Elemental Gen-Z

Elemental Gen-Z
Chapter 78


__ADS_3

[Headquarters Arc - 4]


...----------------...


Perlahan, Araya membuka matanya. Mengerjap pelan untuk menyesuaikan pencahayaan ruangan itu. Sontak, ia baru teringat kalau ia tidur tidak pada tempatnya.


"Eh? Aku ketiduran di sini?" gumamnya pelan sambil melihat sekeliling, masih sama seperti semalam. Ia masih berada di perpustakaan. Hanya saja, ada satu hal yang lebih mengejutkan.


"Kak Lucas kok tidak di sini juga? Lebih baik aku pergi duluan." pikirannya sambil perlahan menyibakkan jaket yang tadi Lucas pakaikan padanya.


Setelah itu, ia mengembalikannya pada Lucas yang terlelap di sebelahnya. Perlahan, ia hendak berdiri dan melangkahkan kaki. Namun, Araya mengurungkan niatnya setelah merasa ada yang mencekal tangan kanannya.


Araya terdiam ketika pandangannya mengarah pada Lucas yang ternyata sudah terbangun dari tidurnya.


"Kamu tidak tau terima kasih." gumamnya sambil beranjak dari duduknya. Kemudian, berdiri dan melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Araya.


"Ehm, terima kasih Kak." ucapnya. Ia tidak mau memperpanjang masalah. Jadi, ia mengalah saja. Lagipula, mengucapkan terima kasih itu gratis kan?


"Padahal kan aku tidak minta di bantu." ucapnya lirih sambil menatap punggung Lucas yang semakin menjauh dari. Laki-laki itu berjalan ke luar, meninggalkan Araya sendirian di ruangan itu.


"Shiroi, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Araya pada sistemnya. Jika dia tidak tidur, pasti Shiroi mengetahui apa yang pemiliknya lakukan.


"Tidak banyak yang terjadi, hanya Kak Lucas yang memakaikan jaket padamu kemudian ikut tertidur di sebelahmu." jelas Shiroi.


"Tapi, dia tidak melakukan hal aneh kan?"


"Tidak kok."


Araya menghela nafas lega setelah mendengar penjelasan dari sistemnya.


"Syukurlah kalau begitu."


Setelah itu, Araya mengarahkan pandangannya pada jam digital yang terletak tak jauh dari sana. Tertera angka 05.13 AM, masih pagi. Dengan segera, Araya berjalan ke luar hendak kembali ke ruangannya guna meminimalisir dugaan negatif.


Baru saja berjalan beberapa langkah ke luar dari perpustakaan, dirinya sudah dipertemukan dengan seorang.

__ADS_1


"Park Ha-na." panggilnya sambil menekankan sekaligus mengeja nama belakangnya. Araya langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Dari lorong di sebelah kirinya, terlihat seorang laki-laki berusia sekitar enam belas tahun berdiri di tengah lorong sambil menatapnya dengan datar.


"Eh Dae- Maksudku Ryusei. Ada apa?" tanya Araya setelah melihat temannya yang berasal dari markas yang sama. Araya bertanya seakan tidak ada hal yang terjadi.


Dae-Vin berjalan ke arahnya, sambil memasukkan telapak tangannya ke dalam saku jaket hitamnya.


"Apa yang kalian lakukan semalam?" Tanyanya dengan nada dan tatapan datar, seperti saat awal-awal dulu.


"Maksudmu?" Araya balik bertanya, pandangannya tak berani menatap orang di depannya itu. Bulu kuduknya meremang setelah merasakan ada aura negatif yang terpancar dari orang di depannya.


"Jangan pura-pura tidak tau. Aku memantaumu semalaman, kamu berada di perpustakaan dengan seseorang sampai tadi." jawab Dae-Vin dengan nada tidak terima. Araya jadi bingung harus menjelaskannya dari bagian mana.


"Memantau? Untuk apa kamu memantau kami? Apakah sebenarnya kamu seorang stalker?" tanya Shiroi dengan intonasi dan nada tidak terima. Araya langsung mendesis pelan dan menempelkan telunjuknya pada bibirnya, berharap supaya Shiroi tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan.


"Iya, aku seorang stalker. Apa kamu puas? Aku bisa saja memantau kalian ke mana saja." balas Dae-Vin masih dengan nada dan ekspresi yang sama.


"Ehm, aku- Aku bisa menjelaskannya." Araya berusaha menengahi supaya perdebatan tidak memanjang. Pada akhirnya, ia pun menjelaskan dari awal sampai selesai.


Ia membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk bisa membuatnya mengerti. Namun tetap saja, Dae-Vin tetaplah Dae-Vin. Sebenarnya, ia langsung percaya begitu saja pada apa yang Araya jelaskan.


"Jadi begitu?"


"Kamu tidak perlu selalu mengawasi aku. Kalau ketahuan kan bisa bahaya urusannya nanti." menundukkan kepalanya, Araya berucap pelan.


Hingga, tanpa dia sadari, Dae-Vin mengusap pelan puncak kepalanya. "Yang penting sekarang kamu baik-baik saja. Teruslah menjaga dirimu." ucapnya dengan diakhiri senyuman tipis. Setelah itu, ia berjalan lewat samping Araya.


Araya masih terdiam, sekilas ia berbalik dan menatap Dae-Vin yang berjalan meninggalkannya.


"Kalau dibiarkan, lama-lama nanti dia jadi overprotektif." ucap Shiroi membuyarkan Araya dari lamunan singkatnya.


"Maksudmu?"


"Yah, masa kamu tidak tau? Belum genap dua puluh empat jam kita tinggal di sini, tapi dia sudah seperti itu. Menurutmu, bagaimana hari-hari selanjutnya?"


Araya tersenyum mendengar pertanyaan Shiroi. Meskipun dia hanyalah sistem, tapi dia peduli tentang masalah perasaan pemiliknya. "Entahlah. Kita lihat saja."

__ADS_1


...----------------...


"Teman-teman, kita baru saja mendapatkan jadwal!" ucap Henry bersemangat ketika ia memasuki ruangan khusus anggota primer. Ada selembar kertas putih di tangannya. Keempat rekannya hanya menatapnya dengan tatapan biasa.


"Ini, kita mendapatkan jadwal tes sebelum kita benar-benar jadi anggota primer." lanjutnya berucap saat meletakkan kertas tersebut di tengah-tengah meja supaya semua anggota bisa melihatnya.


"Tes pertama jam sembilan pagi hari ini?" sekilas Araya membaca tulisan pada kertas tersebut. Tertera jadwal tes yang akan mereka hadapi sebelum benar-benar resmi jadi anggota primer. Jika mereka tetap ingin menjadi anggota primer, maka mereka harus mendapatkan nilai terbaik. Jika tidak, tempat mereka akan digantikan oleh anggota dari regu bawahnya yang mempunyai nilai lebih baik.


"Ya, tapi tes hari ini berbeda. Jika beberapa bulan yang lalu tesnya tentang kecerdasan, maka sekarang tesnya tentang organisasi ini." Henry menjelaskan yang dibalas anggukan kecil oleh Araya.


"Hey, kenapa kalian bertiga selalu diam saja?" menepuk tangannya beberapa kali, Henry menatap ketiga rekan laki-lakinya.


Kalau Adli, bisa dipastikan ia mendengarkan dan memperhatikan, namun dia sama sekali tidak angka bicara. Berbeda dengan Lucas dan Steve yang terlihat acuh tak acuh. Entah mengapa, mereka terlihat tidak bersemangat.


"Aku mendengarkan kok." jawab Adli sambil sedikit mengangkat pandangannya.


"Yah, aku tau. Kalian berdua, apakah kalian dengar apa yang aku katakan?" Henry mengangguk mendengar jawaban dari Adli. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Lucas dan Steve yang duduk tak berjauhan.


"Ya," jawab Steve singkat. Saking singkatnya, dia sampai tidak terlihat menggerakkan bibirnya. Sedangkan Lucas hanya mengangguk pelan.


Henry menghela nafas pelan. Dirinya harus lebih melatih kesabaran dalam menghadapi mereka berdua. Tapi, ini baru permulaan. Belum tau apa yang akan terjadi ke depannya nanti.


Saat itu pula, Araya mencoba membaca lebih lanjut tentang jadwal tes mereka. Setelah membaca bagian nomor empat, perasaannya mendadak aneh. Nomor empat, tes yang akan dilaksanakan esok hari. Tes yang dilakukan di air, yakni berenang. Ya, dia tidak bisa berenang.


"Kenapa, Park Hana?"


Pertanyaan dari Henry barusan berhasil membuat Araya tersentak. "Kenapa apanya?" Araya balik bertanya sambil mencoba melupakan apa yang dia pikirkan tadi.


"Kenapa kamu begitu serius melihatnya? Apa ada yang salah?"


"Ngg, tidak kok. Tidak ada yang salah." Araya menggeleng pelan, mencoba tetap tenang untuk menghadapi tes besok.


"Tapi, sepertinya kamu terlihat khawatir dengan tesnya. Kalau kamu mau, kamu bisa cerita denganku." ucap Henry sambil mendudukkan dirinya setelah sejak tadi dia berdiri. Dia memasang ekspresi serius yang bercampur santai.


"Tidak ada apa-apa Kak." Araya berusaha menyangkal. Dia malu kalau harus bilang dia tidak berani ikut tes keempat.

__ADS_1


**To be continued..


Jangan lupa tekan like setelah membaca, kasih komentar biar author makin semangat. Terima kasih buat kalian yang udah setia baca cerita ini**..


__ADS_2