Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 81


__ADS_3

[Primary Members Arc - #1]


...----------------...


Beberapa saat sebelumnya..


24: 00 : 03


24 : 00 : 02


24 : 00 : 01


24 : 00 : 00


23 : 59 : 59


"Hahahaha! Akhirnya, tinggal sehari lagi!" Ucap seseorang disertai dengan tawa yang keras. Dia sedang memantau timer waktu yang masih terus berubah setiap detiknya.


Saking senangnya, laki-laki berpakaian serba hitam itu sampai tidak menyadari kalau ada orang lain yang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuklah!" teriaknya dari dalam. Meskipun begitu, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi tingkat kebahagiaannya.


"Tuan Darkzero, saya ingin melapor bahwa segel Arga tingkat kekuatannya perlahan menurun." Ucapnya sambil memasang gestur hormat pada seseorang didepannya yang ternyata Darkzero.


"Oh ya? Sekarang tinggal berapa persen?" tanyanya sambil memandang salah satu Darkness Swordman yang masih dengan posisinya ketika memberi hormat.


"Sembilan puluh empat persen, Tuan."


"Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Baiklah, bersiaplah untuk rencana yang akan kita lakukan pada organisasi Elemental itu. Kita akan bersenang-senang dengan mereka selama mereka kuat. HAHAHAHA!" Beranjak dari duduknya, Darkzero berdiri sambil menatap ke jendela, kemudian kembali tertawa dengan keras.


"Baik, Tuan."


Darkzero memang sudah merencanakan semua hal ini. Dia memasang seringai sambil menatap langit dimensi kegelapan yang selalu gelap. Sehari lagi, mereka semua akan melancarkan serangan pembukaan pada para manusia yang mempunyai kekuatan Elemental.


Sejak jauh-jauh hari, Darkzero memikirkan dengan matang rencana ini. Ia membuat rencana dari A sampai Z. Banyak sekali. Ia juga dengan sabar menanti dan menahan diri terlebih dahulu untuk melakukan serangan untuk menghabisi mereka.


...----------------...


"Teman-teman, kabar buruk!"


Belum sempat rekan-rekan anggota primer bertanya alasan kenapa Henry terburu-buru, ia sudah lebih dulu bicara disaat napasnya masih belum stabil.


Mendengar dua kata, 'kabar' dan 'buruk', mereka berempat langsung memasang ekspresi serius. Tidak mungkin ketua mereka itu berbohong pada rekan sendiri.

__ADS_1


"Ada apa?" dengan nada yang masih datar, Lucas bertanya. Tapi semuanya tahu, kalau sebenarnya ia juga khawatir.


"Darkness Swordman.. Hah.. Mulai menginvasi dunia.."


"APA?!" Sontak, keempat rekan-rekannya terkejut mendengar penjelasan singkatnya. Begitupun dengan Araya. Dia tak habis pikir, kalau para Darkness Swordman itu akan mulai menyerang secepat ini.


"Iya, anggota tersier dan para senior kita langsung, hah..ditugaskan ke luar untuk menstabilkan, hah..keadaan di sana. Tes kita semua juga langsung dibatalkan." Henry berucap sambil menggunakan menarik kursinya sedikit ke belakang, kemudian mendudukinya.


"Hey, kenapa kau malah duduk? Apa kita tidak diberi tugas di tengah situasi mendesak ini?" Steve bertanya yang langsung dibalas gelengan oleh Henry. "Yang benar saja.."


"Iya, tapi kita harus menjalankan misi terakhir sebelum Darkness Swordman menguasai dunia." Setelah pernapasannya sudah kembali stabil, Henry mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya, kemudian meletakkannya di tengah meja. "Misi terakhir kita. Lima misi digabungkan sekaligus."


"Maksudnya, kita akan menjalankan lima misi dalam satu waktu?" Araya bertanya, sambil mencoba membaca surat tersebut yang terlihat terbalik.


"Benar sekali. Nanti malam kita akan memulai misinya."


"Kenapa malam?" Pertanyaan tersebut hampir diucapkan secara bersamaan oleh keempat rekan Henry. Ini juga pertama kali bagi mereka, memulai misi dari malam hari.


"Karena keadaannya mendesak. Kita tidak punya waktu untuk bersiap-siap."


"Lalu, siapa yang akan menjaga markas ini kalau kita pergi?" Suasana menjadi sunyi setelah Adli bertanya.


Henry menghela nafasnya pelan, "anggota sekunder kan ada, senior kita juga tidak semuanya bertugas."


Tiba-tiba, Araya teringat akan keadaan ibu dan kakaknya di rumah. Apakah mereka baik-baik saja di tengah situasi berbahaya ini?


"Ibu, kakak.. Kuharap mereka baik-baik saja." Dalam hati, Araya berucap sambil sekilas menundukkan kepalanya.


"Mereka baik-baik saja."


"Eh?" Araya langsung mengangkat pandangannya dan menatap Henry. Bagaimana dia bisa tahu apa yang Araya pikiran?


"Hehe, mungkin kalian terkejut. Aku bisa membaca pikiran orang lain."


...----------------...


Malam harinya, pukul 19.00 waktu setempat. Mereka berlima sudah berada di ruang keberangkatan. Ruangan yang akan menjadi saksi bahwa mereka rela meninggalkan markas untuk menjalankan misi sebelum kekacauan semakin parah.


"Apa kalian sudah siap?" Sembari membenarkan jas seragamnya, Henry bertanya pada rekan-rekannya.


"Siap!"


Mereka sama-sama menatap ke depan. Di depan mereka, ada sebuah pesawat berukuran sedang yang muat diisi sepuluh orang. Pesawat model terbaru buatan organisasi Elemental itu dilengkapi dengan senjata dan teknologi canggih. Pesawat juga dilengkapi dengan bagian yang mampu mengubah energi dari alam menjadi energi penggerak pesawat. Mereka akan menjalankan misi menggunakan pesawat selama tujuh hari tujuh malam. Kalau bisa, mereka harus lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.

__ADS_1


Mereka berlima sudah masuk ke dalam pesawat. Sebelum pintu tertutup, sekilas Araya melihat seseorang yang melambaikan tangannya ke arahnya. Seseorang yang sangat tidak asing, dia adalah Kim Dae-Vin. Araya tidak melihatnya dengan jelas karena pintu sudah tertutup kembali.


Saat ini, mereka berlima sudah berada di dalam kabin. Steve yang sudah duduk di kursi kemudi utama, dan juga Henry yang duduk di sebelahnya, ia yang mengatur bagian navigasi.


Sedangkan Araya, Lucas, dan Adli duduk di kursi belakang mereka sembari terus memantau keadaan sekitar dengan tab yang tidak terlepas dari genggaman mereka.


Pesawat telah lepas landas dan mengudara sejak beberapa menit yang lalu. Tidak terasa saja, kemampuan Steve dalam mengemudikan pesawat jauh lebih baik daripada Araya, mulus sekali, tidak terasa guncangan.


Araya menggigit bibir bawahnya, pandangannya tertuju pada jendela. Di situ, terlihat lampu yang berkelap-kelip di bagian sayap pesawat. "Kenapa perasaanku cemas ya?" Tanyanya dalam hati. Dia menatap ke sana karena bosan, layar yang yang dia pegang masih menampilkan kondisi yang sama. Tidak ada perubahan dalam data-data yang termuat.


"Tujuan pertama, ke Arktik." ucap Henry memecah keheningan, meskipun pandangannya masih terfokus pada komputer navigasi di depannya.


"Arktik, Kutub Utara?" Araya menanggapi dengan pertanyaan. Daripada membiarkannya seperti bicara sendiri, begitu lebih baik menurutnya.


"Ya, di sana kita bisa melihat aurora." balasnya lagi. Kali ini, Araya terdiam.


Kutub Utara? Pasti akan sangat dingin, yah meskipun masih lebih dingin di Antartika sana. Araya bahkan belum pernah melihat salju yang benar-benar nyata dari alam, bukan buatan manusia.


"Ehm, masih jauh kan?" Araya bertanya setelah beberapa detik terdiam. Hanya untuk memastikan. Araya itu tidak tahan dingin. Setiap musim hujan, setidaknya sekali dalam dua bulan Araya terserah flu.


"Masih, tapi kemungkinan kita akan sampai saat tengah malam." jawabnya lagi tanpa menoleh ke belakang.


Tengah malam yang dingin, enaknya tidur kan? Tapi, tidak dengan mereka yang diharuskan menjalankan misi di tengah malam yang dingin membeku. Tidak, suhunya pasti sudah melebihi titik beku.


...----------------...


"Sudahlah, mereka pasti baik-baik saja." Menepuk pelan pundak Dae-Vin, seseorang dengan ban lengan bertuliskan 'Kenneth' berucap sambil tersenyum tipis pada Dae-Vin yang murung karena Araya harus pergi untuk menjalankan misi.


Sekilas, Dae-Vin menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku mengerti perasaanmu, aku juga pernah merasakannya kok." Ucapnya lagi sambil menepuk bahunya beberapa kali, kemudian berbalik dan berjalan beberapa langkah.


Dae-Vin ikut berbalik, menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Dia ingin menanyakan sesuatu, "tunggu!"


"Ada apa, Ryusei?" Kembali membalikkan badannya, lelaki terpaut empat tahun dari Dae-Vin itu menatapnya dengan tatapan bertanya.


"Apa temanmu itu bisa dipercaya? Dan juga, rekan-rekan Park Hana-" itulah yang Dae-Vin cemaskan. Araya itu perempuan, dan masih kecil. Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa?


"Hey, kamu tidak perlu khawatir. Mereka berempat pasti akan melindunginya seperti adik sendiri."


To be continued..


Update lagi nih man-teman.. Jangan lupa like dan komen-nya ya! Terima kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2