
[Test Arc - #2]
...----------------...
Setelah melakukan tes IQ dan tes EQ, Araya sedang bersama Hanny di ruangan perpustakaan. Mereka mencoba melakukan persiapan sebelum tes berlangsung, supaya nanti bisa mendapatkan hasil yang lebih bagus.
"Eum … Hanny," panggil Araya sambil menoleh ke arah Hanny dan mengalihkan pandangan dari buku yang dia baca. Dia ingin memulai topik pembicaraan.
"Iya?" Hanny menyahut sambil mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya juga.
"Kira-kira, apa saja yang akan diuji saat tes bakat nanti?" Araya bertanya seraya menutup buku yang sudah dia baca, kemudian meletakkannya dan mengambil buku yang tak jauh dari tempatnya duduk tanpa harus berdiri.
"Hmm, setahuku … tes bakat di sini itu seperti pelajaran di sekolah." jawab Hanny sedikit ragu.
Kenapa seperti pelajaran di sekolah?
"Kenapa begitu?" Araya bertanya lagi.
"Karena mata pelajaran di sekolah itu bisa mencari tahu bakatmu. Setiap orang kan pasti punya bidang pelajaran yang paling mereka gemari dan sukai. Mereka juga mendapat nilai bagus di pelajaran itu, berarti itulah bakat mereka. Kau mengerti?" tanya Hanny setelah mengakhiri penjelasannya.
"Iya, aku mengerti. Hanny, apa mapel kesukaanmu?" Araya bertanya lagi, kali ini tentang kesukaan.
"Emm, aku suka pelajaran fisika, terutama jika ada tentang luar angkasa. Kau sendiri?"
"Aku suka mapel biologi. Ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup."
"Pasti kau sudah sangat paham ya, kenapa makhluk hidup itu bisa bertambah banyak." ucap Hanny, Araya membelalakkan matanya.
Bagaimana dia bisa tau?
"Ayolah, jangan dianggap serius ya. Aku hanya bercanda kok. Hehe …." Hanny terkekeh pelan. Ternyata dia hanya bercanda, Araya mungkin sudah berpikir terlalu jauh pada suatu hal. Dia pun mencoba untuk kembali berpikir positif.
...----------------...
Sekitar jam dua siang—kurang sedikit—Araya berada di ruangannya. Melihat-lihat tentang data-data yang tersimpan di komputer yang tersedia di ruangannya. Ada banyak sekali. Oh iya, di setiap ruangan para anggota 'Elemental Organization of Asia', tidak hanya terdapat satu gadget, melainkan lebih dari tiga. Ada komputer, ada tablet, ada ponsel juga untuk cadangan, dan lain sebagainya. Di sana juga tersedia WiFi gratis. Meskipun begitu, mereka juga diberi akses kuota internet, untuk berjaga-jaga ketika mereka sedang berada di luar markas.
"Hmm, banyak sekali dokumen mereka. Ada sejarah organisasi ini, ada macam-macam kegiatan di markas, ada penjelasan tentang fasilitas di sini juga. Tapi, kenapa tidak ada tentang biografi para anggota Elemental Asia?" ucap Araya pelan sambil menggerakkan mouse pada komputer itu, matanya menatap layar komputer di depannya yang telah dilapisi dengan anti radiasi dan anti blue light.
__ADS_1
"Selamat siang seluruh anggota! Teruntuk anggota generasi sembilan, diharapkan untuk segera berkumpul di ruangan belajar ya. Sampai bertemu nanti!" ada pesan masuk dari Kak Aria. Mereka diminta untuk berkumpul di ruangan belajar, tempat mereka melakukan tes tadi pagi. Sepertinya, tes ketiga akan segera dimulai.
"Oh, baiklah. Aku akan ke sana. Mungkin aku harus menemui Hanny terlebih dahulu supaya bisa bersama-sama?" Araya segera mematikan komputer itu, kemudian beranjak dari bangku dan pergi ke luar ruangannya.
Di depan ruangannya, adalah ruangannya Hanny. Araya mencoba menghampirinya dengan cara menekan tombol berwarna kuning yang fungsinya sama seperti bel. Beberapa saat setelah Araya melakukan hal itu berkali-kali, tidak ada respons dari temannya itu.
"Hanny ke mana, ya? Apakah dia sudah pergi duluan ke ruangan belajar?" batin Araya. Kemudian, muncullah sebuah ide dalam benaknya.
"Mungkin aku harus mencoba menggunakan alat teleportasi ini? Baiklah." Araya memutuskan untuk mencoba menggunakan kekuatan dari alat teleportasi itu. Meskipun, dia belum mencobanya ketika kemarin setelah acara penyerahan alat kendali elemen.
Pertama-tama, Araya menekan tombol berwarna hijau yang terdapat pada alat kendali teleportasinya, kemudian berucap.
"Bawa aku ke ruangan belajar." ucap Araya. Tapi, tanpa dia sadari, dia sudah melepaskan tombol hijaunya sebelum dia menyebutkan kata 'belajar' yang merupakan sambungan dari kata ruangan yang dia maksud. Alih-alih tiba di ruangan belajar, Araya …
"Eh?! Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Dae-Vin terkejut setelah Araya muncul di ruangannya secara tiba-tiba saat dia sedang berdiri di depan cermin sambil mengenakan hoodie berwarna hitam.
"M-maaf, aku … aku benar-benar tidak sengaja!" ucap Araya meminta maaf sambil menunduk beberapa kali setelah mendapati dirinya malah sampai di ruangan pribadi Kim Dae-Vin.
Saat Araya hendak berlari menuju pintu, Dae-Vin mencegahnya dengan cara menggunakan elemen airnya untuk membuat lantainya menjadi basah.
"Jelaskan padaku, bagaimana kau bisa di sini?" tanya Dae-Vin sambil memberinya tatapan dingin yang menusuk.
"A … aku mencoba untuk menggunakan teleportasi ke … ke ruangan belajar." jawab Araya agak gugup. Tubuhnya mulai gemetar akibat hawa dingin yang mulai dia rasakan.
"Kenapa kau sampai di sini? Apa kau sengaja?" tanya Dae-Vin lagi.
"Aku benar-benar tidak sengaja. Sungguh! Terserah saja kalau tidak percaya," jawab Araya sambil mulai berdiri untuk keluar dari ruangan. Tapi, hal tak terduga terjadi lagi.
"Tunggu dulu!" ucap Dae-Vin sambil menarik pergelangan tangan kiri Araya.
"Dengarkan aku, kalau sampai hal seperti ini kembali terulang, aku tidak akan segan-segan untuk …." kata Dae-Vin sambil mengeratkan tangan kanannya yang menggenggam tangan kiri Araya.
"Tolong lepaskan. Iya-iya, aku tidak akan ceroboh lagi. Aku … aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Araya gugup. Dia menyesal telah ceroboh menggunakan kekuatan teleportasi dengan asal. Setelah itu, Dae-Vin melepaskan Araya.
"B … baiklah, aku pergi." ucap Araya, kemudian berlari ke luar dari ruangan Dae-Vin.
"Kenapa dia terlihat ketakutan? Padahal aku tidak seserius itu. Dan kalau terjadi lagi, mungkin aku tidak akan melakukan apa-apa padanya." kata Dae-Vin dalam hati setelah Araya ke luar dari ruangannya. Dia sudah memaafkan Araya. Dan yang tadi itu, dia tidak serius. Meskipun berhati dingin, sebenarnya dia itu orang yang tidak tegaan.
__ADS_1
...----------------...
Sesampainya di ruang belajar, pintu terbuka secara otomatis setiap ada orang yang akan masuk. Semua pintu di markas itu juga sama, otomatis. Araya langsung masuk saja, di sana hanya ada Hanny dan Zaaryan yang duduk di bangku mereka masing-masing, sambil bicara sedikit.
"Maaf aku terlambat." ucap Araya setelah memasuki ruangan.
"Kau tidak terlambat kok, Araya. Maaf, tadi aku sudah duluan." balas Hanny sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Iya, tidak apa." jawab Araya. Setelah itu, Hanny jadi terpikir oleh satu pertanyaan. Yaitu …
"Oh iya, kau dari mana Araya? Kenapa dari arah kanan? Bukankah kau tadi ada di ruanganmu?" tanya Hanny setelah tersadar bahwa Araya datang dari arah kanan pintu. Dia bisa tau karena di ruangan sana juga dipasangi jendela berupa kaca yang agak gelap. Jika dari ruangan Araya atau Hanny, maka mereka akan datang dari arah kiri.
"Emm, aku … tersesat." jawab Araya asal dan ragu-ragu. Dia juga memikirkan jawaban, jika Hanny bertanya padanya lagi. Namun tiba-tiba …
"Dia tidak sengaja masuk ke ruanganku." ucap Dae-Vin tiba-tiba dari arah belakang Araya. Ya, sedari tadi, Dae-Vin berjalan di belakangnya Araya, namun dia tidak menyadarinya.
"Apa?!" tanya Hanny dan Zaaryan dengan kompak.
"Araya, apa itu benar?" tanya Hanny dengan ekspresi terkejut plus penasaran.
"Bagaimana bisa?" tanya Zaaryan, jiwa kepo-nya juga sudah meronta-ronta sepertinya.
Di saat itu pula, Dae-Vin sudah berada di bangkunya. Dia juga menatap Araya dengan wajah datar. Araya tidak sengaja menatapnya. Dia tidak mengerti arti dari tatapan Dae-Vin. Di kehidupan sehari-harinya, Araya memang sedikit tidak peka, namun untuk saat ini, Dae-Vin memang tidak memberi kode apa-apa.
"I … iya benar. Ini pertama kalinya aku menggunakan teleportasi. Tadinya aku mau ke sini." jawab Araya sambil memelankan suaranya, tapi ketiga orang lain yang berada di sana masih dapat mendengarnya.
To be ****continued****..
...****************...
Author note :
Terima kasih sudah membaca:)
Jangan lupa like, komen, favorit ya. Semoga betah..
See you..
__ADS_1