
[Return Arc - #3]
...----------------...
"Tunggu, apa?! Kau serius?" tentu awalnya Araya terkejut mendengar perkataan Hanny. Tapi yang dia dengar tidaklah salah. Hanny mengangguk antusias.
"Iya, kalau kamu sendirian nanti bisa bahaya. Bagaimana kalau nanti kamu terpeleset di kamar mandi? Urusannya bisa tambah panjang." ujar Hanny memberi alasan yang cukup masuk akal. Araya terdiam.
Selama ia terdiam, Hanny menggunakan teleportasinya supaya mereka berdua bisa berpindah. Araya sedikit tersentak setelah menyadari kalau dirinya sudah berada di dalam kamar mandi.
"Eh, kok sudah ada di sini?" tanyanya bingung.
"Tentu saja, hahaha.." balas Hanny sambil tertawa pelan. "Aku selalu serius dalam ucapanku." lanjutnya berucap.
"Jadi, kita mulai?" berdiri membelakangi Araya, Hanny berkata. Dengan cepat, Araya mencoba mencari alasan supaya Hanny tak jadi melakukannya.
"Tunggu, apa hal ini tidak melanggar aturan organisasi?" Araya bertanya setelah berhasil menemukan alasan. Tapi, Hanny tetap bersikeras.
"Tidak kok. Di sini tidak ada peraturan yang melarang hal ini. Toh kita sama-sama perempuan." dengan santai, Hanny menjawab. Araya menghela nafasnya pelan sambil mengiyakan.
"Kalau begitu, lepas bajumu, Araya. Aku sudah mulai melepas bajuku."
Araya terdiam mendengar ucapan Hanny. Dia benar-benar serius. Araya jadi merasa terkena batunya sendiri. Dia ingin mengulang waktu supaya dia tidak berkata-kata yang memancing terjadinya hal ini.
"Ah iya, aku lupa kalau kedua tanganmu tak bisa kau gunakan. Jadi, biar aku melepasnya." kata Hanny yang membuat Araya langsung menutup matanya.
"Araya, kalau begini, kamu jadi seperti mumi. Tubuhmu penuh dengan perban." ucap Hanny pelan setelah melihat banyak perban di tubuh Araya. Dia terluka cukup parah hari itu, terutama setelah dibenturkan dengan keras beberapa kali, membuat banyak tulangnya yang patah.
"Iya, tapi aku sudah baik-baik saja." balas Araya masih memejamkan matanya. Dirinya merasa tidak berani untuk membuka mata saat itu.
"Ehem. Punyamu lumayan juga, Araya." berdeham singkat, Hanny sedikit memalingkan wajahnya.
"Tidak juga, aku- Hee! Kau melihat apa Hanny?! Jangan lihat!" Araya yang baru menyadari arti dari ucapan Hanny tentu saja sangat malu. Sontak dia menyilangkan tangannya di depan dada.
"Aduh tanganku.." karena gerakan tiba-tiba itu, tentu membuat tangannya terasa sakit.
"Jangan khawatir Araya, di sini kan hanya kita berdua. Tidak ada Dae-Vin dan Zaaryan ataupun yang lainnya. Aku tidak akan memberi tau siapapun kok."
"Baiklah baiklah."
__ADS_1
Pada akhirnya, Araya hanya pasrah. Dia duduk di bak mandi yang sudah diisi air hangat. Perlahan tapi pasti, dia mulai menikmatinya. Jika beberapa tahun yang lalu dia hanya pernah melakukan itu bersama kakaknya, namun sekarang dia kembali melakukan ritual membersihkan diri itu dengan rekannya.
"Araya, kamu mau keramas?" tanya Hanny saat dirinya sudah memegang sebotol sampo.
"Boleh."
"Baiklah, permisi ya." meskipun terkadang sifatnya seperti itu, Hanny masih punya attitude. Dia permisi dulu sebelum menggosokkan sampo di rambut Araya. Araya hanya mengiyakan.
"Rambutmu lembut sekali Araya." dengan hati-hati Hanny melakukannya supaya tidak terkena luka yang ada di dahi sampai pelipis Araya.
"Hmm mungkin faktor genetik. Soalnya kakakku juga sama."
"Ah iya! Aku lupa membawa handuk!" ucap Hanny tiba-tiba setelah mereka berdua terdiam sejenak. Dengan panik, Hanny berdiri dan menatap sekelilingnya.
"Araya, di sini ada handuk berapa?" tanya Hanny pada Araya yang belum mengubah posisinya.
"Ada dua. Itu masih di gantung di sana." balas Araya sambil mengedikkan dagunya ke sudut ruangan itu. Kamar mandi tersebut memang lumayan luas. Jadi perlu melangkahkan kaki beberapa kali untuk bisa mengambil benda yang diinginkan.
"Oke, aku pinjam satu ya."
...----------------...
"Benarkah? Maaf telah merepotkan kalian waktu itu." Araya mengetikkan kalimat tersebut, kemudian menekan tombol send.
"Tidak apa. Aku sama sekali tidak keberatan. Aku benar-benar cemas waktu kamu tak sadarkan diri." balas orang itu yang tidak lain adalah Kim Dae-Vin. Meskipun tidak bisa bertemu secara langsung, mereka mengambil alternatif lain untuk chatting saja melalui ponsel pribadi mereka.
"Maaf juga telah membuatmu cemas. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja." Araya kembali membalas. Sedari tadi, senyumannya terus mengembang, meskipun pandangannya masih tak teralihkan dari layar ponsel.
"Araya, aku ingin bilang sesuatu." chat dari Dae-Vin yang itu membuat Araya mengubah ekspresinya. Ekspresi penasaran tentunya.
"Mau bilang apa?" tanya Araya masih fokus dengan ponselnya. Matanya terbelalak setelah melihat keterangan di bawah nama Dae-Vin yang menunjukkan kalau Dae-Vin sedang merekam suaranya. Dia akan mengirimkan pesan suara.
Tidak lama kemudian, hal yang membuat Araya penasaran akhirnya terkirim dan sampai padanya.
"Araya, sebenarnya aku menyukaimu. Bukan sebagai teman, tapi lebih dari teman." itulah isi pesan suara itu. Araya sedikit bingung dibuatnya. Dia berusaha mencerna apa yang dia baca.
"Maksudnya?" tanya Araya. Dirinya masih belum peka. Setelah chat-nya dibaca, Dae-Vin kembali mengetik.
"Ini aku sedang jujur. Aku Benar-benar serius itu. Tapi, kalau tidak kamu terima juga tidak apa-apa. Kita masih bisa berteman." dengan cepat, Dae-Vin segera mengirimkan chat-nya pada Araya. Langsung terbaca.
__ADS_1
"Ya ampun, apa aku sedang ditembak? Haaa ini pertama kalinya. Jadi bagaimana ini? Terima atau tidak ya?" gumam Araya setelah membaca chat dari Dae-Vin yang baru dia baca.
Araya membutuhkan waktu untuk berpikir. Hingga lima menit berlalu dan status Dae-Vin masih online.
"Maaf telah membuatmu menunggu." Araya kembali mengirim chat.
"Iya tidak apa-apa. Jadi bagaimana?"
Setelah ditanya bagaimana, Araya enggan untuk menyentuhkan pucuk ibu jarinya pada keyboard ponselnya. Dia menggigit bibir bawahnya, otaknya tidak bisa digunakan untuk saat ini.
"Aku.. Aku tidak tau. Sebelumnya, aku memang belum pernah yang seperti ini. Jadi, maaf ya." Araya mengirimkan pesan suara. Entah mengapa, dia merasakan perasaan janggal setelah mengirimkan pesannya.
"Iya tidak apa-apa. Aku mengerti kok. Ini pertama kalinya bagiku, jadi mungkin kurang berkesan." Tak sampai dua puluh detik, Dae-Vin telah mengirim balasan.
Di saat itu pula, Araya juga mendapat chat dari orang lain. Tertera di layar ponselnya, terdapat nama seseorang perempuan yang merupakan anggota medis di organisasi ini.
"Nona Araya, sudah waktunya untuk mengecek kondisimu lagi. Apa perlu kami yang ke sana?" begitulah isi chat-nya. Araya segera membalas dan otomatis terlupa sejenak chat-nya dengan Dae-Vin.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang ke sana."
Setelah itu, Araya kembali ke beranda aplikasi chat yang telah dia install dua tahun yang lalu. Dia kembali menekan chat-nya dengan Dae-Vin tadi. Dae-Vin masih online.
"Maaf Dae-Vin, mungkin sampai sini dulu ya. Aku harus segera cek kondisiku ke ruang kesehatan." Araya hendak mengakhiri chat-nya. Dae-Vin langsung membalas dengan mengiyakan dan kemudian langsung offline.
...----------------...
"Pelan-pelan.. Pelan-pelan.." gumam Araya saat dirinya sedang dalam perjalanan ke ruang kesehatan. Araya cukup kesuulitan berjalan, apalagi kedua tangannya juga terluka yang membuatnya tidak bisa digunakan untuk berpegangan. Tapi Araya bukanlah orang yang mudah menyerah. Setelah bersusah payah akhirnya dia telah sampai di depan pintu lift.
Dengan segera dia menekan salah satu tombol supaya pintunya terbuka. Tak butuh waktu lama, pintunya langsung terbuka. Saat itu pula, setelah dirinya masuk ke dalam lift, Araya baru menyadari kalau Dae-Vin juga berada di situ.
"Eh, Dae-Vin? Apa yang-" belum sempat Araya menyelesaikan kata-katanya, Dae-Vin sudah lebih dulu membalas meskipun belum tau hal apa yang akan Araya tanyakan padanya.
"Araya, tolong biarkan aku yang mengantarmu." ucapnya disertai senyuman tipis.
To be continued..
...----------------...
Di chapter selanjutnya, apakah Dae-Vin akan diterima? Menurut kalian gimana? Jujur author aja juga belum pernah, haha..
__ADS_1
Okelah, jangan lupa like dan komentarnya ya! Terima kasih..