
[Final Arc - #12]
...----------------...
Tak berselang lama setelah ledakan terjadi, dua orang datang ke lokasi tempat pertempuran antara Araya dengan Darkzero. Dua orang itu sama-sama menggunakan armor berwarna merah dengan beberapa corak hitam.
"Araya, kau baik-baik saja?" tanya Kapten Akira ketika menghampiri Araya. Dia membantunya berdiri setelah tadi Darkzero sempat melampiaskan amarahnya pada Araya akibat markas mereka diserang.
Araya mengangguk pelan, ia kembali berdiri tanpa menerima uluran tangan dari seniornya.
Pandangan Araya tertuju pada seseorang yang berdiri di depan mereka berdua. Zaaryan hadir dengan tampilan armornya yang berbeda.
Panas sekali, kata Araya dalam hati. Ia merasa kepanasan akibat berlebihan dalam menggunakan element Rigel-nya. Efek sampingnya jadi bertambah dua kali lipat karena dia juga menggunakan element lain secara bersamaan.
"Kamu istirahat saja dulu, biar kami yang selesaikan."
"Tidak!"
"Jangan memaksakan dirimu, Araya. Kamu sudah berjuang, serahkan sisanya pada kami." Kapten berusaha membujuknya.
Pandangannya masih belum teralihkan dari seseorang yang tengah menggantikannya berhadapan dengan Darkzero. Dengan mudahnya Zaaryan menangkis serangannya yang berupa serangan fisik.
Kalau serangan fisik, mungkin masih bisa. Namun, kalau kekuatan, jelas Darkzero lebih unggul.
BUG! DUAK! DUARR!
Pukulan beruntun, yang diakhiri dengan ledakan. Hal itu berhasil membuat Zaaryan dipaksa mundur.
"Kita tak akan bisa mengalahkannya meskipun bertiga." bisiknya sambil sekilas menoleh ke belakang.
Sekuat itukan Darkzero?
...----------------...
"Bagaimana … Kyoya?"
"Sedikit lagi selesai."
"Tolong cepat. Aku tak bisa menunggu lebih lama."
Meskipun terbaring, Dae-Vin masih berusaha untuk bisa membantu. Bukan hanya kebetulan dia sadar sejak lima belas menit yang lalu, hanya saja, kekuatannya seperti tertahan sehingga dia belum sanggup berdiri.
Ia bersyukur karena masih bisa sadar di saat-saat genting seperti sekarang. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, dia membuat suatu alat dengan layar hologramnya.
Kumohon cepatlah …
__ADS_1
Hologramnya menampilkan angka sembilan puluh tujuh persen, dan beberapa detik lagi akan mencapai angka seratus. Alat yang dia buat masih dalam pengembangan sebelum digunakan.
"Sudah selesai!" kata Kyoya, yang seketika membuat Dae-Vin merasa tidak sabar.
"Benarkah? Bisa digunakan? Berapa persentase cara ini akan berhasil?"
"Menurutku cara ini efektif. Meski sepertinya tidak akan bisa menahannya hingga seratus persen. Mungkin sembilan puluh delapan."
"Yah, baguslah. Setidaknya kita bisa mengulur waktu. Sekarang, yang harus aku lakukan menutup gerbang dimensi."
Masih sambil berbaring, Dae-Vin memaksa berteleportasi untuk keluar dari dimensi darkness. Dia menghilang dan langsung sampai di depan gerbang dimensi pembatas.
Karena saat ini dia sudah berada di luar dimensi Darkness, Dae-Vin bisa berdiri seperti sebelumnya.
"Ryusei!" panggil Henry, "kau dari mana saja?" laki-laki itu berlari ke arahnya. Setelah sampai, atensi Henry mengarah pada benda berbentuk persegi enam yang dibawa Dae-Vin dengan kedua tangannya.
"Apa itu?"
"Gembok." balas Dae-Vin singkat. Dia memasang senyum tipis dari balik armornya. "Bisa tolong bantu aku?"
...----------------...
"Heh! Mentang-mentang kau adalah Kapten, jangan kira bisa menghentikan aku." ucap Darkzero meremehkan.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bukan sembarang Kapten." Kapten Akira mencoba mengulur waktu. Ia tahu kalau Araya dan Zaaryan mencoba menyerang Darkzero dari belakang, sedangkan Araya dan Zaaryan yang berada di belakang Kapten tadi hanyalah ilusi—ingat mereka juga punya element Darkness.
"Karena aku adalah pemimpin, aku yang bertanggung jawab pada semua yang aku pimpin! SEKARANG!"
Setelah diberi aba-aba, kedua juniornya itu langsung menyerang Darkzero dari arah belakang. Menggunakan cara itu, berhasil membuat Darkzero terkecoh. Araya menusuknya dengan pedang sambil menyalurkan energi yang berlawanan, sedangkan Zaaryan yang berusaha melepaskan element kegelapan yang digunakan Darkzero.
Sial, menempelnya kuat sekali, batin Zaaryan. Ia sedikit kesulitan melepas alat transformasi yang digunakan Darkzero. Sedangkan Araya menggunakan kedua pedang pusaka untuk mebekam pergerakan Darkzero. Bukankah pedang yang satunya berada pada Axel? Karena tadi dia di-teleportasi, pedangnya tertinggal dan kembali pada Araya.
"Sebentar lagi, Araya! Aku hampir bisa!" teriak Zaaryan pada Araya, ia menarik inti element milik Darkzero sekuat yang ia bisa.
Saat Araya masih mengunci pergerakan Darkzero dengan pedangnya, Darkzero tiba-tiba menyeringai.
"Cih! Cara murahan macam apa ini? Lemah sekali." perkataan Darkzero seketika membuat keduanya menjadi waspada.
Tanpa mau memberikan waktu pada mereka untuk merespon, dia langsung menghempaskan mereka berdua. Tubuh Zaaryan terseret hingga belasan meter, sedangkan Araya terbentur tiang beton yang digunakan untuk menyalurkan energi listrik.
"Shiroi. Kenapa tanganku sakit? Padahal aku 'kan masih pakai armor." tanya Araya pada Shiroi. Ia merasa sakit di bagian tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya hanya teras nyeri.
"Aku tidak tahu, Araya."
Araya kembali berusaha berdiri, tapi … BRUK! Kakinya tidak mau bekerja sama.
__ADS_1
KRETEK! KRETAK!
Terdengar suara sesuatu yang hendak roboh. Araya menengok ke belakangnya. Tiang beton itu retak dan akan segera roboh.
Araya benar-benar tak bisa bergerak. Ia memejamkan matanya sambil berharap tiang beton itu roboh ke arah yang lain.
"Hahaha! Riwayatmu akan segera berakhir, Nak." Darkzero tertawa, tapi masih belum puas melihat mereka yang belum benar-benar kalah.
"ARAYA! MENYINGKIR DARI SANA!" teriak Zaaryan dan Kapten Akira hampir bersamaan. Mereka berdua bersiap berlari ke sana untuk menyelamatkan Araya. Namun, tidak keburu.
KREK! KRETAK! BUUUM!
Tiang beton itu benar-benar sudah ambruk dan hancur ke tanah. Debu-debu berhamburan menghalangi jarak pandang. Kedua laki-laki itu sama sekali tak menghentikan langkah. Mereka berusaha mencari rekannya di reruntuhan tiang itu.
"Araya. Araya! Di mana kamu?!" Kapten masih mencoba menyingkirkan reruntuhan tiang itu dari posisi yang 'dia rasa' ada Araya di sana.
"Araya, apa kau baik-baik saja?" Zaaryan mencoba menanyainya lewat alat komunikasi. Berharap Araya masih baik-baik saja.
Sedangkan di tempat lain …
Kenapa firasatku tidak enak? Semoga mereka baik-baik saja, kata Arga dalam hati. Ia bersama Axel dan Henry dimintai tolong oleh seseorang untuk membantu memasang 'gembok' antar dimensi.
Kembali ke dimensi Darkness. Darkzero diacuhkan. Mencari Araya, itu yang lebih mereka pentingkan daripada meladeni Darkzero.
"Hey! Percuma saja kalian mencarinya! Biarkan dia terkubur hidup-hidup di situ. Lagipula, dia pasti sudah—" Darkzero menghentikan kata-katanya. Melihat seseorang berdiri di depannya, tangannya baju zirah milik rekan selevel Darkzero. Hanya tersisa baju zirah-nya saja. Orang itu melempar benda tersebut tepat di hadapan Darkzero.
"Aku … sudah mengalahkan rekanmu." orang ber-armor hitam dengan corak putih itu berucap dengan santai.
"Araya?!"
"Apakah itu benar-benar Araya? Dia masih hidup!"
Araya sedikit menoleh ke belakang. Ia mengacungi jempol, tanda bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu dikhawatirkan.
Yang sebenarnya terjadi tadi adalah, Araya sempat berteleportasi di saat-saat terakhir, sehingga ilusinya masih tertinggal di sana. Mereka mengira kalau Araya masih ada di sana. Bagaimana dia bisa bergerak? Tubuhnya sudah mati rasa, Shiroi yang mengendalikan tubuh Araya. Sebenarnya, Araya hanya menonton dari dalam, ia sengaja meminta Shiroi melakukannya karena dia merasa sudah tidak sanggup. Namun, tentu juga ada efek samping yang dia rasakan.
Dan hanya dalam waktu beberapa detik, dia—Shiroi lebih tepatnya—bisa membereskan rekan Darkzero yang lain.
To be continued …
Mungkin beberapa dari kalian menduga kalau Araya diselamatkan Dae-Vin :3
Tapi, bukan begitu sebenarnya. Udah mau tamat nih, aku coba kebut dikit update-nya biar cepat beres urusanku di sini, hehe (≧▽≦)
Terima kasih sudah membaca …
__ADS_1