Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 62


__ADS_3

[Desert Mission Arc - #2]


...----------------...


"Apakah ini.. Tambang minyak bumi?" bisik Araya sambil sekilas mengarahkan wajahnya pada Dae-Vin, meskipun pandangannya masih tertuju pada tempat asing tersebut.


"Sepertinya iya. Bagaimana kalau kita mencoba bertanya pada orang-orang di sana?" tercetus sebuah ide ketika Dae-Vin masih memandang ke arah para pekerja tambang yang bekerja di tempat itu. Di situ terdapat sekitar tiga puluh orang. Dia ingin mencoba bertanya untuk mendapatkan sesuatu petunjuk yang mungkin dapat membantu.


"Hmm terserah kamu. Aku akan ikut saja." balas Araya.


Setelah itu, mereka berdua menampakkan diri mereka. Mencoba menghampiri salah satu pekerja yang sedang beristirahat sejenak.


"Permisi Pak, boleh kami bertanya sesuatu?" tanya Dae-Vin pada orang itu setelah mereka berdiri berhadapan dengannya.


"Eh? Kalian ini siapa? Bagaimana anak-anak seperti kalian bisa menemukan tempat ini?" tanyanya keheranan sembari melepas topi pelindung kepala yang sedari tadi dia pakai.


Sejenak, Araya dan Dae-Vin terdiam. Pria itu mengamati mereka berdua dari atas sampai bawah.


"Aah.. Aku mengerti. Kalian anggota Elemental Asia ya?" tanyanya setelah mendapat sedikit kepastian. Dia bisa menyimpulkan setelah melihat alat transformasi yang terpasang pada masing-masing tangan kiri mereka.


"Iya Pak. Anda tau organisasi itu?" Dae-Vin bertanya dengan antusias, apalagi setelah mengetahui kalau orang itu sudah tau dari mana mereka berasal. Mungkin saja dia punya petunjuk.


"Tentu saja. Generasi sebelumnya pernah datang ke sini juga. Dan mereka berempat membantu kami untuk membangun tambang ini supaya lebih aman." jelasnya. Araya dan Dae-Vin memasang wajah penasaran.


"Generasi sebelumnya berarti kan generasi kedelapan. Tapi, apa maksudnya berempat?" kata Araya dalam hati. Itu memang pertanyaan yang wajar. Elemental generasi kedelapan saat ini hanya tiga anggota yang mereka ketahui.


"Jadi, ada apa kalian datang ke mari?" tanyanya memecah lamunan mereka berdua.


"Eem, itu Pak. Apa Anda mengetahui tentang batu element di gurun ini?" tanya Araya setelah sejenak dia terlupa akan kalimat pertanyaan itu.


"Aku hanya tau sedikit. Di saat para senior kalian datang ke sini, mereka bilang mereka juga sedang mencari batu element itu. Tapi mereka belum menemukannya. Jadi, aku tidak tau apakah batu element tersebut bisa ditemukan atau tidak." jelasnya agak panjang lebar.


"Jadi, bagaimana?" bisik Araya pada Dae-Vin yang masih terdiam untuk mencerna kalimat pernyataan barusan.


"Tunggu sebentar." balas Dae-Vin sembari sedikit mengangkat pandangannya.

__ADS_1


"Kalian, generasi keberapa?" tanya laki-laki tadi pada mereka berdua.


Sontak, mereka pun menjawabnya bersamaan, "generasi kesembilan."


"Ooh, aku mengerti. Kalau boleh tau, siapa nama kalian?" tanyanya lagi. Kali ini, dia menanyakan nama.


"Saya Araya."


"Kim Dae-Vin."


Sembari menyebutkan nama, mereka pun berjabat tangan.


"Namaku Hendra. Aku bekerja di sini sejak sepuluh tahun yang lalu." ucapnya memperkenalkan diri.


"Tunggu, kalian hanya berdua?" memandang ke belakang Araya dan Dae-Vin, Hendra bertanya pada mereka. Tidak mungkin generasi ini hanya terdiri dari dua orang remaja saja.


"Yang ke sini hanya kami Pak, dua orang teman kami sedang mencari ke tempat lain." jawab Araya. Sekilas dia teringat pada kedua rekannya yang lain. Apakah mereka sudah mendapatkan petunjuk atau belum ada perkembangan?


"Jadi begitu. Kalian ingin lebih menghemat waktu dan tenaga rupanya. Tapi menurutku, itu bukan pilihan yang bagus. Kalau kalian berpencar, dan jika salah satu dari kalian bertemu Darkness Swordman, bisa bahaya nanti. Apalagi kalian pasti masih junior kan?" ucapnya memperingatkan.


...----------------...


"Haaah.. Kenapa sudah tengah hari saja sih? Perasaan tadi masih jam delapan." kata Hanny dengan nada malas. Dia masih berjalan, hanya saja dengan sedikit menundukkan badannya dan kedua tangannya menggantung. Terasa kakinya yang begitu berat dan agak panas.


"Iya. Jika sudah tengah hari begini, tidak ada tempat untuk kita berteduh sebentar." balas Zaaryan dengan suara yang tak kalah malas. Mereka berdua sudah kelelahan karena berjalan tanpa henti sedari tadi. Tempat itu juga sudah panas sejak tiga jam yang lalu. Padahal sekarang baru jam sebelas, menjelang tengah hari.


"Entah di mana Araya dan Dae-Vin sekarang.. Tapi sepertinya mereka baik-baik saja." masih lanjut berjalan, Hanny mencoba mengecek sinyal dari kedua rekannya yang berpisah dengan mereka.


"Mereka berada di tempat yang sama. Tidak ada pergerakan juga, apakah mereka menemukan tempat yang bagus untuk istirahat?" lanjut Hanny bertanya pada dirinya sendiri. Dalam pikirannya mulai muncul gambaran tempat yang rindang dan teduh, serta ada sumber air bersih yang airnya bisa diminum secara langsung.


"Sepertinya menyegarkan kalau kita minum es kelapa." menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya, Zaaryan juga mulai berimajinasi. Berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh Hanny, dia malah memikirkan jenis minuman segar seperti es kelapa yang dicampur dengan gula merah.


"Hey! Jangan bicara yang tidak-tidak! Aku jadi tambah haus nih!"


"Kalau haus tinggal min-" belum sempat Zaaryan menyelesaikan kalimatnya, pandangannya telah menangkap suatu objek yang mungkin bisa membantu mereka.

__ADS_1


Tak jauh dari sana, terdapat danau kecil dengan beberapa pohon di pinggirannya.


"Waah! Ada danau! Akhirnya!" sontak Hanny berlari ke tempat itu. Begitupun dengan Zaaryan, mereka berlari tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.


Saat mereka semakin dekat, danau itu perlahan lenyap tanpa jejak. Mereka melempar pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan danau tersebut. Namun nihil, hanya ada hamparan pasir di sana.


"Ke mana? Ke mana perginya?"


"Ternyata itu hanya fatamorgana.." menghembuskan nafas kecewa, Zaaryan tertunduk lesu.


"Ah iya, kamu benar Yan. Kita kan sudah pernah diperingatkan kalau akan ada fenomena ini saat di gurun. Kenapa aku bisa lupa ya?" ucap Hanny sambil berjongkok dan mengarahkan kedua tangannya ke depan. Dia menundukkan kepalanya, membiarkan keringat masih membasahi tengkuk dan punggungnya.


"Kalian ingin tempat yang lebih baik?" tiba-tiba, terdengar suara seorang perempuan di belakang mereka. Dengan lambat mereka berdua pun berbalik dan menatap siapa orangnya.


"Iya. Di mana tempatnya?" tanya Zaaryan langsung to the point. Seharusnya, mereka bertanya siapa orang itu terlebih dahulu.


"Di sini." jawabnya singkat. Dalam satu kedipan mata, tempat itu berubah jadi seperti lembah dengan air terjunnya yang lumayan tinggi. Padang rumput yang terlihat sejauh mata memandang. Pelangi dan awan tipis menjadi penghias langit kala itu.


"Waaah. Bagaimana mungkin? Tempat ini seketika menjadi sejuk." ucap Hanny takjub sembari memandang sekelilingnya. Benar-benar berbanding terbalik dengan tempat sebelumnya. Jika di gurun tadi gersang dan panas, maka di tempat ini terasa sejuk. Seakan tempat ini belum pernah dijamah oleh manusia dan sama sekali tidak terdampak pemanasan global.


"Tentu saja. Kalian menikmatinya? Silahkan kalian kalau mau beristirahat di sini." ucapnya lagi, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Yeey! Untuk sementara waktu akhirnya kita tidak akan panas-panasan!" seraya melompat-lompat kegirangan, Hanny berjalan ke arah sungai yang berair jernih. Saking jernihnya, bahkan dasar sungainya saja dapat terlihat dengan jelas.


"Tunggu Hanny! Jangan ceroboh!" saat hendak mencegah tindakan ceroboh Hanny, Zaaryan malah diabaikan oleh Hanny.


Memang ada benarnya. Sejak kejadian tadi, Zaaryan merasa ada yang aneh. Perasaannya sama seperti saat dia terjebak bersama Araya di dimensi lain saat pencarian batu element di planet Mars.


Dia punya firasat buruk. Sesuatu yang tidak terduga akan segera terjadi. Tapi, apakah perkiraannya benar? Siapakah wanita tadi sebenarnya?


To be continued..


...----------------...


Sebenarnya, siapa wanita itu? Mungkinkah dia jahat? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan di chapter selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2