
[Darkness Invasion Arc - #6]
...----------------...
"Sunny, di mana kau? Aku perlu bantuanmu!" kata Ivany melalui komunikasi. Hanny yang sampai sekarang masih bersama Araya, dia bingung dalam memilih jalan yang tepat. Apakah dia akan tetap bersama rekannya, atau pergi ke tempat Ivany.
"Ada apa, Hanny?" dia langsung bertanya, setelah menyadari kebingungan Hanny.
Hanny menghela napas, "Rekanku memerlukan bantuanku, aku bingung harus ke mana … "
"Jangan khawatir, Araya bersamaku. Aku bisa pergi dan menolong rekanmu." Hyun-Jae menyahut. Kemudian Zeta dan Leo pun mengangguk setuju.
"Baiklah, Pak. Tolong jaga Araya. Aku pergi." setelah mengucapkan kata-kata perpisahan itu, Hanny menggunakan teleportasinya untuk pergi dari tempat itu.
Detik berikutnya, di tempat itu hanya tinggal empat orang saja.
"Araya, dengarkan aku. Kita akan mulai membicarakan rencana untuk—ARAYA!" Hyun-Jae tidak melanjutkan kata-katanya dan berteriak setelah menyadari kalau tubuh beserta armor Araya mulai menjadi transparan.
"Hah? Ada apa, Pak?" aneh, Araya bahkan tidak menyadari apa yang dilihat oleh seniornya itu.
"Kamu mulai menghilang." ujar Leo. Yah, kedua mantan Darkness Swordman itu juga menyadari apa yang terjadi pada Araya. Tapi, masih tanpa alasan yang jelas.
"Tidak kok … aku masih bisa menapak di tanah."
Keadaan jadi semakin membingungkan. Ketiga laki-laki itu bisa melihat kalau Araya perlahan menghilang. Sedangkan Araya sendiri tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Hyun-Jae, kau bisa lakukan sesuatu?" Leo bertanya. Alasannya jelas, untuk mencegah Araya menghilang.
"Entahlah, sepertinya tidak bisa. Kalau aku tahu ini berasal dari mana, mungkin masih bisa aku cegah."
GREB!
Zeta hendak menggenggam pergelangan tangan kiri Araya, sambil berharap kalau dia juga akan ikut menjadi transparan. Namun, hal tak diinginkan yang malah mereka dapatkan. Araya langsung menghilang saat Zeta menyentuh armornya.
"Maaf … dia jadi menghilang gara-gara aku menyentuhnya. Aku kira—" Zeta tertunduk dan merasa bersalah. Bersalah karena tidak bisa menyelamatkan orang yang pernah menyelamatkannya. Atau mungkin, belum?
"Aku mengerti niat baikmu. Tidak apa, ayo bantu aku mencarinya." menepuk bahunya singkat, Hyun-Jae berucap supaya Zeta tidak terus menerus merasa bersalah.
...----------------...
"Di mana … ini?" Araya bertanya pada dirinya sendiri, setelah tiba-tiba ia berada di tempat yang berbeda. Saat ini, dia berada di dalam ruangan tertutup berukuran 3×3 meter dengan jeruji di bagian depan.
Apakah ini penjara?
"Shiroi? Shiroi? Kau baik-baik saja?"
Tidak ada balasan dari sistemnya. Alat transformasi itu kembali seperti sedia kala—ke-reset—tanpa melepas inti element yang terdapat di dalamnya.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu di mana aku sekarang.
Araya memandang ruangan lorong melalui celah jeruji. Gelap. Lorong itu hanya diterangi obor yang terpasang di dinding setiap lima meter.
PLAK!
Araya seketika berbalik ke belakang setelah merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Selamat datang!" ucapnya dengan nada gembira.
Berbeda dengannya, Araya membelalakkan matanya setelah melihat wujud dari makhluk itu. Yah, dialah Darkness Swordman level dua. Bagaimana bisa Araya tiba-tiba berada di sini?
Andaikan Shiroi masih ada. Aku bisa memintanya menjelaskan semua ini, kata Araya dalam hati.
Araya masih terdiam untuk waspada pada gerak-gerik Darkness Swordman itu. Araya masih berdiri di depan jeruji ketika makhluk tersebut berdiri di tengah-tengah ruangan sembari melipat tangannya di depan dada.
"Jadi … ini? Anak dari orang itu, terlihat lemah." ucapnya meremehkan untuk memprovokasi.
Siapa yang dia maksud dengan 'orang itu'? Apakah ayah?
"Ternyata harapannya itu terlihat tidak bisa diandalkan. Bahkan ke luar dari sini saja tidak bisa. Haha!" lagi-lagi Darkness Swordman itu meremehkannya.
Sebenarnya, apa yang terjadi, sih?
Araya mengusap pergelangan tangan kirinya. Terlihat, alat transformasi itu berubah menjadi batu. Jika seperti itu, otomatis kekuatannya juga tidak bisa digunakan.
"Kenapa? Temanmu itu menjadi batu ya? Itu karena dia itu lemah! Yowai mo!" kali ini, Darkness Swordman itu berbicara dengan kata-kata yang sedang populer di dunia anime. Yowai mo, artinya lemah.
Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!
Sejurus kemudian, aura yang mengerikan terasa begitu pekat. Bahkan Araya langsung keringat dingin setelah merasakannya. Dia bisa merasakan kalau di belakangnya itu ada orang lain. Namun, ia enggan untuk berbalik dan melihatnya.
"Oh, Tuan Darkzero."
Araya membelalakkan matanya setelah Darkness Swordman di depannya itu menyebutkan nama 'Darkzero' seraya membungkukkan badan.
"Aku berhasil mendapatkan salah satu blacklist anda, Tuan."
"Hmm, bagus. Kamu boleh mengeksekusinya lima menit lagi. Jangan segan-segan. Buat dia lebih menderita daripada ayahnya." Darkzero berkata, setelah itu, ia berlalu meninggalkan mereka berdua.
Aku akan dieksekusi?
Araya meneguk salivanya. Tentu saja ia takut. Apalagi, saat Shiroi tidak ada bersamanya, ini terasa sangat berbeda.
Satu menit berlalu sejak kepergian Darkzero.
Dua menit.
__ADS_1
Tiga menit.
Empat menit.
Dan, lima menit.
"Hey, Nak … apa kau sudah siap mati?" celetuk Darkness Swordman itu setelah lima menit ia membiarkan ruangan itu sunyi.
"Sebelum kau mati, aku akan menjawab pertanyaanmu supaya kamu tidak menjadi arwah penasaran. Kau boleh bertanya apa saja." Darkness Swordman itu bertanya dengan nada angkuh, seakan-akan ia benar-benar bisa membunuh gadis itu dengan mudah.
"Kenapa, kau ingin membunuhku?" Araya bertanya sambil mengarahkan pandangannya ke bawah—bukan menunduk—hanya menatap ke bawah.
"Pertanyaan bagus. Karena kamu adalah putrinya Arga, namamu ada di dalam blacklist. Jadi, siapapun yang namanya tertera di situ, akan dibun—" dia tak melanjutkan kalimatnya, sebab ada seseorang yang muncul tiba-tiba di ruangan itu.
"Kak Steve? Kenapa—" Araya pun terkejut karena kedatangannya yang sangat tiba-tiba dan tanpa bisa ia prediksi.
Steve menggenggam pergelangan tangan kanan Araya, dan menariknya ke arahnya supaya tetap berada di dekatnya.
Dalam satu kedipan mata, kedua manusia berlainan jenis itu telah menghilang dari ruangan eksekusi. Tentu hal itu membuat Darkness Swordman tadi marah dan kesal.
"ARRGH! Sialan! Kenapa harus ada penyusup itu?!" Darkness Swordman itu menggunakan alat komunikasinya untuk menghubungi atasannya—Darkzero. "Tuan, ada penyusup! Target kita dibawa kabur oleh penyusup itu."
"Santai saja. Aku sudah menutup semua pintu ke luar dari kastil Darkness. Aku juga sudah membuat penghalang supaya orang selain Darkness Swordman tidak bisa keluar."
...----------------...
"Park Hana, kau baik-baik saja?" tanya Steve dengan cemas. Entah bagaimana bisa dia tahu kalau Araya berada di sini. Atau mungkin, Steve juga sempat disandera dan hendak dieksekusi?
"Iya, Kak. Aku baik-baik saja." Araya mengangguk. "Apa yang Kak Steve lakukan di sini?"
"Aku mencarimu. Kalau begitu, ayo kita segera keluar dari dimensi ini." ajaknya sambil menggandeng Araya untuk segera berlari keluar dari dimensi Darkness.
Namun, beberapa meter sebelum mereka sampai di gerbang perbatasan, terjadi suatu keanehan. Meskipun hanya tinggal beberapa meter lagi, tapi mereka tak kunjung bisa melewatinya. Mereka memang berlari, tapi terasa seperti berlari di tempat saja.
Tempat ini, kenapa tidak bisa dilewati? Steve bertanya dalam hati. Ia mulai memikirkan segala cara untuk bisa menembus dinding tak terlihat ini.
"Kak, apa alat transformasi milikmu baik-baik saja?" Araya menanyakan hal itu, sebab saat ini Steve masih menggunakan armornya. Berbeda dengan Araya yang sekarang dalam mode manusia.
"Iya, Zack baik-baik saja. Kenapa?" Steve menghentikan langkahnya setelah merasakan usaha mereka itu sia-sia.
"Shiroi menghilang." Araya mengangkat tangan kirinya, dan menunjukkan benda yang telah menjadi batu.
Steve membelalakkan matanya melihat benda itu. Bagaimana bisa?
"Hahahahahaha! Rupanya kalian ada di sini!"
"Darkzero?!"
__ADS_1
**To be continued …
Gimana menurut kalian? Cerita ini udah mau end lho** ^^