
[Final Arc - #1]
...----------------...
Araya membuka matanya, setelah merasakan hembusan angin yang begitu kencang. Di sekelilingnya, tak terlihat ada bangunan sama sekali. Di tempat ini, tidak ada manusia lain selain dia.
Tunggu, ini di mana? Pikirnya. Ini tempat yang begitu asing bagi Araya. Ia sama sekali belum pernah berkunjung ke sini.
GREB!
Seseorang memegang pundaknya dari arah belakang. Sontak, Araya membalikkan badannya. Firasatnya kalau ia sendirian rupanya tidak benar. Masih ada orang lain di sini.
"Eh? Siapa kalian? Kenapa kalian mirip denganku?" refleks Araya melangkah mundur. Ia terkejut melihat dua orang yang memakai dress putih yang benar-benar mirip dengannya. Saking miripnya, mereka sudah melampaui kata 'kembar'.
"Kami adalah kamu. Araya Putri." kata salah satu dari mereka. Sebut saja, dia Araya yang pertama.
Menatap mereka berdua dengan bingung, Araya kembali melontarkan pertanyaan. "Hah? Aku tidak mengerti maksud kalian."
"Lihatlah ke bawah." ucap Araya yang kedua seraya menunjuk tepat ke arah bawah mereka.
"B—bagaimana bisa aku ada di sini? To—long turunkan aku dari sini." seketika kedua kakinya melemas. Ia terduduk dan mencoba berpegangan supaya tidak jatuh.
Yah, dia memang tidak jatuh. Di bawahnya ada hamparan laut biru yang sangat luas dan dalam. Padahal tadi tidak ada apa-apa, dan tiba-tiba bisa seperti ini. Dia seperti sedang berdiri di atas kaca yang jernih dan tebal, dan dibawahnya ada laut.
"Ini adalah alam bawah sadarmu. Kamu tak akan jatuh." balas Araya yang kedua. Berharap kalau dirinya di depannya itu bisa berdiri dengan normal seperti tadi.
Mendengar tiga kata, 'alam bawah sadar' Araya akhirnya mulai mengerti. Di tempat seperti ini, ia bertemu dengan dirinya sendiri.
Perlahan, ia mulai menegakkan badannya lagi. Berdiri tanpa takut terjatuh. Ditatapnya kedua orang di depannya itu dalam-dalam.
"Kita bertiga sama. Sama-sama punya nama yang sama, tubuh yang sama, sifat yang sama. Kamu adalah Araya yang terkahir." tutur Araya yang pertama sambil selangkah melangkahkan kakinya ke depan.
"Karena Araya punya tiga nyawa, aku yang terakhir?" menunjuk dirinya sendiri, Araya bertanya meminta penjelasan.
Mereka berdua mengangguk.
"Sekarang, sudah saatnya kamu menjalankan tugasmu. Tugas kami sudah berakhir." kata Araya yang pertama.
Di saat mereka berdua akan berbalik, Araya langsung mencegahnya. "Tunggu!"
Seketika mereka berdua mengurungkan niat sejenak, menatapnya dengan datar.
"Aku … aku masih perlu penjelasan."
"Kami berdua sudah mati. Tinggal kamu yang tersisa. Kamu adalah nyawa terakhir." kata Araya yang kedua, masih sambil menatapnya.
"Iya, kami berdua sama-sama mati akibat tertusuk pedang. Karena kamu yang terakhir, berusahalah untuk tetap hidup. Kamu masih punya orang yang harus kamu bahagiakan. Bersyukurlah kamu karena sebelumnya bukan orang biasa." timpal Araya yang satunya.
__ADS_1
Setelah mengatakan beberapa kalimat itu, mereka berdua perlahan menghilang. Menjadi serpihan-serpihan kecil berwarna putih yang lama-kelamaan lenyap menyatu dengan udara.
...----------------...
CPRAT!
CPRAT!
CPRAT!
Tak jauh dari tempatnya berada, terdengar suara cambukan. Masih dalam keadaan setengah sadar, Araya menatap pedang di depannya yang hanya tinggal pegangannya saja—tanpa bilah.
Kesadarannya langsung pulih setelah tahu kalau tubuhnya sudah baik-baik saja seperti sediakala. Kedua tangan dan kakinya juga sudah tidak terikat oleh rantai. Di bawahnya, samar-samar terlihat seperti ada bekas lelehan besi.
"Apa … yang sebenarnya terjadi?" gumamnya dengan suara yang agak serak.
"Ups! Aku tak sengaja menusukmu."
Mendengar suara itu, Araya langsung berlari mendekati jeruji, mencoba melihat apa yang terjadi. Di bilik yang bersebrangan dengannya, terlihat ada empat orang. Tiga Darkness Swordman dan seorang laki-laki yang menjelang dewasa.
Betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di depannya. Adegan penyiksaan yang seharusnya tidak boleh ia lihat. Namun, sudah terlanjur. Firasatnya mengatakan kalau orang itu memerlukan bantuannya.
"Kak Steve …." masih dengan mata yang terbelalak, ia memandang Steve yang kini tengah disiksa oleh para Darkness Swordman. Ruangan itu sekarang jadi seperti ruangan yang dia tempati saat ini. Genangan darah ada di mana-mana. Bahkan suara Steve tidak terdengar.
"Araya, kamu harus menolongnya."
"Shiroi?"
"Iya, ini aku. Kamu merindukanku ya?"
"Nanti kita bahas itu. Sekarang ayo kita pikirkan bagaimana caranya menolong Kak Steve?"
"Hey, sebenarnya kekuatan element-mu sudah berkembang."
"Maksudmu?"
"Inti element di sini sudah berkembang menjadi element tingkat atas. Semuanya digabungkan, dan kemudian menjadi element Rigel."
Rigel sendiri sebenarnya adalah nama bintang. Lebih tepatnya, Rigel adalah bintang paling terang dalam rasi bintang Orion.
"Aku masih tidak mengerti."
"Kau ingat kenapa kamu tidak merasa dingin ketika Steve terkena hipotermia? Itu adalah efek element Rigel, sebut saja element panas. Lebih panas daripada element api."
"Ah, jadi begitu. Baiklah, aku punya rencana. Shiroi, aku butuh armor."
"Siap!"
__ADS_1
Setelah memakai armornya, Araya segera menggunakan element terbarunya untuk mengalahkan Darkzero. Namun, ia terlebih dahulu menyelamatkan rekannya.
Ia menggunakan element Rigel itu untuk melelehkan besi jeruji supaya bisa keluar. Element itu juga ada hubungannya dengan tiga bilah besi yang meleleh tadi.
Element-nya begitu panas. Bahkan tak perlu waktu lima detik untuk melelehkannya, karena ia menggunakannya dalam keadaan sadar dan terkendali.
"Hentikan!" teriaknya setelah ia berdiri tepat di depan bilik penyiksaan tempat Steve. Seketika suaranya itu berhasil membuat keempatnya menoleh ke arahnya.
"Hah?! Bagaimana bisa?"
"Sialan anak ini!"
"Seharusnya ia sudah mati."
"Park … Ha—na." Steve mencoba memanggilnya, namun suaranya tercekat meskipun tidak terasa sakit.
"Hentikan semua ini!" tanpa menunggu lama lagi, Araya melakukan hal yang sama untuk melelehkan jeruji itu. Ia segera masuk dan …
"Pergilah, Park Hana …." ucap Steve lemah. Tubuhnya sudah tidak bisa berdiri lagi, meski ia sudah berusaha keras untuk menegakkan badannya.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu, Kak!" Araya bersikeras. Ia mencoba secepat mungkin membuka rantai pengekang yang terpasang di tangan dan kaki Steve.
Tanpa Araya sadari, mereka bertiga hendak menyerang dirinya. Mereka mempersiapkan pedang untuk menikamnya.
"Awas!" Steve yang mengetahui hal itu segera bertindak. Saat Araya lengah, ia berniat menyelamatkannya. Steve langsung mendekapnya dan …
JLEB!
Ketiga pedang itu sekarang telah tertancap di punggung Steve, mungkin sampai menembus paru-parunya. Darah langsung mengalir membasahi tubuhnya. Ia jadi kesulitan bernapas karena paru-parunya telah terhunus pedang. Hidungnya juga mengeluarkan darah karena hidung dan paru-paru merupakan bagian dari sistem pernapasan.
Dekapannya mengendur, Araya langsung tahu apa yang terjadi. Ia duduk dan mencoba membantu laki-laki itu.
"KETERLALUAN KALIAN!" teriaknya lagi dengan lebih keras. Tanpa bisa ia kendalikan, element-nya lepas kendali dan membuat apapun yang ada disekitarnya meleleh layaknya es yang dipanaskan. Namun, Steve baik-baik saja karena ia bukan target Araya.
Setelah urusan dengan mereka bertiga beres, Araya segera bangkit dan merangkul Steve. Berniat ke luar dari dimensi ini dan membawanya ke tim medis.
"Bertahanlah, Kak. Aku akan membawamu keluar dari sini." ucap Araya pelan, berharap Steve masih bisa mendengarnya meski ia tahu kalau sekarang Steve sudah kehilangan kesadarannya.
**To be continued …
Apakah mereka berdua akan baik-baik saja?
Nantikan di chapter selanjutnya~
Terima kasih sudah membaca chapter ini.
Btw nggak nyangka, udah final arc aja nih**:)
__ADS_1