
[Final Arc - #4]
...----------------...
"Aneh, sepertinya tidak ada Darkness Swordman yang menuju ke sini." memindai dari kejauhan, Henry berucap setelah beberapa kali memantau gerbang pembatas dimensi yang masih terbuka. Dari situ, tak terlihat satupun Darkness Swordman yang bergerak menuju lokasi tempatnya berada.
"Iya. Aku merasa ada yang tidak beres. Setelah ledakan tadi, sama sekali tidak ada kelompok Darkness Swordman yang berpencar selain pergi ke utara." Adli menanggapi ucapan rekannya. Ia sudah berada di situ sejak sepuluh menit yang lalu.
"Ledakan itu, di utara, 'kan?" Henry membalikkan badannya menghadap Adli. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia penasaran sekaligus khawatir. Dia sedang tidak menggunakan armor, jadi wajahnya bisa dilihat jelas.
"Benar. Di sana ada Eve dan Theo. Mungkin mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku akan coba menghubungi mereka."
Henry mengangguk setuju. Di sana memang ada kedua orang itu. Namun, bukan berarti mereka adalah saksi kejadian yang terjadi beberapa saat lalu. Mereka terlambat datang saat semua telah selesai.
"Theo, Eve, apa yang terjadi di sana? Kalian baik-baik saja?" tanya Adli melalui komunikasi. Sekilas terdengar suara 'krusuk-krusuk' ketika sinyal baru terhubung.
"Kami baik-baik saja. Tapi, ada yang aneh dengan rekan kalian!" balas Theo dari seberang.
Adli mengernyitkan dahinya. "Rekan kami? Yang siapa?"
"Park Hana. Dia sekarang mengendalikan element aneh yang menyebabkan ledakan besar tadi."
"Apa?!" ucap Adli dengan lantang karena terkejut. Element apa yang dia gunakan sampai bisa menyebabkan ledakan besar seperti itu? Pikirnya.
"Ada apa?" Henry bertanya sambil berjalan mendekat, setelah ia menyadari ekspresi Adli yang berbeda.
"Park Hana. Yang menyebabkan ledakan itu adalah Park Hana! Jangan-jangan dia sekarang adalah Darkness Swordman." Adli menerka-nerka. Pemuda itu menyimpulkan sebelum diberi penjelasan tambahan.
Henry memukul bahunya singkat. "Hey, jangan bercanda! Tidak mungkin dia menjadi musuh. Dia tidak akan mudah dibujuk oleh mereka."
"Iya, dia memang masih sekutu kita. Tapi, element yang dia gunakan sepertinya adalah milik Steve, element kegelapan yang digabung dengan element lain." tukas Eve. Ia segera memberi tahu mereka sebelum kesalahpahaman berlanjut.
"Steve? Kenapa dia memberikannya pada Park Hana? Apakah dia tidak membutuhkannya?" Henry pun merasa ada yang janggal. Di saat-saat genting seperti ini, anggota aktif Elemental tidak akan semudah itu memberikan alat transformasi mereka pada anggota lain. Setidaknya, untuk armor saja.
Yah, kabar tentang Steve memang belum banyak yang tahu. Termasuk mereka berdua, mereka belum mengetahui rekan anggota primer mereka yang sekarang sudah tidak bisa ikut berjuang lagi.
__ADS_1
"Kami tidak tahu. Dan satu lagi yang perlu kalian ketahui." Theo berujar, kemudian ia menghela napasnya.
Henry dan Adli memasang pendengaran sebaik mungkin supaya tidak melewatkan secuil pun informasi. Raut wajah mereka berubah serius.
"Pedang pusaka sendiri telah mendatangi Park Hana. Kami yakin kalau dia masihlah pejuang di pihak kita." perkataan dari Theo barusan membuat kedua pemuda itu ternganga. Pedang pusaka dikenal sulit untuk cocok dengan seseorang. Jika pedang tersebut sampai mendatangi seseorang, itu artinya Pedang Pusaka 'berminat' bertarung bersama orang yang dikehendaki.
"Lalu, bagaimana dengan Steve?" kali ini, Henry yang bertanya.
"Henry, aku dapat informasi baru." sistemnya tiba-tiba menyeletuk. Henry menatapnya masih dengan ekspresi yang sama.
"Apa itu?"
"Rekan primer kalian, dikabarkan ada yang tewas karena disiksa habis-habisan oleh Darkness Swordman."
Mendengar kabar buruk itu, Henry membelalakkan matanya. Ia tak percaya, anggota primer yang dikenal paling kuat, kini menjadi korban pertama yang tewas dalam tragedi ini.
"Tidak … mungkin …." ucapnya pelan, ia jatuh terduduk, tubuhnya jadi tidak bertenaga setelah mendengar kabar yang membuatnya 'kena mental'.
"Ya ampun. Ini benar-benar tak diharapkan." Adli juga barusan mendapat informasi itu dari sistemnya. Ia sama terkejutnya dengan Henry. Namun, Adli mencoba lebih tegar.
Adli mengulurkan tangan kanannya pada Henry yang terduduk lemas. "Ayo, kita harus membalas perbuatan mereka." tatapannya serius, masih dengan tangan yang terulur pada Henry. "Jangan biarkan dia mati sia-sia. Kita harus melanjutkan pertempuran ini, kemudian memenangkannya."
Setelah bangkit, mereka berdua segera bergerak menuju ke utara. Tempat yang seharusnya menjadi penghalang Darkness Swordman supaya tidak masuk ke kawasan markas pusat dan juga pemukiman.
...----------------...
Dengan langkah tergesa-gesa, Kim Dae-Vin berlari melewati lorong markas. Sengaja tidak menggunakan teleportasi untuk menghemat energi.
Pikirannya dipenuhi rasa cemas, sampai ia lupa bahwa ia belum sempat menanyakan kabar Araya. Bahkan menghubunginya pun belum ia coba.
Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan yang kini ramai orang berlalu-lalang. Dari balik pintu kaca, pandangan Dae-Vin tertuju pada seseorang yang terbaring di atas brankar. Bukan hanya itu, tubuhnya sudah ditutup dengan kain putih.
Melihat itu, Dae-Vin tak bisa berkata-kata. Kakinya melemas seketika, membuatnya terduduk di lantai yang dingin.
"Ryusei, jangan duduk di sini." kata salah satu anggota pasif yang bertugas dalam bidang medis.
__ADS_1
Dae-Vin masih terdiam, ia tertunduk. Matanya berkaca-kaca—ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ryusei, kau bisa mendengarku?"
"Hey, bukankah dia tidak akan mati semudah itu?" dengan suara yang agak serak, Dae-Vin berucap tanpa menatap lawan bicaranya.
"Dia siapa? Kalau Park Hana memang belum mati."
Kalimat itu berhasil menarik perhatian Dae-Vin seutuhnya. Sebuah harapan muncul dalam hatinya yang sebelumnya sempat menjadi lemah dan putus asa.
Ditatapnya orang itu dengan tatapan berharap dan juga penuh rasa penasaran. "Benarkah? Jadi dia adalah …." Dae-Vin menggantungkan kalimatnya, kemudian mengalihkan pandangannya ke dalam ruangan kesehatan.
"Dia Steve. Dia tidak bisa diselamatkan karena kehabisan darah akibat disiksa Darkness Swordman." jelasnya singkat, namun sedikit melegakan bagi Dae-Vin.
Dalam hati ia bersyukur, meski ia turut berduka karena kehilangan salah seorang rekannya. Ia segera berdiri, kemudian kembali melontarkan pertanyaan.
"Di mana Park Hana sekarang?"
"Dia kembali ke medan pertempuran, setelah tadi Steve sempat memberikan alat transformasi miliknya pada Park Hana."
Apa? Steve memberikannya? Dae-Vin tak habis pikir. Meskipun Steve telah berpulang, namun ia masih ingin membantu dengan cara memberikan alat transformasi itu pada orang yang menurutnya 'sanggup' menggunakannya.
"Baiklah, aku pergi. Terima kasih informasinya!" setelah mendapat kepastian, pada akhirnya, Dae-Vin pun kembali berlari meninggalkan markas pusat itu.
"Kyoya, tolong lacak keberadaan Araya." pinta Dae-Vin pada sistemnya. Ia tak ingin membuang-buang waktu. Sembari ia berlari, sistemnya mulai melacak posisi di mana Araya berada.
"Sekarang dia sudah berada di depan gerbang dimensi!" balas Kyoya setelah ia menemukan lokasi orang yang dicari.
Tidak ingin melewatkan hal yang lain, Dae-Vin segera berteleportasi ke sana. Tak sampai sepuluh detik, kini ia telah sampai di tempat itu.
Di sana, terlihat Araya berdiri di depan gerbang dimensi. Tatapannya kosong—menurut perasaan, bukan penglihatan. Di kedua tangannya, masih terdapat pedang pusaka itu.
Dae-Vin hanya menatap punggungnya dari belakang yang jaraknya sekitar lima meter. Sekilas ia memang tidak mengenalinya, namun, lokasinya menunjukkan kalau di depannya itu benar-benar Araya. Sehingga, tak ada alasan logis lagi baginya untuk ragu.
"Araya."
__ADS_1
**To be continued …
Terima kasih sudah membaca** ^^