
[Test Arc - #4]
...----------------...
Keesokan harinya, adalah hari kedua tes, sekaligus hari ketiga Araya sejak Araya menjadi anggota 'Elemental Organization of Asia'.
Setelah sarapan pagi, mereka diminta untuk berkumpul di ruangan latihan untuk melanjutkan tes. Tes hari ini adalah tes kelincahan. Kali ini, pengawasnya adalah Profesor F.
"Selamat pagi! Siap untuk melakukan tes?" tanya Profesor F sambil menyapa.
"Siap!"
"Bagus. Tes kali ini adalah tes kelincahan. Nanti, kalian akan memulai tes ini dari ruangan kalian." ucap Profesor F. Keempat anggota junior di hadapannya tampak memasang wajah bingung.
"Hehe, kalian bingung ya? Begini, tes ini seperti simulasi. Kalian satu per satu akan memulai tesnya dari ruangan kalian. Setelah kuberi aba-aba, nanti kalian harus segera ke luar dari ruangan kalian dan menuju ruangan kendali. Dalam jalurnya, nanti akan diberi hambatan. Waktu kalian akan kuhitung menggunakan stop watch. Kalian harus berusaha secepat mungkin ya, tapi tidak boleh menggunakan kekuatan elemen. Kalian mengerti?" tanya Profesor F setelah menjelaskan proses simulasi.
"Ya!" jawab mereka kompak.
Mereka harus melewati banyak rintangan dalam perjalanan menuju ruangan kendali yang letaknya berada di lantai paling atas. Jika dihitung-hitung, mungkin jarak dari ruangan mereka itu sekitar seratus meteran lebih. Mengingat bahwa markas ini adalah markas bawah laut yang cukup besar.
"Aku akan memberi tau urutannya. Yang pertama adalah Zaaryan, kemudian. Kim Dae-Vin, lalu Hanny Aretha, dan terakhir Araya Putri. Oke, silahkan menuju ke ruangan kalian masing-masing." setelah itu, keempat anggota juniornya itu segera meninggalkan ruang latihan dan menuju ruangan mereka.
...----------------...
Saat ini, Araya sedang menunggu gilirannya sambil berdiri di dekat pintu yang berada di dalam ruangannya. Sekarang adalah gilirannya Hanny, setelah ini adalah giliran Araya.
"Araya Putri, silakan mulai." terdengar suara Profesor F dari alat kendali elemen miliknya. Alat itu bukan hanya dapat digunakan untuk mengendalikan elemen, melainkan juga dapat digunakan untuk melacak dan berkomunikasi. Seperti walkie-talkie.
Setelah itu, Araya segera berlari ke luar kamar, kemudian belok ke kiri menuju lorong. Delapan meter kemudian, mulai ada rintangan zona pertama. Di sana terdapat lima buah kursi yang disusun berjejer dan sengaja dibuat untuk menghalangi jalan. Araya mengambil satu pijakan pada salah satu kursi, kemudian langsung melompat saja. Dan dia berhasil, Araya melakukan pendaratan dengan mulus. Kemudian lanjut berlari lagi.
Setelah berlari sejauh enam belas meter, Araya melihat ada permukaan lantai yang terlihat basah dan lebih mengkilap. Sepertinya sudah diberi pelicin. Di samping-sampingnya, terdapat puluhan hingga ratusan paku. Itu adalah rintangan zona kedua.
__ADS_1
Saat masih agak jauh, Araya mengambil ancang-ancang supaya dapat melompat lebih jauh. Araya berlari semakin kencang, satu jengkal sebelum menyentuh lantai yang licin, dia mengambil tumpuan dengan kaki kanannya dan langsung melompat, kemudian mendarat tepat di seberangnya. Cukup luas daerah yang licin itu. Tapi untung saja Araya tidak pernah membolos saat pelajaran olahraga di sekolah. Jadi, dia pernah beberapa kali praktik lompat jauh.
Berjarak tiga puluh dua meter, rintangan zona ketiga telah menanti. Araya harus melewati tangga. Mungkin melewati tangga itu terdengar mudah, namun jangan kira demikian. Bukan anak tangga yang terbuat dari semen, melainkan tangga vertikal yang terbuat dari tali tambang.
"Hah? Bagaimana ini, aku kan sedikit fobia ketinggian?!" ucap Araya dalam hati. Dia memang sedikit fobia ketinggian, terutama jika ketinggiannya lebih dari dua meter. Tangga yang akan dia lewati itu tingginya empat meter.
Araya memegang tali tambang yang digunakan sebagai tangga dengan kedua tangannya, kemudian mulai menaikinya satu per satu. Saat sampai di tali kedelapan, tepatnya berada pada ketinggian dua ratus empat puluh sentimeter, atau 2,4 meter, kakinya mulai gemetar bahkan sampai tali tangga terbawah pun ikut bergetar. Araya mengeratkan pegangannya.
"Hah ya ampun.. Sepertinya aku akan lebih lama di sini. Tidak! Aku tidak boleh kalah lagi! Aku harus lulus dalam tes ini! Jangan lihat ke bawah! Ayo Araya, sedikit lagi.." Araya berusaha tegar dalam tes kali ini. Tes yang membuat jantungnya berdetak semakin kencang akibat fobianya terpicu.
Perlahan–lahan, Araya tetap melanjutkan. Hingga tidak sampai satu menit, dia sudah melewati rintangan zona ketiga.
Kini Araya telah sampai di lantai teratas, tempat ruangan kendali itu berada. Namun, bukan berarti dia sudah selesai. Ada satu rintangan lagi. Dia harus melewati lorong yang telah terpasang dua puluh sinar laser bberwarna merah. Dia tidak boleh mengenai sinar itu jika tidak ingin gagal. Sinar itu sengaja dipasang secara rapat supaya lebih sulit.
Tapi untung saja, Araya mempunyai tubuh yang ramping dan kecil. Tinggi badannya adalah 157 cm dan berat badan 39 kg. Bisa dibilang cukup kecil kan?
Araya mulai melangkahkan kaki kanannya melewati atas sinar laser pertama. Dia baru menyadari, ternyata setiap sinar laser ada yang di atas dan ada yang di bawah. Jadi, dia harus menunduk juga supaya tidak menyentuh sinar yang berada di atas.
Supaya menghemat waktu, Araya merayap melewati bawahnya. Cukup bagus idenya itu, sebab dia bisa melewati dua belas sinar laser dalam waktu singkat. Tinggal tujuh lagi, dan itu sudah tidak terlalu sulit, hanya satu sinar laser di setiap barisnya.
Rintangan zona keempat sudah terlewati. Araya hanya tinggal masuk ke ruangan kendali. Di lorong itu hanya ada satu ruangan, dan itu sudah pasti ruangan kendali.
"Kau berhasil, Araya!" ucap Hanny setelah Araya memasuki ruangan.
"Iya, kau menjadi anggota kedua yang tercepat." lanjut Profesor F.
"Sungguh? Siapa yang pertama, dan bagaimana dengan yang lain?" Araya bertanya sambil menstabilkan pernapasannya.
...----------------...
Hasil tes kelincahan :
__ADS_1
Kim Dae-Vin \= 2 menit 50 detik (berhasil)
Araya Putri \= 2 menit 52 detik (berhasil)
Zaaryan \= 3 menit 4 detik (gagal)
Hanny \= 3 menit 15 detik (gagal)
...----------------...
"Sekarang tes ini sudah selesai. Kalian boleh kembali ke ruangan kalian. Baiklah, sampai jumpa." ucap Profesor F mengakhiri tes keempat itu.
"Hanny, Zaaryan, bagaimana kalian bisa gagal?" Araya bertanya sambil sedikit memiringkan kepalanya.
"Aku menyentuh lasernya tadi. Mulai dari laser kedua itu kan yang atas dan yang bawah itu agak rapat. Aku tidak sengaja menyentuh laser keempat." jawab Hanny sambil mengingat-ingat dirinya yang kesulitan dalam rintangan zona keempat.
"Iya, sejak laser kedua itu, memang rapat-rapat. Aku kurang menunduk jadi aku menyentuh sinar yang atas." lanjut Zaaryan, "bagaimana denganmu, Araya?"
"Aah itu.. aku lewat bawah. Jadi lebih menghemat waktu." jawab Araya sambil membayangkan rasanya merayap di bawah sinar laser yang berwarna merah.
"Lewat bawah? Kenapa bisa sama sepertiku? Aku dan Araya hanya berselisih dua detik." batin Dae-Vin setelah ikut mendengarkan percakapan teman-temannya.
...----------------...
Author note :
Terima kasih sudah membaca cerita ketigaku. Di chapter ini ngga banyak dialog karena fokus sama tesnya Araya.
Kuharap kalian nggak bosen ya sama cerita ini :) Aku masih punya banyak ide yang belum sempat di deskripsikan. Nantikan saja (≧▽≦)
Jangan lupa like, komen, favorit. Dukung terus author pemula ini ya.
__ADS_1