam kotak P3K yang berada tak jauh dari sana. Ya meskipun di sana sudah ada ruang kesehatan, tapi di setiap ruangan para anggota selalu di sediakan kotak P3K itu.
"Terima kasih Kak."
...----------------...
Keesokan harinya, adalah hari di mana mereka akan melaksanakan ujian peresmian. Mereka sudah berkumpul di ruangan latihan. Di sana juga sudah ada kapten Akira, Aria dan juga Hyun-Jae. Tapi tidak ada Profesor.
"Ingat, kalian harus kembali saat matahari mulai terbenam. Jangan memaksakan diri ya. Kalau tidak bisa lulus hari ini, mungkin lain kali." ucap Kapten Akira kembali mengingat kan.
"Ya, Kapten!"
"Bagus." balas Kapten Akira sambil mengangguk pelan.
"Emm, Kapten, sejak kemarin aku tidak melihat Profesor. Di mana mereka?" Zaaryan bertanya. Sejak kemarin, memang kedua profesor tidak terlihat.
"Mereka sedang bertugas di markas pusat. Nanti mereka akan kembali." jawabnya santai.
"Baiklah, Aria. Aktifkan portalnya." lanjut Kapten Akira sambil berbicara dengan Aria.
"Oke." balasnya, kemudian segera mengaktifkan portal menggunakan alat pengendali teleportasi, seperti milik Araya, tapi miliknya sepertinya sudah sampai ke tahap yang lebih tinggi.
Tak lama kemudian, portalnya pun telah aktif. Portal yang terbentuk dari benda yang menyerupai asap dengan warna pelangi. Berbentuk oval dengan diameter tingginya sekitar dua meter.
Tentu saja mereka tidak langsung masuk, karena belum mendapatkan izin. Mereka berempat menatap Kapten mereka.
"Kalian diizinkan untuk berangkat."
To be continued..
...----------------...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa like kalau suka, komen, favorit kalau mau tau kelanjutannya, dan share juga. Sampai bertemu di chapter berikutnya!